Wednesday, May 22, 2013

Politik itu, Senator…

October - 21 - 2010 7 KOMENTAR
politik-itu-senator

Demokrasi berakhir di negeri itu. Tentara melancarkan kudeta. “…tak ada cara lain. Rezim ini busuk. Apa yang akan terjadi pada negeri ini jika kalian tak mengangkat senjata?!” kata Senator Esteban Trueba kepada seorang perwira di kantor Kementerian Pertahanan, tak lama setelah istana berhasil dikuasai dan Sang Presiden dicokok.

Di lubuk hati Trueba sejatinya terbit keraguan. “Aku punya firasat bahwa keadaan tidak berjalan sesuai rencana…” katanya membatin. Sebelumnya, pihak militer meminta kunci mobilnya dengan alasan Kongres telah dibubarkan. Maka, segala fasilitas selaku senator juga harus dilepaskan. Kediktatoran membayang di mata Trueba. Selengkapnya »

siapa-yang-harus-dicerahkan

Alexander Wibisono

Seorang remaja bertanya kepada Ahmad Dahlan. Apa itu agama? Dahlan terdiam sejenak. Ia lantas memainkan biola yang ada di tangannya. Tentu semua orang disekitar Dahlan, menjadi heran dan saling beradu pandang. “Apa maksudnya?,” begitu pikir mereka. Sejenak kemudian, mereka pun hanyut dalam alunan melodi indah yang dimainkan Dahlan. Sang ustad pun terlihat memainkan sepenuh jiwa.

“Bagaimana?,” tanya Dahlan kemudian. “Indah, damai, seperti semua masalah hilang,” jawab para remaja bergantian. “Ya, itulah agama,” jelas Dahlan. “Agama itu seperti musik, tenang, menyenangkan, dan menyegarkan hati,” tambahnya. Selengkapnya »

Dari Oher ke Mandela

February - 23 - 2010 16 KOMENTAR
dari-oher-ke-mandela

Rinaldo

Ada dua film yang rilis di akhir 2009 namun luput dari perhatian penikmat film di Indonesia, yaitu The Blind Side dan Invictus. Bisa dimaklumi, publik sudah lebih dulu “dipaksa” datang ke bioskop oleh promosi gencar dari Avatar, Sherlock Holmes, dan Sang Pemimpi. Dan memang, ketiga film tersebut sangat layak tonton dan tak bakal menyisakan kejengkelan ketika meninggalkan gedung bioskop. Selain itu, dua film yang saya sebutkan di atas belum lagi rilis di Indonesia.

Jadi, ketika saya menyaksikan The Blind Side dan Invictus dari kopian kepingan DVD, keindahan dunia Pandora melalui kacamata tiga dimensi serta keperkasaan Sherlock Holmes dan sobatnya dokter Watson seketika terlupakan. Tak henti-hentinya saya berdecak kagum sepanjang film sembari merasakan keharuan yang mendalam dari dua film yang diangkat dari kisah nyata tersebut. Keduanya begitu indah dan membuat saya terdiam dalam waktu cukup lama ketika tulisan “The End” muncul di akhir film. Selengkapnya »

Wow…Zakiah Nurmala

December - 28 - 2009 10 KOMENTAR
wow-zakiah-nurmala

Moh. Samsul Arifin

Perempuan itu Zakiah Nurmala namanya. Berparas manis, kulit langsat, rambut panjang terurai serta senyum menawan. Ia bagai tuak bagi remaja Arai—simpai keramat sepupu tokoh utama tetralogi Laskar Pelangi. Simpai keramat adalah istilah orang Melayu untuk seseorang sebatang kara yang telah ditinggal orangtua dan kakek-neneknya. Arai, tak pelak lagi orang terakhir dari suatu klan. Tapi, pria ini bukan jenis orang pesimis.

Di dalam pikiran dan jiwanya tertanam kuat nasihat ayahnya, “Bermimpilah. Maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu”. Inilah yang ditularkan Arai pada Ikal, juga Jimbron—tiga sekawan yang mengisi Sang Pemimpi besutan Riri Riza yang kini diputar di bioskop-bioskop di sekujur Nusantara. Arai juga meneriakkan kepada Ikal. “Tanpa mimpi dan semangat orang seperti kita akan mati.” Selengkapnya »

kiamat-memang-sudah-dekat

Rinaldo

Sudah sejak lama saya hafal dengan istilah greenhouse effect, global warming, dan climate change. Wajar saja, karena istilah-istilah itu bukan sesuatu yang baru. Bahkan, greenhouse effect atau efek rumah kaca sudah dipopulerkan Jean Baptiste Joseph Fourier pada 1824, seorang pakar matematika dan fisika asal Prancis, hampir dua abad silam.

Kendati demikian, tak sedikit pun saya tertarik untuk mengetahui maksud istilah-istilah itu. Menurut saya, semuanya sulit dipahami dari sisi makna, tak membumi, dan tak akan bisa dicerna dengan cepat. Namun, semuanya berubah ketika saya menyaksikan film dokumenter berjudul An Inconvenient Truth (2006). Selengkapnya »

Garuda di Dadaku

July - 14 - 2009 43 KOMENTAR
garuda-di-dadaku

Leanika Tanjunggaruda

Ini film anak-anak loh…

Pertama kali mendengar judulnya, aku bilang ke temanku film apa ya itu. Judulnya terlalu berat, sepertinya tidak layak tonton, apalagi diliput. “Ini tentang anak kecil yang punya ambisi besar jadi pemain sepak bola,” jawabnya.

Aku mulai tertarik. “Anak itu harus melakukan berbagai cara agar bisa masuk tim nasional karena ditentang kakeknya,” lanjutnya.

Hhmmm … Aku makin tertarik. Aku penasaran bagaimana seorang sutradara Indonesia memfilmkan sebuah ambisi, sebuah motivasi dan keinginan. Aku teringat film Iran, Children of Heaven, yang bercerita tentang seorang anak di Iran, yang saking miskinnya, harus berganti sepatu dengan adiknya, tiap kali ke sekolah. Selengkapnya baca di sini. Selengkapnya »

battle-in-seattle-menggempur-pasar-bebas-di-kandang-kapitalisme

Rahman Andi Mangussara

“…Perdagangan bebas dan hubungan seksual bebas akan lebih berguna ketimbang cara lain dalam mengembangkan peradaban…”

James Wilson, seorang pendukung setia perdagangan bebas di Inggris, mengatakan kutipan di atas pada 1843. Begitu kuatnya kepercayaan Wilson akan argumen Adam Smith tentang perdagangan bebas, ia pun menerbitkan majalan The Economist yang didedikasikan untuk perdagangan dan pasar bebas. Dari Inggris, setelah negara ini siap betul bertarung di pasar bebas, perdagangan bebas dikumandangkan ke seantero bumi.

Kini, kata-kata Wilson itu seperti menemukan bentuknya yang paling nyata. Bukan hubungan seksual bebasnya yang saya maksudkan (entah kenapa Pak Wilson ini mengatakan hubungan seksual bebas dan perdagangan bebas dalam satu tarikan napas) melainkan perdagangan dan pasar bebasnya yang nyaris tak terbendung. Perdagangan dan pasar bebas nyaris tak terbendung. Selengkapnya klik di sini

Selengkapnya »

slumdog-millionaire-wajah-kemiskinan-yang-kelam

Anton Bahtiar Rifa’i

Kemiskinan selalu menyisakan ruang gelap. Potret tentang kelamnya kemiskinan terurai dalam nasib hidup Jamal Malik, lelaki berperawakan agak kurus asal sebuah kawasan kumuh di Mumbai, India. Tokoh dalam film Slumdog Millionaire itu kemudian sampai pada suatu titik penting yang akan menentukan arah hidupnya: apakah ruang gelap itu akan menjadi sesuatu yang terang benderang ataukah akan tetap gelap.

Jamal Malik, tokoh yang diperankan aktor Dev Patel, mendapat kesempatan mengikuti sebuah acara kuis di televisi, Who Wants To Be A Millionaire, untuk memperebutkan hadiah 20 juta rupee. Jamal dapat menjawab satu per satu pertanyaan dalam kuis tersebut. Namun, saat selangkah lagi menuju hadiah utama, Jamal mendapat ujian berat. Karena berasal dari keluarga miskin dan tidak berpendidikan, ia dituduh berbuat curang. Interogasi polisi yang disertai siksaan –adegan ini menjadi pembuka film—harus dihadapi Jamal.  Selengkapnya »

Bond dan John Perkins

November - 20 - 2008 26 KOMENTAR

Alexander Wibisono

Menonton film terbaru James Bond, Quantum of Solace, membuat saya terkesan. Meski beberapa aksinya memang sedikit tidak masuk akal, tapi agen rahasia Inggris itu tampil lebih manusia.

Bond tampil sebagai pria yang berpenampilan dingin, kekar dan kasar. Bukan juga manusia yang sempurna atau selalu benar dalam bertindak. Terbukti, ia malah kena masalah karena membunuh pengawal Guy Haines, penasihat perdana menteri Inggris, yang sedang menyamar. Selain itu Bond juga dipenuhi perasaan dendam untuk membalas kematian kekasihnya, Vesper.

Selengkapnya »

Willy

November - 7 - 2008 11 KOMENTAR
willy

Anton Bahtiar Rifa’i

Suasana suka cita tentu menyelimuti sebuah rumah di kawasan Cipayung Jaya, Depok, Jawa Barat, pada 7 Nopember ini. Salah seorang penghuni rumah, WS Rendra, berulang tahun yang ke-73. Usia yang sudah tergolong senja, tentunya. Perjalanan panjang yang telah dilalui Si Burung Merak itu, baik sebagai penyair maupun dramawan, telah menyisakan hamparan kenangan bagi banyak orang.

Ah, saya juga mengenang suatu hari yang tersapu gerimis. Di hari itu, saya bertugas mewawancarai Rendra di kediamannya–sekaligus memintanya membaca puisi, untuk melengkapi liputan saya tentang kilas balik peristiwa Mei 1998. Mas Willy –demikian Rendra biasa dipanggil—menyambut kami dengan bersahabat. Di rumah yang asri, hanya di hadapan saya, juru kamera, dan pembantu rumah, suara khas Rendra bergema membacakan sajak: Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja. Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan. Amarah merajalela tanpa alamat. Ketakutan muncul dari sampah kehidupan.” Selengkapnya »

Cinta Osama

October - 29 - 2008 18 KOMENTAR
cinta-osama

Syaiful Halim

Espendi memainkan kaleng berisi bara sambil berlaga seperti guide. Di belakangan, kamera subyektif terus membuntuti. Lelaki kecil itu memang tengah menjadi “kendaraan” untuk bertutur tentang kekumuhan dan kesemrawutan sudut kota Kabul yang dikuasai Taliban.

Espendi makin bergaya, ketika menjumpai dua wanita yang berjalan tergesa-gesa. Salah satu di antaranya adalah bocah perempuan seusia Espendi. Kamera makin “nakal” mempermainkan kedua wanita itu. Untung saja, tiba-tiba muncul ratusan perempuan yang berunjuk rasa menuntut kesamaan hak; kaum muslimah pun berhak bekerja! Selengkapnya »

laskar-pelangi-hilangnya-sebuah-sensasi

Moh. Samsul Arifin

Seandainya “Laskar Pelangi” ditutup dengan adegan Ikal mengejar Lintang, rasanya pesan kuat atas ironi di balik nasib sial bocah jenius asal Tanjung Kelumpang (pesisir Belitong) yang harus putus sekolah karena ayahnya meninggal bakal menerbitkan sejuta tanya pada penonton film ini. Bagaimana Ikal mengejar mimpi sekolah tinggi, seperti selalu dibisikkan Lintang? Apa yang terjadi dengan Lintang, anak sekolah dasar yang harus menafkahi adik-adiknya yang yatim piatu?

Tapi, Riri Riza memilih jalan lain. Sutradara jebolan Institut Kesenian Jakarta ini memutuskan memuaskan selera para pecinta buku Andrea Hirata—Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor. Ada adegan Ikal dan Lintang (sudah dewasa) bertemu di Belitong (Tapi, saya tak pernah mengerti mengapa pertemuan dua sahabat itu dibuat datar oleh Riri Riza. Tak ada kehangatan seperti umumnya sahabat yang terpisah jarak dan waktu mengekspresikan diri kala kembali bertemu). Selengkapnya »

selamanya-laskar-pelangi

Syaiful Halim

Pekan-pekan terakhir, bisa dipastikan, film “Laskar Pelangi” tengah mengharubiru seluruh penonton di tanah air. Ikal, Lintang, Kucai, Bu Mus, dan sejumlah tokoh-tokoh lain dalam buku kreasi Andrea Hirata itu, kini tengah berjuang menawarkan inspirasi menjalani hidup melalui layar perak.

Jauh sebelum membaca novel inspiratif itu, dan tentu saja, jauh sebelum film itu digarap, saya mendapati kehidupan Laskar-laskar Pelangi di daerah lain. Di hamparan Pulau Pasir Padangan – gusung yang dijadikan pemukiman seluas sekitar satu kilometer – di tengah Selat Muna, saya menjumpai anak-anak sekolah seusai Ikal dan kawan-kawan. Mereka anak-anak suku Bajo di daerah Sulawesi Tenggara.

Selengkapnya »

kantata-takwa-dan-panggung-yang-redup

Anton Bahtiar Rifa’i

Hari Minggu (28/9) lalu, program Liputan 6 Pagi SCTV menayangkan perbincangan tentang film Kantata Takwa, dengan menghadirkan sutradara Eros Djarot dan personel Kantata Takwa, Yockie Suryoprayogo. Sayang sekali, personel Kantata Takwa lainnya, Iwan Fals, Sawung Jabo, WS Rendra, dan Setiawan Djody, tidak bisa hadir di studio. Djody sedang berada di Singapura, sementara Jabo sedang di Australia. Film Kantata Takwa  merupakan film semi dokumenter yang merekam perjalanan konser Kantata Takwa di tahun 1990-an. Film yang disutradarai Eros Djarot dan Gotot Prakosa ini baru dirilis pekan lalu, setelah penggarapannya sempat terhenti selama 18 tahun.

Ketika menyiapkan materi untuk tayangan dialog tersebut, ingatan saya melayang ke masa 18 tahun silam. Ketika itu, saya masih remaja belasan tahun. Saya dan teman-teman pada masa itu merasakan luapan gegap gempita ketika sekelompok seniman yang tergabung dalam Swami, kemudian bermetamorfosa menjadi Kantata Takwa, hadir mengobarkan suatu semangat baru. Dengan Kantata Takwa, kami tak sekadar menikmati musik dan nyanyian. Kami juga merasa mendapat suntikan semangat dan keyakinan. Generasi kami kala itu memang hidup dalam suatu zaman, ketika arti demokrasi dan kebebasan terasa hambar. Selengkapnya »

nagabonar-dan-nasionalisme

Moh. Samsul Arifin

Saya keluar dari keletihan luar biasa yang menghimpit dada Ahad lalu (18/5). Sekonyong-konyong kaki saya melangkah ke bioskop di bilangan Jakarta Selatan. Ada tiga film nasional di sana. Mayoritas film “bergenre” remaja—apalagi kalau bukan mengeksploitasi kehidupannya, tak jauh-jauh dari kisah cinta picisan dengan biduan ayu sebagai daya tarik. Para penonton itu—sebagian besar berpasangan—datang ke gedung bioskop dengan 1001 alasan.

Saya sendiri menggamit niat sederhana: Merayakan kembali tawa ala Nagabonar, tokoh fiktif rekaan Asrul Sani yang mendiami sepotong tanah di Lubuk Pakam, Sumatra Utara sana. Kebetulan Bonaga mengabarkan lewat sepenggal iklan, “Bapakku bukan hanya pandai mencopet, tapi juga Jenderal di medan perang.” Bonaga (dimainkan Tora Sudiro) adalah sentral di “Nagabonar Jadi 2” yang diproduksi tahun 2007 lalu. Selengkapnya »