Sunday, May 19, 2013
sebiduk-melintasi-musi

Anri Syaiful

Sampai sekarang perahu masih digunakan warga Palembang sebagai alat transportasi di Sungai Musi. Satu di antaranya perahu ketek. Disebut perahu ketek lantaran perahu ini menggunakan mesin yang mengeluarkan suara: “tek, ketek”.

Liputan6.com, Palembang: Lelaki berpostur tegap itu mengisap dalam-dalam sebatang rokok kretek merek murahan. Sesekali matanya menatap ke arah sampan bermotor yang ditambatkan di bantaran Sungai Musi, tak jauh dari Jembatan Ampera. Lelaki berusia kepala empat itu lebih banyak memperhatikan lalu lalang manusia di sekitar jembatan yang merupakan urat nadi perekonomian ibu kota Provinsi Sumatra Selatan, Palembang. Selengkapnya »

auman-eskrimador-indonesia

Dodit Setiyohadi

Pada 23 hingga 27 April lalu, saya beserta tujuhbelas rekan berada di Cebu, Filipina, untuk mengikuti World Eskrima Arnis Championship. Saya bisa paham jika banyak yang akan bertanya: kejuaraan apa ini? Eskrima Arnis memang sendiri kurang begitu populer di Indonesia. Namun di Australia, Eropa, serta Amerika jenis beladiri ini cukup dikenal.

Eskrima Arnis adalah salah satu bentuk beladiri yang berasal dari Philipina. Di khazanah beladiri dunia, Eskrima Arnis terkenal dengan tehnik permainan tongkatnya yang mampu memukul sasaran dengan sangat cepat. Bahkan bagi seorang eskrimador (petarung  eskrima),  melakukan duaratus pukulan dalam satu menit, adalah hal yang biasa.  Selengkapnya »

sultan-butuni-pemimpin-orang-buton

Syaiful Halim

Selama ini, Pulau Buton lebih dikenal sebagai pulau penghasil aspal. Padahal di luar hasil bumi itu, pulau ini memiliki “harta karun” nan dasyat. Yakni, jejak arkeologis berupa benteng-benteng yang nyaris mengepung seluruh pulau dan sejarah panjang Kesultanan Butuni.

Pulau Buton adalah pulau benteng. Karena, bangunan yang menjadi basis pertahanan militer tersebut tersebar di banyak tempat. Sehingga, pulau tersebut kerap disebut sebagai “Negeri Seribu Benteng” atau “castle in town”. Karena, kota-kota penting di pulau itu hampir dikelilingi benteng-benteng – mirip konsep tata ruang negeri Jerman yang dikelilingi benteng-benteng. Namun, dunia pariwisata kerap “memaksa” wisatawan yang berkunjung ke daerah itu hanya mengenal Benteng Keraton Wolio. Ini bisa dimaklumi, karena benteng itu merupakan simbol kejayaan Kesultanan Butuni, sekaligus sebagai satu-satunya bukti sejarah yang masih terawat. Selengkapnya »

catatan-dari-jalur-gaza-2-terowongan-rafah

Mauluddin Anwar

Tiga hari pasca agresi, pusat kota Rafah, Jalur Gaza kembali menggeliat. Suguhan kare ayam dan daging sapi di sebuah rumah makan membuat perut saya tak lagi “berontak”. Tidak seperti aroma umumnya bumbu masak di Timur Tengah yang “menyengat”, racikan bumbu kare Rafah klop banget dengan selera lidah saya yang sangat Sunda. Jam makan siang, meja-meja dipenuhi warga Rafah. Alamak, mereka juga dengan lahap menyesap soft drink Amerika, Coca-cola dan Pepsi! Benak saya langsung melayang ke aksi-aksi sweeping rumah makan waralaba Amerika oleh sejumlah demonstran di Tanah Air kala berdemo menentang agresi Israel. Kemarin, seorang pendakwah muda di Mesir juga dengan menggebu-gebu meyakinkan saya yang menyeruput Pepsi di siang bolong, bahwa Pepsi adalah akronim dari pay every penny to save Israel.

Jika sang pendakwah ini benar, maka sesungguhnya warga Rafah di depan saya tanpa sadar tengah bunuh diri, karena dari setiap kaleng Pepsi yang ia tenggak, ia ikut membiayai pembuatan bom Israel yang mungkin saja suatu saat akan menghajar rumahnya. “Kif dza hasol (kok, bisa-bisanya begini)?” Abu Hamzah, warga Rafah yang menemani makan, tersipu mendengar pertanyaan saya. “Tak ada yang salah dengan minuman itu. Yang keliru adalah kebijakan pemerintah Amerika,” jawaban Abu Hamzah membuat saya tertawa. “Saya akan sampaikan jawaban Anda pada para demonstran di Indonesia yang men-sweeping rumah makan Amerika.” Abu Hamzah manggut-manggut dengan mimik serius dan jempol tangan kanan teracung tanda setuju. Selengkapnya »

catatan-dari-jalur-gaza-1-warga-palestina-butuh-apa

Mauluddin Anwar

Baru saja dua pesawat tempur Israel membombardir kawasan perbatasan Rafah, Gaza. Imad Abdullah, seorang warga Mesir yang hanya berjarak 400-an meter dari perbatasan Gaza, membisiki saya. “Lihatlah, kami hanya kecipratan suara bising bom, yang sesekali mungkin saja akan menerjang polisi dan warga Mesir. Sementara saudara-saudara kami di Gaza, mendapatkan semuanya.” Imad menunjuk ratusan truk besar pengangkut bantuan dari berbagai negara yang mengantre di perbatasan Rafah, menunggu giliran masuk Gaza. “Semua mata dunia mengarah ke Gaza, sedangkan kami tidak mendapat apa-apa,” kata Imad lagi. Dari atap gedung sekolah di perbatasan Mesir saya memang bisa menyaksikan, kondisi bangunan-bangunan di Rafah, Gaza, jauh lebih mentereng ketimbang di Rafah, Mesir. “Mungkin wilayahmu harus dibombardir dulu,” candaan saya tak membuat Imad tertawa.

Lebih sepekan kemudian, saya dan kameramen Yon Helfi mendapat ijin masuk Gaza. Di kota Rafah, kami diajak keliling seorang polisi intel Hamas untuk menyaksikan kehancuran dampak pemboman. Seluruh bangunan milik pemerintahan Hamas luluh lantak, juga beberapa masjid, termasuk masjid terbesar di Rafah, Al-Abror. Banyak juga rumah warga yang dituding Israel memiliki terowongan rahasia, rata tanah. Namun sepanjang perjalanan dari Rafah ke Gaza City yang berjarak sekitar 30 kilometer, berkali-kali saya dan Yon gantian bertanya, “Mana bekas perangnya?” Warga beraktivitas seperti biasa, tak ada kepedihan, seperti tak pernah ada agresi yang merenggut lebih 1.300 nyawa. Selengkapnya »

memburu-salo-di-pelosok-wamena-2

Anastasya Putri

Sepanjang perjalanan pulang ke Jakarta, saya masih merasakan tatapan mata Salo. Sebuah keinginan untuk kuliah. NGO yang memberi beasiswa Salo selama di SMA, belum memperlihatkan sinyal ke arah sana. Salo, seperti halnya aku, hanya mempunyai keyakinan bahwa Tuhan akan datang membantu hambaNya.

Roda pesawat mendesis bergesek dengan aspal landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta. Pertama yang kuingat adalah kaset hasil syuting Salo selama di Wamena. Bikin naskah, lantas ritual proses editing, dubbing, kulalui dengan sesekali menahan air mata setiap kali melihat adegan Salo mencebur ke sungai agar bisa mencapai lokasi sekolahnya. Adengan itu bukan di Afrika atau benua terbelakang lain, tapi di negeri ini. Selengkapnya »

memburu-salo-di-pelosok-wamena-1

Anastasya Putri


Namanya pendek. Salomina. Tapi keinginan hidupnya panjang bak liukan sungai-sungai yang membelah tanah kelahirannya, Wamena, Papua.  Dan, siapa sangka sosok gadis lugu itu mendapat perhatian para juri Anugerah Adiwarta Sampoerna 2008?!

Bersaing dengan 4 finalis lain dari stasiun televisi lain, yang lebih banyak  mengetengahkan laporan investigasi, para juri justru menemukan inspirasi dari sosok Salomina. Dan, karya kami (saya dan juru kamera Yanto Sukma) tentangnya diganjar Anugerah Adiwarta Sampoerna 2008 untuk kategori karya jurnalistik televisi.

Di malam penganugerahan itu, kami berdua mengalami de javu, kilas balik mengenang kesulitan kami menemukan sosok Salomina. Selengkapnya »

kabar-dari-washington-d-c-4-menanti-obama

Sondang Sirait

Sejak kemarin, Obama menyandang gelar Presiden Terpilih Amerika Serikat. Tak lama lagi, gelarnya resmi Presiden Barack Obama. Bukan lagi Senator Barack Obama. Di Amerika Serikat hari ini, hidup memang berjalan seperti biasa. Tapi masih tersisa hiruk-pikuk pasca pemilu. Di jalanan masih terlihat sejumlah orang yang memakai pin Obama-Biden. Di facebook, teman dan rekan ramai membicarakan kemenangan spektakuler si Anak Menteng. Apalagi di media massa, wajah Obama terpampang jelas, dengan judul super besar.

Negara adidaya ini seperti jatuh cinta pada sosok pria berdarah campuran Kenya-Amerika ini. Banyak harapan bergantung padanya, untuk membawa era baru pasca Presiden George W. Bush. Selengkapnya »

kabar-dari-washington-d-c-3-kekuatan-ambisi

Sondang Sirait

Hanya ada sedikit hal yang bisa menggerakkan manusia, lebih dari batas normal. Cinta, salah satunya. Tapi sekarang saya mulai ragu, jangan-jangan kekuatan cinta bisa dikalahkan kekuatan ambisi. Contoh nyatanya, lihat saja kedua kandidat presiden Amerika Serikat: Barack Obama dan John McCain.

Dua hari lalu, rekan Vitria dan saya meliput kampanye McCain di kota Springfield, Virginia. Setelah empat setengah jam menunggu, McCain baru muncul pada pukul 12.24, dengan bus besarnya yang bertuliskan “Straight Talk Express”. Bukan karena lelet, tapi ia baru saja kelar berkampanye di sebuah kota kecil di selatan Virginia. Selengkapnya »

kabar-dari-washington-d-c-2-menuju-basis-kaum-kulit-hitam

Sondang Sirait

Setahun tak bepergian jauh, saya lupa betapa melelahkannya perjalanan ke Amerika Serikat. Rute yang kami lewati saat datang dari Jakarta, yaitu melalui Amsterdam, ditambah waktu transit tujuh jam, mungkin menambah keletihan itu. Penyakit lama saya kambuh, yaitu tak pernah bisa tidur dalam perjalanan, jauh atau dekat. Ketika sampai, kami pun disapa suhu udara 7 derajat Celcius yang terasa lebih dingin karena kencangnya angin.

Alhasil, hari ketiga di D.C., sejumlah tamu tak diundang pun datang mengganggu: mulai dari jetlag, sariawan sampai mimisan. Selengkapnya »

kabar-dari-washington-d-c-1-keindahan-demokrasi

Sondang Sirait

Di sebuah kios di sudut Independence Avenue, lima blok dari gedung Kongres AS, Sharon Fitzpatrick sibuk berbelanja topi, stiker, dan pin. Tapi ia bukan turis, dan yang dibelinya bukan cinderamata bertuliskan “Washington, D.C.”, melainkan “Obama ‘08”. Tak main-main, 60 dolar ia habiskan, membuat tersenyum para pemilik kios.

“Ini bukan untuk saya, tapi akan saya kirimkan kepada keluarga di negara bagian Ohio,” tuturnya sambil menunjukkan barang-barang yang baru ia beli. “Saya benar-benar berharap Obama akan terpilih menjadi presiden. Tak terbayangkan bila McCain sampai menang. Apalagi orang seperti Sarah Palin, rasanya tak pantas jadi wakil presiden,” lanjut perempuan pemilik jasa konsultan di Virginia itu.

Sharon Fitzpatrick, Warga Virginia, AS
Menunjukkan pernak-pernik cinderamata Obama

Selengkapnya »

selamanya-laskar-pelangi

Syaiful Halim

Pekan-pekan terakhir, bisa dipastikan, film “Laskar Pelangi” tengah mengharubiru seluruh penonton di tanah air. Ikal, Lintang, Kucai, Bu Mus, dan sejumlah tokoh-tokoh lain dalam buku kreasi Andrea Hirata itu, kini tengah berjuang menawarkan inspirasi menjalani hidup melalui layar perak.

Jauh sebelum membaca novel inspiratif itu, dan tentu saja, jauh sebelum film itu digarap, saya mendapati kehidupan Laskar-laskar Pelangi di daerah lain. Di hamparan Pulau Pasir Padangan – gusung yang dijadikan pemukiman seluas sekitar satu kilometer – di tengah Selat Muna, saya menjumpai anak-anak sekolah seusai Ikal dan kawan-kawan. Mereka anak-anak suku Bajo di daerah Sulawesi Tenggara.

Selengkapnya »

Merdi Sofansyah

“Saya baru pertama kali melakukan ini, this is good!”. Inilah teriakan Bayu Sutiyono yang melayang dari ketinggian sekitar 350 kaki di atas permukaan laut , saat ia berhasil melakukan siaran langsung dari udara.

Siaran ini jelas menjadi kado terindah bagi Liputan 6 yang baru saja meluncurkan logo dan studio baru, sebab dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai siaran langsung yang pertama di Indonesia. Rencananya, siaran langsung ini terlaksana berbarengan dengan peluncuran logo dan studio baru, tanggal 18 Agustus, namun ternyata faktor angin menjadi kendala, sehingga harus tertunda satu hari.

Selengkapnya »

dili-horta-dan-leo-kristi

Yus Ariyanto

 

 

Saya tiba di Dili, September 1999, beberapa hari setelah kerusuhan pasca-jajak pendapat yang mengoyak Timor Timur. Jurnalis yang tersisa bisa dihitung dengan jari tangan. Rata-rata senior, sementara saya amat hijau. Selengkapnya »

Pindah (2)

January - 31 - 2008 16 KOMENTAR
pindah-2

Merdi Sofansyah

Hari-hari terakhir di Gedung Mitra, Jl. Gatot Subroto, Jakarta. Semua awak redaksi sibuk dengan kerja mengepak barang-barang pribadi dan kantor. Selain soal teknis, pindahan kali ini termasuk pindahan yang paling seru, membawa awak redaksi dengan jumlah terbanyak dibanding pindahan sebelumnya.

Pindah memang membangkitkan gairah. Gairah karena di tempat yang baru, akan ada suasana baru, tempat nongkrong baru, teman-teman yang baru hingga lokasi parkir, pastinya, juga baru.
Selengkapnya »