Saturday, May 25, 2013

Bung Karno

June - 5 - 2012 2 KOMENTAR
bung-karno

Yus Ariyanto

Bagaimana memosisikan seorang Sukarno? Negarawan? Diktator? Saya membuka lagi Catatan Subversif, kumpulan catatan harian Mochtar Lubis saat dibui di masa Orde Lama tanpa pernah diadili. Ia memimpin koran Indonesia Raya yang gencar melancarkan kritik kepada pemerintah, terutama terkait maraknya korupsi dan salah kelola negara.

Pada Desember 1958, Mochtar mendengar kabar, Sukarno setuju tahanan-tahanan politik lain dibebaskan. Kecuali, dirinya. Mochtar pun meradang. ”Wah, ini Sukarno kiranya sudah jadi  Firaun apa? Bung Karno kurang pikir kedudukannya dalam sejarah nanti. Dia akan dicatat pemimpin yang mula-mula bersetia pada demokrasi, lantas kemudian mencoba untuk merusak demokrasi di Indonesia,” tulisnya. Selengkapnya »

orde-baru-masih-eksis

Yus Ariyanto

Saat itu, Orde Baru belum lama menancapkan kuku kekuasaan.

Sejak akhir 1966, di sejumlah kota seperti Bandung, Yogyakarta, Medan, dan Surabaya digelar razia. Anak-anak muda berambut gondrong atau berpakaian tak sesuai “kepribadian bangsa” akan dikenakan tindakan potong di tempat, baik rambut maupun pakaiannya. Aparat kepolisian dan tentara dikerahkan dalam operasi ini. Selengkapnya »

Mencari Bang Ali

March - 21 - 2012 10 KOMENTAR
mencari-bang-ali

Yus Ariyanto

Juni 1977. Dipo Alam dan Bambang Sulistomo mengenakan kaus bergambar wajah Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta yang saat itu tinggal menunggu hari untuk berhenti. Dua mahasiswa tersebut bicara di sebuah warung di Taman Ismail Marzuki dan mencalonkan Bang Ali sebagai presiden. Mohon diingat, pada 2012, niscaya peristiwa sangat biasa. Pada 1977, tentu tidak. Kekuasaan saat itu berwujud sosok represif dan antidemokrasi.

Dipo dan Bambang menilai Presiden Soeharto bukan tidak berhasil. “Justru keberhasilan Soeharto itu harus digalakkan. Dan percepatan pembangunan memerlukan orang seperti Ali Sadikin,” kata Dipo, bekas ketua umum Dewan Mahasiswa  dan mahasiswa Kimia UI tingkat akhir, sebagaimana dikutip TEMPO edisi 2 Juli 1977. Bambang Sulistomo adalah anak Bung Tomo dan mahasiswa Ilmu Politik UI tingkat akhir yang pernah ditahan karena Peristiwa Malari. Saya tak tahu kiprah Bambang sekarang. Perihal Dipo, kini membantu Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Sekretaris Kabinet.

Masa jabatan Fauzi Bowo sebentar lagi berakhir. Belum ada yang mencalonkannya sebagai presiden. Alih-alih demikian, sejumlah kalangan menyebut kepemimpinannya tak berhasil. Macet yang kian menggila dan banjir yang tak kunjung tertanggulangi menjadi “bukti” utama. Toh, ia tetap mau maju untuk periode kedua. Ada beberapa bakal lawan. Bakal lawan paling berat, menurut saya, adalah Joko Widodo, walikota Solo yang termasyhur itu.

Hampir 35 tahun berlalu, sejumlah kalangan masih menengok ke sosok Bang Ali. Terutama, di hari-hari ini sampai beberapa bulan ke depan ketika Jakarta menempuh proses suksesi kepemimpinan. Ia dianggap sebagai gubernur paling berhasil sepanjang sejarah. Padahal, ia memulai dari tidak tahu apa-apa tentang Jakarta. Saat Bung Karno menunjuknya sebagai gubernur, sang istri yang dokter gigi, Nani Sadikin, tertawa lantaran merasa aneh bahwa suaminya mendapat tugas itu. Ali jelas bukan “ahlinya.”

“Buatlah Jakarta ini kebanggaan seluruh rakyat Indonesia. Malahan jadi kekaguman seluruh umat manusia di dunia ini,” kata Bung Karno dalam pidato tanpa teks usai melantik Bang Ali pada 28 April 1966.

“Itu bukan pekerjaan gampang memenuhi cita-cita, cita-cita yang besar. Tapi Insya Allah, doe je best, agar supaya engkau dalam memegang kegubernuran Jakarta Raya ini benar-benar juga sekian tahun lagi masih orang mengingat, dit heeft Ali Sadikin gedaan, inilah perbuatan Ali Sadikin,” lanjut Bung Karno seperti termuat di Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977.

Saya belum lahir saat Bang Ali dilantik dan masih terlampau kecil saat ia turun jabatan. Maka, muncul pertanyaan di kepala: apa yang sejatinya telah diperbuat anak Sumedang itu? “Ia mulai dengan menambal jalan Dan, bagi orang yang semula terbiasa melihat borok di mana-mana, jalan halus yang baru sepotong pun sudah tampak sebagai mukjijat. Apa lagi. Gedung bertingkat? Taman Ismail Marzuki? Perbaikan kampung, pelayanan, penghijauan? Tak ada yang istimewa. Saatnya memang sudah matang untuk itu. Duitnya ada, walaupun dengan defisit berencana. Pendeknya, dari segi substansi, tak ada yang luar biasa,” tulis seorang penulis kolom di TEMPO edisi 9 Juli 1977. Si penulis mengutip temannya yang pernah ambil MA di Amerika Serikat.

Lalu, teman sang kolomnis itu mengajukan semacam teori: “Ali Sadikin mengisi kebutuhan akan pemimpin yang bisa didewakan. Karismatis. Kita mendewakan pemimpin yang berani, karena kita semua sudah jadi penakut. Kita tidak terus-terang, tak tahan tekanan, tak tahan kritik. Maka tokoh yang blak-blakan, tahan tekanan dan tidak naik pitam jika dikritik, jadi pujaan kita. Kita merindukan orang kuat, pemimpin yang karismatis, dan Ali Sadikin mengisi kerinduan itu dengan gaya pribadinya yang khas.”

Puluhan tahun lewat. Kompleksitas persoalan Jakarta sudah naik beberapa kali lipat. Juga sistem dan kultur politik. Pun hal-hal lain. Andai benar yang ingin “dipinjam” dari Bang Ali adalah karakter kepemimpinan, kita agaknya belum beranjak jauh. Masih berkutat di persoalan yang sama. Di level nasional, Susilo Bambang Yudhoyono juga kerap dituding bekerja tanpa determinasi, penuh keraguan, terlalu ingin menyenangkan semua pihak.

Jakarta dan Indonesia, boleh jadi, punya kebutuhan yang sama. Siapa sukses memimpin Jakarta mungkin dibutuhkan untuk mengelola Indonesia di masa depan. Tak perlu “Dipo Alam dan Bambang Sulistomo” era abad ke-21 karena “rakyat” sendiri yang akan memanggil.

proklamasi-cirebon-1945

Rinaldo

Pagi itu, Rabu 15 Agustus 1945. Ratusan pemuda terlihat berkumpul di Alun-alun Kejaksan, Kota Cirebon, Jawa Barat. Meski tengah berpuasa di bulan Ramadan, mereka terlihat bersemangat dan bergairah. Rencananya, hari itu mereka akan membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, bertepatan dengan yang akan juga dilakukan oleh pemimpin bangsa di Jakarta.

Tapi, ada situasi di Jakarta yang tak diketahui oleh para pemuda di Cirebon. Karena keterbatasan alat komunikasi ketika itu, maka sejarah mencatat bahwa Kemerdekaan Indonesia terlebih dahulu diproklamirkan di Cirebon. Sedangkan di Jakarta sendiri proklamasi baru dikumandangkan dua hari kemudian oleh Soekarno-Hatta. Selengkapnya »

kemal-sejarah-yang-hilang

Rinaldo

Suatu hari di penghujung 1995. Pagi itu saya tiba di Gedung Putra Kalimantan, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, untuk keperluan wawancara penulisan skripsi. Sebelum bertemu nara sumber, saya menuju toilet gedung itu. Sebab, betapa tidak nyamannya mewawancarai seseorang dalam kondisi kantung kemih mendesak untuk dikosongkan.

Saat melepas risleting celana di depan jamban, seorang bapak berambut putih, bertubuh gemuk dan berpakaian rapi, masuk ke dalam toilet dan berdiri di samping saya. Agaknya dia juga punya urusan yang “mendesak”. Anehnya, melalui sudut mata saya merasa bapak ini terus-terusan melirik ke samping, ke arah saya. Jujur, ketika itu berbagai pikiran dan sangkaan berkecamuk. Selengkapnya »

Buku, Pesta, dan Cinta

December - 17 - 2009 7 KOMENTAR
buku-pesta-dan-cinta

Bung,

Saya terhanyut. Nurmala Kartini Pandjaitan atau Kartini Sjahrir atau Ker begitu piawai mendedahkan kisah kalian. Pada 1968, perkenalan itu terjadi. Ker masuk sebagai mahasiswa baru Fakultas Sastra Universitas Indonesia jurusan Antropologi, sementara dirimu adalah “mahasiswa tua” jurusan Sejarah di fakultas yang sama. Orde Lama telah runtuh, Orde Baru tengah menata diri.

Ker mengaku, saat itu, ia merasa terbebaskan diri dari kekangan aturan-aturan kaku sekolah katolik di Santa Ursula. Di kampus, ia bertemu dirimu, Soe Hok-gie, yang segera mengajak menjelajahi kehidupan mahasiswa yang begitu dinamis. Pernahkah dulu ia menyatakan hal ini? Selengkapnya »

demokrasi-buruk-bagaimana-khilafah

Moh. Samsul Arifin

Rakyat sebagaimana dimaklum adalah entitas yang abstrak. Dalam medan politik, ia senantiasa diperebutkan untuk diatasnamakan, diwakili [representasi] dan dijadikan sumber legitimasi. Inilah mengapa kita perlu instrumen untuk mengukur kehadiran rakyat dalam politik. Kehadiran memastikan rakyat wujud. Di sini ia konkret.

Sistem yang paling mungkin menghadirkan rakyat disebut demokrasi. Sistem ini mensyaratkan rakyat senantiasa wujud dan karenanya konkret. Instrumennya, apalagi jika bukan pemilihan umum (election). Dalam kotak suara, rakyat menyatakan diri. Ia tak hanya hadir di tempat pemungutan suara [TPS], tapi sejatinya memasukkan kehendak. Inilah yang suci dan lalu diterjemahkan dalam angka. Pada titik ini pula demokrasi bertemu dilema. Selengkapnya »

milan-kundera-adam-malik-dan-proyek-lupa

Yus Ariyanto

Oktober silam, kabar tak sedap menerpa Milan Kundera. Czech Institute for Studies of Totalitarian Regimes menyitir laporan kepolisan bahwa penulis terkenal itu menjadi informan bagi penangkapan Miroslav Dvoracek, bekas pilot yang dituduh bekerja untuk kepentingan Amerika Serikat. Dvoracek akhirnya dihukum 21 tahun penjara.

Kejadian itu berlangsung pada 1950 dan Kundera baru berusia 21. Saat itu, ia belum lagi menghasilkan monumen-monumen sastra seperti The Unbearable Lightness of Being, The Book of Laughter and Forgetting, atau Immortality. Delapan belas tahun kemudian, tank-tank Uni Soviet masuk ke kampung halamannya dan mengoyak demokrasi di sana. Selengkapnya »

Rasialis, di Titik Nadir

November - 11 - 2008 24 KOMENTAR
rasialis-di-titik-nadir

Gunawan

Lengkap sudah! Kemenangan kulit berwarna di seluruh muka bumi ini.

“Tidak ada lagi diskriminasi ras di Amerika Serikat!” ucapan ini dilontarkan Ketua DPR Agung Laksono, saat mengetahui Barack Hussein Obama memenangi pemilu dan menjadi Presiden Amerika Serikat pertama yang berkulit hitam.

Sebagian besar orang mungkin mengamini pernyataan itu, atau setidaknya berharap ini adalah kenyataan, keniscayaan bahwa semua manusia memiliki nilai setara apapun warna kulitnya, dan menyadarkan sebagian kecil orang yang menganggap dirinya sebagai ras atau trah tertinggi sebagai manusia di bumi ini. Selengkapnya »

ssstsultan-mengincar-ri-1

Moh Samsul Arifin

Tak ada nama Susilo Bambang Yudhoyono, Jusuf Kalla, Prabowo Subianto, Sutiyoso atau Rizal Mallarangeng di Ciganjur, 1998 silam. Cuma empat nama, yakni Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Amien Rais dan Sri Sultan Hamengkubuwono X yang ada di sana. Mereka lekat di benak sekian juta rakyat, karena kiprahnya menyuntikkan dan memompakan etos perubahan di negeri ini.

Di Ciganjur—sebuah tempat yang lumayan sulit dilacak peta—empat orang itu berembug, memeras otak untuk merumuskan sikap setelah rezim otoriter tumbang. Reformasi berkibar sejak aula kampus hingga jalanan. Tapi, bagaimana mengisinya, inilah masalah runyam yang kurang dipikirkan—bahkan oleh kalangan mahasiswa, aktor penjebol kekuasaan Soeharto. Selengkapnya »

hersey-hiroshima-kegilaan-manusia

Yus Ariyanto

Nyonya Hatsuyo Nakamura tanpa sengaja berjumpa adik perempuannya di trem. Suasana hatinya sangat rusuh, seperti juga situasi di sekitar.

“Kamu sudah dengar berita?” kata sang adik.

“Berita apa?”

“Perang selesai.”

“Jangan mengatakan hal bodoh seperti itu.”

“Tapi aku mendengarnya sendiri di radio.” Kemudian dengan berbisik, ia berujar, “Itu suara Kaisar…”

****

John Hersey mengungkap kembali dialog itu di Hiroshima, karya yang membuatnya termasyhur di jagat jurnalisme Amerika (boleh jadi pula dunia). Seperti tecermin dari judulnya, tulisan ini berkisah tentang Hiroshima, kota di Jepang, yang luluh-lantak dihajar bom atom Amerika Serikat, 6 Agustus 1945. Selengkapnya »

seberapa-indonesiakah-anda

Rahman Andi Mangussara

Di blog ini, kolega saya, Samsul Arifin, menulis artikel di bawah judul Malu Aku jadi Orang Indonesia. Tulisan ini mendapat banyak respon yang sebagian besar, jika tidak seluruhnya, adalah kritik. Para netter/blogger itu “marah” karena Samsul dianggap tidak bangga jadi orang Indonesia (saya tidak perlu mengulang lagi secara rinci apa yang membuat sejawat saya itu menulis seperti itu). Dalam pandangan kawan-kawan bloggers itu, seberapa buruk pun wajah Indonesia, kita harus tetap bangga hidup di buminya. Selengkapnya »

Bukan Bangsa Tempe…

January - 16 - 2008 20 KOMENTAR
bukan-bangsa-tempe

M. Samsul Arifin

Tiba-tiba saya terlempar ke masa 1960-an, saat menyaksikan ribuan produsen tahu-tempe tumpah ruah di depan Istana Merdeka, Jakarta, mengadukan ketidakberdayaan mereka akibat melangitnya harga kedelai. Boleh jadi, itu aksi paling demonstratif produsen tahu-tempe sepanjang Republik ini berdiri. Di masa Soeharto, aksi beginian absen. Demikian pula di era Sukarno. Sedikit liris Bung Karno berujar, “…(Kami) bukan bangsa tempe…”. Selengkapnya »

Capello Sejajar Monarki?

December - 21 - 2007 5 KOMENTAR
capello-sejajar-monarki

M. Samsul Arifin

Terbentang jarak 40 tahun, publik Inggris merayakan kemenangan mereka di Piala Dunia 1966—saat itu masih Piala Jules Rimet—dengan menggelar reuni di Stadion Wembley, 21 Maret 2006. Reuni itu dibuat mirip pertandingan aslinya, skuad Inggris dan Jerman dihadirkan minus sejumlah pemain The Three Lions yang sudah mangkat seperti sang kapten Booby Moore. Selengkapnya »