Sunday, March 21, 2010
menanti-relevansi-apec

Sondang Sirait

Selasa sore, suasana APEC Media Centre yang adem tiba-tiba berubah gaduh. Rombongan lelaki dan perempuan berpenampilan necis masuk terburu-buru. Seorang pria berambut perak tampak naik ke panggung tempat kamera sudah disiapkan. Lampu menyala, dan ia pun mulai berbicara. Hanya sekitar 5 menit kemudian, si pria itu lalu kembali terburu-buru meninggalkan lokasi. Kami, para kuli berita, pun terburu-buru mengerumuni. Sekian pertanyaan dilontarkan, tapi tak ada yang dijawab, ia hanya bergerak maju. Pintu lift terbuka, rombongan pun menghilang. Itulah penampilan sesaat Menteri Luar Negeri Australia Stephen Smith di ajang APEC Singapura.

Stephen Smith boleh tak bicara pada media, tapi ia dipastikan mengadakan pembicaraan bilateral dengan koleganya, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Marty Natalegawa. Pertemuan antarnegara memang lazim dilakukan di sela-sela acara multilateral. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, Kamis nanti. Tinggal agendanya, yang jadi spekulasi media. Dalam pertemuan menlu Indonesia-Australia misalnya, beredar kabar isu pengungsi Sri Lanka akan dibahas. Selengkapnya »

lebih-mudah-lebih-murah-dan-lebih-cepat

Sondang Sirait

Tiga mantra itu diucapkan Dr. Takeshi Omori, Kepala Komite Ekonomi Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di penghujung pertemuan pejabat tinggi di Singapura Senin, 9 November. Kurang lebih setahun bekerja, tugas Komite itu memang untuk membuka jalan bagi pembicaraan tingkat menteri, yang dimulai besok. Dr. Omori berbicara cepat, namun jelas. Jika ingin lebih maju, maka reformasi dunia usaha di kawasan Asia Pasifik harus segera bergulir.

Mengutip data Bank Dunia, saat ini, jika seorang warga kawasan Asia Pasifik ingin memulai usaha –taruhlah Haji Syukron di Tangerang, Banten, atau Azmuddin di Johor Bahru, Malaysia— mereka perlu menyisihkan sedikitnya setengah dari penghasilannya. Ini tentu berisiko bagi keuangan pribadi, apalagi keluarga. Nah, salah satu rekomendasi Komite Ekonomi adalah menurunkan angka itu menjadi 25%. Harapannya, jika biaya memulai usaha lebih murah, maka orang akan lebih tergerak untuk melakukannya, dan pada akhirnya roda perekonomian akan bergerak lebih cepat. Selengkapnya »

albert-arnold-gore-jr

Rinaldo

Malam itu, 4 November 2000. Al Gore mengangkat gagang telepon dan menghubungi George Walker Bush. Dia mengucapkan selamat atas kemenangan Gubernur Negara Bagian Texas itu dalam pemilihan presiden. Percakapan tersebut tak berlangsung lama, dan Gore yang ketika itu masih menjabat sebagai Wakil Presiden Amerika Serikat sekaligus calon presiden dari Partai Demokrat, menutup telepon.

Sebagaimana galibnya dalam budaya politik AS, Gore pun bersiap menyampaikan pidato kekalahan di depan pendukungnya. Namun, dalam rentang tak terlalu lama, dia dikejutkan oleh telepon dari Ron Klain, manajer kampanyenya. Kabar yang didengarnya bak petir di siang bolong. Klain mengatakan ada yang salah dengan hasil suara di Negara Bagian Florida. Dan, tipisnya selisih suara antara  Gore dan Bush, membuat kesalahan itu cukup untuk mengantarkan Gore menjadi pemenang dalam Pilpres 2000. Intinya, siapa yang memenangkan Florida dipastikan bakal berkantor di Gedung Putih.

Seketika itu juga, konstelasi politik di AS berubah. Sebagian besar media elektronik mencabut running text tentang kemenangan Bush. Media cetak pun buru-buru membuat edisi ralat. Reporter yang berada di lapangan mengubah arah pemberitaan dengan mengatakan “belum ada Presiden AS terpilih”. Sejak malam itu, sebuah “drama” yang disebut-sebut sebagai the most controversial presidential election in US history tersebut dimulai. Selengkapnya »

catatan-dari-jalur-gaza-2-terowongan-rafah

Mauluddin Anwar

Tiga hari pasca agresi, pusat kota Rafah, Jalur Gaza kembali menggeliat. Suguhan kare ayam dan daging sapi di sebuah rumah makan membuat perut saya tak lagi “berontak”. Tidak seperti aroma umumnya bumbu masak di Timur Tengah yang “menyengat”, racikan bumbu kare Rafah klop banget dengan selera lidah saya yang sangat Sunda. Jam makan siang, meja-meja dipenuhi warga Rafah. Alamak, mereka juga dengan lahap menyesap soft drink Amerika, Coca-cola dan Pepsi! Benak saya langsung melayang ke aksi-aksi sweeping rumah makan waralaba Amerika oleh sejumlah demonstran di Tanah Air kala berdemo menentang agresi Israel. Kemarin, seorang pendakwah muda di Mesir juga dengan menggebu-gebu meyakinkan saya yang menyeruput Pepsi di siang bolong, bahwa Pepsi adalah akronim dari pay every penny to save Israel.

Jika sang pendakwah ini benar, maka sesungguhnya warga Rafah di depan saya tanpa sadar tengah bunuh diri, karena dari setiap kaleng Pepsi yang ia tenggak, ia ikut membiayai pembuatan bom Israel yang mungkin saja suatu saat akan menghajar rumahnya. “Kif dza hasol (kok, bisa-bisanya begini)?” Abu Hamzah, warga Rafah yang menemani makan, tersipu mendengar pertanyaan saya. “Tak ada yang salah dengan minuman itu. Yang keliru adalah kebijakan pemerintah Amerika,” jawaban Abu Hamzah membuat saya tertawa. “Saya akan sampaikan jawaban Anda pada para demonstran di Indonesia yang men-sweeping rumah makan Amerika.” Abu Hamzah manggut-manggut dengan mimik serius dan jempol tangan kanan teracung tanda setuju. Selengkapnya »

catatan-dari-jalur-gaza-1-warga-palestina-butuh-apa

Mauluddin Anwar

Baru saja dua pesawat tempur Israel membombardir kawasan perbatasan Rafah, Gaza. Imad Abdullah, seorang warga Mesir yang hanya berjarak 400-an meter dari perbatasan Gaza, membisiki saya. “Lihatlah, kami hanya kecipratan suara bising bom, yang sesekali mungkin saja akan menerjang polisi dan warga Mesir. Sementara saudara-saudara kami di Gaza, mendapatkan semuanya.” Imad menunjuk ratusan truk besar pengangkut bantuan dari berbagai negara yang mengantre di perbatasan Rafah, menunggu giliran masuk Gaza. “Semua mata dunia mengarah ke Gaza, sedangkan kami tidak mendapat apa-apa,” kata Imad lagi. Dari atap gedung sekolah di perbatasan Mesir saya memang bisa menyaksikan, kondisi bangunan-bangunan di Rafah, Gaza, jauh lebih mentereng ketimbang di Rafah, Mesir. “Mungkin wilayahmu harus dibombardir dulu,” candaan saya tak membuat Imad tertawa.

Lebih sepekan kemudian, saya dan kameramen Yon Helfi mendapat ijin masuk Gaza. Di kota Rafah, kami diajak keliling seorang polisi intel Hamas untuk menyaksikan kehancuran dampak pemboman. Seluruh bangunan milik pemerintahan Hamas luluh lantak, juga beberapa masjid, termasuk masjid terbesar di Rafah, Al-Abror. Banyak juga rumah warga yang dituding Israel memiliki terowongan rahasia, rata tanah. Namun sepanjang perjalanan dari Rafah ke Gaza City yang berjarak sekitar 30 kilometer, berkali-kali saya dan Yon gantian bertanya, “Mana bekas perangnya?” Warga beraktivitas seperti biasa, tak ada kepedihan, seperti tak pernah ada agresi yang merenggut lebih 1.300 nyawa. Selengkapnya »

suara-anak-palestina-seandainya-aku-terlahir-palestina

M. Nurul Amin

Palestina, ya, Tuhan menghendaki aku terlahir di Palestina. Negeriku, Palestina, darahku, Palestina. Aku terlahir di tengah desing peluru dan aroma kematian. Aku tak tahu, mungkin saat aku dilahirkan, tak jauh dari sisiku, ada saudaraku sesama anak Palestina  yang meregang nyawa dengan luka menganga di dada dan kepala  akibat peluru yang meghujam atau pecahan bom yang mendera.

Aku menangis saat dilahirkan, itulah garis hidupku, untuk menangis diawal kehidupanku. Mungkin tak jauh dari sisiku, ada juga yang menangis, ya, Ibu dari anak Palestina yang kehilangan anak akibat kejamnya peperangan. Anak itu sudah tidak bisa lagi menangis, mana mungkin, dia sudah terbujur kaku, tak berdaya dengan darah mengalir dari luka yang pasti sakit tak terkira… Selengkapnya »

berimajinasi-tentang-al-zaidi

Zaenal Bhakti

Sejatinya, ini adalah konsferensi pers biasa. Ia terima undangan itu mendadak, hingga tergesa mempersiapkan diri ke tempat konsferensi pers tersebut. Ini juga biasa dalam tugas kewartawanan. Isu kedatangan Sang presiden, sebenarnya telah berhembus sejak tiga hari lalu. Sang Presiden hendak menyampaikan salam perpisahan kepada administrasinya di Irak, karena tahun depan ia tak lagi menjabat.

Irak tak lagi utuh! Tugas-tugas kewartawanan menyababkannya tahu banyak apa yang sesungguhnya terjadi. Negeri ini tercabik dalam banyak hal. Invasi itu, bagitu yang sering ia ucapkan, telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan, memporak-porandakan semua yang telah dibangun atas nama kebaikan oleh rakyat negeri seribu satu malam ini. Selengkapnya »

Haji Maktab

December - 5 - 2008 28 KOMENTAR
haji-maktab

Merdi Sofansyah

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, ritual ibadah haji tahun ini sarat dengan keluh kesah para jemaah tentang lokasi pemondokan yang jauh dan sulitnya mencari tranportasi menuju Masjidil Haram. Entah apa alasannya, lokasi pemondokan jemaah haji Indonesia saat ini jauh dan terpencar-pencar di segala penjuru kota Mekkah.

Satu diantaranya yang saya kunjungi tepat berada di sisi Bukit Tsur yang berjarak sekitar 10 kilometer dari Masjidil Haram. Jauh dari denyut kehidupan. Tak ada penjual makanan apalagi taksi yang menuju ke lokasi mereka. Satu-satunya harapan adalah shuttle bus yang hanya tersedia di jam-jam tertentu. Tentu saja, saat seluruh operasional bus dihentikan, mereka seakan “terpenjara” di pemondokannya. Tak bisa pergi ke Baitullah, sehingga hanya nongkrong dan bercengkrama dengan teman sesama maktab. Sehingga muncullah istilah  haji maktab, kata mereka. Selengkapnya »

jangan-belajar-dari-krisis-politik-thailand

Henry Sianipar

Saat tulisan ini dibuat, sejumlah bom dilemparkan ke arah simpatisan massa Aliansi Rakyat untuk Demokrasi (PAD). Dua Bandara Internasional Suvarnahbhumi dan Don Muang masih dikuasai. Beberapa pesawat terbang sudah diperbolehkan tinggal landas, tetapi massa PAD masih tetap belum mau melepaskan penguasaan bandara.

Dalam beberapa hari ke depan, bukan tidak mungkin kita akan menyaksikan pembubaran aksi dengan darah dan air mata. Selengkapnya »

Surat Untuk Tuan Obama

November - 17 - 2008 52 KOMENTAR
surat-untuk-tuan-obama

M. Nurul Amin

Salam,

Sebelumnya saya ucapkan selamat atas terpilihnya Tuan sebagai Presiden Amerika Serikat. Saya senang Tuan terpilih, karena Tuan membawa harapan baru bagi dunia.

Maafkan saya karena menggunakan Bahasa Indonesia dalam surat ini. Saya malu untuk menggunakan Bahasa Inggris, karena selain Bahasa Inggris saya tidak bagus, juga karena saya tak mungkin memiliki kata-kata seindah dan sehebat kalimat yang  Tuan ucapkan dalam pidato-pidato yang Tuan sampaikan, hingga membuat orang terlena dan takjub atas Bahasa yang  Tuan tuturkan. Lagipula, bukankah Tuan pernah sekolah di negeri kami, jadi mungkin Tuan bisa juga berbahasa Indonesia, ya setidaknya ada staf Tuan yang bisa menerjemahkan surat ini ke Bahasa Inggris. Maaf. Selengkapnya »

obama-menang-indonesia-gr

Haryo Dewanto

Kemenangan Barack Obama dalam pemilihan Presiden AS jadi pembicaraan di seluruh negara. Di Indonesia sendiri masyarakat begitu antusian menyaksikan jalannya pemilihan tersebut. Berbagai cerita kedekatan Obama dengan Indonesia pun menjadi sajian dilayar kaca, selain itu gosip-gasip hubungan kerabat dengan Obama juga bermunculan. Lepas dari semua itu, Adakah manfaat bagi Indonesia dan khususnya masyarakat Indonesia setelah anak Menteng menduduki Amerika Satu?

Memang semua jadi pertanyaan, namun bila dilihat dari mulainya pemilihan kabinetnya mungkin akan terasa lebih berat untuk Indonesia ketimbang kabinet George W Bush. Salah Satunya Rahm Emanuel, Presiden terpilih AS Barack Obama memilih Rahm Emanuel sebagai kepala staf Gedung Putih meskipun belum jelas apakah dia mau menerima. Obama dan Emanuel adalah sahabat dekat, dan sama-sama berasal dari Chicago. Rahm Emanuel dikenal keras kelapa dan tidak pernah mau kompromi, hal ini sangat bertolak belakang dengan Obama yang santun dan penuh musyawarah. Jadi adakah perubahan kebijakan Pemerintah
AS nantinya bagi Indonesia? Kita tunggu saja. Selengkapnya »

Rasialis, di Titik Nadir

November - 11 - 2008 22 KOMENTAR
rasialis-di-titik-nadir

Gunawan

Lengkap sudah! Kemenangan kulit berwarna di seluruh muka bumi ini.

“Tidak ada lagi diskriminasi ras di Amerika Serikat!” ucapan ini dilontarkan Ketua DPR Agung Laksono, saat mengetahui Barack Hussein Obama memenangi pemilu dan menjadi Presiden Amerika Serikat pertama yang berkulit hitam.

Sebagian besar orang mungkin mengamini pernyataan itu, atau setidaknya berharap ini adalah kenyataan, keniscayaan bahwa semua manusia memiliki nilai setara apapun warna kulitnya, dan menyadarkan sebagian kecil orang yang menganggap dirinya sebagai ras atau trah tertinggi sebagai manusia di bumi ini. Selengkapnya »

kabar-dari-washington-d-c-4-menanti-obama

Sondang Sirait

Sejak kemarin, Obama menyandang gelar Presiden Terpilih Amerika Serikat. Tak lama lagi, gelarnya resmi Presiden Barack Obama. Bukan lagi Senator Barack Obama. Di Amerika Serikat hari ini, hidup memang berjalan seperti biasa. Tapi masih tersisa hiruk-pikuk pasca pemilu. Di jalanan masih terlihat sejumlah orang yang memakai pin Obama-Biden. Di facebook, teman dan rekan ramai membicarakan kemenangan spektakuler si Anak Menteng. Apalagi di media massa, wajah Obama terpampang jelas, dengan judul super besar.

Negara adidaya ini seperti jatuh cinta pada sosok pria berdarah campuran Kenya-Amerika ini. Banyak harapan bergantung padanya, untuk membawa era baru pasca Presiden George W. Bush. Selengkapnya »

kabar-dari-washington-d-c-3-kekuatan-ambisi

Sondang Sirait

Hanya ada sedikit hal yang bisa menggerakkan manusia, lebih dari batas normal. Cinta, salah satunya. Tapi sekarang saya mulai ragu, jangan-jangan kekuatan cinta bisa dikalahkan kekuatan ambisi. Contoh nyatanya, lihat saja kedua kandidat presiden Amerika Serikat: Barack Obama dan John McCain.

Dua hari lalu, rekan Vitria dan saya meliput kampanye McCain di kota Springfield, Virginia. Setelah empat setengah jam menunggu, McCain baru muncul pada pukul 12.24, dengan bus besarnya yang bertuliskan “Straight Talk Express”. Bukan karena lelet, tapi ia baru saja kelar berkampanye di sebuah kota kecil di selatan Virginia. Selengkapnya »

kabar-dari-washington-d-c-2-menuju-basis-kaum-kulit-hitam

Sondang Sirait

Setahun tak bepergian jauh, saya lupa betapa melelahkannya perjalanan ke Amerika Serikat. Rute yang kami lewati saat datang dari Jakarta, yaitu melalui Amsterdam, ditambah waktu transit tujuh jam, mungkin menambah keletihan itu. Penyakit lama saya kambuh, yaitu tak pernah bisa tidur dalam perjalanan, jauh atau dekat. Ketika sampai, kami pun disapa suhu udara 7 derajat Celcius yang terasa lebih dingin karena kencangnya angin.

Alhasil, hari ketiga di D.C., sejumlah tamu tak diundang pun datang mengganggu: mulai dari jetlag, sariawan sampai mimisan. Selengkapnya »