Iskandar Siahaan
Iskandar Siahaan memulai karir jurnalismenya di media cetak selama tujuh tahun. Setelah vakum dua tahun karena melanjutkan pendidikan ke pascasarjana, ia akhirnya terjun kembali ke dunia yang ia sukai itu. Tapi tidak lagi di dunia jurnalisme cetak. Ia pindah ke jurnalisme televisi. dengan masuk SCTV sejak 1995. Kini, ia menjadi Kepala Litbang Liputan 6.E-mail: siah@sctv.co.id

Kok blognya nggak ada fotonya Bang Is…Kapan ke Samarinda lagi? Ingat nggak ketika Bang Is liput waria menikah? Pasang foto dong di blog, biar keren bang…
Comment by M Imron Rosyadi — December 14, 2007 @ 9:22 pm
Horas Uda!
Sukses selalu.
Comment by Verdinand Siahaan — January 7, 2008 @ 12:05 pm
Bang Iskandar…saya setuju sekali dgn pendapat abang mengenai motto liputan 6. Masalahnya saya penonton setia baik itu liputan 6 pagi atau petang. Dan memang benar
‘ AKTUAL TAJAM DAN TERPERCAYA ‘ Dan kalau ditulis…
TEPERCAYA ( lucu dan kesannya nggak bisa mengucapkan hurup R…) Secara saya tenaga pendidik dari SMA NEG 2 UNGGUL Sekayu-Muba…
Kapan nih mau meliput kita, karna sekolah kita mau RSNBI atau rintisan bertaraf internasional.Ditunggu lho jawabnya
ke e-mail saya…ma kasih
Comment by Kamilah Damiri — February 15, 2008 @ 8:39 am
Bang Is…
tulis tentang UU ITE di blog liputan6.com dong..
sama temen2x yang di liputan kali2x aja ada yg review tentang UU ini dari sudut pandang wartawan.
di blognya tempointeraktif aja ada walau hanya sekelumit
sama mo nanya kenapa kalo tentang persoalan IT (telematika) narasumbernya koq itu2x aja yah? nggak ada yg lain?
Comment by Bi[G] — April 4, 2008 @ 6:46 pm
Hi Bang Is,
Tulisan nya bagus2, saya suka style dan sikap netralitas dalam menulis. Kalau baca artikel Bang Is, saya ngak perlu sampai ke bawah liat siapa penulisnya, karna cukup dari beberapa paragraf awal, saya bisa menebak siapa penulis nya :). Sukses selalu Bang.
Comment by enviro — June 5, 2008 @ 2:34 pm
Is..
tulisan tentang “Islam Radikal Mengancam”, apa ini semacam lembaga pra peradilan, dengan menjadi hakim atas kejadian dimasyarakat?
Oh ya, masih mengenai tulisan anda diatas, sebaiknya Anda terus menyibukan diri dengan fakta-fakta kenapa FPI menyerang, pelajari kronologisnya. Saya bisa bantu sedikit. baca ini http://www.eramuslim.com/berita/nas/8603051922-kronologis-provokasi-monas-1-juni-2008.htm
Lalu perbaiki kesimpulan Anda.
Coba Anda bayangkan, jika budaya porno, judi, amoral lainnya dibiarkan subur. Bisa jadi keluarga Anda jadi korban. Mungkin si korban tidak akan memar-memar wajahnya, tapi hancur lebur moralnya. Lebih baik orang-orang yang jelas-jelas membela amoralisme itu yang memar daripada anggota keluarga saya dan Anda yang jadi korban.
Silahkan pelajari bagaimana FPI bertindak. Kekerasan mungkin bukan cara yang baik, tapi adalah cara yang terbaik ketika penegak hukum, pembuat kebijakan dan semua yang seharusnya berwenang memberangus amoralisme mandul.
sukses!
Comment by akmal — June 12, 2008 @ 4:20 am
Selamat malam,
Boleh bertanya lagi mengenai Polling Pembubaran FPI?
Kok sekarang tidak bisa terlacak, kenapa?
Salam
Comment by adm2i2h — June 13, 2008 @ 10:00 pm
Tadinya saya itu suka sekali sctv setelah lepas dari induknya. tapi setelah menonton cara pengolahannya dan penyajian beritanya saya merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh SCTV dengan liputan6nya. Apalagi setelah hengkangnya beberapa reporter lama ini saya merasa kehilangan roh sctv yang terpercaya. Mungkin saya memang harus sering pindah channel nih.
Comment by petruk — June 14, 2008 @ 4:46 am
@akmal
Kalau praperadilan diartikan sebagai hakim atas kejadian di masyarakat, maka tulisan “Islam Radikal Mengancam” tidak masuk dalam kategori itu. Tulisan itu tidak sedang memutus sebuah perkara, yakni keberadaan FPI di tengah masyarakat, karena saya memang tidak punya dan mendapat otoritas untuk itu. Tulisan itu lebih cocok diartikan sebagai prawicara, dan saya sebagai salah seorang warga negara di negara republik berdasar hukum sedang menggunakan haknya untuk bicara dan menyatakan sikap atas sebuah fenomena. Sebagaimana laiknya praktik di sebuah arena wicara (diskursus), maka tulisan itu bisa saja disanggah. Tapi, jangan sekali-sekali menyanggahnya dengan membawa sangkur dan pedang. Saya belum tentu benar, tapi yakinkan saya dengan argumen rasional untuk mengubah pendapat dan sikap saya.
Saya tidak sedang bicara tentang FPI sebagai keseluruhan. Yang sedang saya bahas adalah tindak kekerasan untuk menyelesaikan perbedaan. Kebetulan saja dalam tragegi Monas itu yang terlibat FPI dalam payung Laskar Islam. Andai ada organisasi atau sekelompok orang berlagak seperti itu, pendapat dan sikap saya tetap sama.
Saya merasa tidak perlu menelusuri akar dan sebab FPI bertindak seperti dalam tragedi Monas. Setiap orang boleh punya pendapat, sikap, dan alasan untuk keduanya. Tapi dalam negara hukum, tidak seorang pun diperbolehkan memaksakan pendapat dan sikapnya itu untuk diterima orang lain, apalagi dengan kekerasan (sekali lagi dengan kekerasan: memukuli dan menaniaya orang lain yang tidak sependapat!). Siapa yang memilih dan memberi otoritas buat FPI memaksa orang lain untuk sependapat dengan mereka dan memukuli orang lain yang tidak sependapat dengan mereka?
Tuhan? Bagaimana kita bisa memeriksa dan membuktikan bahwa itu benar-benar datang dari Tuhan.
Kaum muslimin dan muslimat Indonesia? Saya muslim, saya merasa tidak pernah memberi otoritas untuk mereka bertindak seperti itu!
Amoralisme yang merebak dan pembiaran oleh penegak hukum atasnya juga menjadi keprihatinan saya. Saya juga kecewa dengan perilaku aparat penegak hukum yang tidak optimal menjalankan tugasnya.Tapi, apa ada jaminan jika otoritas itu kita pindahkan ke organisasi semacam FPI keadaan akan lebih baik? Otoritas kita berikan kepada polisi — seperti juga di banyak negara beradab lainnya — karena dia pun bekerja di bawah kontrol kita sebagai warga negara dan tidak boleh menggunakan kekerasan kecuali untuk menegakkan keamanan dan ketertiban. Orang-orang yang berkumpul di Monas untuk memperingati hari lahir Pancasila itu tidak sedang mengganggu keamanan dan ketertiban. Apa alasannya mereka harus dipukuli dan diobrak-abrik? Apa yang akan terjadi jika setiap perbedaan kita selesaikan dengan kekerasan? Anarkhi! Dan, anarkhi! Mending jika pendapat kita benar, jika salah gimana?
@enviro
Terimakasih atas apresiasinya. Sukses juga untukmu.
@Bi[G]
Suatu hari saya akan tulis tentang UU ITE. Sabar ya. Harus dikaji lebih dulu sebelum ditulis.
@Kamilah Damiri
Maaf baru bisa dibalas sekarang. Terimakasih atas pendapatnya. Soal diliput, kawan-kawan di bagian peliputan mudah-mudahan mempertimbangkannya.
@Verdinand Siahaan
Horas juga “dongan sabutuha”. Sorry ya baru bisa dibalas.
@M. Imron Rosyadi
Fotonya sudah ada, bukan? Malah sudah berganti sekali, lebih terang dan lebih keren, bukan? (Halah…narsis banget!).
Ke Samarinda lagi? Maunya sech…, tapi berat diongkos, hehehe…
Comment by iskandar siahaan — June 14, 2008 @ 10:35 am
Horas bung iskandar…tulisan anda bagus dan bermutu.Para Muslimin dan Ulama yg langsung Menangani ISLAM di Tanah Air sejauh ini terlalu banyak melupakan azas2 ISLAM yg ada…Laskar ISLAM? Seharusnya Indonesia tdk perlu dgn ada nya Laskar ISLAM..Negara Kita tdk sedang dlm kondisi berperang kan? di Iraq..Afganistan mungkin Perlu sekali dgn adanya Laskar ISLAM tpi tdk di Indonesia…FPI..? Front Pembela ISLAM? Memang nya ada apa dgn ISLAM di Indonesia sampai harus ada FPI? ISLAM tdk butuh PEMBELA yg hanya menggunakan Nama ISLAM guna Kpentingan Kelompok/Organisasi yg didirikan.Cukup Allah Yang Akan Membela ISLAM sesuai dgn Firman Nya(ygsebutkan dlm Surah Al-Maa’idah ayat3)”this day I have Perfected for you your Religion, and Completed My Favor upon you, and Have Chosen for you ISLAM as your Religion”… artinya; ” Pada hari ini telah Ku Sempurnakan untukmu Agama mu dan telah Ku Cukupkan Nikmat-Ku padamu dan Aku Pilih ISLAM adalah Agama mu”[5]:3. Dgn adanya Firman Allah dlm ayat tersebut jelas sekali Allah Yang Akan Mebela ISLAM dari segala macam dan bentuk yg ada… Semoga Kaum Muslimin di Tanah Airku tetap bersatu sesuai dgn Ajaran2 ISLAM untk saling menyintai dan mengasihi sesama lain nya. Wass,
Comment by Dayat Aulia. — June 15, 2008 @ 9:19 am
numpang tanya, polling tentang pembubaran fpi diliputan6.com koq tiba2 hilang?
malu ya dengan kenyataan?
bikin poling beharap FPI dibubarkan, tapi kenyataannya malah sebaliknya.
kasian..
Comment by herumantab — June 15, 2008 @ 10:03 pm
@herumantab
Pertanyaan Anda sudah dijawab oleh koordinator website liputan6 Sdr. Yus Ariyanto. Anda bisa baca di blog liputan 6.
Polling adalah sebuah cara untuk menjaring pendapat umum. Tidak ada harapan agar FPI dibubarkan, ketika polling itu dibuat. Harapannya: ingin merekam pendapat umum! Anda bisa cek dan analisis bagaimana kalimat pertanyaan polling itu disusun.Jika Anda merasa dan berpendapat kalimat itu implisit mengandung harapan seperti yang Anda sebut, kenapa tidak Anda kemukakan hasil analisis itu secara argumentatif-rasional — supaya publik juga tahu dan bisa bertukar-pikiran?
Comment by iskandar siahaan — June 18, 2008 @ 8:15 pm