Monday, March 22, 2010

Tepi-tepimu, Leo…

August - 12 - 2009 3 KOMENTAR
tepi-tepimu-leo

Setiyadi tergolong penggemar berat Leo Kristi. Manajer di perusahaan multinasional di Jakarta ini mulai mengenal Leo pada 1978, saat duduk di bangku SMP. Anak sulungnya diberi nama Amanda Katia Khairunnisa. Jika ingat lagu Katia, Amanda, dan Aku di album Nyanyian Fajar, niscaya kita mafhum sumber inspirasi Adi, panggilan akrab Setiyadi.

Lihat menara mercu
Tinggal siluet
Tepat di balik kubah, matahari jatuh
Seratus burung melayang
Katia, Amanda, dan aku…
Selengkapnya »

menanti-rasa-baru-god-bless-dan-jamrud

Christiyanto Purnomo

Kabar gembira bagi penggemar musik rock tanah air. Tahun 2009 yang tinggal menghitung hari lagi, akan segera menjelang. Tahun depan, warna musik tanah air, khususnya musik rock kembali menggeliat. Grup musik rock yang vakum dengen berbagai alasan pada beberapa tahun belakangan, akan membuat album baru, tentu dengan ciri khas mereka selama ini.

Grup rock legendaris God Bless, akan merilis album baru setelah album terakhirnya Apa Kabar tahun 1991 silam (tidak termasuk album kompilasi). Namun, kehadiran God Bless, mungkin akan sedikit berbeda dengan sebelumnya. Itu karena ada pergantian personil band, seperti yang sering terjadi dalam sebuah grup band, bahkan di seantero dunia. Achmad Albar, sang vokalis, masih tetap tidak tergantikan. Posisi gitar, juga masih dipegang Ian Antono. Namun berbeda dengan album sebelumnya, gitaris Eet Sjahranie sudah tidak ikut dalam album ini. Ia mundur beberapa saat setelah album Raksasa dirilis tahun 1989 lalu dan sibuk dengan grup Edane. Selengkapnya »

Iwan Fals, Sang Perkasa

November - 10 - 2008 62 KOMENTAR
iwan-fals-sang-perkasa

Syaiful Halim

Pasar Seni Ancol, 25 tahun yang silam. Ia berjalan gagah di atas panggung sambil memboyong gitar bolong dan harmonika. Ratusan penonton di sekeliling panggung berteriak-teriak memanggil namanya. Ia tidak peduli – atau karena memang tidak pintar berbasa-basi – langsung menyanyikan “Sore Tugu Pancoran”, jauh sebelum lagu itu dinaikkan ke pita kaset. Penonton terdiam dan khusyu menyimak. Maklum, lagu baru di telinganya.

Usai lagu pertama, penonton berteriak-teriak, “Oemar Bakri, Oemar Bakri, Oemar Bakri!” Lagu fenomenal tentang nasib Pak Guru tua yang nasibnya senen-kamis memang memiliki daya hipnotis nan dasyat. Hingga, nama sang penyanyi selalu didekatkan dengan judul lagu itu. Ia sadar akan maunya penonton. Selengkapnya »

whitesnake-batal-konser

Christiyanto Purnomo

Tadi malam, Jum’at, 31 Oktober 2008, seharusnya malam yang tak terlupakan bagi penggemar musik metal di tanah air. Malam ini, jika tidak ada aral, super grup metal dunia Whitesnake, mau manggung di ibukota negeri ini, Jakarta. Tapi apa lacur….ternyata, aral itu masih ada….setelah sekian tahun dan sekian grup musik dunia ‘berani’ tampil di negeri ini.

Tak ada lagi lengkingan suara David Coverdale. Tak akan ada lantunan lagu cadas Still of The Night, Here I Go Again, maupun Is This Love. Selengkapnya »

merah-putih-teruslah-kau-berkibar

Moh. Samsul Arifin

Saya bisa merasakan kekesalan sejumlah pencinta bulutangkis yang tidak kebagian tiket pertandingan Indonesia-Thailand di arena Piala Thomas yang dihelat di Gedung Istora Senayan, Jakarta, Minggu (11/5) lalu. Pasalnya, sedari rumah mereka meneguhkan tekad mendukung Taufik Hidayat Cs menyabet kembali lambang supremasi bulutangkis dunia. Seperti mereka yang menonton dari dekat perjuangan Tim Thomas, mereka yang tak kebagian tiket itu ingin menjadi “pemain kedelapan” yang berjasa bagi kejayaan Indonesia di satu-satunya cabang olahraga yang membikin Indonesia seharum Brazil di cabang sepakbola.

Sudah dimaklum, penonton dan riuh-rendah yang ditimbulkannya adalah bagian yang harus ada dalam setiap pertandingan olahraga. Tanpanya, sebuah perhelatan bak sayur tanpa garam atau bahkan seperti adu tangkas gajah yang tak menguras adrenalin. Seperti sang atlet yang berlaga, penonton adalah pesona dan sekaligus faktor yang menentukan hasil akhir pertandingan. Selengkapnya »

slank-generasi-biru-dan-dpr-yang-gagap

Anton Bahtiar Rifa’i

Di awal dekade 1990-an, lima anak muda tampil di layar TVRI. Dengan gaya seenaknya meski agak sedikit kikuk, mereka menyanyikan lagu dalam iringan musik rock ‘n’ roll yang keras: “Memang, kantongku memang kering. Jangan menghina, yang penting bukannya maling. Memang, jaketku memang kotor. Jangan menghina, yang penting bukan koruptor……” Kelima anak muda yang tergabung dalam grup Slank itu–Bimbim (drum), Kaka (vokal), Pay (gitar), Indra (kibor), dan Bongki (bas)—tengah menyanyikan lagu Memang dari album Suit Suit He He. Saat itu, sesungguhnya publik tengah menjadi saksi: musik rock Indonesia tengah memasuki fase baru.

Selengkapnya »

I Believe…

December - 27 - 2007 10 KOMENTAR
i-believe

Gunawan

I believe I can fly
I believe I can touch the sky
I think about it every night and day
Spread my wings and fly away

Robert Sylvester Kelly, a.k.a R. Kelly, saat membuat lirik lagu I Believe I Can Fly, tentunya tidak pernah memikirkan apakah orang akan percaya bahwa dia bisa terbang? Atau malah tidak sama sekali terpikir olehnya. Selengkapnya »

Maret 1989

December - 4 - 2007 2 KOMENTAR
maret-1989

M. Samsul Arifin

7 Maret 1989. Iran memutuskan hubungan diplomatik dengan Inggris. Penyebabnya? Bukan program nuklir. Tapi lantaran novel “The Satanic Verses” karya Salman Rushdie. Karya sastra ini dinilai menghina Nabi Muhammad. Novelis asal India ini menuduh sumber ortodoksi Islam, Alquran dan Hadist, ciptaan Muhammad belaka.

Tanda-tanda itu telah tampak pada 14 Februari 1989. Ketika Ayatullah Ruhullah Khomeini mengeluarkan fatwa hukum bunuh bagi Rushdie lewat Radio Teheran. Bulan berikutnya, para menteri luar negeri Organisasi Konferensi Islam (OKI) menggelar sidang dan mendukung fatwa tersebut. Novel Rushdie yang terbit September 1988 membakar emosi masyarakat Muslim. Belum satu dasawarsa, revolusi Islam Iran 1979 seolah hidup lagi. Selengkapnya »

Cangkem

December - 3 - 2007 4 KOMENTAR

Andy Budiman

Ada sesuatu yang segar di Teater Utan Kayu, akhir pekan lalu. Bukan hanya karena para sinden yang kenes, Acapella Mataraman betul-betul menyihir penonton dua hari berturut-turut.

Nama Acapella Mataraman saja mengandung contradictio in terminis. Antara yang Barat dengan Timur, dunia modern dengan masa lalu. Ada semangat mengejek, sekaligus bermain. Terus-terang saya tertarik menonton pertunjukan ini karena dua alasan. Pertama, karena namanya yang unik. Kedua, karena sang sinden So`imah Pancawati yang kenes dan suaranya menakjubkan. Selengkapnya »