Miko Toro
Saya mengamati percakapan antara seorang bapak dan tukang ojek langganannya, di sebuah warteg di Jakarta. Karena saya anggap menarik, jadi saya ingat percakapan mereka:
Si Bapak, “Jalan inilah, jalan paling benar di dunia dan akhirat. Jalan lain, pasti salah.”
Tukang ojek manggut-manggut.
Si Bapak tampak bersemangat, melanjutkan, “Jalan ini disebut Jalan Langit. Tata aturannya, persis seperti yang ane biasa lakuin. Ente pasti selamat, kalo ngikutin jalan ini.” (more…)
Vincent Hakim R.
Suatu ketika Pak Rajimin, seorang mantan pejuang kemerdekaan, yang kemudian menjadi guru sejarah di sebuah SD negeri cerita bermimpi hadir dalam undangan warga penghuni surga. Dalam suatu sesi, dibentangkanlah layar lebar putih bersih yang sedang menyajikan suatu kehidupan yang begitu nyata.
“Duh Gusti yang Maha-Agung… ini negeri apa?”
“Saya melihat Ibu Pertiwi” katanya. (more…)
Dwi Anggia
Minggu, satu Juni 2008. Matahari sudah semakin tinggi, selepas Dzuhur ratusan masa mulai berdatangan di depan Istana Negara. Di beberapa titik di depan Istana, termasuk di kawasan monas, sejumlah kelompok masa yang berbeda, berkumpul. Tuntutan mereka sama. Batalkan kenaikan harga BBM, turunkan harga kebutuhan pokok, kadang-kadang ada satu dua yang berbeda, liberalisasi aset energi milik negara. Katanya, sih, agar jangan dikuasai dan dinikmati orang asing.
(more…)
Yus Ariyanto
Mei 2008. Bulan yang bertabur mantra-mantra nasionalisme ini sebentar lagi lenyap dari halaman depan almanak. Reda sudah gemuruh perayaan. Spanduk diturunkan, baliho dilipat, pengeras suara disimpan. Kehidupan kembali berjalan seperti sediakala.
Dan, malam ini, saya bekerja. Komputer butut saya bermerek IBM—belakangan Lenovo (berbasis di Taiwan) mengambil alih kepemilikan lini personal computer perusahaan itu. Saya menggunakan pengolah kata yang dibikin Microsoft, asal Amerika. Di meja, tergeletak flash disk Kingston buatan Cina. Lalu, di mana Indonesia? (more…)
Anton Bahtiar Rifa’i
Ah, pendidikan kita terasa begitu dekat dengan dunia kriminal. Dari koran yang baru saja saya baca, Kepala Sekolah dan empat guru di Menes, Pandeglang, ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi. Mereka diduga membocorkan soal-soal Ujian Nasional (UN). Ini menambah panjang cerita tentang tenaga pendidik yang dikriminalkan menyusul pelaksanaan UN. Di Lubuk Pakam, misalnya, beberapa waktu lalu belasan guru SMA menjadi tersangka karena mengubah lembar jawaban UN murid-murid mereka. Para guru itu digerebek oleh anggota Detasemen Khusus 88 Anti Teror Kepolisian Daerah Sumatera Utara, dengan diwarnai tembakan senapan. Semua peristiwa itu terjadi atas nama UN. Mungkinkah UN telah menjadi “berhala”?
Tulisan ini bukan untuk memberikan pembenaran atas kecurangan yang dilakukan para guru. Hanya saja, kita perlu melihat lagi, bahwa kecurangan itu bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Seperti dalam kisah seorang ayah yang mencuri makanan untuk anaknya karena takut sang anak akan kelaparan, maka tindak kriminal itu harus dimengerti sebagai sesuatu yang lahir dari sebuah tekanan. Di sisi lain, pemerintah juga tidak bisa lepas tangan begitu saja, seolah-olah ini hanya persoalan hukum dan pembocoran rahasia negara. Bagaimanapun, banyaknya pelanggaran UN merupakan ekses dari kebijakan pendidikan nasional, dan harus dilihat melalui kacamata sistem pendidikan. (more…)
Vincent Hakim R.
Cinta memang tidak pernah kering menjadi sumber inspirasi bagi kehidupan. Cinta terukir dalam berbagai wujud, bisa dalam bentuk kata-kata, tindakan, suatu benda simbolis, dan banyak ragam tanda lainnya. Para seniman tak bosan-bosannya memilih tema cinta dalam karya-karyanya. Orang-orang (terutama para penikmat seni) juga tak pernah jengah dengan karya bernuansa cinta. Kategori “cengeng atau bermutu” menjadi tak terlalu penting karena cinta menjadi suatu kebutuhan. Kadang kala orang butuh juga cinta berkharakter cengeng. Atau kadang orang juga memerlukan cinta yang tegar berjiwa heroik.
Cinta tidak berjalan sendiri. Ada kesetiaan. Kolaborasi cinta dan kesetiaan memperkaya khazanah kehidupan menjadi putih bersih beraura positif. (more…)
Rahman Andi Mangussara
Di blog ini, kolega saya, Samsul Arifin, menulis artikel di bawah judul Malu Aku jadi Orang Indonesia. Tulisan ini mendapat banyak respon yang sebagian besar, jika tidak seluruhnya, adalah kritik. Para netter/blogger itu “marah” karena Samsul dianggap tidak bangga jadi orang Indonesia (saya tidak perlu mengulang lagi secara rinci apa yang membuat sejawat saya itu menulis seperti itu). Dalam pandangan kawan-kawan bloggers itu, seberapa buruk pun wajah Indonesia, kita harus tetap bangga hidup di buminya. (more…)
Yus Ariyanto
Akhir pekan lalu, Havel berkenalan dengan YouTube. Saya mulai dengan membukakan Naruto, film kartun yang digandrunginya. Mendapati cuplikan-cuplikan Naruto, anak sulung saya yang baru enam tahun itu, girang tak kepalang.
Tapi, kegirangan itu harus stop. Pemerintah Indonesia memblokir YouTube. Alasannya, situs tersebut tak mengindahkan permintaan agar Fitna karya Geert Wilders diturunkan. (more…)
Vincent Hakim R.
Sederhana tidak sesederhana makna kata-katanya.
Keserderhanaan. Sebuah kata yang amat sulit dipahami arti sebenarnya. Mungkin karena biasa dipakai orang untuk “menipu” makna sesungguhnya hingga sering bias. Banyak orang bersembunyi di balik arti kata sederhana. Arti kesederhanaan merangkul pikiran, memeluk erat kata-kata dan perilaku. Dan yang pasti, menyatu dalam kemesraan kedalaman penghayatan hidup spiritual penuh ketulusan. Dalam bahasa Jawa ada kata bermakna filosofis SUMELEH. Artinya: lepas, tulus ikhlas, tanpa beban, tidak ada pretensi negatif apa pun di belakangnya. Ada makna “kepasrahan diri” di sana.
Alkisah ada seorang duda tua miskin yang hidup bersama dua anak. Setelah istrinya meninggal, ia seorang diri mengasuh dua anaknya. Seorang anak laki-lakinya gagah dan tampan. Adiknya seorang perempuan cantik dan cerdas. Kemiskinan Pak Tua dan kondisi kedua anaknya sering jadi perbincangan warga desa. Pak Tua tidak terlalu ambil pusing dengan berbagai omongan orang. Dia tetap hidup sederhana dan rajin bekerja sebagai buruh tani di sawah.
(more…)
Anton Bahtiar Rifa’i
Udara ini sudah terlalu bergemuruh bagi segala keluh kesah. Hari sudah terlalu letih bagi jiwa-jiwa yang murung. Lantas, kemanakah lelaki itu akan membawa kegelisahan hatinya? Nadi, lelaki itu, hanya bisa duduk dengan wajah kuyu di hadapan majelis hakim. Dalam tatapan matanya, bergulung kegelisahan.
Semua itu bermula dari ketakutan Nadi akan rasa lapar. Anak yatim warga desa Rancasanggal, Cinangka, Kabupaten Serang, itu adalah tulang punggung bagi ibu dan enam adiknya. Lelaki berusia 27 tahun itu mencari nafkah sebagai kuli panggul kayu setiap ada penebangan pohon di kampungnya. Namun, tidak setiap hari ada pohon untuk ditebang. Jika tak ada pohon untuk ditebang, itu berarti: tak ada upah untuk membeli beras. (more…)