Tuesday, May 21, 2013
muda-beda-dan-mengajar-di-desa

Yus Ariyanto

Pesimisme semestinya sesuai dosis. Anak-anak muda Indonesia bukan hanya mereka yang mem-bully adik kelas di sekolah mahal di Pondok Indah; bukan hanya mereka yang suka adu balap di jalanan samping kantor saya dengan mobil yang, berani taruhan, bukan dibeli dari hasil peluh sendiri. Sila simak dua paragraf ini:

“Para Pengajar Muda adalah pejuang-pejuang yang tangguh. Karena tangguhnya, dulu saat pelatihan di Modern Training Camp, kami saling berebut untuk memilih tempat yang paling ekstrem, yang tidak ada listrik, tidak ada sinyal telepon, jalanan jelek, bangunan sekolah yang kurang layak, dan jauh dari ingar-bingar peradaban.”

“Semakin jauh tempat tersebut, justru semakin banyak peminatnya. begitu situasi yang terjadi ketika kami semua dihadapkan untuk memilih daerah penugasan saat di tempat pelatihan. Sepertinya seru apabila kami mampu melewati tantangan tersebut setahun. Tentu banyak pembelajaran kehidupan dari pengalaman tinggal bersama masyarakat di penjuru tanah air.”

Faisal Effendi, sarjana dari FISIP UI, menuliskannya di Indonesia Mengajar: Kisah Para Pengajar Muda di Pelosok Negeri. Ia adalah salah seorang dari 51 Pengajar Muda gelombang pertama, November 2010-November 2011, yang mengabdi sebagai guru SD di berbagai tempat di pelosok Indonesia. Faisal ditempatkan di Tulang Bawang Barat, Lampung.

(Saya mengincar antologi esai itu sejak beberapa bulan silam. Eh, baru kesampaian Kamis lalu. Tersisa satu, saya buru-buru membawanya ke kasir.)

Para Pengajar Muda itu memilih jauh dari kenyamanan—meski sementara. Justru menyongsong aneka risiko. Lihat pengalaman Yuriza Primantara, yang juga ditempatkan di Tulang Bawang Barat . Sebagai guru, ia sesekali menjadi wasit sepak bola saat pelajaran olah raga. Dalam suatu pertandingan, ketika terjadi pelanggaran, peluit Yuriza menjerit. Tak disangka, seorang anak memakinya dengan kata-kata yang tidak pantas. Sang anak tak terima dengan keputusan lulusan ITB itu.

Pada Desember 2010, dalam sebuah forum, penggagas program Indonesia Mengajar, Anies Baswedan, mengatakan, “Mereka di-training selama tujuh minggu. Materinya dua, kepemimpinan dan kepengajaran. Mengapa kepemimpinan penting? Jangan dikira keberadaan di desa selama satu tahun itu akan disambut seluruhnya dengan sukacita. No, setahun itu akan menghadapi problem, menghadapi tantangan. Saya bilang ke mereka: satu tahun ini adalah leadership training yang luar biasa priceless.”

Mereka adalah anak-anak muda terpilih. Punya prestasi akademis yang bagus, kenyang pengalaman berorganisasi, tangguh, serta memiliki jiwa kepemimpinan. Dengan spesifikasi seperti ini, kiranya mereka layak menjadi inspirasi bagi anak-anak desa.

Tak mengherankan pula jika kemudian mereka tak sekadar “sesuai argo.” Erwin Puspaningtyas Irjayanti punya seorang murid, bernama Rizki, yang sudah empat bulan tak pernah hadir di sekolah. Tanpa alasan. Desas-desus menyebutkan, anak itu malas bangun pagi.

Erwin pun berinisiatif memberikan pelajaran tambahan dengan mendatangi Tamaluppu, dua kali dalam sepekan. Tamaluppu adalah sebuah desa yang lebih terpencil daripada Passau, Majene, Sulawesi Barat—daerah penempatan sarjana IPB ini. Ada delapan murid dari daerah ini, termasuk Rizki. O iya, jangan silap, Erwin ini perempuan!

Untuk ke Tamaluppu, Erwin harus berjalan sekitar satu jam. Jika hujan, perjalanan mustahil dilakukan karena jalan setapak yang ada segera berubah menjadi sungai dan air terjun kecil. Pun mesti selalu waspada dengan ancaman babi hutan. Tak heran, para siswa dari Tamaluppu selalu berbekal bambu runcing saat pergi dan pulang sekolah.

Membaca kisah Erwin dan teman-temannya, barangkali memang pesimisme tak usah terlalu erat didekap…

lebaran-dan-keprihatinan

Yus Ariyanto

Konon, lebaran berasal dari kata “lebar” yang, dalam bahasa Betawi, bermakna luas atau lega. Tapi, lebaran tahun ini kita sungguh belum bisa berlega hati. Sejumlah catatan hitam masih meningkahi kehidupan keberagamaan di Indonesia.

Beberapa hari sebelum Ramadan, dua belas terdakwa dalam kasus penyerangan dan pembunuhan tiga pengikut Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten, divonis tiga sampai enam bulan penjara. Tolong digarisbawahi: hanya beberapa bulan untuk tindakan penghilangan nyawa manusia! Selengkapnya »

Ekstasi Media

December - 16 - 2010 6 KOMENTAR
ekstasi-media

Syaiful Halim

Layar kaca kembali memperlihatkan drama realitas. Dua artis papan atas itu memenuhi undangan polisi. Puluhan pasang mata mengarah ke sebuah mobil mewah yang tiba-tiba merapat di gedung belakang Mabes Polri. Lensa kamera mengikuti pergerakan keduanya, sejak keluar dari mobil, memasuki gedung sambil bergandengan tangan, hingga memasuki gedung. Siraman lampu kilat tidak berhenti berjatuhan ke arah mereka. Teriakan-teriakan yang memanggil-manggil mereka semakin riuh.

Seketika tempat itu seperti red carpet dalam festival-festival film kelas dunia di Hollywood atau negara-negara Eropa. Yang membedakanya dengan situasi red carpet, kedua artis itu seakan berusaha tak peduli dan tidak sedikit pun mengiraukan teriakan-teriakan yang menyambutnya, atau membalas terpaan cahaya kilat dengan lambaian tangan atau senyum penuh pesona yang kerap distandarkan sebagai etika kalangan modern. Selengkapnya »

pak-gubernur-memilih-ke-jerman

Yus Ariyanto

Gubernur Sumatra Barat  Irwan Prayitno mengingatkan saya pada Rudy Giuliani. Segera setelah New York diserang para teroris pada 11 September 2001, Rudy, yang saat itu menjadi walikota, bergerak. Ia bekerja belasan jam tiap hari. Ia memimpin operasi penyelamatan secara langsung di lapangan, pun bolak-balik ke rumah sakit untuk menenangkan korban.

Rudy juga terus mencoba merawat solidaritas warga dengan beberapa kali bicara di televisi dan radio. Tak mengherankan, majalah Time memilihnya sebagai Person of The Year 2001 dan  Ratu Inggris memberinya gelar “Ksatria.” Selengkapnya »

kerendahan-hati-dan-kesombongan

Vincent Hakim

Ketika saya masih duduk di bangku SD dulu sekitar tahun 70-an, ibu saya pernah mendongeng cerita berjudul ‘Katak Hendak Jadi Lembu’. Cerita yang sangat sederhana tapi pesan moralnya begitu melekat di hati saya.

Ceritanya begini;

Suatu ketika di sebuah kandang lembu ada seekor katak batu yang rupanya rajin mengamati si lembu betina yang pendiam dari balik bongkahan batu. Setiap hari si katak melihat pemilik lembu selalu memberikan makanan rumput segar, memandikan, dan mengajaknya jalan ke padang rumput hijau nan luas.

Pada suatu kesempatan, katak batu itu mendekati si lembu betina yang sedang makan. Katanya dengan nada sinis, “Hai, lembu. Enak sekali hidupmu. Setiap hari kau selalu mendapat perhatian dari manusia dan juga selalu dikasih makan. Kau selalu dirawat dan diajak jalan-jalan di padang rumput hijau. Semua itu apa karena badanmu yang besar?”

Si lembu betina tak menjawab, ia terus makan dan makan. Sambil sesekali kepalanya menggeleng kiri kanan mengusir lalat-lalat yang mengerubungi makanannya. Karena si lembu betina tak juga menjawab, maka katak batu itu menghardiknya lagi. Kali ini dengan nada suara lebih keras lagi. “Hai…lembu dungu. Kalau hanya karena badanmu yang besar, kau mendapat perhatian manusia maka aku pun mampu menyamai besar tubuhmu. Nih…lihatlah!”

Si katak batu itu lalu segera memperagakan diri di hadapan lembu betina. Katak batu itu menggelembungkan badannya. Bermula dari perut, kemudian leher, kaki, dan seterusnya. Perut katak batu itu sedikit demi sedikit membesar, dan kemudian terlihat begitu besar. Namun setelah membesarkan perut dan leher, rupanya badannya tak juga bisa menyamai lembu. Si katak batu sangat penasaran, karena badannya belum juga mampu menyamai besarnya lembu itu. Perutnya terus digelembungkan lagi dan lagi… Akibatnya perut itu meletus. Isi perut berhamburan ke mana-mana. Si katak batu itu pun mati dengan kondisi yang sangat mengenaskan.

Melihat katak batu yang malang itu telah mati, si lembu betina pun tak mampu menahan kesedihan. Tapi ia juga tak bisa berbuat banyak. Si lembu betina itu tahu bahwa dirinya tak memiliki kuasa apa pun atas hidup.

***

Kata orang bijak, kerendahan hati adalah prinsip dasar orang beriman kepada Yang Maha Kuasa Sang Pencipta alam semesta. Dari kerendahan hati itulah munculnya ketulusan dan pengakuan diri, bahwa manusia hanyalah seonggok daging tak berdaya atau debu halus di hadapan Sang Khalik.

Sementara kesombongan adalah upaya penyangkalan diri manusia atas ketidakberdayaan raga dan spiritual di hadapan Yang Ilahi. Kesombongan menjadi semacam kompensasi psikologis untuk menutupi ketidakmampuan diri, yang kadang tersimpan dalam dunia alam bawah sadar. Kesombongan diri seseorang muncul, biasanya bertujuan agar diakui eksistensinya. Terutama di lingkungan sosialnya. Kesombongan dan keangkuhan merupakan saudara kembar.

Seorang psikolog terkenal asal Austria Alfred Adler (1870-1937) mengatakan, bahwa kesombongan itu pada dasarnya merupakan sikap mengutamakan diri sendiri. Adler menyebutnya sebagai self centered. Semuanya berpusat pada diri sendiri. Kalangan orang beriman alim ulama memposisikan egoisme sebagai awal dari dosa. Egosentrisme menjadi akar dari dosa. Manusia terjerumus ke dalam dunia hitam kelam karena terlalu mengagungkan ke-aku-annya. Aku merasa paling benar, paling bersih, paling hebat, paling suci, paling berkuasa, dan berbagai predikat superlatif lainnya. Peperangan, kerusuhan, kriminalitas, aniaya, dan kesengsaraan acapkali bermula dari sana.

Kerendahan hati dan kesombongan berjalan seiring dalam dunia yang sama, meski berbeda kharakter dan motivasi dasarnya. Tapi kadang, kesombongan bersembunyi di balik ‘kerendahan hati’ sehingga menjadi seolah-olah rendah hati. Padahal jauh di lubuk hati, ingin dipuji dan diakui ke-ego-annya. Sejatinya, kerendahan hati akan terus bertahan. Sementara kesombongan akan terkuak bersama perjalanan sang waktu.

Apa itu kerendahan hati dan mengapa manusia harus rendah hati? Mengapa orang tak boleh sombong?

Seorang guru kebijaksanaan yang juga seorang sufi dari timur menggambarkan kerendahan hati itu dalam simbol anak kecil. Anak adalah lambang ketulusan hati, ketidakberdayaan, dan kejujuran. Tingkat ketulusan, kepolosan anak kecil dan kejujurannya tak bisa disangkal lagi. Begitu tulus, jujur, dan bersihnya pribadi anak-anak, hingga para cerdik pandai menyebut anak-anak bagai tabularasa. Suatu lembar kertas putih bersih yang apa pun bisa ditorehkan di sana. Menurut sang guru, hanya manusia yang memiliki level kesucian, ketulusan, kepasrahan, dan kejujuran seperti anak kecil itulah yang pantas berhubungan dekat dan berada dalam pangkuan Sang Khalik.

Ketidakberdayaan anak kecil, kata sang guru, adalah lambang ketidakmampuan manusiawi yang akan malahirkan kepasrahan diri secara total tanpa syarat kepada Sang Pencipta. “Lihatlah, betapa anak kecil itu hidupnya sangat bergantung sepenuhnya pada orangtuanya, ibu dan ayahnya. Begitu pula seharusnya manusia di hadapan Sang Pencipta,” kata sang guru pada suatu kesempatan.

Menurut sang guru kebijaksanaan yang juga sufi itu, sebenarnya tak ada dasar dan alasan apa pun bagi manusia untuk menyombongkan diri. Fakta ilmiah menyatakan bahwa manusia adalah bagian kecil dari makhluk hidup yang ada di atas bumi. Hidup manusia berdampingan dengan makhluk hidup lainnya dan saling bergantung. Manusia tak mungkin hidup sendiri. Ketergantungan manusia sangat tinggi pada kehidupan lain di sekitarnya. Bumi tempat manusia hidup pun, jika dibandingkan dengan planet-planet lain dalam susunan tata surya, hanyalah bagian kecil dari semesta raya. “Jika bumi saja hanyalah bagian kecil atau bahkan hanya merupakan debu kosmis di alam semesta raya yang mahaluas, lalu bagaimana dengan manusia? Nah, sekarang bayangkanlah bagaimana agungnya Sang Pencipta alam semesta itu. Masihkah manusia bisa membusungkan dada tentang dirinya di hadapan Sang Pencipta?” kata sang guru.

Setiap saat manusia dalam berbagai kepercayaan dan keyakinannya yang amat beragam diberikan kesempatan untuk berintrospeksi, melalui bermacam-macam peristiwa dan acara keagamaan. Tujuannya refleksi diri ke dalam batin masing-masing. Masih pantaskah menyombongkan diri di hadapan orang lain dan terlebih-lebih di hadapan Yang Maha Kuasa? Mungkin ada baiknya, mulai detik ini kita mulai meneliti diri, apakah kita sudah rendah hati dan tidak sombong? Selamat Idulfitri. Mohon maaf lahir dan batin.

Jakarta, 20 September 2009

monster-pembunuh-itu-masih-anak-anak

Vincent Hakim

Di siang yang terik itu, seorang anak mengarahkan senjata basoka ke sebuah bangunan. Gedung itu hancur berantakan. Dua anak laki-laki berumur 9 dan 15 tahun, bersama sekitar delapan anak lain yang juga menenteng senjata otomatis segera menyerbu masuk. Mereka menembaki siapa saja yang ada di dalam gedung perkantoran milik asing itu.

Mad Dog dan seorang anak lagi memeriksa ruangan-ruangan gedung yang hancur itu. Dua anak bersenjata mesin itu merupakan anggota dari paramiliter tentara anak-anak. Tak lama kemudian, mereka berdua berhasil memergoki seorang wanita dewasa berkulit hitam yang berlari kabur dari sebuah ruangan. Si wanita bermaksud menyelamatkan diri dan sembunyi. Tapi nasib berkata lain.

“Hai. Kenapa kamu lari? Pengkhianat!” kata Johnny Mad Dog, seorang anak yang masih berumur 15 tahun itu dalam bahasa lokal setempat. Perempuan yang ditodong itu, tidak bisa menjawab karena begitu ketakutan.
“Udah, langsung tembak, bunuh saja!” ujar si anak yang umurnya masih sekitar 9 tahun itu, dengan warna suaranya yang masih sangat khas anak-anak. Tak hanya senjata otomatis yang menggelantung di pundaknya, tapi juga boneka mainan yang selalu dikalungkan di lehernya. Anak ini, sepertinya, anak buah kepercayaan Mad Dog.

“Tidak. Nanti dulu, sepertinya ia lumayan juga. Aku mau.” kata Mad Dog sambil memandangi wajah dan tubuh tinggi si wanita dewasa.
“Mad Dog, sudah cepat lakukan!” kata anak kecil itu. Anak itu lalu mengokang senjata dan memaksa si perempuan merebahkan diri.

Maka sejurus kemudian, sambil tak henti-hentinya melontarkan makian dan sumpah serapah kepada si wanita, Mad Dog memaksakan hasrat birahinya itu. Kemudian, anak buahnya yang masih amat belia itu pun minta bagian. Dua anak itu telah memperkosa si wanita secara bergantian!

Cerita ini merupakan bagian kecil dari cuplikan sebuah pengalaman kekerasan dan kekejaman Johnny Mad Dog dan teman-temannya yang menjadi tentara anak-anak di kawasan konflik di Liberia.

***

Film berjudul Johnny Mad Dog, garapan Jean-Stephane Sauvaire yang mendapatkan penghargaan Price of Hope di festival Cannes 2008 sangat representatif menggambarkan betapa brutalnya anak-anak yang telah dicuci otak oleh suatu rezim. Film Johnny Mad Dog bercerita tentang tentara anak-anak dengan latar belakang situasi konflik berdarah perang saudara (1989-1993 dan 1999-2003) di Republik Liberia. Sebuah negara di kawasan pesisir barat Afrika. Negara ini sekarang menjadi salah satu negara termiskin di dunia yang kehidupannya benar-benar bergantung pada bantuan dunia internasional. Ekonomi ambruk, dan tingkat pengangguran mencapai lebih dari 85 persen (data 2005). Ribuan penduduknya di berbagai tempat pengungsian termasuk mereka yang lari ke negara-negara tetangga di Sierra Leone, Guinea, dan Pantai Gading, masih sangat trauma.

Chritopher Minie (15) yang memerankan tokoh remaja militan Johnny Mad Dog dan Daisy Victoria Vandie (16) yang memerankan Laokole amat pas melakoni tokoh masing-masing. Johnny berperan sebagai pemimpin regu tentara anak-anak berumur sekitar 9-15 tahun yang bengis. Bukan hanya membunuh, merampok dan menjarah, menembak orang-orang tak bersalah, anak-anak, dan keluarga, tapi juga melakukan perkosaan terhadap remaja dan perempuan dewasa. Dalam film Johnny Mad Dog, digambarkan secara nyata sebuah negeri tanpa aturan, hukum, dan perlindungan HAM, tak ada lagi sopan santun, tak ada lagi rasa hormat anak kepada orang tua, tak ada lagi moral, apalagi simpati dan empati pada orang lain kecuali takluk pada pimpinan kelompoknya sendiri secara eksklusif. Jika tidak taat, maka akan disiksa atau ditembak mati di depan anggota lain.

Tokoh Laokole adalah seorang remaja putri yang hidup miskin dengan seorang ayah cacat kedua kakinya (diamputasi akibat kena senjata) dan seorang adik laki-laki, Fofo (8). Situasi hidup yang serba sulit, membuat Laokole sangat tegar menghadapi berbagai persoalan. Termasuk ketika ayahnya ditembak mati dan adiknya yang raib entah ke mana.

Yang juga cukup unik dari para personel tentara anak-anak ini adalah meski mereka bengis, ngawur, tapi pada hakekatnya mereka adalah tetap anak-anak. Kondisi itulah yang coba digambarkan secara utuh oleh Jean-Stephane Sauvaire. Kostum mereka tetap khas anak-anak. Selain ada personel yang selalu menggantungkan sebuah boneka di pundaknya, ada pula yang berambut gaya Mohawk, ada pula yang selalu menenteng radio-tape besar di punggungnya, dan ada juga seorang tentara anak-anak yang selalu memakai sayap-sayapan serangga seperti milik tokoh malaikat di punggungnya. Bahkan, ada seorang personel yang karena menemukan gaun pengantin saat penjarahan, maka dipakainya baju pengantin perempuan itu ke mana-mana. Konyol tapi lucu. Bagaimana pun mereka adalah anak-anak yang masih mendambakan sebuah model figur, pencarian jati diri. Figur inilah yang seringkali ditiru dan amat berpengaruh dalam perkembangan kejiwaan anak saat masa pertumbuhan. Dalam film Blood Diamond karya sutradara Edward Zwick, sempat pula diceritakan tentang keberadaan kamp tentara anak-anak yang berlatar belakang di Sierra Leone, Afrika.

***

Itulah sebabnya mantan Presiden Liberia Charles Taylor diadili di Mahkamah Internasional di Den Haag. Ia dituduh telah mengorbankan ribuan anak sebagai tentara anak di negeri yang dipimpinnya. Taylor menyangkal, tapi mantan pengawal pribadinya dan dunia memberikan kesaksian yang tak terbantahkan.

Badan PBB yang mengurusi anak-anak, UNICEF mencatat, sedikitnya ada 38 negara di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin mengambil paksa anak-anak (8-16 tahun) dari keluarga atau lingkungan sosialnya untuk dilatih di kamp paramiliter dan dijadikan tentara di negara-negara yang sedang berkonflik. Ketua UNICEF Jerman, Dietrich Garlichs menceritakan, di banyak negara yang terlibat dengan kasus tersebut bukan sekadar mencuci otak anak-anak, dengan memasukkan berbagai ajaran ideologi sektarian, politik yang dangkal, dan keagamaan yang sempit, tapi juga mencekoki mereka dengan narkoba. Dalam beberapa kasus, seperti diceritakan mantan tentara anak, Ishmael Beah, dalam buku memoarnya A Long Way Gone, bahwa kehidupan normal anak-anak telah dicabut. Mulai dari lingkungan terdekat telah hancur, keluarga dihabisi, dan harapan dibuat menjadi suram. Anak-anak di daerah konflik dipojokkan ke dalam situasi tertentu, hingga tidak ada pilihan lain. Ishmael Beah adalah lulusan lembaga pendidikan United Nations International School tempat rehabilitasi mantan tentara anak-anak dan juga anak-anak korban perang.

Lembaga Palang Merah Internasional, ICRC (International Committee of the Red Cross), memperkirakan ada sekitar 500.000 tentara anak-anak di dunia. Sementara sekitar 300 ribu anak ada di Afrika, dan 40% dari mereka adalah anak perempuan. Sebagian besar lainnya, ada di beberapa negara di kawasan Asia dan Amerika Latin. Jumlah itu, tentu tidak termasuk anak-anak yang dipaksa menjadi teroris dan calon pelaku bom bunuh diri di kamp-kamp pelatihan yang amat dirahasiakan. Kepastian data anak-anak yang dijadikan teroris ini sulit diperoleh. Militer dan polisi Pakistan akhir Juli lalu berhasil menemukan kamp rahasia untuk menggembleng anak-anak calon teroris. Puluhan anak dalam kondisi mengenaskan ditemukan di sini. Menurut sumber resmi Pakistan, anak-anak itu diambil paksa dari keluarga mereka di kantong-kantong kelompok Taliban dan dilatih oleh sayap militer Al-Qaidah.

***

Indonesia memang jauh dari daerah-daerah konflik di Afrika, maka secara psikologis juga agak sulit merasa ‘terlibat’ dengan persoalan tentara anak-anak. Tapi ketika Dani Permana pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott, Jumat (17/7) pagi silam, yang kemudian diketahui masih berusia remaja (18) dan baru lulus SMA Juni 2009, kita semua terkaget-kaget. Saya pun sempat lemas. Bagaimana tidak? Saya mempunyai anak yang juga masih remaja dan duduk di bangku SMA.

Saya cukup paham dengan perilaku dan kharakter anak-anak remaja seusia itu. Karena saya pernah mengajar di SD, SMP, dan SMA. Masa usia anak-anak dan remaja itu sangat unik dan lugu, tapi amat rentan hingga mudah dipengaruhi. Perkembangan kejiwaannya sangat khas, sedang mencari figur untuk model dirinya. Maka saya berani mengatakan, perekrut anak-anak untuk suatu misi terorisme atau tentara anak-anak adalah kejahatan kemanusiaan yang tiada duanya. Jangan jadikan anak-anak kita sebagai mesin pembunuh. Stop tentara anak-anak!

ayu-utami-kenapa-agama-tak-membuat-orang-lebih-baik

Perempuan ini melihat moralitas berlebihan, bahkan sampai ke soal bahasa. Karena itu, novelnya ingin mendobrak tiga hal: seks, kegilaan, dan agama.

Ayu Utami, novelis yang sudah menelurkan tiga novel tersebut menemukan benang merah itu pada tiga novelnya. “Ternyata, tulisanku selalu bicara tentang tiga hal itu. Seks, kegilaan, dan agama.” Ayu, Rabu (5/8) siang, ada SCTV. Dia datang atas undangan Klub Buku dan Film SCTV, yang ingin mendengar dari Ayu sendiri, soal pikiran, renungan, dan proses kreatif ketiga novelnya.

Saman, yang diluncurkan pada 1998 sempat membuat heboh dunia sastra Indonesia. Di novel itu, Ayu dianggap terlalu berani. Dia mendobrak norma dan bicara hal yang masih tabu bagi sebagian besar orang Indonesia. Di novel itu, Ayu Utami bicara amat terbuka soal seks. Tak hanya berhenti di situ. Ayu masih terus menggebrak kemapanan di novel berikutnya, Larung dan Bilangan Fu.

Di Bilangan Fu, ada persoalan yang dengan masif ingin didobrak perempuan kelahiran Kota Hujan ini. Di antaranya, Ayu menggugat monotheisme dan militerisme. Apakah ini gambaran seorang Ayu Utami? Atau, dia hanya seorang pencerita yang sedang berkisah tentang orang lain sebagai sebuah fakta kehidupan?

Baca selengkapnya di sini.

pilih-orang-jangan-pilih-partai-kau-akan-kecewa

M. Nurul Amin

Akrobat partai politik jelang pemilu semakin menjadi-jadi. PKS mendapat sorotan, Demokrat fokus dalam tatapan, Golkar tak kehabisan jalan, dan PDI-P tak lekang oleh harapan. Sisanya, berupaya bangkit dan berjalan.

Iklan politik PKS menuai kecaman, hasil survey LSI, Demokrat terdepan, Golkar revisi anggaran, kader utama pengisi tabungan, kesulitan keuangan, dan PDI-P beriklan, Megawati berjanji 100 hari kerja kedepan. Sisanya, konsolidasi (atau ribut sendiri ) tak berkesudahan. Selengkapnya »

pemilihan-gubernur-teralot

Boy Bakamaro

Sekian banyak Pilgub yang telah digelar, bisa jadi Pilgub Jawa Timur adalah yang teralot. Alotnya persaingan mulai terasa saat sejumlah media menggelar debat cagub-cawagub. Debat-debat yang digelar menggambarkan, paling tidak kelima pasangan kandidat pada putaran pertama, menguasai benar janji-janji yang mereka anggap paling manis.

Persaingan menjadi gubernur Jatim pertama yang pilih langsung warganya pun semakin panas, saat putaran kedua harus digelar karena dari kelima calon tak ada satupun yang meraih suara minimal 30% sebagai syarat pemenang. Selengkapnya »

slamet-gundono-juga-manusia

Syaiful Halim

# Atine bolong

# Atine kosong

# Atine melompong

# Nang duur ada lintang

# Lintang-lintang wuku

# Ana bocah, ana bocah, gambar jagat

Ki Slamet Gundono menggapit ukulele sambil memainkannya dengan lincah hingga pinggulnya terlihat bergoyang-goyang. Tatapannya ditebarkan ke seluruh penonton. Seakan, ia tengah menghipnotis para penonton untuk menikmati lagu “saktinya” ketimbang memikirkan klimaks cerita. Tapi, penonton malah bersungut-sungut. Mereka menggerutu sambil mengungkap kekecewaannya. Dengungan laksana jutaan tawon terbang terdengar.

“Jadi, ceritanya sudah selesai?! Apa sampeyan tidak punya ide cemerlang buat menutup lelakon dengan cara yang santun? Kan, kami belum tahu pemenang pertarungan Raden Arjuna dan Bambang Ekalaya!” kata Tugimin, penggemar wayang kulit fanantik di tempat itu. Selengkapnya »

Memberi dan Menerima

September - 16 - 2008 20 KOMENTAR
memberi-dan-menerima

Kebaikan tak selamanya menghasilkan buah yang manis.

Keluarga Haji Syaikon, sang saudagar kaya di Pasuruan, Jawa Timur, yang akan membagi-bagikan zakat, tentu tidak pernah membayangkan bahwa tujuan mulianya membagikan zakat kepada fakir miskin, berbuntut petaka kematian. Tidak tanggung-tanggung 21 nyawa melayang sekaligus akibat kehabisan oksigen dan terinjak-injak karena berdesak-desakan di antara ribuan orang yang juga ingin mendapatkan zakat.

Tewasnya 21 orang yang mengantri demi mendapatkan zakat Rp 20 ribu amat menyentak dan menusuk nurani saya. Kenyataan, orang miskin masih amat banyak di (negeri ini) sekitar kita. Selengkapnya »

Pemimpin Negeri

September - 16 - 2008 17 KOMENTAR
pemimpin-negeri

M. Nurul Amin

Temanku, seorang wartawan menggelengkan kepala, saat melihat hasil survey mengenai calon pemimpin, menyebut Megawati di atas angin untuk pemilu nanti. Temanku lainnya, seorang pengusaha muda, hanya terpaku mendengar pernyataan seorang politisi bahwa SBY berpeluang besar memimpin negeri lagi.

Sobatku, seorang aktivis Islam, tak tahan memukul jidatnya saat mendengar Gus Dur di radio mencalonkan diri sebagai presiden lagi. Sobatku lainnya, seorang akademisi, membenahi kacamatanya saat melihat Amien Rais di televisi, mulai unjukgigi, untuk menjadi calon presiden, pemimpin reformasi. Selengkapnya »

survival-of-the-fittest

Miko Toro

Saya mengamati percakapan antara seorang bapak dan tukang ojek langganannya, di sebuah warteg di Jakarta. Karena saya anggap menarik, jadi saya ingat percakapan mereka:

Si Bapak, “Jalan inilah, jalan paling benar di dunia dan akhirat. Jalan lain, pasti salah.”

Tukang ojek manggut-manggut.

Si Bapak tampak bersemangat, melanjutkan, “Jalan ini disebut Jalan Langit. Tata aturannya, persis seperti yang ane biasa lakuin. Ente pasti selamat, kalo ngikutin jalan ini.” Selengkapnya »

soal-polling-fpi

Yus Ariyanto

Di sejumlah milis, juga di blog ini, beredar pertanyaan: mengapa polling soal FPI hilang di Liputan6.com? Perkenankan, dengan posting ini dalam kapasitas sebagai Koordinator Liputan6.com, saya menyodorkan sedikit penjelasan.

Pertama, secara internal, kami menganggap tema polling itu sudah selesai aktualitasnya. Perdebatan di ranah publik telah reda. Isu lain mengemuka. Jadi, tema itu kami turunkan. Jika ingin memojokkan FPI, kami bisa saja menghentikan polling saat sebagian besar responden memilih setuju dengan pembubaran FPI.

Kedua, dalam setiap polling, kami memang tak pernah mengumumkan kapan polling akan ditutup. Pun, tak pernah mengumumkan hasil finalnya secara resmi. Jadi, tak ada yang istimewa, tak ada perlakuan berbeda dengan tema-tema polling yang lain.

Lepas dari semua itu, terima kasih atas reaksi dan komentar yang muncul. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.

Aman

June - 16 - 2008 7 KOMENTAR
aman

Leanika Tanjung

Setelah harga minyak dinaikan akhir Mei lalu, pemerintah bilang anggaran belanja atau APBN tahun ini aman. Artinya, meski harga minyak naik terus bahkan sampai 150 dolar per barel, belanja tahun ini tidak akan terganggu. Kita tidak perlu cemas karena jalan rusak akan diperbaiki jalan baru akan dibangun. Gedung sekolah masih akan dibangun dan orang miskin masih dapat bantuan langsung tunai, setidaknya sampai Desember ini.

Masih ada uang untuk menjaga harga beras, minyak goreng, kedelai dan makanan pokok lainnya agar tak naik tinggi. Pemerintah tampaknya memang punya uang lebih sehingga tiba-tiba sangat baik hati, dan mengucurlah duit bagi mahasiswa tak mampu.. Meski, soal ini tak pernah disinggung sebelumnya. Selengkapnya »