Saturday, May 25, 2013
melawan-egoisme-elite-sepak-bola

Anton Bahtiar Rifa’i

“Mudah-mudahan kedatangan mereka akan membukakan mata,” ucap Nil Maizar. Pelatih timnas senior Indonesia itu sedang sedang berbicara soal bergabungnya pemain asal Indonesia Super League (ISL), seperti Bambang Pamungkas, Firman Utina, dan Ponaryo Astaman ke dalam tim yang dibesutnya untuk kejuaraan sepak bola paling bergengsi di level Asia Tenggara, Piala AFF. “Membukakan mata” yang diucapkan pria kelahiran Payakumbuh, Sumatera Barat, itu jelas ditujukan untuk kalangan elite sepak bola Indonesia yang terus berkonflik. Ucapan Nil, serta bergabungnya pemain senior ISL ke dalam timnas, bisa jadi merupakan bentuk perlawanan halus terhadap egoisme para elite yang terus mengangkangi sepak bola Indonesia.

Konflik elite sepak bola itu memang sudah semakin berisik. Dan kita merasakannya seperti badai: penuh gemuruh kebencian dan kemudian hanya menyisakan keporakporandaan. Keporakporandaan paling parah terutama terjadi pada tim nasional Indonesia. Kekalahan 0-10 dari Bahrain, serta anjloknya Indonesia di peringkat 153 FIFA, adalah gambaran nyata tentang tentang terpuruknya prestasi sepak bola Indonesia. Sementara komposisi pemain timnas Indonesia tidak bisa disusun secara ideal, karena salah satu pihak selalu menolak mengizinkan pemainnya memperkuat timnas. Ini artinya: dua tahun pertikaian antarkubu ternyata hanya menyisakan kesia-siaan belaka. Ironisnya, Indonesia sebenarnya mempunyai banyak aset pemain berkualitas, baik yang tersebar di Indonesia maupun mancanegara. Selengkapnya »

tendangan-dua-belas-pas

Achmad Yani Yustiawan

Sejarah telah ditorehkan Spanyol di Piala Eropa 2012. La Furia Roja kini tercatat sebagai tim di dunia yang berhasil merengkuh tiga turnamen besar secara beruntun. Piala Dunia 2010 kemudian jadi King of Euro berturut-turut (2008-2012).

Ada catatan kecil yang cukup menarik dari pagelaran Euro 2012 Polandia-Ukraina kali ini. Bukan tim Matador, tapi tentang adu penalti. Terdapat dua sisi menarik soal adu penalti ini. Pertama, tentang teknik penalti yang disebut penalti Panenka. Tendangan penalti dengan cara menyontek bola ini diperagakan pemain belakang Spanyol Sergio Ramos dan pemain Italia Andrea Pirlo.

Kedua, gara-gara tendangan gaya Panenka pula, Inggris dan Portugal harus tersingkir dari ajang Piala Eropa. Sepakan Sergio Ramos membawa Spanyol maju ke final usai mengalahkan Portugal. Sedangkan Pirlo melakukan Panenka saat Italia menundukan Inggris di babak perempat final.

Suka atau tidak, senang atau sedih, Inggris dan Portugal harus angkat koper gara-gara adu penalti. Menyakitkan, demikian sebagian orang menggambarkan kekalahan itu.

Inggris yang diawal perjalanannya sempat diragukan banyak kalangan, ketika bertemu Italia justru grafik permainannya tengah menanjak. “Kami tersisih tanpa terkalahkan, pulang dengan kepala tegak,” ujar pelatih “The Three Lions” Roy Hodgson.

Asa tinggi juga sedang dirasakan Portugal ketika bertarung melawan juara bertahan Spanyol. Tapi apa yang terjadi. Cristiano “CR 7″ Ronaldo hanya bisa terpana setelah menyaksikan bola tendangan Cesc Fabregas menyentuh tiang lalu bergulir masuk gawang. Bintang Portugal ini, seakan tak percaya langkah negaranya harus terhenti di babak semi final karena kalah adu penalti.

Adu penalti—-ada yang menyebut tendangan dua belas pas—merupakan cara yang sekarang sering dipakai untuk menentukan pemenang dalam pertandingan sepak bola yang harus diakhiri dengan kemenangan/kekalahan (tidak bisa seri). Adu penalti dilakukan setelah pertandingan berlangsung 90 menit dan dilanjutkan dengan 2 kali 15 menit perpanjangan waktu, namun keadaan masih seri.

Konon adu penalti pertama kali diusulkan pada 1970 oleh seorang wasit dari Penzberg, Bavaria, Jerman yang bernama Karl Wald. Saat itu, jika keadaan seri setelah perpanjangan waktu pemenang ditentukan dengan undian menggunakan koin. Karena menganggap cara ini sangat untung-untungan, ia mengusulkan adu penalti kepada ketua persatuan sepak bola Bavaria.

Klaim lain mengatakan bahwa adu penalti diusulkan pertama kali di Inggris dan juga di Israel. Adu penalti pertama kali dilakukan di Inggris pada 1970 antara Hull City dan Manchester United (MU) dalam Watney Cup (Piala Liga di Inggris) yang dimenangi MU.

Drama adu penalti memang selalu menyisakan cerita, entah itu kenangan manis atau pahit. Bahkan, sejarah buruk yang dialami sebuah tim seolah menghantui perjalanan kedepan kesebelasan itu. Inggris, misalnya. Kegagalan di Euro 2012 seperti menambah “kutukan”. Inggris sudah enam kali kalah dalam 7 babak adu penalti yang pernah mereka lakoni dalam kompetisi resmi level internasional.

Entah ada kaitannya atau tidak, belakangan cara penyelesaian pertandingan lewat adu penalti mulai dipertanyakan. Tak tanggung-tanggung salah satu orang yang mempersoalkannya adalah Presiden Badan Sepak Bola Dunia (FIFA). Presiden FIFA, Sepp Blatter, tak senang penentuan pertandingan dengan adu penalti. Menurutnya, sepak bola bisa menjadi tragedi jika harus ditentukan dengan adu penalti.

Blatter berharap di masa yang akan datang akan ada alternatif pengganti adu penalti. “Sepak bola bisa menjadi tragedi ketika Anda harus melalui adu penalti. Sepak bola tak seharusnya satu lawan satu. Ketika sepak bola melalui adu penalti maka esensinya akan hilang,” tutur Blatter seperti dilansir Soccerway.

Duel penendang dengan kiper ini juga dicap “miring” lantaran lebih berbau keberuntungan. Siapa yang dinaungi Dewi Fortuna akan keluar jadi pemenang. Menurut pelatih Italia Cesare Prandelli, adu penalti itu ibarat lotere. Sekitar 80 persen adalah keberuntungan.

Boleh jadi omongan Prandelli benar. Menjadi penendang penalti itu memang tak gampang. Kelelahan dan tekanan psikologis bisa sangat mempengaruhi peluang mencetak gol. Pemain-pemain top dunia saja tak jarang melakukan kesalahan. Lionel Messi pernah gagal mengeksekusi penalti. Padahal, jika bermain normal pemain Argentina itu, bisa mencetak gol meski dalam sudut sempit dan dijaga beberapa pemain.

Jadi, cara apa yang harus digunakan agar pertandingan berakhir dengan adil dan tak menyesakan. Dikocok seperti arisan, juara bersama, atau lempar koin seperti yang terjadi pada Piala Eropa 1968.

Ketika itu di laga semi final tuan rumah Italia tengah berjuang keras meladeni tantangan salah satu raksasa sepak bola saat itu, Uni Soviet. ”Kami pergi menuju ruang ganti bersama-sama. Ketika itu wasit mengeluarkan sebuah koin tua, dan aku memilih sisi ekor. Dan itu adalah pilihan yang tepat dan Italia melaju ke final,” kenang kapten Italia, Giacinto Facchetti yang menjadi saksi undian tersebut seperti dilansir situs resmi UEFA.

Hingga sekarang belum lagi terdengar wacana soal pilihan lain pengganti adu penalti. Blatter sendiri hanya mengatakan, mungkin bukan di hari ini, namun di masa yang akan datang.

timnas-kalah-statistik-kesempatan-buat-sejarah

Raymond Kaya

Kesebelasan Indonesia, Jum’at malam akan berjumpa dengan Iran dalam pertandingan Pra Piala. Jika saja boleh bertaruh maka agak sulit nampaknya untuk mempertaruhkan uang kita untuk kemenangan tim Merah Putih. Betul bahwa bola itu bundar dan apapun bisa terjadi dalam waktu 2 X 45 menit. Tapi Iran memiliki data statistik yang sangat baik saat berjumlah dengan Tim Nas Indonesia,. Dari lima pertemauna,   pertama di tahun 1966 hingga tahun 2009 lalu, timnas Indonesia baru sekali menahan draw dan empat kali kalah. Dalam laga melawan Indonesia, jauh-jauh hari Iran sudah mempersiapkan diri dengan baik bahkan seluruh pemain terbaik Iran untuk laga ini termasuk gelandang andalan mereka yang kini bermain di klub Spanyol, Osasuna yaitu Javad Nekounam.
Javad bukanlah satusatunya  pemain Timnas Iran yang bermain di Liga Eropa. Dua pemain Iran lainnya yang bermain di Liga Eropa yaitu striker Wolfsburg, Ashkan Dejagah dan pemain Osasuna, Masoud Shojej. Beruntung bagi tim merah putih, keduanya  tidak disertakan ke dalam tim karena masih mengalami cedera. Meski begitu, ketiadaan keduanya akan tergantikan oleh pemain Iran lainnya yang memang mempunyai kualitas setara di setiap lini. Selain pemain yang mumpuni, Iran yang kini dilatih Carlos Queiroz, pelatih berpengalaman yang pernah menjadi asisten Pelatih, Sir Alex Ferguson di Manchester United, serta pelatih kepala Timnas Portugal. Jadi wajar jika Iran  menjadi unggulan pertama di grup E Pra Piala Dunai 2014 kali ini. Iran juga memiliki  perignkat empat Zona Asia dan peringkat 54 dunia FIFA.   Selengkapnya »

pssi-pengurus-baru-bina-usia-dini

Raymond Kaya

Pasca Kongres PSSI di Solo, induk olahraga terpopuler di Indonesia dan di Dunia ini memiliki pengurus baru. Ketua umum, Wakil dan Sekjen yang baru. Baru terpilih tapi kemudian dipusingkan dengan kegiatan pra piala dunia melawan Turkmenistan, di ibukotanya Tashkent.  Masalah pun bertaburan, mulai dari anggaran hingga pemain dan pelatih. Memberangkatkan tim ke Turkmenistan memerlukan biaya yang besar dan uangpun harus segera terkumpul untuk memberangkatkan tim. Pemainpun diduga tidak dalam kondisi terbaik seiring dengan berakhirnya kompetisi Liga Super.

Sempat ada pemikiran untuk mengirimkan Persipura plus untuk mewakili Indonesia karena kesebelasan inilah yang paling siap saat ini. Selain juara Liga Super, Persipura juga terus berlatih untuk menghadapi lawannya di Liga Champions Asia. Pemikiran ini hilang seiring dengan sulitnya menganti nama-nama  pemain  karena nama-namanya nyaris  semuanya baru belum lagi persoalan menjawab mengapa Persipura yang dipilih ? Kerumitan lain muncul setelah Alfred Rield tiba-tiba diumumkan tidak lagi menjadi pelatih tim nasional digantikan oleh Wim Rijsbergn. Wim yang pernah bermain di Tim Nasional Belanda di Piala dunia 1974 dan 1978 dinilai mampu untuk memahami persoalan  yang dihadapi oleh para pemain Indonesia. Selengkapnya »

kongres-pssi-dan-putri-solo

Achmad Yani Yustiawan

Kota Solo, Jawa Tengah,  terlihat adem ayem. Tak ada aktivitas yang menonjol. Padahal dalam beberapa hari ke depan, di kota dengan semboyan “Berseri” itu, akan digelar gawe besar. Bukan hanya akbar acara tersebut juga perlu diantisipasi dengan baik, karena  bisa  menegangkan.

Ya, agenda itu adalah Kongres Luar Biasa PSSI. Bertempat di The Sunan Hotel Solo, seratus pengurus klub sepabola akan berembuk untuk memilih pimpinan tertinggi di organisasi  olahraga terpopuler sejagat itu. Selengkapnya »

pele-dan-para-durjana-sepak-bola

Yus Ariyanto

Bertahun-tahun setelah pensiun, Pele berlimpah kekayaan. Bekas mahabintang ini menjadi bintang iklan Mastercard, Samsung, Coca Cola, dan sejumlah merek lain. Ia juga didapuk menjadi “duta besar” perusahaan minyak pelat merah Brasil, Petrobas.

Dengan fulus di tangan, pada 1993, ia hendak membeli hak siar kompetisi sepak bola Brasil. Tentu saja, ia harus berhadapan dengan Confederação Brasileira de Futebol (CBF), PSSI-nya Negeri Samba itu. Alih-alih diminta menempuh proses tender secara fair, petinggi CBF meminta Pele mengirim satu juta dolar ke rekening sebuah bank di Swiss jika mau keinginannya dipertimbangkan. Selengkapnya »

main-di-luar-negeri-yuk

Ariyo Ardi

Sebelum tahun 1996, mungkin hanya sedikit publik sepakbola yang tahu kehebatan sepakbola Ceko, tapi setelah negara yang dulu bergabung dengan Slovakia ini menahan Jerman selama dua kali 45 menit di babak final pada Piala Eropa 1996 di Inggris, dunia baru tahu ada talenta besar di negara yang terletak di Eropa Tengah ini.

Ceko memang harus puas dengan gelar runner up, setelah striker Tim Panser Oliver Bierhoff mencetak golden goal pada babak sudden death, tapi setelah turnamen selesai para pencari bakat klub papan atas liga Inggris mengontrak dua andalan Ceko, Karel Poborsky yang dijuluki Si Kereta Cepat, karena kemampuannya menerobos kanan luar pertahanan lawan menjadi anggota theatre of dreams, Manchester United, sedangkan kiri luar Patrik Berger resmi menjadi bagian dari Anfield Gang, Liverpool. Selengkapnya »

minggu-yang-indahhhhhhhhh

Ariyo Ardi

Entah berapa huruf H yang bisa mewakili perasaan senang saya di minggu pertama bulan Desember ini.Rabu lalu para pemain sepak bola terbaik di tanah air (saat ini) memberi pelajaran berharga kepada Harimau Muda, sebutan bagi kesebelasan Malaysia yang kebanyakan diisi pemain berusia 19-20 tahun, bagaimana cara bertahan yang baik agar tidak kebobolan hampir setengah lusin gol, Indonesia menang 5-1.

Tiga hari berikutnya, Firman Utina dkk menambah tabungan gol Tim Merah Putih pada pertandingan kedua grup A dengan memasukkan enam gol tanpa balas ke jala Sengphachan Bounthisanh, meski saya sempat kesal melihat gaya permainan Indonesia setelah unggul 4-0, karena semua pemain sangat ingin mencatatkan nama mereka di papan skor dengan melupakan kerjasama.  Padahal jika ego mereka bisa diredam, bola yang bersarang di gawang Laos sangat mungkin lebih banyak lagi. Selengkapnya »

Spanyol

July - 13 - 2010 6 KOMENTAR
spanyol

Yus Ariyanto

Spanyol adalah Barcelona dan Real Madrid. Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Gerard Pique, dan Carles Puyol bermain untuk Barcelona. David Villa, mulai musim depan, juga bakal membela klub dari Catalonia itu. Di sisi lain, Iker Casillas, Sergio Ramos, dan Xabi Alonso berjuang untuk Real Madrid.

Di Piala Dunia 2010, mereka bahu-membahu dan mengantar Spanyol menjadi juara sejagat pertama kali. Padahal, sepanjang sejarah, relasi kedua klub mereka sarat ketegangan. Bukan hanya di lapangan, bahkan sampai melibatkan para petinggi seperti Jenderal Francisco Franco. Selengkapnya »

t-i-a-this-is-afrika

Ariyo Ardi

Ketika mendengar kata Afrika yang pertama kali terbayang dalam benak sebagian orang adalah seram dan terbelakang. Tak salah memang, karena banyak buku dan film dan juga tayangan televisi yang menceritakan kerasnya alam Afrika, yang pada akhirnya membentuk karakter masyarakatnya. Semua yang Anda bayangkan tentang Afrika dijamin sirna, ketika Anda menjejakkan kaki di Johannesburg, Afrika Selatan.

Di kota terbesar di negara yang lama terbelenggu oleh sistem pemisahan berdasarkan warna kulit atau apartheid itu, kemajuan dari peradaban bangsa Afrika bisa dilihat dan dirasakan. Gedung pencakar langit, sampah yang jarang bertebaran, tidak ada corat-coret tembok, dan ditambah banyaknya mobil mewah yang berseliweran, membuat saya takjub. Selengkapnya »

bonek-fanatisme-ugal-ugalan

Moh Samsul Arifin

Sungguh murah harga nyawa di republik ini. Satu lagi bonek–pendukung Persebaya–meninggal selepas menyaksikan big match Persib vs Persebaya di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Bandung. Ia jatuh dari kereta api yang mengantarnya pulang ke Surabaya. Ini kejadian kedua. Jelang duel klasik dua klub yang memiliki pendukung fanatis itu, A. Fathoni (21) jatuh dari atap kereta di Nganjuk dan meninggal. Yayasan Suporter Surabaya bahkan menyebut korban tewas menjelang dan selepas pertandingan yang berkesudahan [4-2] untuk Persib itu mencapai tiga orang. Satu orang bahkan belum dikenali identitasnya. Korban luka berbilang.

Bonek–bondo nekat–tewas bukan yang pertama. Sudah berkali-kali. Selain jiwa, kerugian material berderet panjang. Sebutlah kerugian panitia pelaksana pertandingan yang harus kehilangan pemasukan sebesar Rp105 juta lantaran harus menggratiskan 7.000 tiket kepada para bonek yang berjubel, Sabtu pekan lalu. PT Kereta Api Daerah Operasi II–yang mengantar pulang pendukung Bajul Ijo–mengaku menangguk rugi Rp1 miliar. Ini belum kerugian lain yang tak terhitung akibat ulah bonek sepanjang jarak Bandung-Surabaya. Inilah potret sepak bola ini, kalau bukan gambar buram bangsa Indonesia. Fanatisme ugal-ugalan–kata ini saya pinjam dari ekonom Rizal Ramli–yang tak hanya membahayakan diri sendiri, juga komunitas tempat sang subyek berdiam serta masyarakat luas.

Kata fanatisme saya gandengkan dengan kata ugal-ugalan bukan tanpa maksud. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 2000), fanatisme diartikan sebagai keyakinan (kepercayaan) yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama, dst). Subyek yang terjebak fanatisme mengekspresikan keyakinan atau kegemarannya atas sesuatu secara berlebihan–kadang membabi buta–sehingga berakibat kuarang baik, bahkan menimbulkan perseteruan dan konflik serius. Penganut agama yang fanatis misalnya kerap masuk perangkap absolutisme–tak menyisakan kebenaran bagi pihak lain. Fanatisme yang kelewat batas sering kali mengantarkan subyek menjadi fundamentalis.

Tentu saja ada pula energi positif yang bisa diraih dari berpikir dan bertindak fanatis. Subyek dapat menenggak kesenangan saat jadi fanatis. Misalnya, penggemar fanatik grup Slank rela membentuk komunitas, lengkap dengan pengurus dan benderanya setiap distrik, meski tanpa bayaran. Subyek melebur dalam komunitas, menerbitkan jejaring sosial dan ekonomi dan akhirnya membentuknya menjadi manusia utuh. Bagi Slank, fansnya yang fanatis adalah berkah melimpah yang mempertebal keyakinannya terus berkarya dan dengan begitu mengisi pundi-pundi grup band tersebut.

Dengan optik sama, Bonek sebetulnya aset bagi Persebaya–sebagaimana juga Viking (Persib), Jakmania (Persija) atau Aremania (Arema). Dari sisi itu eksistensi Bonek layak disyukuri–bukan hanya bagi bagi klub asal Surabaya itu, melainkan bagi eksistensi sepak bola Indonesia yang sekian tahun ini kering prestasi. Bisa dibayangkan pertandingan Liga Indonesia tanpa penonton yang berjubel. Mungkin tetap pertandingan sepak bola, tapi tanpa jiwa karena tak melibatkan publik sebagai penikmat olahraga tersebut.

Yang jadi soal, justru ketika fanatisme itu tidak terkelola. Yayasan Suporter Surabaya menyatakan Bonek yang berulah itu kerap kali bukan bagian dari perkumpulannya. Artinya mereka kumpulan individu (subyek) yang anonim, tak diwadahi dalam perkumpulan suporter. Berbekal uang pas-pasan, mereka bergabung dengan sesamanya dan lalu melebur menjadi kumpulan individu dalam jumlah massal. Ini yang terjadi ketika puluhan ribu Bonek ngluruk ke Bandung untuk mendukung tim kesayangannya bertanding. Alhasil, Bonek tanpa perkumpulan itu berulah di jalanan: mulai dari merampas makanan para pedagang hingga naik kereta api tanpa bekal tiket. Kisah pilu terjadi pada salah seorang yang tewas setelah jatuh dari atap kereta api. Bermodal Rp75 ribu, ia nekat ke Bandung bergabung dengan kawan-kawannya. Nahas, ia terpelanting dan jatuh dari kereta sehingga nyawa tak tertolong.

Inilah ironi subyek. Adalah maklum dalam kerumunan, subyek bisa terlempar jadi manusia anonim–tanpa identitas. Subyek itu melebur dalam kerumunan, sehingga tanpa sadar melakukan hal sama yang dilakukan subyek-subyek lain dalam kerumunan itu. Seorang diri manusia pastilah takut naik atap kereta api, apalagi jika harus menempuh ratusan kilometer Surabaya-Bandung. Namun, bersama individu lain dalam kerumunan, rasa takut itu akan lenyap. Subyek akan kehilangan rasa takut, ia tak peduli pada risiko. Sebaliknya dalam kerumunan, subyek bermetamorfosis jadi diri yang lain.

Itulah yang saya lihat mana kala menyaksikan Jakmania berjubel naik Metromini. Jika seluruh kursi dan ruang penumpang penuh, maka para Jakmania itu pun duduk di atap Metromini. Di jalanan menuju Lebak Bulus atau Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, mereka berjingkrak dan bernyanyi. Memang terselip masalah laten ekonomi di balik ekspresi kumpulan individu yang kini tak lagi memiliki rasa takut itu. Tapi jika saja rasionalitas masih bertahta pada kumpulan individu itu, ia akan berhitung dengan risiko.

Sungguh pun begitu. Marilah belajar dari masa silam. Saya masih ingat. Saat itu musim kompetisi perserikatan 1986/1987. Saya tinggal nun jauh dari Surabaya–kira-kira sejarak 200-an kilometer. Di Jember, mobilisasi yang dilakukan Jawa Pos [koran lokal paling berpengaruh di Surabaya dan Jawa Timur] untuk memompa semangat warga Jatim mendukung Persebaya yang lolos ke peringkat 6 Besar terasa sekali. Koran yang dibesarkan Dahlan Iskan ini menjadi semacam penyelenggara perjalanan bagi warga Jatim yang hendak menyaksikan Persebaya bertanding di Jakarta. Alhasil puluhan ribu warga Surabaya dan sejumlah kota ikut serta. Persebaya masuk final, tapi dibenamkan PSIS sehingga gagal membawa gelar juara ke Kota Pahlawan.

Pada musim berikutnya, Jawa Pos, tetap melakukan hal tersebut. Persebaya yang kala itu di bawah manajer M. Barmen, kini tak memberikan ampun pada PSIS untuk lolos ke 6 Besar di Senayan. Lewat sandiwara sepak bola gajah, Persebaya mengandaskan PSIS setelah secara suka reladihujani 12 gol oleh Persipura. Persebaya pun terbang tinggi. Mereka menjemput gelar setelah membungkam tuan rumah Persija [3-1]. Mustaqim Cs meraih gelar itu berkat suntikan moril para pendukung fanatiknya, bukan bonek yang ugal-ugalan.

Jikalau kita sepakat “tak ada yang setara dengan nyawa”, maka mulai sekarang seluruh pihak harus mampu mengelola fanatisme itu biar tak menerbitkan anarki di jalanan. Bersama kita bisa!

auman-eskrimador-indonesia

Dodit Setiyohadi

Pada 23 hingga 27 April lalu, saya beserta tujuhbelas rekan berada di Cebu, Filipina, untuk mengikuti World Eskrima Arnis Championship. Saya bisa paham jika banyak yang akan bertanya: kejuaraan apa ini? Eskrima Arnis memang sendiri kurang begitu populer di Indonesia. Namun di Australia, Eropa, serta Amerika jenis beladiri ini cukup dikenal.

Eskrima Arnis adalah salah satu bentuk beladiri yang berasal dari Philipina. Di khazanah beladiri dunia, Eskrima Arnis terkenal dengan tehnik permainan tongkatnya yang mampu memukul sasaran dengan sangat cepat. Bahkan bagi seorang eskrimador (petarung  eskrima),  melakukan duaratus pukulan dalam satu menit, adalah hal yang biasa.  Selengkapnya »

indonesia-versus-australia

Erlangga Wisnuaji

Kembali tim nasional sepakbola kita bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno Senayan Jakarta, Rabu (28/1) malam, dalam pertandingan kualifikasi Piala Asia 2011. Kali ini lawannya bukan main-main….Australia, tim yang menurut saya lebih banyak “Eropa” nya dibanding “Asia”-nya.

Walaupun datang dengan tidak diperkuat sejumlah pemain bintangnya yang merumput di liga-liga Eropa, Australia tetap saja lawan berat bagi Charis Yulianto dan kawan-kawan. Hal ini diakui sendiri oleh pelatih Timnas kita, Bung Benny Dollo. Selengkapnya »

KONI Vs Menpora

January - 8 - 2009 21 KOMENTAR
koni-vs-menpora

Erlangga Wisnuaji

Beberapa hari lalu KONI pusat mengumumkan bahwa mereka akan mengadakan Pelatnas yang akan dimulai bulan Februari 2009 dalam rangka menghadapi 6 event Internasional tahun depan. Target puncak adalah di bulan Desember 2009 saat berlangsungnya SEA Games ke 25 di Laos.

Setiap kali jelang event olah raga Internasional, memang itulah ritual yang dilakukan KONI, memanggil sejumlah atlet untuk diikutkan dalam pelatnas, namun kali ini ceritanya mungkin agak berbeda, sebab sebelum KONI berencana mengadakan pelatnas pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga telah membuat Program Atlet Andalan (yang entah kenapa disingkat menjadi PAL bukan PAA). Selengkapnya »

Bangga, Lalu Kecewa

December - 22 - 2008 48 KOMENTAR
bangga-lalu-kecewa

Erlangga Wisnuaji

Setiap kali meliput tim nasional sepakbola Indonesia bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno, dada ini rasanya bergemuruh. Bulu kuduk merinding melihat stadion yang penuh dengan ribuan pendukung merah putih menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama mendukung Bambang Pamungkas dan kawan-kawan. Yakin seyakin-yakinnya tim manapun yang bertandang ke Senayan pasti akan jeri melihat atmosfer stadion yang begitu dahsyat. Bangga rasanya menjadi orang Indonesia, bangga memberikan dukungan dengan memakai replika jersey tim nasional dengan lambang burung garuda di dada yang baru dibeli jelang tim nasional akan bertanding di Senayan.

Tapi, begitu wasit meniup peluit tanda permaianan dimulai, rasa bangga tadi, rasa nasionalisme tadi tiba-tiba sontak berganti menjadi rasa muak, malas, gregetan, gemes semua campur aduk jadi satu setelah melihat sebelas orang yang berseragam merah putih di lapangan dengan dukungan puluhan ribu penonton di stadion dan mungkin jutaan orang lainnya yang menonoton di televisi, menunjukkan permainan yang PAYAHH, yang sama sekali tidak bisa dibanggakan. Selengkapnya »