Sunday, May 19, 2013
poligami-akhir-kisah-maria

Moh. Samsul Arifin

Hanung Bramantyo menyisipkan poligami dalam sepertiga durasi Ayat-ayat Cinta. Tidak seperti dunia nyata yang sarat konflik, poligami yang disisipkan Hanung begitu sederhana, nyaris tanpa konflik. Fahri tinggal di rumah Aisha. Beberapa saat kemudian menikahi Maria dan lalu memboyongnya ke rumah Aisha. Hiduplah tiga orang itu di sana. Persis telenovela.

***

Meski Ayat-ayat Cinta telah menyita perhatian 3 juta-an penonton, saya tak pernah benar-benar terlecut untuk melangkahkan kaki ke bioskop. Orang rumah bahkan menahan saya untuk membaca novel Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy. Di kantor, sebagian kawan terpikat sinematografi besutan Hanung Bramantyo tersebut. Sebagian lagi mengirim pesan singkat: Jangan buang waktu untuk menyaksikan film yang bahkan tak mampu mendekatkan Kairo, Mesir dengan bahasa gambar. Selengkapnya »

Sjuman Djaya

March - 29 - 2008 4 KOMENTAR
sjuman-djaya

Anton Bahtiar Rifa’i

30 Maret, Hari Film Nasional. Dan, saya teringat film-film garapan almarhum Sjuman Djaya. Saya memang baru menonton beberapa dari 16 judul film karya sutradara sekaligus penulis skenario yang langganan Piala Citra itu. Namun, kesan itu melekat kuat: film-film garapan Sjuman selalu memancarkan bahasa jiwa yang kuat. Karyanya seringkali mengartikulasikan suatu kegelisahan atas realitas sosial.

Salah satu film Sjuman yang paling saya ingat adalah Si Doel Anak Betawi (1973), dibintangi Rano Karno yang ketika itu masih anak-anak. Film ini sangat menghibur. Namun, pencapaian Sjuman dalam berkarya tampaknya tidak pernah berhenti pada sebatas kata “menghibur”. Lewat film yang diadaptasi dari novel karya Aman Datoek Madjoindo itu, Sjuman – kelahiran Purworejo yang lebih merasa sebagai Anak Betawi—menyampaikan kegelisahan tentang nasib orang-orang Betawi yang terpinggirkan. Selengkapnya »

jk-ayat-ayat-cinta-dan-tiga-dara

Rahman Andi Mangussara

Sudah lama, lama sekali, terbilang tahun, saya tidak menonton film Indonesia. Begitu lamanya, sampai saya sudah lupa kapan terakhir menonton, pun saya tidak ingat apa judulnya. Saya sulit untuk memastikan, apakah Pacar Ketinggalan Kereta atau Cinta dalam Sepotong Roti yang menjadi film terakhir yang saya tonton. Anggaplah, saya terakhir menonton Cinta dalam Sepotong Roti, itu berarti 16 tahun lalu, karena film besutan Garin Nugroho itu menjadi pemenang Festival Film Indonesia tahun 1992, sedangkan Pacar Ketinggalan Kereta diproduksi setahun lebih dulu.

Ibarat cinta, saya sudah lama patah hati dengan film Indonesia. Begitu dalamnya perasaan kecewa itu, sampai-sampai beberapa film dalam negeri yang bagus yang diproduksi setelah periode 1992, juga luput saya tonton. Tapi, tahun lalu, ketika Naga Bonar Jadi 2 beredar, saya mencoba mengobati patah hati saya itu dengan melangkah memasuki bioskop. Setelah itu, saya kembali tidak melirik film Indonesia, hingga Sabtu sore pada 22 Maret lalu, kawan saya menelepon dan mengundang saya menonton Ayat-ayat Cinta. ‘”Bagaimana kalau malam minggu ini kita menonton Ayat-ayat Cinta,’’ begitu ajakan di seberang sana. Selengkapnya »

dari-ethiopia-ke-makassar-berkawan-maut

Moh. Samsul Arifin 

“Kalau kita bisa tidur nyenyak tiap malam tanpa rasa lapar, bersyukurlah” (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono). Seorang bocah di Makassar dipaksa bermain-main dengan el-maut karena lahir dari orangtua miskin. Aco membawa pesan tegas: Kelaparan kian dekat, mungkin sudah di sebelah kanan dan kiri rumah kita. Sedangkan Jojo menyeru dunia ini timpang. Maka datanglah ke Ethiopia, “rumah” malaikat pencabut maut. Selengkapnya »

Layang-layang dari Kabul

December - 14 - 2007 12 KOMENTAR
layang-layang-dari-kabul

Yus Ariyanto

Turnamen layang-layang. Setiap tim terdiri dari dua orang; satu orang menerbangkan dan mengendalikan, seorang lagi membawakan gulungan benang dan mengulurnya. Amir dan Hassan membentuk tim. Tapi, di akhir turnamen, ketika layang-layang terakhir putus dan mereka mengejar, suatu kejadian mengubah hidup mereka sepenuhnya. Selengkapnya »