Iskandar Siahaan
Di tengah euforia masyarakat menggunakan multimedia sebagai alat baru buat mengekspresikan diri, mencari, dan berbagi informasi, sontak sebuah Undang-undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) disetujui oleh pemerintah dan DPR. Salah satu pasal dalam undang-undang ini mengancam pengguna multimedia dengan hukuman penjara jika isi informasi yang ia produksi mencemarkan atau mencederai kehormatan orang lain.
Masih dekat dengan masa itu, Menteri Komunikasi dan Informatika Muhammad Nuh mengeluarkan kebijakan menutup akses publik terhadap situs Youtube. Menteri yang konon doktor di bidang teknologi informasi itu ingin menghalangi publik menonton video yang diproduksi oleh seorang anggota parlemen Belanda yang isinya menghina nabi junjungan umat Islam. (more…)
Vincent Hakim R.
Cinta memang tidak pernah kering menjadi sumber inspirasi bagi kehidupan. Cinta terukir dalam berbagai wujud, bisa dalam bentuk kata-kata, tindakan, suatu benda simbolis, dan banyak ragam tanda lainnya. Para seniman tak bosan-bosannya memilih tema cinta dalam karya-karyanya. Orang-orang (terutama para penikmat seni) juga tak pernah jengah dengan karya bernuansa cinta. Kategori “cengeng atau bermutu” menjadi tak terlalu penting karena cinta menjadi suatu kebutuhan. Kadang kala orang butuh juga cinta berkharakter cengeng. Atau kadang orang juga memerlukan cinta yang tegar berjiwa heroik.
Cinta tidak berjalan sendiri. Ada kesetiaan. Kolaborasi cinta dan kesetiaan memperkaya khazanah kehidupan menjadi putih bersih beraura positif. (more…)
Yus Ariyanto
Akhir pekan lalu, Havel berkenalan dengan YouTube. Saya mulai dengan membukakan Naruto, film kartun yang digandrunginya. Mendapati cuplikan-cuplikan Naruto, anak sulung saya yang baru enam tahun itu, girang tak kepalang.
Tapi, kegirangan itu harus stop. Pemerintah Indonesia memblokir YouTube. Alasannya, situs tersebut tak mengindahkan permintaan agar Fitna karya Geert Wilders diturunkan. (more…)
Vincent Hakim R.
Sederhana tidak sesederhana makna kata-katanya.
Keserderhanaan. Sebuah kata yang amat sulit dipahami arti sebenarnya. Mungkin karena biasa dipakai orang untuk “menipu” makna sesungguhnya hingga sering bias. Banyak orang bersembunyi di balik arti kata sederhana. Arti kesederhanaan merangkul pikiran, memeluk erat kata-kata dan perilaku. Dan yang pasti, menyatu dalam kemesraan kedalaman penghayatan hidup spiritual penuh ketulusan. Dalam bahasa Jawa ada kata bermakna filosofis SUMELEH. Artinya: lepas, tulus ikhlas, tanpa beban, tidak ada pretensi negatif apa pun di belakangnya. Ada makna “kepasrahan diri” di sana.
Alkisah ada seorang duda tua miskin yang hidup bersama dua anak. Setelah istrinya meninggal, ia seorang diri mengasuh dua anaknya. Seorang anak laki-lakinya gagah dan tampan. Adiknya seorang perempuan cantik dan cerdas. Kemiskinan Pak Tua dan kondisi kedua anaknya sering jadi perbincangan warga desa. Pak Tua tidak terlalu ambil pusing dengan berbagai omongan orang. Dia tetap hidup sederhana dan rajin bekerja sebagai buruh tani di sawah.
(more…)
Vincent Hakim R.
Semua berawal dari kata-kata.
Bukan hanya seseorang. Ada banyak orang yang malu dengan kondisi di negeri ini yang tak juga membaik. Bahkan makin hari, kian tidak menentu. Tapi ada juga orang yang bangga dengan kondisi negeri ini, apa pun yang terjadi, bagaimana jua situasi dan kondisinya. Baik-buruk, salah-benar – inilah negeriku. Perbedaan ekspresi atas pemahaman makna cinta negeri pun bisa menjadi salah kaprah tidak karuan.
Negeri ini sejatinya tak pernah punya kesalahan apa pun. Kecuali para penguasa dan orang-orang di sekitarnya yang ikut mendukung kekeliruan turun-temurun. Baik secara sadar atau pun tidak. Nasib orang hanya diombang-ambingkan dengan permainan kata-kata. (more…)
Moh. Samsul Arifin
Namanya Herman Willem Daendels. Bacalah nama ini dari buku sejarah di bangku sekolah, Anda bakal terhubung dengan “luka” yang menganga! Ya, proyek ambisius Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1808-1811) yang merentangkan jalan antara Anyer-Panarukan itu membawa petaka bagi anak bangsa. Ada beragam data ihwal korban tewas karena kerja paksa membangun jalan yang menyusuri sedikitnya 39 kota tersebut. (more…)
Iskandar Siahaan
(Catatan: Dua tulisan Iskandar Siahaan yang dimaksudkan sebagai tanggapan dua artikel Salomo Simanungkalit di Kompas tak dimuat. Kompas hanya menyediakan rubrik surat pembaca ini untuk menampungnya. Tulisan pertama Iskandar akhirnya kami terbitkan sebagai Catatan Produser. Berikut adalah tulisan keduanya, Admin.)
Hanya karena–dengan segala hormat–seorang Sutardji Calzoum Bachri menulis sebuah puisi–dan di dalamnya ada frasa paling mawar–Salomo Simanungkalit (Kompas, 15/2) bangun dari tidur dogmatisnya. (more…)
Moh. Samsul Arifin
Bandara Soekarno-Hatta lumpuh akibat banjir di sejumlah titik Tol Sedyatmo, yang menghubungkan Jakarta dengan bandara internasional tersebut. Gerbang pertama—sekaligus wajah pertama—menuju dan keluar Indonesia itu limbung. Antara 1-3 Februari lalu, penerbangan terpaksa dialihkan ke Halim Perdanakusuma, Palembang, Semarang, Surabaya dan bahkan Singapura! Di antara 30-40 ribu penumpang yang setiap hari datang dan pergi lewat Soekarno-Hatta, sekian ribu pastilah warga negara asing. Di mana akan ditaruh muka kita?
(more…)
Vincent Hakim R.
Amat beragam perilaku orang menghadapi dan menerima kenyataan kematian. Juga dalam hal memahami makna kematian.
Banyak orang menghadapi kematian dengan duka dan kesedihan yang teramat dalam. Bahkan cenderung menjadi berlebihan dalam menerima kedukaan, ketika ajal itu datang menjemput pada waktunya.
(more…)
M. Samsul Arifin
Final Liga Indonesia I tahun 1995. Istora Senayan Jakarta bergemuruh. Stadion terbelah dua. Suporter Persib Bandung membirukan stadion megah yang dibangun Soekarno tahun 1962 tersebut. Pendukung Petrokimia Putra Gresik betul-betul minoritas, tak banyak suara sekalipun tetap terus memompakan semangat pada kesebelasan eks galatama (Liga Sepak Bola Utama) yang dimiliki salah satu BUMN ini.
Saat itu saya hadir di Senayan di tengah kerumunan suporter ‘Maung Bandung’ yang belakangan berjuluk The Viking. Sengaja saya datang dari Bandung untuk menonton final pertama kompetisi yang meleburkan perserikatan dan galatama. Alasannya sungguh sederhana: mendukung tim asal Jawa Timur, yang kebetulan diwakili Petrokimia! Dukungan untuk daerah ini menautkan saya dengan apa yang disebut fanatisme. Semua publik tahu, fanatisismelah yang merawat sepak bola Indonesia di era perserikatan dulu.
(more…)