Wednesday, May 22, 2013

Garuda di Dadaku

July - 14 - 2009 43 KOMENTAR
garuda-di-dadaku

Leanika Tanjunggaruda

Ini film anak-anak loh…

Pertama kali mendengar judulnya, aku bilang ke temanku film apa ya itu. Judulnya terlalu berat, sepertinya tidak layak tonton, apalagi diliput. “Ini tentang anak kecil yang punya ambisi besar jadi pemain sepak bola,” jawabnya.

Aku mulai tertarik. “Anak itu harus melakukan berbagai cara agar bisa masuk tim nasional karena ditentang kakeknya,” lanjutnya.

Hhmmm … Aku makin tertarik. Aku penasaran bagaimana seorang sutradara Indonesia memfilmkan sebuah ambisi, sebuah motivasi dan keinginan. Aku teringat film Iran, Children of Heaven, yang bercerita tentang seorang anak di Iran, yang saking miskinnya, harus berganti sepatu dengan adiknya, tiap kali ke sekolah. Selengkapnya baca di sini. Selengkapnya »

battle-in-seattle-menggempur-pasar-bebas-di-kandang-kapitalisme

Rahman Andi Mangussara

“…Perdagangan bebas dan hubungan seksual bebas akan lebih berguna ketimbang cara lain dalam mengembangkan peradaban…”

James Wilson, seorang pendukung setia perdagangan bebas di Inggris, mengatakan kutipan di atas pada 1843. Begitu kuatnya kepercayaan Wilson akan argumen Adam Smith tentang perdagangan bebas, ia pun menerbitkan majalan The Economist yang didedikasikan untuk perdagangan dan pasar bebas. Dari Inggris, setelah negara ini siap betul bertarung di pasar bebas, perdagangan bebas dikumandangkan ke seantero bumi.

Kini, kata-kata Wilson itu seperti menemukan bentuknya yang paling nyata. Bukan hubungan seksual bebasnya yang saya maksudkan (entah kenapa Pak Wilson ini mengatakan hubungan seksual bebas dan perdagangan bebas dalam satu tarikan napas) melainkan perdagangan dan pasar bebasnya yang nyaris tak terbendung. Perdagangan dan pasar bebas nyaris tak terbendung. Selengkapnya klik di sini

Selengkapnya »

Satir Amerika

January - 12 - 2009 9 KOMENTAR

Andy Budiman

Inilah komedi gelap ala Coen Brothers  (Joel & Ethan Coen). Sutradara yang dikenal sebagai Hollywood darling sekaligus kesayangan para juri Festival film ini muncul dengan film terbaru “Burn After Reading”.

“Burn After Reading” adalah film humor gelap Coen bersaudara yang bercerita tentang “kegilaan” Amerika dengan setting Washington DC.  Osbourne Cox (John Malkovich) adalah seorang agen CIA yang dipecat karena kebiasaannya menenggak minuman keras.

Baca selengkapnya di sini.

Eat, Pray, Love

December - 15 - 2008 9 KOMENTAR

Dal centro della mia vita venne una grande Fontana…
“From the center of my life, there came a great fountain…”

—“Eat, Pray, Love” by Elizabeth Gilbert, p. 39
(taken from a poem by Louise Glück)

Penulis: Elizabeth Gilbert
Penerbit: Viking Adult, 2006

Empat bulan berada di Italia, Elizabeth Gilbert mulai menemukan kekuatan dalam dirinya untuk bangkit dari reruntuhan jiwanya: pascaperceraian dan kebangkrutan. Di Italia, Gilbert bukan turis biasa. Negeri itu baginya merupakan tempat pelarian, awal sesuatu yang baru, yang dapat menghidupkan kembali seorang perempuan usia 30-an, yang sedang kehilangan kendali hidup. Lewat pendalaman bahasa asing yang eksotis, perkenalan dengan orang-orang Eropa yang penuh kehangatan, serta piring demi piring pizza dan pasta nan lezat, penulis asal New York itu kembali menemukan alasan berdamai dengan dirinya.

Tapi tak semudah itu berdamai dengan Jiwa yang terus dirongrong Depresi dan Kesepian. Meninggalkan keramaian Italia, ia pergi mencari ketenangan India. Di sana, ia menetap sebagai murid dan pelayan sebuah ashram. Sebagai murid, ia belajar meditasi dan membangun hubungan vertikal dengan Sang Pencipta. Sebagai pelayan, ia bekerja bagi Guru dan sesama penghuni ashram. Di India pula, ia belajar makna ajaran kitab Bhagavad Gita, bahwa lebih baik menjalani nasib sendiri secara tidak sempurna daripada meniru hidup orang lain secara sempurna. Episode di India bagi Gilbert adalah Episode Pencerahan Spiritual.

Baca selengkapnya di sini.

Klub Buku dan Film SCTV bekerja sama dengan Penerbit Kompas
menggelar diskusi buku:

“Bencana Finansial”
karya A. Prasetyantoko

Dunia tak pernah sepi dari sejumlah krisis. Apalagi pada periode pasca liberisasi sektor finansial yang terjadi pada 1980-an yang memunculkan hegemoni finansial. Tiga arus besar, yaitu liberisasi finansial di tingkat global, deregulasi pada level nasional, serta inovasi produk-produk finansial pada level korporasi, berujung pada tingginya instabilitas finansial. Karena itu, stabilitas finansial menjadi hal teramat penting.

Buku ini mengulas berbagai fenomena krisis di dunia. Mulai dari krisis “Tulip Mania” (1636-1637), Depresi Besar (1930), Krisis di Asia (1997-1998), hingga Krisis Subprime Mortgage di AS (2007-2008). Dampak dan nilai pembelajarannya bagi Indonesia diuraikan di sana.

Pembicara:
A. Prasetyantoko (penulis dan staf pengajar Universitas Atma Jaya Jakarta)
M. Ikhsan Modjo (INDEF)
Arianto Patunru (LPEM Universitas Indonesia)

Fab Cafe, Grand Indonesia, Lantai 3
Jl MH Thamrin Jakarta Pusat
Jumat, 14 November 2008
Pukul 16.00 WIB – Selesai

antara-new-york-dan-kabul-ironi-kemanusiaan

M. Nurul Amin

Tertegun dan ternganga, itu perasaan saya, saat menjejakkan kaki di Ground Zero, World Trade Center, New York, Amerika Serikat. Aneh dan asing, itu perasaan saya saat menjejakkan kaki di Bandara Kabul, Afghanistan.

Betapa tidak, dua tempat berbeda, terbelah dalam dua benua, dalam rentang jarak ribuan kilometer, dipisahkan oleh samudera nan luas, menjadi satu, dalam derita!.

Tak terbayangkan oleh saya, bagaimana mungkin para pembajak pesawat United Airline menabrakkan pesawat dan ratusan jiwa didalamnya ke menara kembar WTC, 11 September, tujuh tahun lalu. Tak terbayangkan pula bagaimana tentara Amerika Serikat membumihanguskan tanah kerontang Afghanistan, sejak tujuh tahun lalu hingga kini. Selengkapnya »

Wajah Baru Liputan6.com

September - 8 - 2008 92 KOMENTAR
wajah-baru-liputan6-com

Yus Ariyanto

Hari ini, genap sepekan Liputan6.com bersalin wajah. Mungkin di antara Anda telah ada yang terbiasa, barangkali ada juga yang belum.

Kami memang terus berbenah. Kata pameo lama, tak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. Kami coba mengamalkannya. Perubahan, tentu ke arah yang lebih baik, harus terus diupayakan. Dari hari ke hari. Tiada henti. Selengkapnya »

Les Miserables

August - 26 - 2008 1 KOMENTAR
les-miserables

Victor Hugo, Bentang Pustaka, 2007, 616 halaman

Miko Toro

Sudah lama saya dengar nama besar Les Miserables karya Victor Hugo. Tapi tak pernah saya tergerak menyentuh karya ini. Pikir saya, apa sih menariknya? Peninggalan abad 19, pasti ketinggalan zaman, dan tidak lagi relevan.

Tapi saya salah besar. Saya temukan, Les Miserables relevan untuk zaman ini, dan mungkin untuk semua zaman. Saya temukan, Victor Hugo memang bukan nama kosong. Membaca Les Miserables (Yang Menderita) membuat saya betul-betul menderita. Membuat saya ingin berhenti membaca, sekaligus meneruskan membaca. Membingungkan, menghanyutkan, dan menggetarkan.

Tapi sekali lagi, kenapa kita tiba-tiba perlu membaca karya ini? Kenapa sekarang? Harus saya akui, memang tak ada alasan khusus untuk itu, selain bahwa karya ini sekarang tersedia dalam bahasa Indonesia, dari penerbit Bentang. Hanya saya percaya, karya-karya tertentu, seperti Les ini, layak dinikmati kapan saja.

Baca selengkapnya di sini.

masih-ada-dunia-yang-lebih-baik

Leanika Tanjung

Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan Bagaimana Bisnis Sosial Mengubah Kehidupan Kita, Muhammad Yunus, Gramedia Pustaka Utama, 280 halaman, Juni 2008

Berbeda dengan buku pertama, Banker to the Poor, yang merupakan dokumentasi perjalanan hidup Muhammad Yunus hingga membangun Grameen Bank, dalam “Creating a World Without Poverty,” pemenang Nobel Perdamaian 2006 ini melangkah lebih jauh. Ia bicara tentang bisnis sosial.

Di buka dengan cerita undangan Franck Riboud, CEO Group Danone, perusahaan makanan multinasional asal Perancis. Penjual susu dan produk susu terbesar ketiga di dunia. Undangan yang datang sebelum Yunus mendapat Nobel Perdamaian, merupakan cikal-bakal bagi Yunus mewujudkan sebuah bisnis sosial.

Baca selengkapnya di sini.

memburu-penjahat-perang-bosnia

Zaenal Bhakti

The Hunting Party (2007)

Richard Gere – Simon Hunt
Duck – Terrence Howard
Franklin – James Brolin
Benyamin – Jesse Eisenberg
Skenario – Richard Shepard
Sutradara – Richard Shepard

Entah kebetulan atau tidak. Saat menulis coretan ini, mantan Presiden Serbia, Radovan Karadzik, salah seorang penjahat perang Bosnia yang paling dicari ditangkap di Serbia. Pemerintah Serbia mengumumkan penangkapan itu, Selasa lalu (22/07).

Radovan Karadzic, bersama mantan presiden Yugoslavia, Slobodan Milosevic yang meninggal tahun 2006 sebelum pengadilan atas dirinya dimulai, dipersalahkan atas pembantaian 12 ribu orang selama 43 bulan pengepungan Sarajevo dan pembantaian delapan ribu Muslim di Srebrenica. Peristiwa pengepungan itu sendiri terjadi tahun 1995.

Kenapa kebetulan? Karena film The Hunting Party yang kita bicarakan hari ini, bercerita tentang perburuan wartawan perang terhadap salah seorang komandan pasukan milisi serbia yang secara kejam membantai warga sipil, dari kalangan muslim bosnia.

Baca selengkapnya di sini.

Muslim Demokrat: Islam, Budaya Demokrasi, dan Partisipasi Politik di Indonesia Pasca-Orde Baru, Saiful Mujani, Gramedia Pustaka Utama, 2007

Andy Budiman

Bagi ilmuwan politik seperti Samual P. Huntington atau ahli sejarah Islam seperti Bernard Lewis, judul buku ini pasti terasa aneh. Muslim Demokrat, bagi mereka adalah sebuah contradictio in terminis. Huntington dan Lewis pasti heran bagaimana mungkin dua kategori yang saling bertentangan disebut dalam satu tarikan nafas. Bagi mereka, semakin Islami seseorang, maka akan semakin jauh ia dari nilai-nilai demokrasi.

Selama ini, ada sejumlah pandangan umum yang menunjukkan kontradiksi diantara dua kategori tadi (Saiful Mujani, hal 32 s/d 34):

Baca selengkapnya di sini.

Eko Wahyu Tawantoro

The Kite Runner karya Khaled Hosseini. Penerbit Qanita, Bandung, 2006, xiv + 616 halaman.

The Kite Runner, karya pertama novelis eksil kelahiran Afghanistan, Khaled Hosseini, sulit dipungkiri adalah fenomena. Sebuah cerita rekaan bisa bertahan selama 50 minggu sebagai best seller, dan telah diterjemahkan dalam 42 bahasa, tentu di dalamnya tersimpan alasan kuat. Muskil rasanya, karya yang diklaim sukses secara komersial ini, menawarkan kisah biasa-biasa saja.

Secara intrinsik, sesungguhnya tidak ada kejutan yang istimewa. Plot dibangun dalam tatanan konvensional dan linier. Tidak ditemukan suspen yang menghentak. Lalu elemen apa yang menjadikan novel ini dibanjiri pujian dan digandrungi jutaan pembaca?

Selanjutnya baca di sini.

Sebuah Mukadimah

May - 14 - 2008 26 KOMENTAR

Miko Toro*)

Kami membentuk Klub Buku & Film SCTV. Mengapa klub ini perlu ada? Anggota klub akan menjawab, “Ini tempat happy-happy kutu buku di SCTV. Dengan adanya klab ini, kami bisa tukar menukar ide. Siapa saja, boleh ikut nimbrung.”

Begitu saja? Betul. Cuma itu. Tapi biasanya, bila ditanya dengan tatapan agak serius, saya yakin anggota klab akan memberi jawaban kira-kira begini:

“Konon, minat baca bangsa Indonesia, termasuk sejumlah oknum mahasiswa, masih rendah. Padahal kami percaya, buku adalah segalanya. Seperti halnya makanan bergizi membuat tubuh sehat, bacaan bergizi membuat pikiran sehat. Maka, dengan semangat cinta tanah air yang berkobar-kobar, kami memberanikan diri, melalui klab ini, mengajak siapa saja untuk lebih banyak membaca.” Selengkapnya »