M. Samsul Arifin
Final Liga Indonesia I tahun 1995. Istora Senayan Jakarta bergemuruh. Stadion terbelah dua. Suporter Persib Bandung membirukan stadion megah yang dibangun Soekarno tahun 1962 tersebut. Pendukung Petrokimia Putra Gresik betul-betul minoritas, tak banyak suara sekalipun tetap terus memompakan semangat pada kesebelasan eks galatama (Liga Sepak Bola Utama) yang dimiliki salah satu BUMN ini.
Saat itu saya hadir di Senayan di tengah kerumunan suporter ‘Maung Bandung’ yang belakangan berjuluk The Viking. Sengaja saya datang dari Bandung untuk menonton final pertama kompetisi yang meleburkan perserikatan dan galatama. Alasannya sungguh sederhana: mendukung tim asal Jawa Timur, yang kebetulan diwakili Petrokimia! Dukungan untuk daerah ini menautkan saya dengan apa yang disebut fanatisme. Semua publik tahu, fanatisismelah yang merawat sepak bola Indonesia di era perserikatan dulu.
(more…)
M. Samsul Arifin
Tiba-tiba saya terlempar ke masa 1960-an, saat menyaksikan ribuan produsen tahu-tempe tumpah ruah di depan Istana Merdeka, Jakarta, mengadukan ketidakberdayaan mereka akibat melangitnya harga kedelai. Boleh jadi, itu aksi paling demonstratif produsen tahu-tempe sepanjang Republik ini berdiri. Di masa Soeharto, aksi beginian absen. Demikian pula di era Sukarno. Sedikit liris Bung Karno berujar, “…(Kami) bukan bangsa tempe…”. (more…)
Anton Bahtiar Rifa’i
Menatap 2008 dalam gundah. Adakah di sana kemungkinan-kemungkinan baru, ataukah kita hanya akan mendapati almanak menjadi lembaran-lembaran usang? Kita telah menggulung rangkaian tanggal dalam gelombang harapan yang bergemuruh, namun hanya gundah yang menepi.
Ketika di akhir tahun ini jutaan orang Indonesia berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan –bahkan dalam bungkus ritual materialistik– Achwan Alwaris justru telah melunaskan kemungkinan hidupnya di sudut kemuraman gang sempit di kawasan Gubeng, Surabaya. Sebuah rumah petak triplek yang pengap ditempati lelaki berusia 80 tahun itu, dengan biaya sewa lima puluh ribu rupiah per bulan. Rumah itu sebenarnya tak layak disebut rumah, karena hanya ada satu ruangan dengan dipan dan lemari usang di dalamnya, serta tungku hitam di bawah jendela.
Siapakah Waris?
(more…)
Dwi Anggia
Hhhhmmm…. Saya menarik nafas panjang, ketika bangun pagi, berada di atas sebuah bukit dengan hamparan lautan hijau kebiruan di depannya. Bau air laut.
Pagi yang panas!!! Hah, ternyata bukan pagi, saya yang bangun kesiangan. Hehe...kecapean. (more…)
M. Samsul Arifin
Terbentang jarak 40 tahun, publik Inggris merayakan kemenangan mereka di Piala Dunia 1966—saat itu masih Piala Jules Rimet—dengan menggelar reuni di Stadion Wembley, 21 Maret 2006. Reuni itu dibuat mirip pertandingan aslinya, skuad Inggris dan Jerman dihadirkan minus sejumlah pemain The Three Lions yang sudah mangkat seperti sang kapten Booby Moore. (more…)
Iskandar Siahaan
Desember di Indonesia – entahlah di negeri lain – adalah bulan para peramal. Pada bulan ini muncul banyak peramal. Aktornya macam-macam. Ada yang disebut atau menyebut diri paranormal, dukun, hingga pakar. Dasarnya meramal ada yang berbasiskan data dan pemikiran rasional, tapi ada pula yang tidak berbasiskan data sama sekali dan irasional. Hasil ramalan mereka dikonsumsi dengan rakusnya oleh rakyat Indonesia, baik secara langsung berkomunikasi dengan para peramal maupun melalui media-massa. (more…)
Henry Sianipar
Jumat siang, di Media Center BICC, tempat penyelenggaraan KTT Perubahan Iklim (UNFCCC). Mungkin karena di Bali, nuansa sholat Jumat, tidak terlalu terlihat di sini. Sebagian besar jurnalis di tempat ini didominasi wartawan asing, dari beraneka bangsa. Kasak-kusuk, gosip sana sini, hilir-mudik membawa tripod, kamera, lampu, laptop, dan perabotan peliputan lain. Beragam peralatan, saya yakin mereka berpikir sama saat ini: apakah Konferensi ini bisa menghasilkan sesuatu yang berguna untuk menyelamatkan bumi dari perubahan iklim. (more…)
Rike Amru
Saya teringat waktu melewati masa kecil di barat Sumatera. Bila hujan datang, ada luapan rasa yang membahagiakan. Hujan, menjadi saat yang seolah menyahihkan saya untuk bermanja pada ibu; memeluk atau sekadar duduk rapat-rapat di sampingnya. Hujan juga menginspirasikan hal-hal menyenangkan; membayangkan bermain, berlarian, mandi hujan bersama teman-teman di halaman rumah. (more…)
Gunawan
Bagaimana seseorang menjadi cameraman?
(Bukan bagaimana menjadi seorang cameraman, lho…)
Masih lekat dalam ingatan, kala saya duduk di bangku sekolah dasar kelas satu, saat itu tahun 1971. Belum bisa menulis apalagi membaca. Pengalaman hari pertama bersekolah dilalui dengan banyak bermain dan menyanyi. Hingga ada saat ibu guru yang manis itu bertanya tentang cita-cita setiap murid.
“ Insinyuuuuuurrr…” teriak Rahman diikuti oleh beberapa temannya. (more…)
Vincent Hakim R.
Suatu malam menjelang pulang kantor, seorang teman lama menelepon saya dan bercerita serius tentang banyak hal. Tentang pengalaman hidup, tentang keluarga, nostalgia masa kecil, dan cerita berkaitan dengan kehidupannya kini. (more…)