Tuesday, May 21, 2013
muda-beda-dan-mengajar-di-desa

Yus Ariyanto

Pesimisme semestinya sesuai dosis. Anak-anak muda Indonesia bukan hanya mereka yang mem-bully adik kelas di sekolah mahal di Pondok Indah; bukan hanya mereka yang suka adu balap di jalanan samping kantor saya dengan mobil yang, berani taruhan, bukan dibeli dari hasil peluh sendiri. Sila simak dua paragraf ini:

“Para Pengajar Muda adalah pejuang-pejuang yang tangguh. Karena tangguhnya, dulu saat pelatihan di Modern Training Camp, kami saling berebut untuk memilih tempat yang paling ekstrem, yang tidak ada listrik, tidak ada sinyal telepon, jalanan jelek, bangunan sekolah yang kurang layak, dan jauh dari ingar-bingar peradaban.”

“Semakin jauh tempat tersebut, justru semakin banyak peminatnya. begitu situasi yang terjadi ketika kami semua dihadapkan untuk memilih daerah penugasan saat di tempat pelatihan. Sepertinya seru apabila kami mampu melewati tantangan tersebut setahun. Tentu banyak pembelajaran kehidupan dari pengalaman tinggal bersama masyarakat di penjuru tanah air.”

Faisal Effendi, sarjana dari FISIP UI, menuliskannya di Indonesia Mengajar: Kisah Para Pengajar Muda di Pelosok Negeri. Ia adalah salah seorang dari 51 Pengajar Muda gelombang pertama, November 2010-November 2011, yang mengabdi sebagai guru SD di berbagai tempat di pelosok Indonesia. Faisal ditempatkan di Tulang Bawang Barat, Lampung.

(Saya mengincar antologi esai itu sejak beberapa bulan silam. Eh, baru kesampaian Kamis lalu. Tersisa satu, saya buru-buru membawanya ke kasir.)

Para Pengajar Muda itu memilih jauh dari kenyamanan—meski sementara. Justru menyongsong aneka risiko. Lihat pengalaman Yuriza Primantara, yang juga ditempatkan di Tulang Bawang Barat . Sebagai guru, ia sesekali menjadi wasit sepak bola saat pelajaran olah raga. Dalam suatu pertandingan, ketika terjadi pelanggaran, peluit Yuriza menjerit. Tak disangka, seorang anak memakinya dengan kata-kata yang tidak pantas. Sang anak tak terima dengan keputusan lulusan ITB itu.

Pada Desember 2010, dalam sebuah forum, penggagas program Indonesia Mengajar, Anies Baswedan, mengatakan, “Mereka di-training selama tujuh minggu. Materinya dua, kepemimpinan dan kepengajaran. Mengapa kepemimpinan penting? Jangan dikira keberadaan di desa selama satu tahun itu akan disambut seluruhnya dengan sukacita. No, setahun itu akan menghadapi problem, menghadapi tantangan. Saya bilang ke mereka: satu tahun ini adalah leadership training yang luar biasa priceless.”

Mereka adalah anak-anak muda terpilih. Punya prestasi akademis yang bagus, kenyang pengalaman berorganisasi, tangguh, serta memiliki jiwa kepemimpinan. Dengan spesifikasi seperti ini, kiranya mereka layak menjadi inspirasi bagi anak-anak desa.

Tak mengherankan pula jika kemudian mereka tak sekadar “sesuai argo.” Erwin Puspaningtyas Irjayanti punya seorang murid, bernama Rizki, yang sudah empat bulan tak pernah hadir di sekolah. Tanpa alasan. Desas-desus menyebutkan, anak itu malas bangun pagi.

Erwin pun berinisiatif memberikan pelajaran tambahan dengan mendatangi Tamaluppu, dua kali dalam sepekan. Tamaluppu adalah sebuah desa yang lebih terpencil daripada Passau, Majene, Sulawesi Barat—daerah penempatan sarjana IPB ini. Ada delapan murid dari daerah ini, termasuk Rizki. O iya, jangan silap, Erwin ini perempuan!

Untuk ke Tamaluppu, Erwin harus berjalan sekitar satu jam. Jika hujan, perjalanan mustahil dilakukan karena jalan setapak yang ada segera berubah menjadi sungai dan air terjun kecil. Pun mesti selalu waspada dengan ancaman babi hutan. Tak heran, para siswa dari Tamaluppu selalu berbekal bambu runcing saat pergi dan pulang sekolah.

Membaca kisah Erwin dan teman-temannya, barangkali memang pesimisme tak usah terlalu erat didekap…

orde-baru-masih-eksis

Yus Ariyanto

Saat itu, Orde Baru belum lama menancapkan kuku kekuasaan.

Sejak akhir 1966, di sejumlah kota seperti Bandung, Yogyakarta, Medan, dan Surabaya digelar razia. Anak-anak muda berambut gondrong atau berpakaian tak sesuai “kepribadian bangsa” akan dikenakan tindakan potong di tempat, baik rambut maupun pakaiannya. Aparat kepolisian dan tentara dikerahkan dalam operasi ini. Selengkapnya »

Mencari Bang Ali

March - 21 - 2012 10 KOMENTAR
mencari-bang-ali

Yus Ariyanto

Juni 1977. Dipo Alam dan Bambang Sulistomo mengenakan kaus bergambar wajah Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta yang saat itu tinggal menunggu hari untuk berhenti. Dua mahasiswa tersebut bicara di sebuah warung di Taman Ismail Marzuki dan mencalonkan Bang Ali sebagai presiden. Mohon diingat, pada 2012, niscaya peristiwa sangat biasa. Pada 1977, tentu tidak. Kekuasaan saat itu berwujud sosok represif dan antidemokrasi.

Dipo dan Bambang menilai Presiden Soeharto bukan tidak berhasil. “Justru keberhasilan Soeharto itu harus digalakkan. Dan percepatan pembangunan memerlukan orang seperti Ali Sadikin,” kata Dipo, bekas ketua umum Dewan Mahasiswa  dan mahasiswa Kimia UI tingkat akhir, sebagaimana dikutip TEMPO edisi 2 Juli 1977. Bambang Sulistomo adalah anak Bung Tomo dan mahasiswa Ilmu Politik UI tingkat akhir yang pernah ditahan karena Peristiwa Malari. Saya tak tahu kiprah Bambang sekarang. Perihal Dipo, kini membantu Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Sekretaris Kabinet.

Masa jabatan Fauzi Bowo sebentar lagi berakhir. Belum ada yang mencalonkannya sebagai presiden. Alih-alih demikian, sejumlah kalangan menyebut kepemimpinannya tak berhasil. Macet yang kian menggila dan banjir yang tak kunjung tertanggulangi menjadi “bukti” utama. Toh, ia tetap mau maju untuk periode kedua. Ada beberapa bakal lawan. Bakal lawan paling berat, menurut saya, adalah Joko Widodo, walikota Solo yang termasyhur itu.

Hampir 35 tahun berlalu, sejumlah kalangan masih menengok ke sosok Bang Ali. Terutama, di hari-hari ini sampai beberapa bulan ke depan ketika Jakarta menempuh proses suksesi kepemimpinan. Ia dianggap sebagai gubernur paling berhasil sepanjang sejarah. Padahal, ia memulai dari tidak tahu apa-apa tentang Jakarta. Saat Bung Karno menunjuknya sebagai gubernur, sang istri yang dokter gigi, Nani Sadikin, tertawa lantaran merasa aneh bahwa suaminya mendapat tugas itu. Ali jelas bukan “ahlinya.”

“Buatlah Jakarta ini kebanggaan seluruh rakyat Indonesia. Malahan jadi kekaguman seluruh umat manusia di dunia ini,” kata Bung Karno dalam pidato tanpa teks usai melantik Bang Ali pada 28 April 1966.

“Itu bukan pekerjaan gampang memenuhi cita-cita, cita-cita yang besar. Tapi Insya Allah, doe je best, agar supaya engkau dalam memegang kegubernuran Jakarta Raya ini benar-benar juga sekian tahun lagi masih orang mengingat, dit heeft Ali Sadikin gedaan, inilah perbuatan Ali Sadikin,” lanjut Bung Karno seperti termuat di Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977.

Saya belum lahir saat Bang Ali dilantik dan masih terlampau kecil saat ia turun jabatan. Maka, muncul pertanyaan di kepala: apa yang sejatinya telah diperbuat anak Sumedang itu? “Ia mulai dengan menambal jalan Dan, bagi orang yang semula terbiasa melihat borok di mana-mana, jalan halus yang baru sepotong pun sudah tampak sebagai mukjijat. Apa lagi. Gedung bertingkat? Taman Ismail Marzuki? Perbaikan kampung, pelayanan, penghijauan? Tak ada yang istimewa. Saatnya memang sudah matang untuk itu. Duitnya ada, walaupun dengan defisit berencana. Pendeknya, dari segi substansi, tak ada yang luar biasa,” tulis seorang penulis kolom di TEMPO edisi 9 Juli 1977. Si penulis mengutip temannya yang pernah ambil MA di Amerika Serikat.

Lalu, teman sang kolomnis itu mengajukan semacam teori: “Ali Sadikin mengisi kebutuhan akan pemimpin yang bisa didewakan. Karismatis. Kita mendewakan pemimpin yang berani, karena kita semua sudah jadi penakut. Kita tidak terus-terang, tak tahan tekanan, tak tahan kritik. Maka tokoh yang blak-blakan, tahan tekanan dan tidak naik pitam jika dikritik, jadi pujaan kita. Kita merindukan orang kuat, pemimpin yang karismatis, dan Ali Sadikin mengisi kerinduan itu dengan gaya pribadinya yang khas.”

Puluhan tahun lewat. Kompleksitas persoalan Jakarta sudah naik beberapa kali lipat. Juga sistem dan kultur politik. Pun hal-hal lain. Andai benar yang ingin “dipinjam” dari Bang Ali adalah karakter kepemimpinan, kita agaknya belum beranjak jauh. Masih berkutat di persoalan yang sama. Di level nasional, Susilo Bambang Yudhoyono juga kerap dituding bekerja tanpa determinasi, penuh keraguan, terlalu ingin menyenangkan semua pihak.

Jakarta dan Indonesia, boleh jadi, punya kebutuhan yang sama. Siapa sukses memimpin Jakarta mungkin dibutuhkan untuk mengelola Indonesia di masa depan. Tak perlu “Dipo Alam dan Bambang Sulistomo” era abad ke-21 karena “rakyat” sendiri yang akan memanggil.

gembala-bukan-peran-pembantu

Raymond Kaya

Anak saya sedikit memprotes saat diminta untuk menjadi gembala dalam perayaan Natal di sekolahnya. Buatnya menjadi Yusuf adalah peran sentral dalam cerita Natal dan tentu dalam memilih Yusuf biasanya dipilih anak yang paling tinggi, cerdas dan tampan di kelas itu. Tapi jika gembala ya boleh siapa saja, terlebih jika hanya menjadi dombanya saja.  Peran penting  dalam cerita natal lainnya adalah yang menjadi Maria.  Pastilah dipilih yang  paling cerdas, tinggi dan cantik. Pokoknya pasangan Yusuf dan Maria adalah yang paling ter – di kelas itu.  Perang atau lakon  lain yang  bergengsi dalam cerita natal di sekolah atau Sekolah Minggu biasanya adalah  orang – orang Majus.  Pemerannya diperbolehkan memakai pakaian yang bagus layaknya seorang raja. Adegannyapun cukup bergengsi karena membawa hadian berupa emas, kemenyan dan mur yang dibawa ke hadapan  palungan.  Jika jadi orang Majus boleh berpakaian bagus,  seorang anak yang berperan sebagai gembala  paling  top mengenakan kaos dalamdisertai sarung dengan membawa sebuah tongkat.

Peran Gembala memang sederhana. Logikanya saat mereka mendapatkan kabar baik itu dimalam hari, tentu hanya seorang  pekerja yang sederhana yang ada dipadang. Sebab   para tuan pemilik -domba ini akan tidur dan mempercayakan “ harta mereka “ pada para gembala.  Meski sederhana saat menerima kabar sukacita itu, reaksi gembala ini sunguhlah luar biasa, mereka segera pergi  menembus padang untuk melihat  kelahiran Yesus itu.  “Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang terbaring di palungan.“  ( Lukas 2:16) . Reaksi para gembala ini luar biasa. Kata cepat-cepat ini berarti mereka tanpa perlu konfirmasi, berdiskusi atau voting. Tapi  langsung perlu dan segera mencari untuk menjumpai Maria, Yusuf dan bayi Yesus. Menariknya lagi meski mereka mengejar kabar baik itu, tapi tugas mereka sebagai gembala tetap dijalankan dengan baik, terbukti dalam semua drama natal, anak –anak yang lebih besar menjadi gembala dan anak-anak yang lebih kecil menjadi domba-dombanya. Sikap positif lain dari para gembala itu bukan sekedar datang tapi juga memberitahukan pada semua orang (kas 2:17-18 Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. ) kata semua orang bukanlah hal yang mudah apalagi dalam konteks kekinian sebagai seorang  Kristen. Banyak orang Kristen engan menyebarkan kasih Tuhan pada orang lain, sebab saat hal itu dilakukan maka semua mata akan memadang pada orang itu apakah perilakunya sesuai dengan apa yang dikatakannya.

Usai memberitakan para Gembala ini melakukan hal lain yaitu menyampaikan pujian  (Lukas 2:20 Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.).  Proses mendengar – datang – menyembah – memberitahukan dan memuji-muji dalam satu waktu bukanlah basa-bai. Inilah sebuah perilaku hati yang diinginkan Tuhan saat Anaknya lahir kedunia, sebuah hati yang dimiliki seorang gembala. Jadi  menjadi perang seorang gembala dalam perayaan di sekolah ataupun sekolah minggu bukan lakon kelas dua atau hanya sekedar peran pembantu dalam cerita lahirnya Yesus.  Peran gembala adalah pemain penting dalam sebuah proses lahirnya Yesus,  karena melalui merekalah kabar sukacita itu muncul…bahkan hingga saat ini.

budi-utomo-hanya-romantisme-masa-lalu

Aribowo Suprayogi

Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) terbaru menyebutkan tingkat kepuasan publik atas kiprah politisi muda (politisi yang berusia di bawah 50 tahun) hanya 24,8 persen yang berarti publik (responden) merasa kecewa atas kinerja politisi muda saat ini. Sedang sisanya 75,2 persen publik (responden) tidak menjawab dan menyatakan tidak baik.

Prihatin memang melihat kiprah politis muda Indonesia jika melihat hasi l survei ini. Gedung DPR RI dalam karikatur digambarkan sebagai kue raksasa yang bernama APBN yang dipotong-potong dan dibagi-bagikan kepada anggota DPR, dan hampir tidak ada yang tersisa untuk rakyat. Selengkapnya »

proklamasi-cirebon-1945

Rinaldo

Pagi itu, Rabu 15 Agustus 1945. Ratusan pemuda terlihat berkumpul di Alun-alun Kejaksan, Kota Cirebon, Jawa Barat. Meski tengah berpuasa di bulan Ramadan, mereka terlihat bersemangat dan bergairah. Rencananya, hari itu mereka akan membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, bertepatan dengan yang akan juga dilakukan oleh pemimpin bangsa di Jakarta.

Tapi, ada situasi di Jakarta yang tak diketahui oleh para pemuda di Cirebon. Karena keterbatasan alat komunikasi ketika itu, maka sejarah mencatat bahwa Kemerdekaan Indonesia terlebih dahulu diproklamirkan di Cirebon. Sedangkan di Jakarta sendiri proklamasi baru dikumandangkan dua hari kemudian oleh Soekarno-Hatta. Selengkapnya »

meluruskan-yang-kadung-melengkung

Stephen Vincent

“BAAHHHH!!!” begitu saya mengucap, tapi tanpa suara, hanya nyangkut  di ujung bibir sebelah dalam, diiringi helaan napas panjang mendalam. Nyaris mau keluar, tapi seolah banyak “pagar” yang menahannya. Padahal, mata sudah mau lompat mendelik, sambil berteriak: “Mau maraaaah!!!” Tapi, ya, harus ditahan. Dan, itu rasanya… BAH!, amat lebih menyebalkan.

Ada unek-unek yang selalu berulang setiap tahun, dan bagi saya, seperti déjà vu persoalan yang acap membuat geram namun tak tertuntaskan. Tahun ini, terasa lagi, bahkan dua. So, komplitlah rasa “kesetrum” yang tengah saya jalani. Selengkapnya »

darsem-namanya-negara-ayahnya

Raymond Kaya

Darsem namanya, sebuah nama yang  tidak dikenal luas masyarakat. Tapi jika kita mengetik nama Darsem di Google ataupun Yahoo maka akan muncul berita mengenai perempuan ini. Nama Darsem baru terkenal setelah Ia terancam hukuman mati di Arab Saudi. Perempuan asal Subang  Jawa Barat ini sempat  akan di pancung karena terbukti membunuh majikan laki-laki yang  akan memperkosanya  Meski membela diri, tapi Darsem tetap dianggap bersalah, sehingga ia harus dihukum mati. Tapi  pihak keluarga korban memaafkan Darsem dan bersedia menerima uang penganti sebesar 4,7  Miliar Rupiah. Uang ini di bayarkan oleh Kementrian Luar Negeri  setelah berkonsultasi dengan   Komisi Satu DPR RI.

Sebetulnya Darsem lolos dari hokum pancung itu bukan karena membayar uang sekitar 4,7 miliar rupiah itu tapi utamanya adalah pengampunan yang diberikan oleh keluarga  pada Darsem. Jika tidak ada pengampunan dipastikan nasib  pahlawan devisa  ini berakhir dengan cara di pancung. Cerita sedih muncul  ketika  Ruyati dipancung tanpa diketahui  oleh  pemerintah  khusunya KBRI di  Arab Saudi. Alasannya  selain tidak diketahui, perempuan malang  ini tidak  memperoleh pengampunan dari keluarga. Memang ada cerita bahagia menjadi  TKI  di Arab Saudi, tapi  cerita  ini tak ada artinya jika masalah seperti Darsem dan Ruyati akan kembali terulang. Selengkapnya »

Membela Bu Siami

June - 14 - 2011 11 KOMENTAR
membela-bu-siami

Yus Ariyanto

Menyaksikan perlawanan terhadap Ibu Siami adalah menonton wajah kita yang belepotan. Kita memuja hasil, abai terhadap proses. Tujuan menghalalkan segala jalan.

Di Surabaya, Siami mengungkap kecurangan dalam proses ujian nasional yang diikuti anaknya: mencontek massal. Tapi, para orangtua lain tak terima. Siami dikecam dan mesti pergi dari rumah [baca: Siami Kembali Didemo]. Selengkapnya »

pak-gubernur-memilih-ke-jerman

Yus Ariyanto

Gubernur Sumatra Barat  Irwan Prayitno mengingatkan saya pada Rudy Giuliani. Segera setelah New York diserang para teroris pada 11 September 2001, Rudy, yang saat itu menjadi walikota, bergerak. Ia bekerja belasan jam tiap hari. Ia memimpin operasi penyelamatan secara langsung di lapangan, pun bolak-balik ke rumah sakit untuk menenangkan korban.

Rudy juga terus mencoba merawat solidaritas warga dengan beberapa kali bicara di televisi dan radio. Tak mengherankan, majalah Time memilihnya sebagai Person of The Year 2001 dan  Ratu Inggris memberinya gelar “Ksatria.” Selengkapnya »

berterima-kasih-kepada-jambur

Boy Bakamaro

Bagi masyarakat Kabupaten Karo, di Sumatera Utara, keberadaan Jambur atau Losd telah menjadi kebutuhan yang terbangun secara alami.Jambur atau Losd awalnya tempat sosial warga tanah Karo untuk memanen hasil pertanian atau jual beli dan di masa kini berkembang menjadi tempat menggelar pesta adat seperti perkawinan atau kematian.Hampir setiap desa di tanah Karo memiliki Jambur atau Losd. Jambur bahkan banyak ditemui di kota Medan, karena telah menjadi kebutuhan sosial.

Jambur jugalah yang meringankan kegagapan pemerintah Kabupaten Karo, yang selama ini hanya disibukkan oleh arus perdagangan hasil pertanian yang melimpah ruah, dalam menangani bencana Gunung Sinabung, yang dipercayai baru kali pertama terjadi dalam 400 tahun terakhir. Selengkapnya »

Pencerahan

September - 8 - 2010 18 KOMENTAR
pencerahan

Vincent Hakim R.

Dalam suasana refleksi kemerdekaan bulan Agustus, di awal Ramadhan lalu, seorang teman ngobrol via fasilitas ceting FB, “Mas…kenapa ya udah 65 tahun merdeka, udah gonta-ganti pemerintah, banyak sekali rakyat negeri ini yang masih saja miskin dan bodoh” katanya mengawali ceritanya. “Lho, padahal satu-satunya negeri di atas bumi yang punya kekayaan alam tak tertandingi…ya hanya Indonesia!” tambahnya lagi.

Kawan ini lalu bercerita banyak tentang data yang setiap hari dia geluti. Dia cerita tentang Freeport, tentang Pertamina, BUMN, kekayaan daratan, alam laut, dan hutan. Luar biasa! Semua kekayaan negara itu sampai detik ini, hanya dinikmati oleh bangsa lain dan segelintir orang di negeri ini. Para konglomerat, pengusaha hitam, dan termasuk para pembesar negeri, mantan jenderal tentara dan polisi. Sedangkan rakyat kebanyakan hanya jadi penonton. Selebihnya hanya jadi pengguna produk olahan bangsa lain, yang sebenarnya bahan bakunya berasal dari kekayaan alam negeri ini. Itu pun dengan harga selangit. Ironis. Selengkapnya »

Foke dan FPI

August - 8 - 2010 53 KOMENTAR
foke-dan-fpi

Yus Ariyanto

Ahli strategi militer Sun Tzu disebut-sebut menjadi pelontar pertama. Filsuf Niccolo Machiavelli terkadang dihubung-hubungkan juga. Tapi, agaknya Al Pacino, sebagai Michael Corleone di The Godfather: Part II, yang paling bertanggung jawab atas popularitas kalimat ini: keep your friends close, but your enemies closer.

Kalimat di atas menggenangi pikiran saya saat mendengar Pemprov DKI Jakarta akan menggandeng Front Pembela Islam (FPI) dalam mengamankan Jakarta sepanjang Ramadan. “Kita mengajak FPI sebagai komponen masyarakat untuk mengamankan bulan Ramadan, supaya umat Islam menjalankan ibadah lebih khusuk,” kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo alias Foke [baca: Foke Ajak FPI Amankan Ramadan].

Langkah ini kontroversial. Dengan mengajak FPI, menurut LBH Jakarta, Foke telah memilih bersekutu dan mendukung kekerasan. “Ini kontras dengan sikap Foke terhadap masyarakat sipil yang selama ini cenderung tutup kuping dan sulit untuk menerima masukan dan kritik,” kata Direktur LBH Jakarta Nurkholis Hidayat dalam jumpa pers, Jumat lalu.

Terkait FPI, Foke juga jadi sorotan saat datang ke acara ulang tahun FPI di Petamburan, Jakarta Pusat, pekan lalu. Kesan yang meruap: mesra. Ah, ingatan kita masih cukup kuat untuk menjulur sampai April silam. Di saat itu, FPI ikut dalam massa yang mempertahankan makam Mbah Priok di Jakarta Utara yang hendak digusur Satpol PP. Bentrokan meletus, darah tumpah: tiga anggota Satpol PP tewas.

Tetap bertengger dua pertanyaan ini: ada apa di balik perangkulan FPI? Siapa memperalat siapa? Seorang teman nyeletuk, “Kan aparat Pemprov sudah digaji untuk mengerjakan hal-hal seperti itu. Kok masih ngajak-ngajak pihak lain? Mau cari aman dan enak sendiri?”

Mendengar celetukan itu, saya hanya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.  Di rumah, saya mencari-cari The Godfather: Part II, ingin melihat lagi Al Pacino mengucapkan “keep your friends…” Tidak ada. Dalam kecewa, saya membayangkan ini: Foke merangkul juga FPI demi membebaskan Jakarta dari macet dan banjir.

keanehan-sang-wali-kota

Yus Ariyanto

Aneh bin ajaib. Pemerintah Kota Bandung, Jawa Barat, mencekal Ariel “Peterpan,” Luna Maya, dan Cut Tari dalam melakukan aktivitas keartisan di Kota Kembang selama menjalani masalah hukum terkait video mesum yang diduga dilakoni mereka. Pencekalan dicabut jika ketiganya secara hukum tidak terbukti sebagai pelaku.

Wali Kota Bandung Dada Rosada menyatakan, Pemkot juga melarang wajah Ariel, Luna, dan Tari muncul dalam iklan, poster, atau baliho di Bandung.

Sang wali kota berpendapat, Ariel yang merupakan warga kota Bandung justru telah mencoreng nama Kota Kembang sebagai kota agamis-religius. Kepada koran lokal, Dada juga bilang, tak tertutup kemungkinan bahwa Ariel yang berdomisili di Arcamanik, Bandung, dicoret sebagai warga. Selengkapnya »

sebiduk-melintasi-musi

Anri Syaiful

Sampai sekarang perahu masih digunakan warga Palembang sebagai alat transportasi di Sungai Musi. Satu di antaranya perahu ketek. Disebut perahu ketek lantaran perahu ini menggunakan mesin yang mengeluarkan suara: “tek, ketek”.

Liputan6.com, Palembang: Lelaki berpostur tegap itu mengisap dalam-dalam sebatang rokok kretek merek murahan. Sesekali matanya menatap ke arah sampan bermotor yang ditambatkan di bantaran Sungai Musi, tak jauh dari Jembatan Ampera. Lelaki berusia kepala empat itu lebih banyak memperhatikan lalu lalang manusia di sekitar jembatan yang merupakan urat nadi perekonomian ibu kota Provinsi Sumatra Selatan, Palembang. Selengkapnya »