Thursday, May 23, 2013

Kesehatan Pak Harto

January - 14 - 2008

Kesehatan Pak Harto

Setelah beberapa kali dikabarkan kritis, Ahad (17/1), Pak Harto meninggal dunia pada pukul 13.10 WIB.

Menjelang Senin (14/1) dini hari, Anggota Tim Dokter Kepresidenan, dr. Cristian A. Yohanes menyatakan keadaan gawat Pak Harto sudah dilaluiseiring dengan membaiknya fungsi paru-paru. Meski demikian Pak Harto belum melampaui fase kritis.

Minggu (13/1) malam, kondisi Pak Harto semakin membaik meski masih dalam kondisi kritis.

Minggu (13/1) siang, Tim Dokter menyatakan Pak Harto sangat kritis. Sebagian besar fungsi organ vital seperti jantung, paru-paru dan ginjal sudah menurun. Hanya otak dan alat pencernaan yang masih berfungsi. Dengan kondisi itu, Tim Dokter menyatakan peluang Pak Harto untuk bertahan hidup tinggal 50:50. Ini kondisi kritis kedua sejak Pak Harto dirawat di RSPP, 4 Januari 2008.

Sabtu (12/1) pagi, Tim Dokter membantah pernyataan Menkes Siti Fadilah Supari bahwa Pak Harto menjalani kehidupan semu karena organ vital Pak Harto berfungsi dengan alat bantu. Menurut Tim Dokter, kehidupan semu terjadi bila fungsi otak mati sama sekali. Padahal fungsi otak Pak Harto masih cukup baik.

Sabtu (12/1) pagi, kondisi Pak Harto menunjukkan tanda-tanda membaik meski harus menggunakan alat bantu pernapasan. Pak Harto sudah mulai merespons pertanyaan dari Tim Dokter.

Jumat (11/1) malam, Tim Dokter memutuskan untuk menidurkan Pak Harto. Tindakan ini agar Pak Harto tak terganggu dengan alat-alat bantu yang dipasangkan ke
tubuhnya. Setelah pemasangan ventilator, kondisi Pak Harto mulai membaik.

Jumat (11/1), sejak pukul 17.00, Pak Harto kritis. Tim Dokter kepresidenan menyebut Pak Harto mengalami kegagalan multiorgan yang meliputi jantung, paru-paru, ginjal, dan otak. Tim Dokter memasang ventilator (alat bantu pernapasan) ke tubuhnya. Alat ini disambungkan ke saluran pernapasan untuk menyuplai langsung oksigen ke tubuh Pak Harto. Dengan cara ini Pak Harto tak harus bernafas melalui hidung.

Kamis (11/1) malam, kondisi Pak Harto masih kritis. Sejumlah alat bantu terpasang di tubuhnya. Pak Harto mengalami sesak nafas lantaran paru-parunya masih
berisi cairan. Ginjal tidak berfungsi dengan baik sehingga pengeluaran air seni di bawah normal.

Kamis (10/1) siang, kadar HB Pak Harto naik kembali. Tim Dokter masih menemukan adanya cairan pada paru-paru Pak Harto. Selain itu fungsi ginjal Pak Harto mengalami penurunan. Mereka memutuskan tidak memasang alat pacu jantung. Alat pacu ini akan dipasang jika kondisi Pak Harto membaik.

Rabu (10/1), Tim Dokter melakukan Thalium Scan. Hasilnya, ada satu segmen otot jantung yang tidak berfungsi (gejala afek). Tim Dokter juga mengeluarkan cairan dari dalam tubuh Pak Harto dengan alat CCVD. Diduga cairan di paru-parulah yang menyebabkan Pak Harto sesak.

Rabu (9/1) sekitar pukul 00.00 WIB, kondisi kesehatan Pak Harto tak ada kemajuan berarti. Bahkan Selasa (8/1) malam, Pak Harto mengalami sesak napas. Tim Dokter belum dapat memasang alat bantu di bagian jantung karena kesehatan Pak Harto belum membaik.

Selasa (8/1), kesehatan Pak Harto menurun. Dia masih sadar, tapi lemah sekali. HB turun menjadi 7,5. Terjadi penambahan cairan di paru-paru Pak Harto. Hasil scan siang itu menunjukkan keadaan Pak Harto lebil dan bahkan mengalami sesak napas. Pak Harto menjalani pemeriksaan pergerakan otot jantung dengan radionuklir.

Minggu (6/1), Pak Harto berangsur membaik. Meski menggunakan banyak alat bantu, Pak Harto dikabarkan telah mengenali sejumlah tokoh yang membesuknya. Tim Dokter telah mengeluarkan cairan di tubuh Pak Harto dengan bantuan alat. Tekanan darah Pak Harto saat itu 100 per 50 dan HB 8,3.

Sabtu (5/1) malam, kondisi Pak Harto melemah. Penimbunan cairan dalam tubuhnya belum sepenuhnya dapat dihilangkan. Bahkan banyaknya cairan dalam tubuh Pak Harto telah memengaruhi fungsi kerja paru-paru, ginjal, dan jantung. Tim Dokter memutuskan melakukan pencucian darah untuk memulihkan kondisi Pak Harto.

Jumat (4/1) siang sekitar pukul 14.30 WIB, Pak Harto masuk Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Terjadi penumpukan cairan di seluruh tubuh, terutama para-paru. Ini karena jantung sebelah kanan Pak Harto tak kuat memompa cairan tubuh. Selain itu, fungsi ginjal juga menurun.

***

Pak Harto mengalami gangguan kesehatan sejak 20 Juli 1999. Tim Dokter menyebutnya, tanda-tanda stroke ringan. Belum sebulan, tepatnya 14 Agustus 1999, Pak Harto terkena pendarahan usus dan dibawa ke RSPP sekitar pukul 9:00.

Agustus 2000, Pak Harto menjalani pemeriksaan paru-paru. Namun kala itu, Tim Dokter menyatakan tak ada yang luar biasa terjadi pada Pak Harto. Ia diizinkan pulang.

24 Februari 2001, Pak Harto kembali ke rumah sakit. Kali ini ia menjalani operasi usus buntu.

Juni 2001, giliran jantung Pak Harto yang bermasalah. Tim Dokter memutuskan memasang alat pacu jantung permanen yang dihubungkan dengan bilik kanan jantung untuk meningkatkan denyut jantung. Inilah awal ketergantungannya pada alat bantu.

17 Desember 2001, ia menderita radang paru-paru, sesak napas dan panas. Ditambah usianya yang sudah lanjut, penyakitnya menjadi lebih berat.

Agustus 2002, daya ingat Pak Harto menurun. Ia pun mengalami kesulitan berbicara dan membaca.

Pada 2004, muncul masalah pada saluran pencernaannya akibat pendarahan pada usus besar.

Mei 2005, pendarahan kembali terjadi pada saluran pencernaan. Fungsi sejumlah organ vital, yaitu otak, jantung, paru-paru dan ginjal pun menurun.

Penurunan kesehatan Pak Harto berlanjut pada Mei 2006. Setelah sempat dirawat sebulan di RSPP, Pak Harto diizinkan pulang. Kesehatannya membaik bahkan hingga sepanjang 2007.