November 30, 2007

Rahman Andi Mangussara

Filed under: Uncategorized — yus @ 7:44 pm

Rahman Andi MangussaraRahman Andi Mangussara mengawali karier jurnalistik di Media Indonesia. Di harian ini, ia pernah menempati posisi redaktur, asisten redaktur eksekutif, dan anggota tim penulis editorial. Rahman memasuki dunia jurnalistik televisi, bisa dibilang, secara tidak sengaja. Kala itu, tahun 2000, ia ditunjuk sebagai salah satu tim pendiri Metro TV oleh pimpinan Media Indonesia Grup. Dari Metro TV, ia lalu pindah ke SCTV, dan kini menjadi Kepala Produksi Berita Liputan 6.

E-mail: mangussara@sctv.co.id, mangussara@yahoo.com

12 Comments »

  1. Assalamu ‘alaikum…aga kareba daeng andi ?

    Salam kenal dari saudaramu satu rumpun neh dari tanah bugis…
    maaf mau nanya nih, kalo boleh tau daeng andi asal kampungnya dari mana ? siapa tau masih ada hubungan saudara yah nggak, kalo saya asalnya dari Tanah Bone tapi sekarang domisili dijambi dan kuala enok (Riau).

    Oh yah bole tau gak no HPnya berapa biar bisa komunikasi…boleh khan

    Maju terus liputan6 dan salut atas berita2 kritis dan aktualnya.

    dari sappo’mu di jambi

    Muh. Taufik

    Comment by muh. taufik — January 29, 2008 @ 1:10 pm

  2. Rahman, apa kabar?

    Comment by Santi — March 14, 2008 @ 1:41 am

  3. Salam,

    Secara umum saya ingin mengomentari SCTV yang pemberitaannya sudah berat sebelah. Dan mengomentari Anda atas tulisan yang berjudul “Ahmadiyah, Munarman, dan Negara yang Lemah”.

    Selalu yang dijadikan penilaian adalah ketika dimonas kelompok A secara fisik menyerang kelompok B. Serta kekerasan, yang saya setuju itu bukanlah cara terbaik menyelesaikan masalah, menjadi sumber dari argumentasi Anda.

    Pernahkah terlintas dari Anda dan rekan-rekan redaksi untuk menjelaskan atau memberitakan secara detail dan gamblang apa yang telah terjadi dimonas? siapa yang mulai untuk menyulut bara api kekerasan, dan bagaimana kronologisnya. Serta menilai dan juga memberitakan secara imbang apa kesalahan masing-masing kelompok yang bertikai sehingga bentrok terjadi?

    Saya mengerti ini akan sulit bagi Anda dan rekan-rekan. Suatu saat hati kecil Anda akan berkata ” semakin saya mengenal mediamasa dan jurnalistik, semakin saya tidak percaya denganya”.

    Silahkan berkaca dengan apa yang telah Anda beritakan, video-video yang selalu anda putarkan. Apa yang ada kejar dari sebuah pemberitaan, menyampaikan fakta? memperbanyak ratting penonton? atau menjadi kakitangan organisasi tertentu? mungkin juga “berdagang” opini publik?

    Saya menyarankan supaya Anda melihat video ini, ketika jurnalis menjadi corong kebohongan dan propaganda http://www.youtube.com/watch?v=249JaIaubVw

    semoga SCTV lebih bijak!

    akmal

    Comment by akmal — June 12, 2008 @ 3:59 am

  4. Salam mas Akmal, terima kasih respon anda.

    Bagaimana pun kami menghargai perbedaan dan tak akan kami selesaikan perbedaan itu dengan cara yang tidak berakal.

    Kritik anda, pasti akan menjadi pertimbangan dalam menjalankan kebijakan redaksional kami, seperti yang sudah kamai jalankan selama ini. Tiap masalah pasti ada respon dari dua sisi yang berseberangan, tergangung dimana anda berdiri.

    tabik
    rahman andi mangussara

    Comment by rahman mangussara — June 12, 2008 @ 11:30 am

  5. Santi… sori baru reply komenmu. Kabar baik…gimana amrik?

    rahman

    Comment by rahman mangussara — June 17, 2008 @ 12:08 pm

  6. Taufik, saya sudah resmpn komen kamu ke alamat imil secara japri. tapi kok gak ada balasan. Agatu kareba bos

    tabe
    rahman

    Comment by rahman mangussara — June 17, 2008 @ 12:09 pm

  7. tak ada yang perlu di comment karena apapun yg abang tulis pasti ada keindahan ilmu buat kita kita. lam kenal ya

    Comment by dobleh yang malang — June 30, 2008 @ 7:46 pm

  8. Bung,

    memang dalam setiap perbedaan harus ada penyelesaian, apakah bung mengikuti, sebelum insiden monas, sudah berapakali umat islam menyerukan pembubaran ahmadiyah, sudah lama bung baik dari dialog, aksi damai, sampai akhirnya ada aksi kekerasan, sebenarnya bukan FPInya yang di salahkan tetapi mekanismne pemerintahan kita yang membiarkan masalah ini terjadi, kenapa pemerintah kita tidak bisa mengambil sikap, karena pemerintah kita pun mendapatkan tekanan dari “negara - negara ” yang mempunyai kepentingan terhadap negara ini dan takut atas perkembangan dan dominasi islam, dimana hal ini tidak akan pernah diliput atau dilaporkan oleh media media yg anti islam ( seperti SCTV ini ), bagaimana dengan ikut campurnya pemerintah ( kongres amerika thd kasus monas dan munir ) apakah ini juga diliput dengan netral oleh SCTV.. mungkin pertanyaan2 dan fakta - fakta yg ada hanya team sctv yang bisa menjawab…semoga masyarakat kita lebih pintar dalam memilih media yg ada, jgn sampai terprovokasi dengan pemberitaan yang tidak tajam dan tidak akurat

    Terima kasih,

    Comment by hebat — July 10, 2008 @ 12:53 pm

  9. Dobleh yang malang makasih responnya. salam kenal juga.

    Untuk Si Hebat, anda bukan pembaca yang hebat. Buktinya anda tidak menyimak tulisan saya di catatan produser mengenai Munarman dan Ahmadiyah. Disana saya menyalahkan pemerintah karena lamban mengatasi Ahmadiyah sehingga berlarut-larut.

    Bagaimana pun terima kasih tanggapan anda.

    tabik
    rahman

    Comment by rahman mangussara — July 18, 2008 @ 5:59 pm

  10. ooo pemegang jabatan berkelas juga di sctv..
    bravo deh…!!!

    Comment by masyhuri — August 6, 2008 @ 8:13 pm

  11. Masyuri, saya menangkap kesan sinis dari repson anda.

    Comment by rahman mangussara — August 7, 2008 @ 5:16 pm

  12. wahhhh …ngga mas…masalahnya yang saya tahu itu yang sering muncul di TV ngga ada niat sinis mas…!!cahyo ya!!
    jangan pikiran negative dulu mas andi terhadap comment saya!!
    lagian saya tau ko orang yang ada di liputan 6 adalah orang hebat semua!!!

    Comment by Masyhuri — August 7, 2008 @ 7:30 pm

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment