Rahman Andi Mangussara
Di blog ini, kolega saya, Samsul Arifin, menulis artikel di bawah judul Malu Aku jadi Orang Indonesia. Tulisan ini mendapat banyak respon yang sebagian besar, jika tidak seluruhnya, adalah kritik. Para netter/blogger itu “marah” karena Samsul dianggap tidak bangga jadi orang Indonesia (saya tidak perlu mengulang lagi secara rinci apa yang membuat sejawat saya itu menulis seperti itu). Dalam pandangan kawan-kawan bloggers itu, seberapa buruk pun wajah Indonesia, kita harus tetap bangga hidup di buminya. (more…)
M. Samsul Arifin
Tiba-tiba saya terlempar ke masa 1960-an, saat menyaksikan ribuan produsen tahu-tempe tumpah ruah di depan Istana Merdeka, Jakarta, mengadukan ketidakberdayaan mereka akibat melangitnya harga kedelai. Boleh jadi, itu aksi paling demonstratif produsen tahu-tempe sepanjang Republik ini berdiri. Di masa Soeharto, aksi beginian absen. Demikian pula di era Sukarno. Sedikit liris Bung Karno berujar, “…(Kami) bukan bangsa tempe…”. (more…)
M. Samsul Arifin
Terbentang jarak 40 tahun, publik Inggris merayakan kemenangan mereka di Piala Dunia 1966—saat itu masih Piala Jules Rimet—dengan menggelar reuni di Stadion Wembley, 21 Maret 2006. Reuni itu dibuat mirip pertandingan aslinya, skuad Inggris dan Jerman dihadirkan minus sejumlah pemain The Three Lions yang sudah mangkat seperti sang kapten Booby Moore. (more…)