Moh. Samsul Arifin
Sebuah sore jelang Pemilu 2004. Kami menjemput Arief Budiman di rumahnya di Jakarta. Saat itu Abdurrahman Wahid tengah dirawat di RSCM akibat stroke ringan. Mengetahui kawan karibnya terbaring lemah, Arief membawa kami membesuk Gus Dur. Ada keheningan di ruang Gus Dur, namun seperti biasanya ia tetap hangat pada Arief, termasuk berbicara masalah mutakhir di lanskap kebangsaan.
Saya teringat pertemuan itu. Dan terlebih lagi dengan apa yang pernah dilakukan kakak Soe Hok Gie itu tahun 1971 silam serta kini didengungkan Gus Dur selepas gugatan Muhaimin Iskandar dimenangkan PN Jakarta Selatan. Apa itu gerangan? (more…)
Yus Ariyanto
Malam belum sepenuhnya matang. Saya sedang berada di Taman Ismail Marzuki (TIM). Dan, cerpenis Kurnia Effendi berdiri di panggung, berbicara lirih, “Satu lagi tokoh kita pergi, Bang Ali Sadikin…”
Pikiran saya melayang-layang ketika bersama ratusan penonton lain memanjatkan doa untuk almarhum. Uh, saya tepat berada di salah satu tempat yang membuat Bang Ali patut dicatat. (more…)
Andy Budiman
Bung, saya jadi ingat masa lalu. Saya lihat Anda di TV, bikin partai baru. Apa namanya, Bung? Maaf saya agak lupa nama partai baru Anda. Maklum, Bung, bagi saya, Anda terlalu identik dengan Golkar masa lalu.
Tapi wajah Anda tak pernah saya lupa. Jauh sebelum muncul di TV, saya masih ingat tampang Anda. Masih pakai pomade, kan? Dengan sisir rapi jali ke belakang. Ya, saya ingat wajah Anda yang klimis dan berminyak. Masih suka pakai safari kuning? (more…)
Yus Ariyanto
Ketika mulai bertugas selaku Gubernur California pada 2003, Arnold Schwarzenegger mengumumkan sepaket rencana. Ia hendak membenahi problem lingkungan hidup negara bagian tersebut. Arnie, panggilan akrab mantan binaragawan itu, lalu membangun ratusan hektare taman. Ia pun menggelontorkan jutaan dolar untuk restorasi lingkungan, manajemen air bersih, dan pemangkasan tingkat polusi.
Dan, Arnie tak segan menanam mimpi: pada 2020, pasokan listrik California berasal dari energi terbarukan. Misalnya, angin, biomassa, dan matahari. Kader Partai Republik ini percaya, derap perekonomian harus selaras dengan kebijakan ramah lingkungan. (more…)
Merdi Sofansyah
Hari genee nggak punya blog ? Mantan ketua umum Partai Golkar, Akbar Tandjung akhirnya tak tahan juga untuk tidak merambah ranah blog (website log). Maka, lahirlah bangakbar.com yang resmi diluncurkan hari ini (5 April 2008). Dengan blognya, Bang Akbar yang juga mantan Ketua DPR, ingin membuka komunikasi yang intens sekaligus mengukur jarak masyakarat terhadap dirinya, atau bisakah dibaca sebagai langkah terobosan untuk menyambut momentum akbar pemilihan presiden 2009 ?
(more…)
Moh. Samsul Arifin
Apa yang paling sulit ditebak di kolong langit ini? Secara teologis—setidaknya berdasarkan teologi Islam yang saya anut—ada tiga hal, yakni rezeki, jodoh dan maut. Tapi, ganti kata “apa” dengan kata “siapa”. Anda pasti pusing tujuh keliling lantaran ingin mendapat jawaban yang akurat. Namun, bagi sebagian praktisi politik atau lebih sempit lagi di kalangan santri atau Nahdliyin, jawabannya tunggal: Abdurrahman Wahid alias Gus Dur!
Gus Dur kembali menghebohkan saat hadir dalam rapat pleno yang memutuskan agar Muhaimin Iskandar, Ketua Dewan Tanfidz PKB, mundur dari jabatannya. Berembuslah satu nama yang ikut menukangi konflik di tubuh partai ini. Sang “dalang” bernama Sigid Haryo Wibisono dikabarkan dekat dengan Yenny Wahid (Sekjen PKB), yang tak lain putri Gus Dur. (more…)
Anton Bahtiar Rifa’i
30 Maret, Hari Film Nasional. Dan, saya teringat film-film garapan almarhum Sjuman Djaya. Saya memang baru menonton beberapa dari 16 judul film karya sutradara sekaligus penulis skenario yang langganan Piala Citra itu. Namun, kesan itu melekat kuat: film-film garapan Sjuman selalu memancarkan bahasa jiwa yang kuat. Karyanya seringkali mengartikulasikan suatu kegelisahan atas realitas sosial.
Salah satu film Sjuman yang paling saya ingat adalah Si Doel Anak Betawi (1973), dibintangi Rano Karno yang ketika itu masih anak-anak. Film ini sangat menghibur. Namun, pencapaian Sjuman dalam berkarya tampaknya tidak pernah berhenti pada sebatas kata “menghibur”. Lewat film yang diadaptasi dari novel karya Aman Datoek Madjoindo itu, Sjuman – kelahiran Purworejo yang lebih merasa sebagai Anak Betawi—menyampaikan kegelisahan tentang nasib orang-orang Betawi yang terpinggirkan. (more…)
Andy Budiman
Bagi dunia, ada dua kabar baik dari Amerika Serikat. Pertama, sebentar lagi kepemimpinan Bush akan segera berakhir. Kedua, calon terkuat penggantinya adalah Barack Obama.
Obama, kini menjadi magnet baru di jagad politik dunia. Jajak pendapat dalam negeri Amerika Serikat, menempatkan Obama sebagai favorit menggantikan George W. Bush yang sebentar lagi akan menjadi the lame duck president. Di luar negaranya, dunia kini harap-harap cemas menantikan terpilihnya Obama.
Bagi dunia, Obama adalah metafora wajah Amerika yang lebih ramah. Ia berjanji, segera menarik pasukan Amerika dari Irak jika terpilih sebagai presiden. Dalam diplomasi internasional, ia berjanji merangkul para “musuh” Amerika: Hugo Chavez di Venezuela, Mahmoud Ahmadinejad di Iran, dan Fidel Castro di Kuba. Kehidupan masa kecilnya di Indonesia, juga membawa harapan Obama akan mampu lebih berempati kepada dunia ketiga, khususnya negara-negara berpenduduk muslim.
Pertanyaan penting kini muncul: apakah harapan ini pantas kita tempatkan pada seorang Obama? Saya khawatir, harapan dunia khususnya kita di Indonesia, terlalu berlebihan. Ada sejumlah alasan.
(more…)
Anton Bahtiar Rifa’i
Tahun 1933, bertepatan dengan tahun Burung Air, Tibet diselimuti mendung kesedihan. Pemimpin mereka, Dalai Lama ke-13, meninggal dunia. Namun dalam keyakinan Budha Mahayana, satu dari dua sekte besar Budhisme, para pemimpin agama akan mengalami reinkarnasi dan mereka sendiri yang dapat mengendalikan prosesnya. Selama reinkarnasi Dalai Lama belum ditemukan, maka pemerintahan Tibet dipimpin oleh Wali.
Melanjutkan tradisi yang sudah berjalan selama berabad-abad, seperti terurai dalam buku Reincarnation yang ditulis wartawati Daily Mail Vicki Mackenzie, orang-orang bijak dan para petapa Budhis mulai mencari tanda-tanda datangnya dewa-raja yang akan memimpin mereka di masa yang akan datang. Suatu ketika, sang Wali pergi menuju telaga sakral, Lhamo Namtso, 140 kilometer di tenggara Lhasa, tempat “orang-orang pintar” menatap ke dalam air untuk memperoleh gambaran tentang masa depan. Saat sang Wali menatap ke telaga–sementara angin bertiup dan air telaga yang biru berubah menjadi putih—ia melihat gambaran suatu tempat, di mana pohon persik sedang berbunga dan seorang wanita menggendong bayi. Wali pun mahfum, ia telah melihat pemimpinnya di masa depan. Tahun 1950, Tenzin Gyatso atau Dalai Lama ke-14 menjadi kepala Negara dalam usia 15 tahun. (more…)
Yus Ariyanto
Asia, termasuk Malaysia, sempoyongan dihajar krisis moneter. Pada Oktober 1997, majalah Time menemui Anwar Ibrahim, Deputi Perdana Menteri merangkap Menteri Keuangan Malaysia. Lebih penting lagi, ia adalah “putra mahkota” Mahathir Mohamad, sang Nomor Satu.
Perbincangan mengalir. Dimulai dari penyikapan atas krisis sampai menyentuh soal persilangan pendirian di antara Anwar dan Mahathir. Sejumlah kalangan menyebut Anwar terlalu keras menabuh genderang reformasi sehingga justru seperti “duri dalam daging.” Time menjadi perpanjangan rasa ingin tahu publik: lalu, apa yang membuatnya bertahan? (more…)