Friday, April 18, 2014
t-i-a-this-is-afrika

Ariyo Ardi

Ketika mendengar kata Afrika yang pertama kali terbayang dalam benak sebagian orang adalah seram dan terbelakang. Tak salah memang, karena banyak buku dan film dan juga tayangan televisi yang menceritakan kerasnya alam Afrika, yang pada akhirnya membentuk karakter masyarakatnya. Semua yang Anda bayangkan tentang Afrika dijamin sirna, ketika Anda menjejakkan kaki di Johannesburg, Afrika Selatan.

Di kota terbesar di negara yang lama terbelenggu oleh sistem pemisahan berdasarkan warna kulit atau apartheid itu, kemajuan dari peradaban bangsa Afrika bisa dilihat dan dirasakan. Gedung pencakar langit, sampah yang jarang bertebaran, tidak ada corat-coret tembok, dan ditambah banyaknya mobil mewah yang berseliweran, membuat saya takjub. Selengkapnya »

catatan-dari-jalur-gaza-2-terowongan-rafah

Mauluddin Anwar

Tiga hari pasca agresi, pusat kota Rafah, Jalur Gaza kembali menggeliat. Suguhan kare ayam dan daging sapi di sebuah rumah makan membuat perut saya tak lagi “berontak”. Tidak seperti aroma umumnya bumbu masak di Timur Tengah yang “menyengat”, racikan bumbu kare Rafah klop banget dengan selera lidah saya yang sangat Sunda. Jam makan siang, meja-meja dipenuhi warga Rafah. Alamak, mereka juga dengan lahap menyesap soft drink Amerika, Coca-cola dan Pepsi! Benak saya langsung melayang ke aksi-aksi sweeping rumah makan waralaba Amerika oleh sejumlah demonstran di Tanah Air kala berdemo menentang agresi Israel. Kemarin, seorang pendakwah muda di Mesir juga dengan menggebu-gebu meyakinkan saya yang menyeruput Pepsi di siang bolong, bahwa Pepsi adalah akronim dari pay every penny to save Israel.

Jika sang pendakwah ini benar, maka sesungguhnya warga Rafah di depan saya tanpa sadar tengah bunuh diri, karena dari setiap kaleng Pepsi yang ia tenggak, ia ikut membiayai pembuatan bom Israel yang mungkin saja suatu saat akan menghajar rumahnya. “Kif dza hasol (kok, bisa-bisanya begini)?” Abu Hamzah, warga Rafah yang menemani makan, tersipu mendengar pertanyaan saya. “Tak ada yang salah dengan minuman itu. Yang keliru adalah kebijakan pemerintah Amerika,” jawaban Abu Hamzah membuat saya tertawa. “Saya akan sampaikan jawaban Anda pada para demonstran di Indonesia yang men-sweeping rumah makan Amerika.” Abu Hamzah manggut-manggut dengan mimik serius dan jempol tangan kanan teracung tanda setuju. Selengkapnya »

catatan-dari-jalur-gaza-1-warga-palestina-butuh-apa

Mauluddin Anwar

Baru saja dua pesawat tempur Israel membombardir kawasan perbatasan Rafah, Gaza. Imad Abdullah, seorang warga Mesir yang hanya berjarak 400-an meter dari perbatasan Gaza, membisiki saya. “Lihatlah, kami hanya kecipratan suara bising bom, yang sesekali mungkin saja akan menerjang polisi dan warga Mesir. Sementara saudara-saudara kami di Gaza, mendapatkan semuanya.” Imad menunjuk ratusan truk besar pengangkut bantuan dari berbagai negara yang mengantre di perbatasan Rafah, menunggu giliran masuk Gaza. “Semua mata dunia mengarah ke Gaza, sedangkan kami tidak mendapat apa-apa,” kata Imad lagi. Dari atap gedung sekolah di perbatasan Mesir saya memang bisa menyaksikan, kondisi bangunan-bangunan di Rafah, Gaza, jauh lebih mentereng ketimbang di Rafah, Mesir. “Mungkin wilayahmu harus dibombardir dulu,” candaan saya tak membuat Imad tertawa.

Lebih sepekan kemudian, saya dan kameramen Yon Helfi mendapat ijin masuk Gaza. Di kota Rafah, kami diajak keliling seorang polisi intel Hamas untuk menyaksikan kehancuran dampak pemboman. Seluruh bangunan milik pemerintahan Hamas luluh lantak, juga beberapa masjid, termasuk masjid terbesar di Rafah, Al-Abror. Banyak juga rumah warga yang dituding Israel memiliki terowongan rahasia, rata tanah. Namun sepanjang perjalanan dari Rafah ke Gaza City yang berjarak sekitar 30 kilometer, berkali-kali saya dan Yon gantian bertanya, “Mana bekas perangnya?” Warga beraktivitas seperti biasa, tak ada kepedihan, seperti tak pernah ada agresi yang merenggut lebih 1.300 nyawa. Selengkapnya »

memburu-salo-di-pelosok-wamena-2

Anastasya Putri

Sepanjang perjalanan pulang ke Jakarta, saya masih merasakan tatapan mata Salo. Sebuah keinginan untuk kuliah. NGO yang memberi beasiswa Salo selama di SMA, belum memperlihatkan sinyal ke arah sana. Salo, seperti halnya aku, hanya mempunyai keyakinan bahwa Tuhan akan datang membantu hambaNya.

Roda pesawat mendesis bergesek dengan aspal landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta. Pertama yang kuingat adalah kaset hasil syuting Salo selama di Wamena. Bikin naskah, lantas ritual proses editing, dubbing, kulalui dengan sesekali menahan air mata setiap kali melihat adegan Salo mencebur ke sungai agar bisa mencapai lokasi sekolahnya. Adengan itu bukan di Afrika atau benua terbelakang lain, tapi di negeri ini. Selengkapnya »

memburu-salo-di-pelosok-wamena-1

Anastasya Putri


Namanya pendek. Salomina. Tapi keinginan hidupnya panjang bak liukan sungai-sungai yang membelah tanah kelahirannya, Wamena, Papua.  Dan, siapa sangka sosok gadis lugu itu mendapat perhatian para juri Anugerah Adiwarta Sampoerna 2008?!

Bersaing dengan 4 finalis lain dari stasiun televisi lain, yang lebih banyak  mengetengahkan laporan investigasi, para juri justru menemukan inspirasi dari sosok Salomina. Dan, karya kami (saya dan juru kamera Yanto Sukma) tentangnya diganjar Anugerah Adiwarta Sampoerna 2008 untuk kategori karya jurnalistik televisi.

Di malam penganugerahan itu, kami berdua mengalami de javu, kilas balik mengenang kesulitan kami menemukan sosok Salomina. Selengkapnya »

Setahun Blog Liputan 6

December - 12 - 2008 41 KOMENTAR
setahun-blog-liputan-6

Yus Ariyanto

Pada Desember ini, genap setahun usia blog Liputan 6. Untuk kategori televisi, tanpa bermaksud menepuk dada, ini adalah blog media pertama di Indonesia. Untuk media cetak, teman-teman dari majalah dan KORAN TEMPO menjadi pionir.

Sejauh ini, sudah 170 posting yang meluncur. Masing-masing menuai reaksi beragam. Ada yang memperoleh ratusan komentar, ada juga yang menerima kurang dari sepuluh komentar. Tercatat, tulisan bertajuk “Langkah Kuda PKS” karya rekan Rahman A. Mangussara yang mendulang komentar terbanyak. Atas nama para penulis, kami menghaturkan terima kasih atas semua komentar itu. Selengkapnya »

Bond dan John Perkins

November - 20 - 2008 26 KOMENTAR

Alexander Wibisono

Menonton film terbaru James Bond, Quantum of Solace, membuat saya terkesan. Meski beberapa aksinya memang sedikit tidak masuk akal, tapi agen rahasia Inggris itu tampil lebih manusia.

Bond tampil sebagai pria yang berpenampilan dingin, kekar dan kasar. Bukan juga manusia yang sempurna atau selalu benar dalam bertindak. Terbukti, ia malah kena masalah karena membunuh pengawal Guy Haines, penasihat perdana menteri Inggris, yang sedang menyamar. Selain itu Bond juga dipenuhi perasaan dendam untuk membalas kematian kekasihnya, Vesper.

Selengkapnya »

Manusia, Bukan Matematika

November - 18 - 2008 19 KOMENTAR
manusia-bukan-matematika

Yus Ariyanto

Apakah berita begitu berkuasa atas pikiran khalayak? Sri Rumiyati alias Yati bercerita kepada wartawan, ”Saya memutilasi Pak Hendra karena meniru Ryan, terutama dari tayangan televisi selain dari koran yang saya beli di angkot (angkutan kota). Daripada repot, untuk menghilangkan jejak jenazahnya, saya potong-potong saja Pak Hendra seperti dilakukan Ryan.”

Ingatan saya menjulur jauh ke belakang, saat “berkarier” sebagai santri ilmu komunikasi. Dalam sebuah buku teks kuliah, dikisahkan bahwa kepanikan melanda kawasan New Jersey, Amerika Serikat, pada 30 Oktober 1938. Sekitar satu juta warga meninggalkan rumah secara hampir bersamaan, membuat macet jalanan. Selengkapnya »

kabar-dari-washington-d-c-1-keindahan-demokrasi

Sondang Sirait

Di sebuah kios di sudut Independence Avenue, lima blok dari gedung Kongres AS, Sharon Fitzpatrick sibuk berbelanja topi, stiker, dan pin. Tapi ia bukan turis, dan yang dibelinya bukan cinderamata bertuliskan “Washington, D.C.”, melainkan “Obama ‘08”. Tak main-main, 60 dolar ia habiskan, membuat tersenyum para pemilik kios.

“Ini bukan untuk saya, tapi akan saya kirimkan kepada keluarga di negara bagian Ohio,” tuturnya sambil menunjukkan barang-barang yang baru ia beli. “Saya benar-benar berharap Obama akan terpilih menjadi presiden. Tak terbayangkan bila McCain sampai menang. Apalagi orang seperti Sarah Palin, rasanya tak pantas jadi wakil presiden,” lanjut perempuan pemilik jasa konsultan di Virginia itu.

Sharon Fitzpatrick, Warga Virginia, AS
Menunjukkan pernak-pernik cinderamata Obama

Selengkapnya »

antara-new-york-dan-kabul-ironi-kemanusiaan

M. Nurul Amin

Tertegun dan ternganga, itu perasaan saya, saat menjejakkan kaki di Ground Zero, World Trade Center, New York, Amerika Serikat. Aneh dan asing, itu perasaan saya saat menjejakkan kaki di Bandara Kabul, Afghanistan.

Betapa tidak, dua tempat berbeda, terbelah dalam dua benua, dalam rentang jarak ribuan kilometer, dipisahkan oleh samudera nan luas, menjadi satu, dalam derita!.

Tak terbayangkan oleh saya, bagaimana mungkin para pembajak pesawat United Airline menabrakkan pesawat dan ratusan jiwa didalamnya ke menara kembar WTC, 11 September, tujuh tahun lalu. Tak terbayangkan pula bagaimana tentara Amerika Serikat membumihanguskan tanah kerontang Afghanistan, sejak tujuh tahun lalu hingga kini. Selengkapnya »

Wajah Baru Liputan6.com

September - 8 - 2008 92 KOMENTAR
wajah-baru-liputan6-com

Yus Ariyanto

Hari ini, genap sepekan Liputan6.com bersalin wajah. Mungkin di antara Anda telah ada yang terbiasa, barangkali ada juga yang belum.

Kami memang terus berbenah. Kata pameo lama, tak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. Kami coba mengamalkannya. Perubahan, tentu ke arah yang lebih baik, harus terus diupayakan. Dari hari ke hari. Tiada henti. Selengkapnya »

Billy Soemawisastra

Tampaknya sudah mulai terjadi pergeseran cita-cita di kalangan anak-anak Indonesia dan para orangtuanya, sekarang ini. Jika dulu, umumnya orangtua mencita-citakan anak-anaknya menjadi dokter atau insinyur, kini tak sedikit di antara mereka yang kepingin anaknya menjadi presenter televisi. Tak peduli apakah presenter berita atau presenter hiburan. Yang penting, tampil terkenal menjadi selebritis televisi.

Gejala ini terlihat sewaktu Liputan 6 SCTV menggelar acara Presenter Cilik selama sebulan penuh, sebagai bagian dari acara Dino’s Live atau Summer Holiday with SCTV and Dinosaurus, di Plaza Tenggara Senayan, Jakarta, 21 Juni hingga 20 Juli 2008. Acara ini terbuka untuk umum, terutama anak-anak, pengunjung Dino’s Live. Dengan hanya membayar Rp30 ribu per orang, anak-anak itu bisa tampil seperti presenter beneran. Membaca berita melalui teleprompter di depan kamera.

Selengkapnya »

Merdi Sofansyah

“Saya baru pertama kali melakukan ini, this is good!”. Inilah teriakan Bayu Sutiyono yang melayang dari ketinggian sekitar 350 kaki di atas permukaan laut , saat ia berhasil melakukan siaran langsung dari udara.

Siaran ini jelas menjadi kado terindah bagi Liputan 6 yang baru saja meluncurkan logo dan studio baru, sebab dicatat oleh Museum Rekor Indonesia (Muri) sebagai siaran langsung yang pertama di Indonesia. Rencananya, siaran langsung ini terlaksana berbarengan dengan peluncuran logo dan studio baru, tanggal 18 Agustus, namun ternyata faktor angin menjadi kendala, sehingga harus tertunda satu hari.

Selengkapnya »

studio-dan-logo-baru-semangat-baru

Merdi Sofansyah

Ada yang menambah gairah saat mulai ke kantor hari ini. 17 Agustus 2008. Saat kemerdekaan Indonesia diperingati di mana-mana, beberapa awak Liputan 6 dan broadcasting support juga tengah berkumpul di newsroom lantai 9 Senayan City. Hari ini, adalah hari terakhir simulasi penggunaan studio baru. Besok, tak ada lagi simulasi, sebab studio tersebut sudah harus kami gunakan.

Selengkapnya »

panic-room-di-gang-senggol

Henry Sianipar

Seperti namanya, Panic Room ya berarti ruangan yang sah untuk berpanik-panik ria. Boleh lari sana-sini, bergegas ke meja satu ke sana-sini, mencatat data dengan benar di layar komputer dan memastikan sekali lagi angka-angka yang masuk dengan suara yang jelas dan terkadang tinggi. Inilah gambaran yang terjadi di Panic Room, di lantai 5 Gedung Kompas Surabaya.

Hajatan besar digelar Kompas dan SCTV untuk menghitung cepat suara Pilkada Jatim, pemilihan gubernur langsung terbesar di Indonesia. Tetapi Panic Room bukan hanya berlaku di lantai 5, rasa kepanikan juga sering menyergap di gang kecil, di samping panggung live Liputan 6 di lantai 6 Gedung Kompas. Gang Senggol yang sudah dipenuhi dengan peralatan master control menjadi lebih sempit karena pergerakan produser, presenter, PD, audio man, switcher dan kru master kontrol lain. Senggol-senggolan menjadi hal yang biasa selama siaran live all program dilakukan di gang senggol master control ini. Belum lagi harus berkali-kali terjungkal karena tersangkut kabel. Walau sudah bersikap hati-hati, belumlah cukup. Selengkapnya »