Monday, May 20, 2013
melawan-korupsi-melawan-lupa

Yus Ariyanto

Di paruh pertama 1990-an, kalimat Milan Kundera ini mulai dikenal: “The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting.” Ada di The Unbearable Lightness of Being, kebanyakan pengutipnya di Indonesia belum membaca dari sumber aslinya. Seingat saya, cendekiawan Mochtar Pabottingi merupakan salah seorang yang pertama kali memulungnya untuk menonjok Orde Baru. Kalimat ini begitu mengena dan bertenaga, lantas menjadi tagline baru para aktivis prodemokrasi.

Pada Juni ini, kalimat itu bergema lagi saat korupedia.org diluncurkan. Ini adalah sebuah situs yang menghimpun data kasus dan pelaku korupsi di Indonesia.  Hanya kasus yang telah berkekuatan hukum tetap akan dipublikasikan. Maka, kita tak akan menemukan kasus Eddy Tansil yang membawa lari duit Bank Bapindo, misalnya. Boro-boro divonis, ditemukan pun dia belum.

Masih jauh dari komplet, terus dilengkapi datanya. Ini memang bukan kerja main-main mengingat banyaknya perkara korupsi di Indonesia. Pada Jumat (22/6) malam, sebagai contoh, saya iseng-iseng mengetik “Panda Nababan” di search engine situs tersebut. Nihil. Haqqul yakin lantaran memang belum sempat dicatat dan dimasukkan. Bersama sejumlah rekannya, politisi PDI Perjuangan itu dinyatakan bersalah karena menerima cek pelawat terkait pemilihan Miranda S. Goeltom sebagai Deputi Senior Bank Indonesia. Ia divonis satu tahun dan lima bulan penjara.

Hadir sejumlah jurnalis, praktisi hubungan masyarakat, juga aktivis LSM yang mendirikan situs ini. Mari simak di Tentang Kami:

“…para para pencuri dan penjarah itu acap berbangga diri, muncul dan bicara di berbagai media. Mereka tak malu tampil di radio, koran dan televisi, mempermainkan logika dan hukum. Juga menjungkirbalikkan akal sehat. Sadar atau tidak, sebagian media massa memang telah memberi panggung “pencucian dosa” bagi para koruptor itu. Karena itulah, penting bagi kita untuk melakukan perlawanan bersama. Salah satunya dengan membuat “monumen abadi”, “tugu peringatan”, berupa situs online yang berisi daftar para koruptor, yang bisa diakses siapa saja. Agar kita, anak-anak kita, cucu-cucu kita, bisa belajar bahwa korupsi, apa pun dalihnya, sudah membuat rakyat di negeri ini menderita.”

Ini proyek melawan lupa–mengamalkan ujaran Kundera. Saya tak tak tahu apakah inisiatif ini hanya terdapat di Indonesia atau sudah ada perintisnya di luar sana. Tak penting juga. Tapi, dalam anggapan saya, proyek ini berharga sebagai bentuk keterlibatan warga negara dalam perang terhadap korupsi. Tak hanya mengeluh dan mengutuk. Berbuat sejauh kemampuan.

Ada titik ketika kita “harus berhenti percaya” pada determinasi pemerintah dan parlemen dalam memerangi korupsi. Lihat, sudah beberapa tahun ini, Komisi III DPR tak juga mengabulkan permohonan pencairan Rp 225 miliar untuk membangun gedung KPK. Gedung KPK telah berusia 31 tahun dan tak mampu menampung staf KPK  yang kini jumlahnya 650 orang. Gedung itu hanya sanggup menampung 350 orang. Anda percaya Senayan belum memberi lampu hijau cuma lantaran alasan administratif?!

Voluntarisme. Itu yang dibutuhkan. Bukan mengambil alih tugas eksekutif dan legislatif, melainkan demi menunjukkan kerja melawan korupsi tak bisa diserahkan sepenuhnya pada mereka.

indonesia-buat-semua

Yus Ariyanto

Jakarta, 29 September 1933. Gedung Permufakatan Nasional di Gang Kenari, Salemba, dipenuhi ribuan orang. Di malam itu, mereka akan mengikuti perdebatan antara A. Hassan (ulama tersohor, pendiri Persatuan Islam) dan Abu Bakar Ayub (tokoh Ahmadiyah Qadian). Topik debat: menguji keabsahan Ahmadiyah.

Saya baca kisah tersebut di TEMPO edisi 21 September 1974. Sebagai pimpinan sidang, Mohamad Muhyidin membuka, “Saya mengucapkan terimakasih atas kedatangannya sekalian. Ternyatalah perdebatan ini dapat perhatian yang penting. Melainkan saya harap supaya tuan-tuan sekalian akan tinggal dengan iman, seperti kemaren. Sekarang akan diperingati lagi kepada tuan-tuan supaya janganlah mencela atau mengeluarkan perkataan atau isyarat-isyarat yang memihak ke salah satu partai yang sedang berdebat…Barang siapa tiada menurut akan aturan ini, saya akan ambil tindakan.” Selengkapnya »

lupa-lupa-lupa-yang-minor

Raymond Kaya

Seorang pemain musik yang baru belajar akan diajarkan tiga kunci awal yaitu C, G dan F.  Mahir sedikit maka akan diajarkan kunci A minor dan D minor. Dengan lima kunci ini maka lagu yang dimainkanpun terbatas, lagu yang sederhana dan tidaklah rumit. Sekadar contoh,  saya pernah mengunjungi saung angklung  (alm)  M ang Udjo di Bandung.  Yang datang disuguhi aneka lagu, tapi tak lupa bermain angklung. Nah lagu yang sederhana dengan lima nada  do, re, mi, fa dan sol serta tiga kunci C, G dan F  adalah lagu my song yang kemudian “diplesetkan” kedalam bahasa sunda dengan lirik  “Abdi teh ayeuna gadung   hiji boneka,  teu kinten sae na sarang lucunya dst (terjemahan bebasnya kira-kira:  sekarang saya punya sebuah boneka, tak terkira bagus dan lucunya)

Dari gedung KPK ada lagu yang –tak terkira bagusnya– tapi juga tak terkira lucunya.   Kamis ( 18/8)  lalu ada juga lagu yang tidak merdu keluar dari mulut Nazaruddin. Lagunya  bukan “my song”  tapi dari  Band Kuruburan … “lupa-lupa-lupa, lupa lagi syairnya”.  Intinya dia sudah lupa dengan semua yang diucapkannya selama dalam perlarian di luar negeri, tapi dibalik lupanya ia menitipkan pesan pada Presiden agar anak dan istrinya dijaga dengan baik.  Lupanya Nazaruddin ini kontan  ditangapi dengan berbagai komentar dan tanya Wow and Why . Sebelumnya nyanyian lupa ini  para komentator dari partai politkik (non-Demokrat ), aktivis hingga pemimpin media massa sudah memprediksikan jika nanti Nazar akan bernyanyi, tidak nyaring tapi juga tidak seperti ini, lupa-lupa dan lupa. Selengkapnya »

keanehan-sang-wali-kota

Yus Ariyanto

Aneh bin ajaib. Pemerintah Kota Bandung, Jawa Barat, mencekal Ariel “Peterpan,” Luna Maya, dan Cut Tari dalam melakukan aktivitas keartisan di Kota Kembang selama menjalani masalah hukum terkait video mesum yang diduga dilakoni mereka. Pencekalan dicabut jika ketiganya secara hukum tidak terbukti sebagai pelaku.

Wali Kota Bandung Dada Rosada menyatakan, Pemkot juga melarang wajah Ariel, Luna, dan Tari muncul dalam iklan, poster, atau baliho di Bandung.

Sang wali kota berpendapat, Ariel yang merupakan warga kota Bandung justru telah mencoreng nama Kota Kembang sebagai kota agamis-religius. Kepada koran lokal, Dada juga bilang, tak tertutup kemungkinan bahwa Ariel yang berdomisili di Arcamanik, Bandung, dicoret sebagai warga. Selengkapnya »

dari-alcatraz-ke-pondok-bambu

Rinaldo

Anda tentu pernah mendengar nama Alcatraz. Pulau yang ditemukan penjelajah Spanyol, Juan Manuel de Ayala, pada tahun 1775 ini sudah kondang ke mana-mana. Bukan karena pulau seluas 12 hektare itu banyak ditinggali burung alcatraces (pelikan) atau suburnya populasi hiu di sekelilingnya, tapi karena sebuah penjara.

Tak ada yang istimewa dengan pulau di Teluk San Francisco ini. Tak ada sumber air bersih, tanahnya gersang tak banyak ditumbuhi rumput. Karena itu, baik pemerintah Spanyol atau Meksiko sebagai penguasa waktu itu tak sudi memanfaatkan pulau nan tandus ini. Selengkapnya »

Subagyo dan Anggodo

November - 19 - 2009 13 KOMENTAR
subagyo-dan-anggodo

Yus Ariyanto

Subagyo pernah mendekam di bui. Monitor Depok menulis, ia menjadi penghuni LP Paledang, Bogor, pada 2006. Kesalahannya: bermain judi. Selasa (17/11) lalu, di sebuah rumah kontrakan, ia kembali melakukan hobi itu bersama tiga temannya. Mungkin, ia melakoninya sebagai rekreasi di sela-sela pekerjaan sebagai supir angkutan umum D-102 jurusan Limo-Depok. Hari menjelang petang.

Ketika mereka asyik dengan permainan itu, tiba-tiba datang sekelompok orang yang kemudian diketahui adalah anggota Polsek Limo, Depok, Jawa Barat. Para penjudi itu kontan tunggang-langgang, berusaha melarikan diri. Tiga orang gagal dan diringkus. Tapi, Subagyo nahas: peluru membuatnya meregang ajal. Selengkapnya »

Rindu Polisi Jujur

November - 5 - 2009 26 KOMENTAR
rindu-polisi-jujur

Rinaldo

Di awal 1956, seorang pria tinggi kurus bersama istrinya tiba di Pelabuhan Belawan, Medan, Sumatra Utara. Perintah dari atasan membuatnya harus meninggalkan Tanah Jawa dan menjejakkan kaki di kota yang dia tak kenal sama sekali. Ada sedikit kegamangan ketika dia harus mengemban jabatan baru sebagai Kepala Direktorat Reserse Kriminal pada Kantor Polisi Sumut (sekarang Polda Sumut).

Betapa tidak, sebelum berangkat, atasan dan sejumlah koleganya sudah mewanti-wanti. Disebutkan, Kota Medan adalah daerah rawan dan keras. Penyelundupan dan perjudian seolah tak tersentuh. Banyak sudah perwira polisi yang bertekuk lutut karena berutang budi pada pengusaha kakap yang umumnya dikuasai oleh etnis Tionghoa. Selengkapnya »

Vox Populi Vox Dei

June - 15 - 2009 19 KOMENTAR
vox-populi-vox-dei

Rinaldo

Menjelang pelaksanaan pemilihan presiden mendatang, makin rajin saja politisi kita mengutip adagium yang sangat populer di Eropa pada abad pertengahan. Adagium itu berbunyi vox populi vox dei, yang artinya: Suara rakyat adalah suara Tuhan.

Kutipan berbahasa Latin itu terus-menerus diulang dan didengungkan, bahwa pemilihan umum adalah saatnya rakyat menentukan pilihan dan masa depannya. Apa pun pilihan rakyat, tak bisa digugat, karena itu adalah juga kehendak Tuhan. Selengkapnya »

prita-omni-dan-konsumen-adalah-raja

Yus Ariyanto

Sungguh sulit memahami jalan pikiran pihak manajemen RS Omni International Serpong. Seorang konsumen, Prita Mulyasari, mengeluhkan pelayanan rumah sakit itu dan menuangkannya dalam surat elektronik. Surat itu menyebar, pihak Omni gusar. Eh, babak hukum dimulai. Prita menjadi tersangka kasus pencemaran nama baik dan…ditahan [baca: Prita Rindu Buah Hati].

Perkara ini segera diketahui publik. Termasuk, konsumen dan calon konsumen Omni sendiri. Kira-kira apa yang langsung menempel di kepala mereka saat mengetahui perkara ini? Saudara-saudara, secara instingtif, para konsumen bakal gampang bersimpati dengan sesama konsumen. Jika ada seorang konsumen diperlakukan seperti itu, mudah ditebak: simpati deras mengalir buat konsumen bersangkutan. Selengkapnya »

korupsi-kolusi-siapa-harus-takut

M. Nurul Amin

Heran, tak habis-habisnya  berita soal korupsi di negeri ini, aneh, tak jua berkurang jumlah koruptor yang melahap seisi negeri. Pagi hari, headline surat kabar mewartakan, petinggi negeri masuk jeruji karena mengisi pundi-pundi untuk pribadi dan relasi  tak kenal henti. Siang hari, warta radio menyampaikan caci demonstran soal korupsi di kantor Departemen bergengsi. Sore hari, berita televisi mensaji mantan menteri diperiksa karena diduga terlibat kolusi pengadaan barang untuk aktivitas pegawai negeri. Belum selesai, malam hari, televisi kembali mensaji, bupati di pelosok negeri berbagi dana untuk kepentingan sendiri.

Ah, itu semua khan untuk pemimpin negeri, tidak juga. Korupsi dan kolusi tak lagi mengenal pemimpin negeri, korupsi dan kolusi kini sudah menjerat seluruh lini. Mungkin, sebagian kita membantah, bukankah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah beraksi! Selengkapnya »

polisi-tebang-pilih-berantas-preman

Haryo Dewanto

Aksi polisi dalam memberantas preman sudah menjadi suguhan bagi warga di berbagai media di Indonesia saat ini. Aksi pemberantasan preman oleh polisi memang sangat dipublikasikan secara besar-besaran di media massa terutama televisi. Aksi kejar-kejaran pun tergambar sebagai kekuatan yang ditonjolkan polisi. Namun sayang masih ada publikasi polisi yang kurang, yaitu, untuk masyarakat bila terjadi tindakan kejahatan, ke mana masyarakat harus melapor dengan mudah dan cepat. Publikasi seperti ini masih terasa kurang di berbagai media.

Masih menyangkut publikasi polisi, aksi pemberantasan preman hanya mempublikasikan preman yang membutuhkan sesuap nasi ketimbang preman berdasi atau preman oknum polisi hanya disebar dari mulut ke mulut. Padahal preman-preman seperti itu lebih membahayakan karena mempunyai uang yang banyak dan jaringan yang lengkap. Mungkin adanya publikasi saat ini, sebagian masyarakat hanya menilai polisi beraninya hanya dengan “wong cilik”, sementara dengan preman berdasi atau pun oknum polisi nanti-nanti dulu. Selengkapnya »

Mati Syahid

November - 9 - 2008 138 KOMENTAR

Jarot Suprayitno

Definisi syuhada atau mati syahid, adalah orang yang berjuang karena Allah dan untuk kepentingan agama. Kalau dalam kondisi damai, lalu membunuh, termasuk suhadakah amrozi cs yang minggu dini hari ditembak mati karena terlibat pengeboman bali yang menewaskan 202 jiwa?

Sebuah pesan pendek dari Bali terbaca getir. “Bli, para tamu batal datang. Mereka takut!” Dari sms yang datang berikutnya barulah saya mafhum, para tamu itu pelancong Australia yang batal berkunjung ke Pulau Dewata karena takut ancaman teror setelah Amrozi Cs tewas di depan regu tembak, (9/11).
Selengkapnya »

ujian-nasional-dan-kegundahan-guru

Anton Bahtiar Rifa’i 

Ah, pendidikan kita terasa begitu dekat dengan dunia kriminal. Dari koran yang baru saja saya baca, Kepala Sekolah dan empat guru di Menes, Pandeglang, ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi. Mereka diduga membocorkan soal-soal Ujian Nasional (UN). Ini menambah panjang cerita tentang tenaga pendidik yang dikriminalkan menyusul pelaksanaan UN. Di Lubuk Pakam, misalnya, beberapa waktu lalu belasan guru SMA menjadi tersangka karena mengubah lembar jawaban UN murid-murid mereka. Para guru itu digerebek oleh anggota Detasemen Khusus 88 Anti Teror Kepolisian Daerah Sumatera Utara, dengan diwarnai tembakan senapan. Semua peristiwa itu terjadi atas nama UN. Mungkinkah UN telah menjadi “berhala”?

Tulisan ini bukan untuk memberikan pembenaran atas kecurangan yang dilakukan para guru. Hanya saja, kita perlu melihat lagi, bahwa kecurangan itu bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Seperti dalam kisah seorang ayah yang mencuri makanan untuk anaknya karena takut sang anak akan kelaparan, maka tindak kriminal itu harus dimengerti sebagai sesuatu yang lahir dari sebuah tekanan. Di sisi lain, pemerintah juga tidak bisa lepas tangan begitu saja, seolah-olah ini hanya persoalan hukum dan pembocoran rahasia negara. Bagaimanapun, banyaknya pelanggaran UN merupakan ekses dari kebijakan pendidikan nasional, dan harus dilihat melalui kacamata sistem pendidikan. Selengkapnya »

Luka

December - 20 - 2007 15 KOMENTAR

Andy Budiman

Seorang pria ditikam karena keyakinannya. Di bawah terik, Udin Saefudin yang mencoba mempertahankan langgar dan rumahnya, ditikam dada kirinya oleh segerombolan orang yang datang dan menyerang atas nama kebenaran. Selengkapnya »

Demokrasi Dibajak?

December - 6 - 2007 22 KOMENTAR
demokrasi-dibajak

Yus Ariyanto

Komedi tak lucu menjelang perayaan tutup tahun. Antasari Azhar, Direktur Penuntutan Jaksa Agung Muda Pidana Umum, terpilih sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tak habis pikir saya, apa yang bersemayam di pikiran para anggota Dewan yang terhormat?! Selengkapnya »