Moh. Samsul Arifin
Saya bisa merasakan kekesalan sejumlah pencinta bulutangkis yang tidak kebagian tiket pertandingan Indonesia-Thailand di arena Piala Thomas yang dihelat di Gedung Istora Senayan, Jakarta, Minggu (11/5) lalu. Pasalnya, sedari rumah mereka meneguhkan tekad mendukung Taufik Hidayat Cs menyabet kembali lambang supremasi bulutangkis dunia. Seperti mereka yang menonton dari dekat perjuangan Tim Thomas, mereka yang tak kebagian tiket itu ingin menjadi “pemain kedelapan” yang berjasa bagi kejayaan Indonesia di satu-satunya cabang olahraga yang membikin Indonesia seharum Brazil di cabang sepakbola.
Sudah dimaklum, penonton dan riuh-rendah yang ditimbulkannya adalah bagian yang harus ada dalam setiap pertandingan olahraga. Tanpanya, sebuah perhelatan bak sayur tanpa garam atau bahkan seperti adu tangkas gajah yang tak menguras adrenalin. Seperti sang atlet yang berlaga, penonton adalah pesona dan sekaligus faktor yang menentukan hasil akhir pertandingan. (more…)
Anton Bahtiar Rifa’i
Di awal dekade 1990-an, lima anak muda tampil di layar TVRI. Dengan gaya seenaknya meski agak sedikit kikuk, mereka menyanyikan lagu dalam iringan musik rock ‘n’ roll yang keras: “Memang, kantongku memang kering. Jangan menghina, yang penting bukannya maling. Memang, jaketku memang kotor. Jangan menghina, yang penting bukan koruptor……” Kelima anak muda yang tergabung dalam grup Slank itu–Bimbim (drum), Kaka (vokal), Pay (gitar), Indra (kibor), dan Bongki (bas)—tengah menyanyikan lagu Memang dari album Suit Suit He He. Saat itu, sesungguhnya publik tengah menjadi saksi: musik rock Indonesia tengah memasuki fase baru.
(more…)
Gunawan
I believe I can fly
I believe I can touch the sky
I think about it every night and day
Spread my wings and fly away
Robert Sylvester Kelly, a.k.a R. Kelly, saat membuat lirik lagu I Believe I Can Fly, tentunya tidak pernah memikirkan apakah orang akan percaya bahwa dia bisa terbang? Atau malah tidak sama sekali terpikir olehnya. (more…)
M. Samsul Arifin
7 Maret 1989. Iran memutuskan hubungan diplomatik dengan Inggris. Penyebabnya? Bukan program nuklir. Tapi lantaran novel “The Satanic Verses” karya Salman Rushdie. Karya sastra ini dinilai menghina Nabi Muhammad. Novelis asal India ini menuduh sumber ortodoksi Islam, Alquran dan Hadist, ciptaan Muhammad belaka.
Tanda-tanda itu telah tampak pada 14 Februari 1989. Ketika Ayatullah Ruhullah Khomeini mengeluarkan fatwa hukum bunuh bagi Rushdie lewat Radio Teheran. Bulan berikutnya, para menteri luar negeri Organisasi Konferensi Islam (OKI) menggelar sidang dan mendukung fatwa tersebut. Novel Rushdie yang terbit September 1988 membakar emosi masyarakat Muslim. Belum satu dasawarsa, revolusi Islam Iran 1979 seolah hidup lagi. (more…)
Andy Budiman
Ada sesuatu yang segar di Teater Utan Kayu, akhir pekan lalu. Bukan hanya karena para sinden yang kenes, Acapella Mataraman betul-betul menyihir penonton dua hari berturut-turut.
Nama Acapella Mataraman saja mengandung contradictio in terminis. Antara yang Barat dengan Timur, dunia modern dengan masa lalu. Ada semangat mengejek, sekaligus bermain. Terus-terang saya tertarik menonton pertunjukan ini karena dua alasan. Pertama, karena namanya yang unik. Kedua, karena sang sinden So`imah Pancawati yang kenes dan suaranya menakjubkan. (more…)