Moh. Samsul Arifin
Tak ada yang lebih sakit bagi sebuah tim yang telah bangkit, tapi kembali terperosok dalam dan jatuh. Itulah yang dialami tim Gli Azzuri di kancah Euro 2008. Kebangkitan Italia tak lepas dari kepiawaian sang kapten Gianluigi Buffon menjaga gawangnya dari serbuan pemain-pemain Rumania.
Satu momen yang membikin Italia bangkit, tak lain ketika Buffon mematahkan tendangan penalti Adrian Mutu saat Italia-Rumania berbagi angka 1-1. Selepas itu Italia percaya diri, untuk memetik harapan, yakni menyandingkan Piala Dunia dan Piala Eropa. Di pertandingan terakhir grup, Prancis ditekuknya dua gol tanpa balasan.
(more…)
Moh. Samsul Arifin
Sensasional. Itulah kata yang paling pas melukiskan keberhasilan tim Belanda menggulung Italia, 3-0 di penyisihan grup C di State de Suisse, Bern-Swiss, Selasa (10/6). Datang dengan rekor buruk. Bayangkan. Tim Oranye tak pernah sekalipun bisa mengalahkan Azzuri sejak Piala Dunia 1978 silam! Sudah begitu Gianluigi Buffon Cs datang dengan atribut gemerlap: Juara Dunia 2006.
Tapi, apa lacur. State de Suisse menjadi pembuktian bahwa bola itu bundar. Siapa pun bisa menang dan kalah dalam pertandingan berdurasi 90 menit tersebut. Dan Belanda di bawah nakhoda Marco van Basten dini hari tadi tidak gentar dengan nama besar Italia yang telah mengoleksi tiga kali juara dunia. (more…)
Ariyo Ardi
Judul di atas terjemahan bebasnya adalah kekuatan tim panser meragukan. Itulah pendapat saya, melihat penampilan kesebelasan Jerman. Laga terakhir saat melawan Serbia di Gelsenkirchen, Jerman, Sabtu tengah malam, waktu Indonesia, sama sekali tidak menunjukan kualitas der panser sesungguhnya sebagai tim papan atas Eropa yang akan berlaga di Piala Eropa Austria-Swiss, meski akhirnya Jerman menang 2-1.
Pertahanan Jerman kurang mendapat ujian karena Serbia mengandalkan serangan balik, namun beberapa serangan Serbia nyaris berbuah gol. Sama seperti ketika melawan Belarusia, gol lawan tercipta akibat lemahnya koordinasi lini belakang. Bosko Jancovic di menit 19 dengan cerdik berlari di antara Per Mertesacker dan Cristoph Metzelder untuk lepas dari jebakan off side,sebelum akhirnya memperdaya Jens Lehmann. Untuk pemain bertahan penampilan Marcell Jansen cukup baik, karena ia juga sering membantu serangan, bahkan salah satu umpan silangnya nyaris berbuah gol. (more…)
Moh. Samsul Arifin
Saya bisa merasakan kekesalan sejumlah pencinta bulutangkis yang tidak kebagian tiket pertandingan Indonesia-Thailand di arena Piala Thomas yang dihelat di Gedung Istora Senayan, Jakarta, Minggu (11/5) lalu. Pasalnya, sedari rumah mereka meneguhkan tekad mendukung Taufik Hidayat Cs menyabet kembali lambang supremasi bulutangkis dunia. Seperti mereka yang menonton dari dekat perjuangan Tim Thomas, mereka yang tak kebagian tiket itu ingin menjadi “pemain kedelapan” yang berjasa bagi kejayaan Indonesia di satu-satunya cabang olahraga yang membikin Indonesia seharum Brazil di cabang sepakbola.
Sudah dimaklum, penonton dan riuh-rendah yang ditimbulkannya adalah bagian yang harus ada dalam setiap pertandingan olahraga. Tanpanya, sebuah perhelatan bak sayur tanpa garam atau bahkan seperti adu tangkas gajah yang tak menguras adrenalin. Seperti sang atlet yang berlaga, penonton adalah pesona dan sekaligus faktor yang menentukan hasil akhir pertandingan. (more…)
M. Samsul Arifin
Final Liga Indonesia I tahun 1995. Istora Senayan Jakarta bergemuruh. Stadion terbelah dua. Suporter Persib Bandung membirukan stadion megah yang dibangun Soekarno tahun 1962 tersebut. Pendukung Petrokimia Putra Gresik betul-betul minoritas, tak banyak suara sekalipun tetap terus memompakan semangat pada kesebelasan eks galatama (Liga Sepak Bola Utama) yang dimiliki salah satu BUMN ini.
Saat itu saya hadir di Senayan di tengah kerumunan suporter ‘Maung Bandung’ yang belakangan berjuluk The Viking. Sengaja saya datang dari Bandung untuk menonton final pertama kompetisi yang meleburkan perserikatan dan galatama. Alasannya sungguh sederhana: mendukung tim asal Jawa Timur, yang kebetulan diwakili Petrokimia! Dukungan untuk daerah ini menautkan saya dengan apa yang disebut fanatisme. Semua publik tahu, fanatisismelah yang merawat sepak bola Indonesia di era perserikatan dulu.
(more…)
Anton Bahtiar Rifa’i
Selain kodratnya sebagai olahraga, sepakbola acapkali hadir dalam wujud jiwa yang lain. Ia sesekali menjadi semacam seni pertunjukan. Terkadang ia juga dibebani harapan untuk melunaskan dahaga publik yang larut dalam suatu drama kompetisi. Babak delapan besar Liga Indonesia yang kini tengah digelar di Solo dan Kediri –belakangan dipindahkan ke Sidoarjo akibat kerusuhan–menjadi gambaran bahwa sepakbola tanah air kini sedang menampakkan dirinya sebagai sebuah drama, di mana ribuan orang Indonesia menggantungkan harapan akan cerita yang gegap-gempita, meskipun mungkin sedikit diwarnai sentimen primordial. (more…)
M. Samsul Arifin
Terbentang jarak 40 tahun, publik Inggris merayakan kemenangan mereka di Piala Dunia 1966—saat itu masih Piala Jules Rimet—dengan menggelar reuni di Stadion Wembley, 21 Maret 2006. Reuni itu dibuat mirip pertandingan aslinya, skuad Inggris dan Jerman dihadirkan minus sejumlah pemain The Three Lions yang sudah mangkat seperti sang kapten Booby Moore. (more…)
Ariyo Ardi
Jangankan Emas, perunggu pun lepas dari genggaman. Alih-alih ditargetkan menang di babak final alias medali emas, Tim Merah Putih gagal lolos dari penyisihan grup Sea Games ke 24 di Thailand, setelah kalah 1-2 dari kesebelasan tuan rumah.
(more…)
Ariyo Ardi
Asal boleh sama-sama Melayu, namun soal menggairahkan olahraga tenis, kini Malaysia lebih maju beberapa langkah dibandingkan Indonesia. Pekan lalu Jagoan Swiss Roger Federer yang sebenarnya masih lelah setelah menjuarai turnamen ATP Master di Shanghai, Cina, melakukan serangkaian pertandingan “ Clash of Times” dengan seniornya yang kini sudah gantung raket Pete Sampras dari AS. Salah satu tempat yang dipilih adalah Malaysia. (more…)