Friday, March 12, 2010

Pang Tjin Nio

February - 12 - 2010 3 KOMENTAR
pang-tjin-nio

Syaiful Halim

Sebuah perahu eretan melintasi Sungai Cisadane yang membelah Kota Tangerang, Banten. Orang-orang di atasnya berdiri sambil berharap agar perahu bisa lekas sampai. Penduduk yang bermukim di pinggiran sungai itu memang hanya mengandalkan perahu eretan sebagai sarana untuk menyeberang. Dan sebagian besar penduduk di pinggiran sungai itu adalah warga Cina Benteng. Termasuk, Pang Tjin Nio –lebih dikenal dengan nama Masnah.

Pang Tjin Nio adalah maestro kesenian gambang kromong, yang sejak remaja hingga usia senjanya mengabdikan diri pada dunia panggung. Saat ini, hanya Masnah yang sanggup menyanyikan lagu-lagu gambang kromong klasik. Selengkapnya »

negara-kesatuan-republik-amnesia

Vincent Hakim R.

Seorang siswa SMA bertanya pada saya dalam sebuah diskusi kelas tentang jurnalistik. Tanyanya, “Pak, kenapa ya, bangsa ini cepat sekali lupa dan melupakan banyak peristiwa yang seharusnya penting sekali diingat dan kemudian dipelajari agar yang buruk tidak selalu terulang lagi. Sementara segala yang baik bisa dimanfaatkan.” Pertanyaan itu spontan mengagetkan saya. Karena apa yang ditanyakan itu sebenarnya inti dari banyak persoalan di negeri ini. Saya pun selalu dibayang-bayangi pertanyaan serupa. Mengapa para pejabat yang mulanya berjanji ini itu ketika berkampanye, ternyata ketika sudah di atas angin mendadak menjadi ‘lupa’. Alias tak bernyali lagi.

Ketika itu saya tidak menjawab pertanyaan, tapi hanya berkomentar: “Memang benar. Itulah yang kini terjadi di negeri ini”

Banyak persoalan yang diberitakan media massa terus terjadi dan bertumpuk? (Apalagi yang tidak ter-cover media massa). Satu masalah besar belum selesai, ditimpa lagi dengan persoalan besar lainnya. Satu belum dibereskan muncul lagi kasus lain yang kadang serupa benar. Lalu, persoalan seolah menguap begitu saja. Tindak lanjut beritanya pun tak ada lagi. Dulu ada kasus Eddy Tanzil. Lalu menguap ke langit. Kemudian ada kasus besar BLBI yang merugikan uang negara hingga ratusan triliun rupiah, pun tidak tuntas. Para pelakunya kabur ke luar negeri, mereka selamat dan aman. Kini ada lagi, kasus Bank Century. Diperkirakan, para pemain yang paling bertanggung jawab juga kemungkinan besar akan aman-aman saja.    Selengkapnya »

bonek-fanatisme-ugal-ugalan

Moh Samsul Arifin

Sungguh murah harga nyawa di republik ini. Satu lagi bonek–pendukung Persebaya–meninggal selepas menyaksikan big match Persib vs Persebaya di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Bandung. Ia jatuh dari kereta api yang mengantarnya pulang ke Surabaya. Ini kejadian kedua. Jelang duel klasik dua klub yang memiliki pendukung fanatis itu, A. Fathoni (21) jatuh dari atap kereta di Nganjuk dan meninggal. Yayasan Suporter Surabaya bahkan menyebut korban tewas menjelang dan selepas pertandingan yang berkesudahan [4-2] untuk Persib itu mencapai tiga orang. Satu orang bahkan belum dikenali identitasnya. Korban luka berbilang.

Bonek–bondo nekat–tewas bukan yang pertama. Sudah berkali-kali. Selain jiwa, kerugian material berderet panjang. Sebutlah kerugian panitia pelaksana pertandingan yang harus kehilangan pemasukan sebesar Rp105 juta lantaran harus menggratiskan 7.000 tiket kepada para bonek yang berjubel, Sabtu pekan lalu. PT Kereta Api Daerah Operasi II–yang mengantar pulang pendukung Bajul Ijo–mengaku menangguk rugi Rp1 miliar. Ini belum kerugian lain yang tak terhitung akibat ulah bonek sepanjang jarak Bandung-Surabaya. Inilah potret sepak bola ini, kalau bukan gambar buram bangsa Indonesia. Fanatisme ugal-ugalan–kata ini saya pinjam dari ekonom Rizal Ramli–yang tak hanya membahayakan diri sendiri, juga komunitas tempat sang subyek berdiam serta masyarakat luas.

Kata fanatisme saya gandengkan dengan kata ugal-ugalan bukan tanpa maksud. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 2000), fanatisme diartikan sebagai keyakinan (kepercayaan) yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama, dst). Subyek yang terjebak fanatisme mengekspresikan keyakinan atau kegemarannya atas sesuatu secara berlebihan–kadang membabi buta–sehingga berakibat kuarang baik, bahkan menimbulkan perseteruan dan konflik serius. Penganut agama yang fanatis misalnya kerap masuk perangkap absolutisme–tak menyisakan kebenaran bagi pihak lain. Fanatisme yang kelewat batas sering kali mengantarkan subyek menjadi fundamentalis.

Tentu saja ada pula energi positif yang bisa diraih dari berpikir dan bertindak fanatis. Subyek dapat menenggak kesenangan saat jadi fanatis. Misalnya, penggemar fanatik grup Slank rela membentuk komunitas, lengkap dengan pengurus dan benderanya setiap distrik, meski tanpa bayaran. Subyek melebur dalam komunitas, menerbitkan jejaring sosial dan ekonomi dan akhirnya membentuknya menjadi manusia utuh. Bagi Slank, fansnya yang fanatis adalah berkah melimpah yang mempertebal keyakinannya terus berkarya dan dengan begitu mengisi pundi-pundi grup band tersebut.

Dengan optik sama, Bonek sebetulnya aset bagi Persebaya–sebagaimana juga Viking (Persib), Jakmania (Persija) atau Aremania (Arema). Dari sisi itu eksistensi Bonek layak disyukuri–bukan hanya bagi bagi klub asal Surabaya itu, melainkan bagi eksistensi sepak bola Indonesia yang sekian tahun ini kering prestasi. Bisa dibayangkan pertandingan Liga Indonesia tanpa penonton yang berjubel. Mungkin tetap pertandingan sepak bola, tapi tanpa jiwa karena tak melibatkan publik sebagai penikmat olahraga tersebut.

Yang jadi soal, justru ketika fanatisme itu tidak terkelola. Yayasan Suporter Surabaya menyatakan Bonek yang berulah itu kerap kali bukan bagian dari perkumpulannya. Artinya mereka kumpulan individu (subyek) yang anonim, tak diwadahi dalam perkumpulan suporter. Berbekal uang pas-pasan, mereka bergabung dengan sesamanya dan lalu melebur menjadi kumpulan individu dalam jumlah massal. Ini yang terjadi ketika puluhan ribu Bonek ngluruk ke Bandung untuk mendukung tim kesayangannya bertanding. Alhasil, Bonek tanpa perkumpulan itu berulah di jalanan: mulai dari merampas makanan para pedagang hingga naik kereta api tanpa bekal tiket. Kisah pilu terjadi pada salah seorang yang tewas setelah jatuh dari atap kereta api. Bermodal Rp75 ribu, ia nekat ke Bandung bergabung dengan kawan-kawannya. Nahas, ia terpelanting dan jatuh dari kereta sehingga nyawa tak tertolong.

Inilah ironi subyek. Adalah maklum dalam kerumunan, subyek bisa terlempar jadi manusia anonim–tanpa identitas. Subyek itu melebur dalam kerumunan, sehingga tanpa sadar melakukan hal sama yang dilakukan subyek-subyek lain dalam kerumunan itu. Seorang diri manusia pastilah takut naik atap kereta api, apalagi jika harus menempuh ratusan kilometer Surabaya-Bandung. Namun, bersama individu lain dalam kerumunan, rasa takut itu akan lenyap. Subyek akan kehilangan rasa takut, ia tak peduli pada risiko. Sebaliknya dalam kerumunan, subyek bermetamorfosis jadi diri yang lain.

Itulah yang saya lihat mana kala menyaksikan Jakmania berjubel naik Metromini. Jika seluruh kursi dan ruang penumpang penuh, maka para Jakmania itu pun duduk di atap Metromini. Di jalanan menuju Lebak Bulus atau Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, mereka berjingkrak dan bernyanyi. Memang terselip masalah laten ekonomi di balik ekspresi kumpulan individu yang kini tak lagi memiliki rasa takut itu. Tapi jika saja rasionalitas masih bertahta pada kumpulan individu itu, ia akan berhitung dengan risiko.

Sungguh pun begitu. Marilah belajar dari masa silam. Saya masih ingat. Saat itu musim kompetisi perserikatan 1986/1987. Saya tinggal nun jauh dari Surabaya–kira-kira sejarak 200-an kilometer. Di Jember, mobilisasi yang dilakukan Jawa Pos [koran lokal paling berpengaruh di Surabaya dan Jawa Timur] untuk memompa semangat warga Jatim mendukung Persebaya yang lolos ke peringkat 6 Besar terasa sekali. Koran yang dibesarkan Dahlan Iskan ini menjadi semacam penyelenggara perjalanan bagi warga Jatim yang hendak menyaksikan Persebaya bertanding di Jakarta. Alhasil puluhan ribu warga Surabaya dan sejumlah kota ikut serta. Persebaya masuk final, tapi dibenamkan PSIS sehingga gagal membawa gelar juara ke Kota Pahlawan.

Pada musim berikutnya, Jawa Pos, tetap melakukan hal tersebut. Persebaya yang kala itu di bawah manajer M. Barmen, kini tak memberikan ampun pada PSIS untuk lolos ke 6 Besar di Senayan. Lewat sandiwara sepak bola gajah, Persebaya mengandaskan PSIS setelah secara suka reladihujani 12 gol oleh Persipura. Persebaya pun terbang tinggi. Mereka menjemput gelar setelah membungkam tuan rumah Persija [3-1]. Mustaqim Cs meraih gelar itu berkat suntikan moril para pendukung fanatiknya, bukan bonek yang ugal-ugalan.

Jikalau kita sepakat “tak ada yang setara dengan nyawa”, maka mulai sekarang seluruh pihak harus mampu mengelola fanatisme itu biar tak menerbitkan anarki di jalanan. Bersama kita bisa!

buku-pesta-dan-cinta

Bung,

Saya terhanyut. Nurmala Kartini Pandjaitan atau Kartini Sjahrir atau Ker begitu piawai mendedahkan kisah kalian. Pada 1968, perkenalan itu terjadi. Ker masuk sebagai mahasiswa baru Fakultas Sastra Universitas Indonesia jurusan Antropologi, sementara dirimu adalah “mahasiswa tua” jurusan Sejarah di fakultas yang sama. Orde Lama telah runtuh, Orde Baru tengah menata diri.

Ker mengaku, saat itu, ia merasa terbebaskan diri dari kekangan aturan-aturan kaku sekolah katolik di Santa Ursula. Di kampus, ia bertemu dirimu, Soe Hok-gie, yang segera mengajak menjelajahi kehidupan mahasiswa yang begitu dinamis. Pernahkah dulu ia menyatakan hal ini? Selengkapnya »

Koin, Simbol, dan Kuasa

December - 11 - 2009 6 KOMENTAR
koin-simbol-dan-kuasa

Koin. Kata ini belakangan kerap jadi diskursus publik. Benda ini dihubungkan dengan Prita Mulyasari, wanita yang jadi ‘pesakitan’ gara-gara menulis surat elektronik (email) karena merasa diperlakukan tak sepatutnya oleh sebuah rumah sakit yang membubuhkan kata internasional di belakang namanya. Prita yang mendapat simpati dan dukungan luar biasa dari seluruh capres menjelang Pilpres lalu (di mana mereka kini?) diwajibkan membayar denda Rp204 juta oleh Pengadilan Tinggi Banten. Ini mengilhami sekelompok masyarakat menerbitkan gerakan yang disebut “Koin untuk Keadilan”. Misinya membantu meringankan beban Prita!

Inisiatif macam ini sebetulnya duplikasi dari gerakan koin yang kini makin meluas di sejumlah kota di tanah air, yakni “Coin a Chance” (CaC). Ini tak lain gerakan sosial mengumpulkan uang logam atau biasa disebut recehan yang belakangan makin jarang digunakan. Lebih jarang lagi karena bank sentral menerbitkan uang pecahan Rp2.000 (kertas) sebelum lebaran Idul Fitri lalu. Pecahan yang membuat rupiah kurang bernilai bagi warga miskin karena hanya bisa ditukar dengan dua buah kerupuk. Dengan koin yang dikumpulkannya, CaC berharap rupiah tersebut bisa ditukar dengan sebuah kesempatan bagi anak-anak yang kurang mampu agar dapat melanjutkan sekolah lagi. Selengkapnya »

Pemimpin Sejati

December - 8 - 2009 8 KOMENTAR
pemimpin-sejati

Vincent Hakim R.


Dalam suatu lamunan, tiba-tiba saya teringat satu pengalaman pribadi di sebuah sekolah.

Seorang anak laki-laki ditanya oleh orangtuanya, “Nak, apa cita-citamu kelak?” Si anak balita itu dengan sangat percaya diri spontan menjawab, “Mau jadi plesiden!” katanya dengan suara dan pengejaan yang masih sangat khas anak-anak. Sementara anak yang lain lagi menjawab ingin jadi jenderal ketika ditanya dengan pertanyaan serupa. Yang lain lagi ingin jadi menteri, polisi, tentara, dokter, insinyur, pengacara, hakim, jaksa, ahli ini, ahli itu, direktur bank, dll. Semua anak ingin menjadi “orang hebat” atau “orang penting” dengan kata lain, mereka kelak ingin menjadi “bos” alias pemimpin. Tentu saja, para pengajar, pembina, dan orang tua siswa amat bangga dengan cita-cita anak-anak didik yang ceria itu.

Pertanyaan jail saya tiba-tiba muncul, kenapa ya..tidak ada satu pun anak yang melontarkan jawaban ‘nyleneh’. Misal, jika besar nanti aku ingin jadi pelayan. Atau mungkin, lebih konkrit lagi, ingin jadi TKI di luar negeri. Bukankah lebih dari setengah juta warga negara Indonesia menjadi TKI, itu cukup menjadi daya pikat bagi anak? Ditambah lagi para TKI itu mendapat julukan terpuji sebagai pahlawan devisa bagi negara? Atau barangkali, ratusan ribu orang lainnya yang bekerja sebagai pembantu di negeri sendiri? Bukankah mereka menjalankan pekerjaan yang halal?  Selengkapnya »

kiamat-memang-sudah-dekat

Rinaldo

Sudah sejak lama saya hafal dengan istilah greenhouse effect, global warming, dan climate change. Wajar saja, karena istilah-istilah itu bukan sesuatu yang baru. Bahkan, greenhouse effect atau efek rumah kaca sudah dipopulerkan Jean Baptiste Joseph Fourier pada 1824, seorang pakar matematika dan fisika asal Prancis, hampir dua abad silam.

Kendati demikian, tak sedikit pun saya tertarik untuk mengetahui maksud istilah-istilah itu. Menurut saya, semuanya sulit dipahami dari sisi makna, tak membumi, dan tak akan bisa dicerna dengan cepat. Namun, semuanya berubah ketika saya menyaksikan film dokumenter berjudul An Inconvenient Truth (2006). Selengkapnya »

Subagyo dan Anggodo

November - 19 - 2009 12 KOMENTAR
subagyo-dan-anggodo

Yus Ariyanto

Subagyo pernah mendekam di bui. Monitor Depok menulis, ia menjadi penghuni LP Paledang, Bogor, pada 2006. Kesalahannya: bermain judi. Selasa (17/11) lalu, di sebuah rumah kontrakan, ia kembali melakukan hobi itu bersama tiga temannya. Mungkin, ia melakoninya sebagai rekreasi di sela-sela pekerjaan sebagai supir angkutan umum D-102 jurusan Limo-Depok. Hari menjelang petang.

Ketika mereka asyik dengan permainan itu, tiba-tiba datang sekelompok orang yang kemudian diketahui adalah anggota Polsek Limo, Depok, Jawa Barat. Para penjudi itu kontan tunggang-langgang, berusaha melarikan diri. Tiga orang gagal dan diringkus. Tapi, Subagyo nahas: peluru membuatnya meregang ajal. Selengkapnya »

menantang-pejabat-memilih-waras

Zaky Muzakir

Dikisahkan Nabi Muhammad SAW tinggal di rumah sederhana berukuran kecil. Makan pun tak pernah berlebihan. Selalu berhenti sebelum kenyang. Begitu pula hampir semua pemimpin agama. Intinya, mereka hidup dalam kesederhanaan. Sayang, teladan ini rupanya sulit ditiru pejabat tinggi negeri ini. Setidaknya terlihat dari Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara yang berniat menaikkan gaji pejabat negara.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 mengenai Pokok-pokok Kepegawaian, yang termasuk kategori pejabat negara adalah presiden dan wakil presiden, kepala daerah beserta wakilnya, hakim pengadilan, para ketua DPR, dan para menteri. Bila rencana itu disetujui, diperkirakan ada sekitar 7.000 pejabat negara di Indonesia menerima kenaikan gaji yang berkisar 10 persen hingga 15 persen. Selengkapnya »

kemiskinan-dan-aroma-lumpur-lapindo

Syaiful Halim

Tidak mudah menorehkan nilai paling tepat dalam lajur Bidang Kesra untuk Kabinet Indonesia Bersatu jilid satu. Selain menyangkut pasokan data yang teramat bejibun, juga dihadang kekhawatiran soal obyektivitas. Sehingga, harap dimaklum, bila pada akhirnya saya memilih fakta “terpopuler” di mata pemirsa sebagai alasan penilaian.

09/09/2009: Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie dijadwalkan bertemu Panglima Organisasi Papua Merdeka (OPM) dalam kunjungan kerjanya ke Enarotali, Kabupaten Paniai, Papua. Menurutnya, pertemuan itu bukan agenda utama karena kunjungan kerjanya ke Enarotali adalah untuk meresmikan dimulainya pembangunan permukiman terpadu tahap I di kampung Madi, Enarotali.

Dengan pendekatan itu, Ical berharap, mereka mau turun kembali ke kampung halamannya dan membaur dengan masyarakat lainnya dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selengkapnya »

surat-untuk-yang-terhormat

M. Nurul Amin

Saudara Yang  Terhormat, saya memang harus memanggil Anda demikian. Ini bukan basa-basi, Anda memang Terhormat. Bagaimana tidak, Anda adalah orang  terpilih dari jutaan, bahkan puluhan juta jiwa rakyat Indonesia. Sudah pasti Anda yang terbaik, dan di negeri ini, yang terbaik adalah yang Terhormat.

Saya kagum dengan sepak terjang Anda sehingga Anda kini menjadi orang Terhormat. Saya hargai perjuangan Anda hingga akhirnya Anda sekalian menjadi kumpulan orang yang Terhormat. Tidak ada penghormatan yang sangat tinggi, kecuali menghargai Anda, Yang Terhormat. Selengkapnya »

pengemis-fatwa-dan-dosa-negara

Moh Samsul Arifin

Ikhtiar untuk meredam tingginya angka pengemis diintensifkan Pemprov DKI Jakarta bulan Ramadhan lalu. Pernah suatu waktu di akhir Agustus, Dinas Sosial Jakarta menangkap warga yang kedapatan memberi sedekah pada pengemis. Merujuk Perda 8/2007 hakim PN Jakpus, Jakbar, Jaksel dan Jaktim memberi sanksi Rp 150.000-300.000 kepada para pemberi sedekah itu. Hukuman itu jauh lebih ringan dibandingkan ancaman hukuman dalam Perda Ketertiban Umum, yaitu kurungan maksimal 60 hari atau denda maksimal Rp 20 juta.

Penggunaan hukum positif ala Jakarta ini ditempuh pula oleh Makassar, Aceh, Palembang, dan Bali. Yang lain menggunakan otoritas lembaga keagamaan, seperti dilakukan MUI Sumenep Jawa Timur jelang Ramadhan 1430 Hijriah yang mengeluarkan fatwa haram mengemis. Menurut Ketua MUI Sumenep KH Syafraji mengemis akan menjadikan diri hina dan merugikan orang lain. “Islam sudah secara tegas melarang kegiatan mengemis karena termasuk bermalas-malasan,” paparnya. Selengkapnya »

Berlian Adalah Berlian

September - 15 - 2009 23 KOMENTAR
berlian-adalah-berlian

Zaky Muzakir

Di sebuah rumah sederhana, seorang ustaz melontarkan pertanyaan pelik kepada saya dan puluhan teman sepengajian. “Kalau dari dubur anjing keluar berlian, apa yang akan kalian lakukan?” Kami yang rata-rata masih duduk di bangku sekolah dasar terdiam.

Sang ustaz kemudian memberikan pilihan. “Tak mengacuhkan berlian atau mengambilnya?

Kami masih saja terdiam. Berpikir keras menerka jawaban apa yang diharapkan sang guru. Sebelum akhirnya kami tuntas menarik kesimpulan masing-masing, ustaz mendahului, “Berlian adalah berlian. Orang bijaksana akan mengambil berlian dan membersihkan kotoran yang menempel.”

Kisah ini bukan hadits. Hanya saja, wejangan itu teringat begitu saja ketika saya membaca sebuah bab dalam buku berjudul Syubhat-Syubhat Seputar Jihad dan Akibat Meninggalkannya [jihad] karya Abu Muhammad Jibriel.

Saya tidak akan membahas perihal tema umum yang ditawarkan penulis dalam buku itu, yaitu tentang jihad. Melainkan perkara penelusuran sahih-dhaif sebuah hadits yang sedikit disinggung dalam sebuah bab buku ini. Dan pemahaman logika saya yang tak menguasai ilmu fiqih itulah, yang akan dibeberkan di sini.

Dalam buku diungkapkan bahwa sebuah hadits yang selama ini populer di kalangan muslim ternyata kredibilitasnya lemah alias dhaif. Hadits yang dimaksud berbunyi seperti berikut:

“Kita semua baru kembali dari jihad ashgar (kecil) menuju jihad akbar.” Para sahabat Muhammad SAW bertanya: “Apakah jihad akbar itu wahai Rasulallah?”

Baginda menjawab: “Jihad melawan hawa nafsu.”

Menurut Abu Jibriel, ada banyak cacat kredibilitas pada diri para perawi hadits ini, karenanya menjadi dhaif. Dengan panjang lebar, Abu Jibriel menunjukkan, setidaknya ada tujuh kesaksian yang mengkonfirmasi bahwa hadits di atas lemah. Kemudian di akhir pembahasan, Abu Muhammad Jibriel menarik kesimpulan sebagai berikut.

“Karena itu jihad yang besar bukan jihad melawan hawa nafsu, tetapi memerangi golongan kafir yang memerangi umat Islam. Wallahualam.”

Di luar konteks fikih Islam, kesimpulan di atas tidak valid. Karena penelusuran keterpercayaan perawi tidak menyentuh prinsip ide yang terkandung dalam hadits. Penelusuran perawi hanya menyinggung perjalanan hadits hingga ke telinga kita.

Meneliti keaslian sebuah hadits, dengan menelusuri tingkat kepercayaan perawi (penyampai hadits) tentu mulia. Dalam Islam, hadits menduduki hierarki hukum cukup tinggi. Perkataan Rasulallah adalah rujukan hukum kedua setelah Alquran. Jelas dalam menjalankan syariat Islam, membedakan mana hadits asli dan palsu menjadi sangat penting. Untuk menentukan kesahihan hadits itulah kredibilitas perawi ditelusuri.

Tapi, karena yang ditelusuri hanya keterpercayaan perawi, tidak serta merta isi dari hadits yang dhaif menjadi salah atau menyesatkan.

Di dalam buku ini, hadits jihad kecil vs besar diletakkan dalam konteks keutamaan berjihad. Penulis secara tersirat menganggap bahwa banyak umat muslim enggan berjihad dengan merujuk hadits tersebut. Padahal, bisa saja penulis mengarahkan pemahaman umat secara lebih cerdas tanpa perlu membahas sahih atau dhaif.

Saya pribadi sepaham dengan hadits yang dianggap dhaif tersebut. Hawa nafsu adalah tembok besar yang menjaga egoisme pribadi tetap dalam pelukan sekaligus menghalangi otak berpikir mengenai keutamaan urusan akhirat.

Keengganan untuk berjihad sangat mungkin berakar dari hawa nafsu untuk hidup selamanya, menghindar dari masalah, lari dari tanggung jawab, dan alasan keduniaan lain. Kecintaan manusia terhadap dunia sangat mungkin menghalangi atau setidaknya menggembosi semangat jihad fisik ke medan perang.

Sebaliknya, hawa nafsu bisa juga menghalangi para mujahid berpikir jernih dalam berjihad. Ekses yang terjadi akibat jihad yang didorong oleh hawa nafsu tak kalah mengerikan dari kemalasan umat muslim untuk berjihad fisik.

Lebih dari itu, tak perlu membuang hadits-hadits lemah kredibilitas. Karena berlian adalah berlian. Kebenaran adalah kebenaran. Dari mana pun ia berasal.

Selemah apapun kredibilitas penyampai kebenaran itu. Karena, toh si penyampai kebenaran itu adalah manusia, yang esensi manusiawinya pernah melakukan kesalahan, sekecil apapun.

Yang harus diingat adalah, hadits-hadits itu hanya turun derajat hukumnya. Setelah diketahui dhaif, kedudukannya bukan lagi sebagai rujukan hukum Islam. Itu pun kalau pembaca setuju dengan penelusuran penulis buku tersebut. Wallahualam.(*)

Ramadhan Terakhir

September - 8 - 2009 9 KOMENTAR
ramadhan-terakhir

Syaiful Halim

Setiap kali senja Sa’ban merunduk di ufuk barat, seketika hati ini berdebar-debar tak terkira. Ramadhan itu telah tiba, dengan kesyahduannya nan tak terbatas. Tanpa sadar, titik-titik air mata pun menetes. Subhanallah.

Suka cita adalah perasaan kaum muslim yang paling wajar. Karena, undangan menjadi tetamu Allah SWT pada bulan Ramadhan sejatinya hanya ditujukan bagi orang-orang yang beriman. Sedangkan Allah SWT sebagai Tuan Rumah jamuan Ramadhan tidak pernah membeda-bedakan tingkat keimanan para hambaNya. Entah ia merupakan seorang mualaf, entah ia merupakan orang yang belum yakin dengan kebenaran agama sebagai pegangan hidup, atau entah ia sebagai muslim yang benar-benar telah mukmin. Dalam konteks Ramadhan, setiap muslim yang bertekad memenuhi jamuan Allah SWT adalah orang-orang yang beriman. Selengkapnya »

Klaim Sebatang Rokok

September - 3 - 2009 26 KOMENTAR
klaim-sebatang-rokok

Rinaldo

Haji Agus Salim, politisi kondang di zaman pergerakan serta pascakemerdekaan itu, pernah bercerita. Suatu kali dalam lawatan ke luar negeri dia menumpang pesawat maskapai penerbangan asing. Seperti kebiasaan yang selalu dia lakukan, saat pesawat mengudara mulailah dia membuka bungkus rokok kretek yang tak pernah lupa dibawanya.

Dengan santainya politisi berjanggut subur ini mengisap dalam-dalam rokok kesayangannya. Entah dia sadari atau tidak, rupanya penumpang kiri kanan, yang juga merokok, mulai melirik dengan pandangan aneh. Merasa tidak ada yang aneh dengan dirinya, Agus Salim meneruskan mengisap rokok tanpa peduli pada tatapan itu. Selengkapnya »