Saturday, May 25, 2013

Bung Karno

June - 5 - 2012 2 KOMENTAR
bung-karno

Yus Ariyanto

Bagaimana memosisikan seorang Sukarno? Negarawan? Diktator? Saya membuka lagi Catatan Subversif, kumpulan catatan harian Mochtar Lubis saat dibui di masa Orde Lama tanpa pernah diadili. Ia memimpin koran Indonesia Raya yang gencar melancarkan kritik kepada pemerintah, terutama terkait maraknya korupsi dan salah kelola negara.

Pada Desember 1958, Mochtar mendengar kabar, Sukarno setuju tahanan-tahanan politik lain dibebaskan. Kecuali, dirinya. Mochtar pun meradang. ”Wah, ini Sukarno kiranya sudah jadi  Firaun apa? Bung Karno kurang pikir kedudukannya dalam sejarah nanti. Dia akan dicatat pemimpin yang mula-mula bersetia pada demokrasi, lantas kemudian mencoba untuk merusak demokrasi di Indonesia,” tulisnya. Selengkapnya »

Mencari Bang Ali

March - 21 - 2012 10 KOMENTAR
mencari-bang-ali

Yus Ariyanto

Juni 1977. Dipo Alam dan Bambang Sulistomo mengenakan kaus bergambar wajah Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta yang saat itu tinggal menunggu hari untuk berhenti. Dua mahasiswa tersebut bicara di sebuah warung di Taman Ismail Marzuki dan mencalonkan Bang Ali sebagai presiden. Mohon diingat, pada 2012, niscaya peristiwa sangat biasa. Pada 1977, tentu tidak. Kekuasaan saat itu berwujud sosok represif dan antidemokrasi.

Dipo dan Bambang menilai Presiden Soeharto bukan tidak berhasil. “Justru keberhasilan Soeharto itu harus digalakkan. Dan percepatan pembangunan memerlukan orang seperti Ali Sadikin,” kata Dipo, bekas ketua umum Dewan Mahasiswa  dan mahasiswa Kimia UI tingkat akhir, sebagaimana dikutip TEMPO edisi 2 Juli 1977. Bambang Sulistomo adalah anak Bung Tomo dan mahasiswa Ilmu Politik UI tingkat akhir yang pernah ditahan karena Peristiwa Malari. Saya tak tahu kiprah Bambang sekarang. Perihal Dipo, kini membantu Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Sekretaris Kabinet.

Masa jabatan Fauzi Bowo sebentar lagi berakhir. Belum ada yang mencalonkannya sebagai presiden. Alih-alih demikian, sejumlah kalangan menyebut kepemimpinannya tak berhasil. Macet yang kian menggila dan banjir yang tak kunjung tertanggulangi menjadi “bukti” utama. Toh, ia tetap mau maju untuk periode kedua. Ada beberapa bakal lawan. Bakal lawan paling berat, menurut saya, adalah Joko Widodo, walikota Solo yang termasyhur itu.

Hampir 35 tahun berlalu, sejumlah kalangan masih menengok ke sosok Bang Ali. Terutama, di hari-hari ini sampai beberapa bulan ke depan ketika Jakarta menempuh proses suksesi kepemimpinan. Ia dianggap sebagai gubernur paling berhasil sepanjang sejarah. Padahal, ia memulai dari tidak tahu apa-apa tentang Jakarta. Saat Bung Karno menunjuknya sebagai gubernur, sang istri yang dokter gigi, Nani Sadikin, tertawa lantaran merasa aneh bahwa suaminya mendapat tugas itu. Ali jelas bukan “ahlinya.”

“Buatlah Jakarta ini kebanggaan seluruh rakyat Indonesia. Malahan jadi kekaguman seluruh umat manusia di dunia ini,” kata Bung Karno dalam pidato tanpa teks usai melantik Bang Ali pada 28 April 1966.

“Itu bukan pekerjaan gampang memenuhi cita-cita, cita-cita yang besar. Tapi Insya Allah, doe je best, agar supaya engkau dalam memegang kegubernuran Jakarta Raya ini benar-benar juga sekian tahun lagi masih orang mengingat, dit heeft Ali Sadikin gedaan, inilah perbuatan Ali Sadikin,” lanjut Bung Karno seperti termuat di Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977.

Saya belum lahir saat Bang Ali dilantik dan masih terlampau kecil saat ia turun jabatan. Maka, muncul pertanyaan di kepala: apa yang sejatinya telah diperbuat anak Sumedang itu? “Ia mulai dengan menambal jalan Dan, bagi orang yang semula terbiasa melihat borok di mana-mana, jalan halus yang baru sepotong pun sudah tampak sebagai mukjijat. Apa lagi. Gedung bertingkat? Taman Ismail Marzuki? Perbaikan kampung, pelayanan, penghijauan? Tak ada yang istimewa. Saatnya memang sudah matang untuk itu. Duitnya ada, walaupun dengan defisit berencana. Pendeknya, dari segi substansi, tak ada yang luar biasa,” tulis seorang penulis kolom di TEMPO edisi 9 Juli 1977. Si penulis mengutip temannya yang pernah ambil MA di Amerika Serikat.

Lalu, teman sang kolomnis itu mengajukan semacam teori: “Ali Sadikin mengisi kebutuhan akan pemimpin yang bisa didewakan. Karismatis. Kita mendewakan pemimpin yang berani, karena kita semua sudah jadi penakut. Kita tidak terus-terang, tak tahan tekanan, tak tahan kritik. Maka tokoh yang blak-blakan, tahan tekanan dan tidak naik pitam jika dikritik, jadi pujaan kita. Kita merindukan orang kuat, pemimpin yang karismatis, dan Ali Sadikin mengisi kerinduan itu dengan gaya pribadinya yang khas.”

Puluhan tahun lewat. Kompleksitas persoalan Jakarta sudah naik beberapa kali lipat. Juga sistem dan kultur politik. Pun hal-hal lain. Andai benar yang ingin “dipinjam” dari Bang Ali adalah karakter kepemimpinan, kita agaknya belum beranjak jauh. Masih berkutat di persoalan yang sama. Di level nasional, Susilo Bambang Yudhoyono juga kerap dituding bekerja tanpa determinasi, penuh keraguan, terlalu ingin menyenangkan semua pihak.

Jakarta dan Indonesia, boleh jadi, punya kebutuhan yang sama. Siapa sukses memimpin Jakarta mungkin dibutuhkan untuk mengelola Indonesia di masa depan. Tak perlu “Dipo Alam dan Bambang Sulistomo” era abad ke-21 karena “rakyat” sendiri yang akan memanggil.

Cikeas dan Prioritas

February - 6 - 2012 3 KOMENTAR
cikeas-dan-prioritas

Yus Ariyanto

Ahad sore, 5 Februari. Kebanyakan dari kita sedang beristirahat, menghimpun kembali energi untuk beraktivitas keesokan hari. Tapi, di Cikeas, Susilo Bambang Yudhoyono mengalokasikan energinya untuk bicara di depan para jurnalis.

“Saya, dalam minggu-minggu terakhir ini, juga mendapat masukan dan pandangan dan saran dari jajaran Partai Demokrat….pertama, harus ada solusi atas masalah yang dihadapi partai, khususnya akibat ulah sekelompok kader…sekaligus saya diminta untuk terus membangkitkan semangat para kader di  Tanah Air yang terus-terang terpengaruh dengan riuh-rendahnya pemberitaan di media massa….” katanya.

Ia, jelang petang itu, bicara sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat. Sejumlah kader penting partai memang tengah didera masalah. Terakhir, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Wakil Sekjen Partai Demokrat Angelina Sondakh ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus Wisma Atlet. Banyak orang percaya, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum juga bakal mendapat status tersebut. Cepat atau lambat.

SBY melanjutkan. “Saya diharapkan lebih aktif, lebih turun tangan begitu untuk menyelesaikan kemelut di partai ini. Juga diharapkan oleh para kader agar pembersihan yang merusak nama baik partai di mana pun, termasuk yang ada di Fraksi DPR RI, bisa dijalankan…” katanya.

Ia memang mesti berbagi: sebagai presiden dan sebagai tokoh paling penting di Partai Demokrat. Tapi, saya garuk-garuk kepala saat teringat ia terlihat lebih mementingkan fungsi kedua. Indikatornya: ia bicara langsung soal kisruh di “Partai Biru” itu, tak diwakilkan orang lain.

Saya meriset, saat Sondang Hutagalung dinyatakan tewas usai membakar diri di depan Istana Kepresidenan, suara SBY hanya disampaikan Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik Daniel Sparringa. “Presiden SBY sangat berduka dan berbagi kesedihan dengan orang tua dan saudara-saudaranya,” kata Daniel, Ahad, 11 Desember 2011.

Lalu, saat terjadi kerusuhan Pelabuhan Sape Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), yang menewaskan dua warga. Juru Bicara KepresidenanJulian Aldrin Pasha yang bersuara. “Presiden menginstruksikan agar dilakukan investigasi. Apakah ada provokotor atau aparat yang bertindak melebihi kepatutan,” ujar Julian, Sabtu, 24 Desember 2011.

Soal kisruh Gereja Kristen Indonesia di Taman Yasmin, Bogor, Jawa Barat, SBY bahkan nyaris tak bersuara. Tak juga bicara setelah para jemaatnya berulang kali berdemo di depan Istana. Uniknya, kegundahan soal absennya “kepemimpinan” juga dilontarkan kader Demokrat, Ulil Abshar-Abdalla, dengan menulis esai berjudul Eisenhower dan Sembilan Murid Hitam.

Ulil menulis, “Keberanian Presiden Eisenhower untuk langsung turun tangan dan ambil alih masalah ini, merupakan ‘kebajikan kepemimpinan’ (virtue of leadership) yang layak diteladani. Sudah tentu, tindakan Presiden Eisenhower ini kontroversial, dan ditentang oleh orang-orang kulit putih di kawasan Selatan yang umumnya masih pro-segregasi. Tetapi, konstitusi tetaplah konstitusi, dan harus ditegakkan…Dalam kasus GKI Yasmin ini, kita tentu berharap ada ‘Eisenhower Indonesia’ yang mau turun tangan langsung dan memastikan bahwa hak-harga warga negara untuk membangun rumah ibadah yang dijamin oleh konstitusi itu tak dicederai.”

Penting mana soal Sondang, kerusuhan Bima, atau GKI Yasmin dibandingkan masalah hukum kader Demokrat? “My loyalty to my party ends where my loyalty to my country begins,” kata Manuel L. Quezon, presiden kedua Filipina. Berlebihan jika kita berharap SBY mengamalkan ajakan Quezon ini?

pak-gubernur-memilih-ke-jerman

Yus Ariyanto

Gubernur Sumatra Barat  Irwan Prayitno mengingatkan saya pada Rudy Giuliani. Segera setelah New York diserang para teroris pada 11 September 2001, Rudy, yang saat itu menjadi walikota, bergerak. Ia bekerja belasan jam tiap hari. Ia memimpin operasi penyelamatan secara langsung di lapangan, pun bolak-balik ke rumah sakit untuk menenangkan korban.

Rudy juga terus mencoba merawat solidaritas warga dengan beberapa kali bicara di televisi dan radio. Tak mengherankan, majalah Time memilihnya sebagai Person of The Year 2001 dan  Ratu Inggris memberinya gelar “Ksatria.” Selengkapnya »

Politik itu, Senator…

October - 21 - 2010 7 KOMENTAR
politik-itu-senator

Demokrasi berakhir di negeri itu. Tentara melancarkan kudeta. “…tak ada cara lain. Rezim ini busuk. Apa yang akan terjadi pada negeri ini jika kalian tak mengangkat senjata?!” kata Senator Esteban Trueba kepada seorang perwira di kantor Kementerian Pertahanan, tak lama setelah istana berhasil dikuasai dan Sang Presiden dicokok.

Di lubuk hati Trueba sejatinya terbit keraguan. “Aku punya firasat bahwa keadaan tidak berjalan sesuai rencana…” katanya membatin. Sebelumnya, pihak militer meminta kunci mobilnya dengan alasan Kongres telah dibubarkan. Maka, segala fasilitas selaku senator juga harus dilepaskan. Kediktatoran membayang di mata Trueba. Selengkapnya »

freddy-dan-darmono-pilih-siapa

Rinaldo

Senin lalu, Menteri Perhubungan Freddy Numberi tanpa beban mengatakan bahwa kecelakaan kereta di Stasiun Petarukan terjadi karena kesalahan masinis. Hal itu dengan tegas disampaikan Freddy dalam rapat kerja Komisi Perhubungan DPR dengan Kementerian Perhubungan, Direksi PT Kereta Api, dan KNKT. Ini tentu bukan kalimat yang terdengar asing. Setiap kali terjadi kecelakaan kereta, sang menteri biasanya memang buru-buru mencari “pelaku” yang hampir selalu ditujukan kepada masinis.

Sehari kemudian, giliran Pelaksana Tugas Jaksa Agung Darmono yang bikin berita. Dari kantornya di Jalan Hasanudin, Jakarta Selatan, dia mengatakan Kejaksaan Agung tak menemukan indikasi pidana yang dilakukan jaksa yang menangani kasus penggelapan pajak Gayus Tambunan. Bisa ditebak, yang dimaksud sebagai jaksa oleh Darmono adalah Cyrus Sinaga. Apa yang diucapkan Darmono juga hanya mengulang sesuatu yang kerap terjadi. Setiap kali seorang jaksa diindikasikan melanggar hukum, Jaksa Agung biasanya sangat tangkas dan sigap membantahnya. Selengkapnya »

Perang

September - 3 - 2010 26 KOMENTAR
perang

Rinaldo

Ketika itu sedang berlangsung Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat. Presiden Soekarno termasuk kepala negara yang hadir dalam sidang dengan agenda mendengarkan pandangan umum tiap negara anggota PBB itu. Silang pendapat terus terjadi di antara wakil negara yang hadir dan tak kunjung menunjukkan titik temu. Sebelum tiba giliran wakil Indonesia untuk menyampaikan pandangannya, Bung Karno dengan enteng berjalan ke kursi utusan negara India.

Ini jelas bukan pemandangan yang biasa terjadi dalam ruang sidang di markas PBB sehingga langsung menjadi pusat perhatian. Ditatap oleh puluhan wakil dari negara lain, Bung Karno berbisik pada Jawaharlal Nehru. Entah apa yang dibisikkan, hanya mereka berdua yang tahu. Yang jelas, Nehru kemudian mengangguk-angguk sembari tersenyum kepada koleganya itu. Selengkapnya »

In Memoriam: Rasinah

August - 10 - 2010 13 KOMENTAR
in-memoriam-rasinah

Syaiful Halim

Rasinah adalah penari Topeng Indramayu ternama. Namanya pun sudah dimasukkan dalan kategori maestro. Karena, nenek berusia 80 tahun itu telah memperlihatkan dedikasi yang begitu tinggi terhadap tari Topeng.

Ia bukan hanya menari dengan rupa topeng-topeng yang selalu berganti di wajahnya. Tapi, ia juga menyebarkan inspirasi bagi orang lain untuk mencintai tari Topeng Indramayu. Selengkapnya »

Foke dan FPI

August - 8 - 2010 53 KOMENTAR
foke-dan-fpi

Yus Ariyanto

Ahli strategi militer Sun Tzu disebut-sebut menjadi pelontar pertama. Filsuf Niccolo Machiavelli terkadang dihubung-hubungkan juga. Tapi, agaknya Al Pacino, sebagai Michael Corleone di The Godfather: Part II, yang paling bertanggung jawab atas popularitas kalimat ini: keep your friends close, but your enemies closer.

Kalimat di atas menggenangi pikiran saya saat mendengar Pemprov DKI Jakarta akan menggandeng Front Pembela Islam (FPI) dalam mengamankan Jakarta sepanjang Ramadan. “Kita mengajak FPI sebagai komponen masyarakat untuk mengamankan bulan Ramadan, supaya umat Islam menjalankan ibadah lebih khusuk,” kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo alias Foke [baca: Foke Ajak FPI Amankan Ramadan].

Langkah ini kontroversial. Dengan mengajak FPI, menurut LBH Jakarta, Foke telah memilih bersekutu dan mendukung kekerasan. “Ini kontras dengan sikap Foke terhadap masyarakat sipil yang selama ini cenderung tutup kuping dan sulit untuk menerima masukan dan kritik,” kata Direktur LBH Jakarta Nurkholis Hidayat dalam jumpa pers, Jumat lalu.

Terkait FPI, Foke juga jadi sorotan saat datang ke acara ulang tahun FPI di Petamburan, Jakarta Pusat, pekan lalu. Kesan yang meruap: mesra. Ah, ingatan kita masih cukup kuat untuk menjulur sampai April silam. Di saat itu, FPI ikut dalam massa yang mempertahankan makam Mbah Priok di Jakarta Utara yang hendak digusur Satpol PP. Bentrokan meletus, darah tumpah: tiga anggota Satpol PP tewas.

Tetap bertengger dua pertanyaan ini: ada apa di balik perangkulan FPI? Siapa memperalat siapa? Seorang teman nyeletuk, “Kan aparat Pemprov sudah digaji untuk mengerjakan hal-hal seperti itu. Kok masih ngajak-ngajak pihak lain? Mau cari aman dan enak sendiri?”

Mendengar celetukan itu, saya hanya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.  Di rumah, saya mencari-cari The Godfather: Part II, ingin melihat lagi Al Pacino mengucapkan “keep your friends…” Tidak ada. Dalam kecewa, saya membayangkan ini: Foke merangkul juga FPI demi membebaskan Jakarta dari macet dan banjir.

kemal-sejarah-yang-hilang

Rinaldo

Suatu hari di penghujung 1995. Pagi itu saya tiba di Gedung Putra Kalimantan, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, untuk keperluan wawancara penulisan skripsi. Sebelum bertemu nara sumber, saya menuju toilet gedung itu. Sebab, betapa tidak nyamannya mewawancarai seseorang dalam kondisi kantung kemih mendesak untuk dikosongkan.

Saat melepas risleting celana di depan jamban, seorang bapak berambut putih, bertubuh gemuk dan berpakaian rapi, masuk ke dalam toilet dan berdiri di samping saya. Agaknya dia juga punya urusan yang “mendesak”. Anehnya, melalui sudut mata saya merasa bapak ini terus-terusan melirik ke samping, ke arah saya. Jujur, ketika itu berbagai pikiran dan sangkaan berkecamuk. Selengkapnya »

obama-dan-janji-politisi

Yus Ariyanto

Minimal, ada satu alasan untuk belajar dari Barack Hussein Obama: ia suka menepati janji. Saat berkampanye, salah satu janji utamanya adalah mereformasi sistem kesehatan. Kita mafhum kemudian, berbulan-bulan lamanya RUU Reformasi Kesehatan dibahas. Alot dan melelahkan.

Intinya, regulasi ini bakal memperluas jangkauan asuransi kesehatan kepada sekitar 32 juta warga Amerika yang belum memilikinya. Anggota Kongres dari Partai Republik mutlak menentang. Di partai Obama sendiri, Demokrat, masih ada penolak. Sekali lagi, pertarungan memang tak mudah. Kubu Republik juga menyuguhkan argumentasi yang kokoh: regulasi ini akan membikin defisit anggaran membengkak. Selengkapnya »

Gus Dur

January - 1 - 2010 28 KOMENTAR
gus-dur

/1./
Suatu hari di Oktober 1990. Mungkin tanggal 21 atau 22. Siang itu, panas membakar Bandung. Ribuan anak muda Muslim berhimpun di lapangan parkir Universitas Padjadjaran. Salawat Badar berkumandang. Saya hadir di sana tapi dengan bloon–maklum, belum dua bulan berstatus mahasiswa. Tapi, saya tahu, salah satu sosok yang berbicara di depan mikrofon itu adalah Jalaluddin Rakhmat, intelektual muslim yang banyak dikagumi kaum muda.

Juga, saya tahu: ini demonstrasi mengutuk Monitor. Tabloid itu dianggap menghina Nabi Muhammad. Aroma kemarahan tercium kuat saat itu. Saya, bahkan, melihat beberapa orang mencucurkan air mata saat salawat, puji-pujian untuk Rasulullah itu, dilantunkan.

Pekan sebelumnya, tabloid yang dikomandani Arswendo Atmowiloto itu mengumumkan jajak pendapat mengenai orang yang paling dikagumi para pembacanya. Muhammad bertengger di posisi ke-11, jauh di bawah Presiden Soeharto yang menempati peringkat pertama atau Iwan Fals yang menduduki posisi ke-4. Sementara, Arswendo terpilih menjadi tokoh nomor 10, satu tingkat di atas Nabi Muhammad.

Sebagian masyarakat muslim marah. Pada 22 Oktober 1990, kantor Monitor di Jakarta disatroni para demonstran dan dirusak. Arswendo harus tunggang-langgang menghindari amuk massa. Lalu, ia dihukum empat tahun penjara. Monitor dibredel.

/2./
Sangat sedikit tokoh yang membela Monitor dan Arswendo. Satu di antara yang sedikit itu adalah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur Menurutnya, sikap emosional itu membuat Islam tak lagi menjadi rahmatan lil ‘alamin. Pihak lain akan takut karena mendadak Islam berubah menjadi garang. Dan, ini semua disebabkan: “…rasa kurang percaya umat Islam sendiri. Kompleks rasa rendah diri (inferioritas) itu adalah hasil langsung dari rasa takut melihat proses modernisasi yang tengah berlangsung. Takut kalau-kalau Islam akan kehilangan peranan dalam kehidupan bangsa, karena erosi nilai-nilai yang dialaminya.” Itu ditulis Gus Dur di majalah Editor edisi 3 November 1990.

Ia nyaris sendiri. Bahkan, tokoh moderat semacam Nurcholish Madjid pun “hanyut” dalam arus utama. Bukan tanpa alasan rasional memang. Sebab, “You pull the carpet from under my table,” kata Nurcholish kepada Jakob Oetama, pimpinan Grup Gramedia yang menaungi Monitor.

Kepada majalah Tempo, Cak Nur –panggilan akrab Nurcholish– mengemukakan, selama ini ia merasa ikut bersusah-payah membangun toleransi antarumat beragama. Namun, “Tiba-tiba Arswendo mengganggu dengan guyon begitu saja. Saya merasa disepelekan betul. Sebab, teman-teman saya, yang selama ini tidak setuju dengan istilah toleransi dan sebagainya itu, akan dengan gampang mengatakan: ‘Nah, betul kan, Cak Nur, bahwa mereka kayak gitu itu. Masa begitu kok ditolerir.’ Jadi, itu namanya menarik karpet dari bawah meja,” kata Cak Nur.

/3./
Sehari setelah Gus Dur wafat, Arswendo menulis esai di Suara Pembaruan. Judulnya Gus Dur Sebenarnya Sedang Tidur. Novelis itu mengisahkan kejadian pada 1993 saat ia menghadiri sebuah diskusi teater dan Gus Dur menjadi salah seorang pembicara. “Saya ingat tahun itu, karena itu saat saya keluar dari penjara. Adalah Gus Dur sendirian yang membela “kasus Monitor”, yang menghebohkan, yang membuatnya “diadili” kaum ulama, tiga tahun sebelumnya,” tulis Arswendo.

Menjelang acara dibuka, Arswendo mengaku secara khusus menemui dan mengucapkan terima kasih, mencium tangannya. Gus Dur menerima, seperti juga menerima salam dan ciuman tangan dari yang lain, sambil terus jalan. Arswendo mengaku agak kecewa dan bilang, “Yaaah, Gus Dur lupa sama saya….” Di tengah jalan menuju mimbar, Gus Dur berhenti dan berpaling, “Kalau baumu, saya masih ingat…”

“Selalu ada yang mencengangkan dari sikap yang biasa-biasa. Bagi saya, pembelaan Gus Dur sesuatu yang luar biasa, tapi bagi Gus Dur itu selalu yang biasa, yang dilakukannya. Juga bukan hal yang pribadi–karena yang dibela soal kebebasan berpendapat,” tulis pengarang Senopati Pamungkas itu.

/4./
Kini, Gus Dur benar-benar sendiri, di alam kubur. Ajal menjemputnya menjelang almanak 2009 dilempar ke keranjang sampah. Namun, warisan pikirannya akan abadi. Ini dugaan bercampur harapan. Sebab, betapa mengerikan jika Indonesia kembali dikangkangi mereka yang membungkam kebebasan, menonjok toleransi, menolak pluralisme.

Selamat jalan, Gus…

Buku, Pesta, dan Cinta

December - 17 - 2009 7 KOMENTAR
buku-pesta-dan-cinta

Bung,

Saya terhanyut. Nurmala Kartini Pandjaitan atau Kartini Sjahrir atau Ker begitu piawai mendedahkan kisah kalian. Pada 1968, perkenalan itu terjadi. Ker masuk sebagai mahasiswa baru Fakultas Sastra Universitas Indonesia jurusan Antropologi, sementara dirimu adalah “mahasiswa tua” jurusan Sejarah di fakultas yang sama. Orde Lama telah runtuh, Orde Baru tengah menata diri.

Ker mengaku, saat itu, ia merasa terbebaskan diri dari kekangan aturan-aturan kaku sekolah katolik di Santa Ursula. Di kampus, ia bertemu dirimu, Soe Hok-gie, yang segera mengajak menjelajahi kehidupan mahasiswa yang begitu dinamis. Pernahkah dulu ia menyatakan hal ini? Selengkapnya »

Rindu Polisi Jujur

November - 5 - 2009 26 KOMENTAR
rindu-polisi-jujur

Rinaldo

Di awal 1956, seorang pria tinggi kurus bersama istrinya tiba di Pelabuhan Belawan, Medan, Sumatra Utara. Perintah dari atasan membuatnya harus meninggalkan Tanah Jawa dan menjejakkan kaki di kota yang dia tak kenal sama sekali. Ada sedikit kegamangan ketika dia harus mengemban jabatan baru sebagai Kepala Direktorat Reserse Kriminal pada Kantor Polisi Sumut (sekarang Polda Sumut).

Betapa tidak, sebelum berangkat, atasan dan sejumlah koleganya sudah mewanti-wanti. Disebutkan, Kota Medan adalah daerah rawan dan keras. Penyelundupan dan perjudian seolah tak tersentuh. Banyak sudah perwira polisi yang bertekuk lutut karena berutang budi pada pengusaha kakap yang umumnya dikuasai oleh etnis Tionghoa. Selengkapnya »

Tepi-tepimu, Leo…

August - 12 - 2009 7 KOMENTAR
tepi-tepimu-leo

Setiyadi tergolong penggemar berat Leo Kristi. Manajer di perusahaan multinasional di Jakarta ini mulai mengenal Leo pada 1978, saat duduk di bangku SMP. Anak sulungnya diberi nama Amanda Katia Khairunnisa. Jika ingat lagu Katia, Amanda, dan Aku di album Nyanyian Fajar, niscaya kita mafhum sumber inspirasi Adi, panggilan akrab Setiyadi.

Lihat menara mercu
Tinggal siluet
Tepat di balik kubah, matahari jatuh
Seratus burung melayang
Katia, Amanda, dan aku…
Selengkapnya »