Victor Hugo, Bentang Pustaka, 2007, 616 halaman
Miko Toro
Sudah lama saya dengar nama besar Les Miserables karya Victor Hugo. Tapi tak pernah saya tergerak menyentuh karya ini. Pikir saya, apa sih menariknya? Peninggalan abad 19, pasti ketinggalan zaman, dan tidak lagi relevan.
Tapi saya salah besar. Saya temukan, Les Miserables relevan untuk zaman ini, dan mungkin untuk semua zaman. Saya temukan, Victor Hugo memang bukan nama kosong. Membaca Les Miserables (Yang Menderita) membuat saya betul-betul menderita. Membuat saya ingin berhenti membaca, sekaligus meneruskan membaca. Membingungkan, menghanyutkan, dan menggetarkan.
Tapi sekali lagi, kenapa kita tiba-tiba perlu membaca karya ini? Kenapa sekarang? Harus saya akui, memang tak ada alasan khusus untuk itu, selain bahwa karya ini sekarang tersedia dalam bahasa Indonesia, dari penerbit Bentang. Hanya saya percaya, karya-karya tertentu, seperti Les ini, layak dinikmati kapan saja.
Baca selengkapnya di sini.
Leanika Tanjung
Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan Bagaimana Bisnis Sosial Mengubah Kehidupan Kita, Muhammad Yunus, Gramedia Pustaka Utama, 280 halaman, Juni 2008
Berbeda dengan buku pertama, Banker to the Poor, yang merupakan dokumentasi perjalanan hidup Muhammad Yunus hingga membangun Grameen Bank, dalam “Creating a World Without Poverty,” pemenang Nobel Perdamaian 2006 ini melangkah lebih jauh. Ia bicara tentang bisnis sosial.
Di buka dengan cerita undangan Franck Riboud, CEO Group Danone, perusahaan makanan multinasional asal Perancis. Penjual susu dan produk susu terbesar ketiga di dunia. Undangan yang datang sebelum Yunus mendapat Nobel Perdamaian, merupakan cikal-bakal bagi Yunus mewujudkan sebuah bisnis sosial.
Baca selengkapnya di sini.
Zaenal Bhakti
The Hunting Party (2007)
Richard Gere – Simon Hunt
Duck – Terrence Howard
Franklin – James Brolin
Benyamin – Jesse Eisenberg
Skenario – Richard Shepard
Sutradara – Richard Shepard
Entah kebetulan atau tidak. Saat menulis coretan ini, mantan Presiden Serbia, Radovan Karadzik, salah seorang penjahat perang Bosnia yang paling dicari ditangkap di Serbia. Pemerintah Serbia mengumumkan penangkapan itu, Selasa lalu (22/07).
Radovan Karadzic, bersama mantan presiden Yugoslavia, Slobodan Milosevic yang meninggal tahun 2006 sebelum pengadilan atas dirinya dimulai, dipersalahkan atas pembantaian 12 ribu orang selama 43 bulan pengepungan Sarajevo dan pembantaian delapan ribu Muslim di Srebrenica. Peristiwa pengepungan itu sendiri terjadi tahun 1995.
Kenapa kebetulan? Karena film The Hunting Party yang kita bicarakan hari ini, bercerita tentang perburuan wartawan perang terhadap salah seorang komandan pasukan milisi serbia yang secara kejam membantai warga sipil, dari kalangan muslim bosnia.
Baca selengkapnya di sini.
Muslim Demokrat: Islam, Budaya Demokrasi, dan Partisipasi Politik di Indonesia Pasca-Orde Baru, Saiful Mujani, Gramedia Pustaka Utama, 2007
Andy Budiman
Bagi ilmuwan politik seperti Samual P. Huntington atau ahli sejarah Islam seperti Bernard Lewis, judul buku ini pasti terasa aneh. Muslim Demokrat, bagi mereka adalah sebuah contradictio in terminis. Huntington dan Lewis pasti heran bagaimana mungkin dua kategori yang saling bertentangan disebut dalam satu tarikan nafas. Bagi mereka, semakin Islami seseorang, maka akan semakin jauh ia dari nilai-nilai demokrasi.
Selama ini, ada sejumlah pandangan umum yang menunjukkan kontradiksi diantara dua kategori tadi (Saiful Mujani, hal 32 s/d 34):
Baca selengkapnya di sini.
Eko Wahyu Tawantoro
The Kite Runner karya Khaled Hosseini. Penerbit Qanita, Bandung, 2006, xiv + 616 halaman.
The Kite Runner, karya pertama novelis eksil kelahiran Afghanistan, Khaled Hosseini, sulit dipungkiri adalah fenomena. Sebuah cerita rekaan bisa bertahan selama 50 minggu sebagai best seller, dan telah diterjemahkan dalam 42 bahasa, tentu di dalamnya tersimpan alasan kuat. Muskil rasanya, karya yang diklaim sukses secara komersial ini, menawarkan kisah biasa-biasa saja.
Secara intrinsik, sesungguhnya tidak ada kejutan yang istimewa. Plot dibangun dalam tatanan konvensional dan linier. Tidak ditemukan suspen yang menghentak. Lalu elemen apa yang menjadikan novel ini dibanjiri pujian dan digandrungi jutaan pembaca?
Selanjutnya baca di sini.
Miko Toro*)
Kami membentuk Klub Buku & Film SCTV. Mengapa klub ini perlu ada? Anggota klub akan menjawab, “Ini tempat happy-happy kutu buku di SCTV. Dengan adanya klab ini, kami bisa tukar menukar ide. Siapa saja, boleh ikut nimbrung.”
Begitu saja? Betul. Cuma itu. Tapi biasanya, bila ditanya dengan tatapan agak serius, saya yakin anggota klab akan memberi jawaban kira-kira begini:
“Konon, minat baca bangsa Indonesia, termasuk sejumlah oknum mahasiswa, masih rendah. Padahal kami percaya, buku adalah segalanya. Seperti halnya makanan bergizi membuat tubuh sehat, bacaan bergizi membuat pikiran sehat. Maka, dengan semangat cinta tanah air yang berkobar-kobar, kami memberanikan diri, melalui klab ini, mengajak siapa saja untuk lebih banyak membaca.” (more…)