May 29, 2008

Nasionalisme di Akhir Mei

Filed under: Ekonomi dan Bisnis, Sosial Kemasyarakatan — yus @ 11:25 pm
nasionalisme-di-akhir-mei

Yus Ariyanto

Mei 2008. Bulan yang bertabur mantra-mantra nasionalisme ini sebentar lagi lenyap dari halaman depan almanak. Reda sudah gemuruh perayaan. Spanduk diturunkan, baliho dilipat, pengeras suara disimpan. Kehidupan kembali berjalan seperti sediakala.

Dan, malam ini, saya bekerja. Komputer butut saya bermerek IBM—belakangan Lenovo (berbasis di Taiwan) mengambil alih kepemilikan lini personal computer perusahaan itu. Saya menggunakan pengolah kata yang dibikin Microsoft, asal Amerika. Di meja, tergeletak flash disk Kingston buatan Cina. Lalu, di mana Indonesia? (more…)

May 5, 2008

Berbagi Kecemasan

Filed under: Ekonomi dan Bisnis — leanika @ 11:13 am
berbagi-kecemasan

Leanika Tanjung

Setelah sekian lama tak curhat melalui tulisan, saya sangat tergerak kali ini. Pidato SBY bagi saya seperti sebuah jawaban atas kecemasan yang saya rasakan sejak pertengahan tahun lalu, yang memuncak di akhir tahun. Meski tak yakin, ada tindakan nyata setelah pidato di luar kebiasaan itu.

Akhir tahun 2007, kekhawatiran saya dengan kondisi ekonomi dunia, juga Indonesia, kian memuncak. Sebagai jurnalis yang berkutat dengan soal makro dan mikro ekonomi, saya merasakan tekanan ekonomi kian berat. Harga minyak dunia masih di bawah 100 dolar per barel ketika itu, tapi saya merasa, ke depan keadaan akan makin berat. (more…)

January 16, 2008

Buruk Muka, Cermin Dibelah

Filed under: Ekonomi dan Bisnis — rahman @ 11:43 pm
buruk-muka-cermin-dibelah

Rahman Andi Mangussara

Di bawah judul Gejolak Pasokan dan Harga Pangan, Menteri Pertanian Anton Apriyantono menulis di Kompas (16/01/08) dengan pretensi menempatkan media massa, setidak-tidaknya televisi, sebagai salah satu sumber kekacauan pangan dan harga komoditi pertanian belakangan ini. Televisi dipersalahkan karena sudut pengambilan gambar yang melulu memperlihatkan banjir di atas hamparan tanaman padi siap panen. Akibatnya, dalam pandangan Pak Menteri, muncul persepsi bahwa ketahanan pangan kita terganggu, pasar pun bereaksi seakan-akan seluruh sentra produksi padi hancur sehingga pedagang melakukan spekulasi. (more…)

Para Penerima Kutuk Globalisasi

Filed under: Ekonomi dan Bisnis — iskandar @ 6:48 pm
para-penerima-kutuk-globalisasi

Iskandar Siahaan

Globalisasi sebagai kutuk sedang menimpa orang kecil di negeri kita. Pedagang tahu dan tempe adalah salah satu contohnya. Sebelumnya, ibu-ibu rumah tangga miskin dan pedagang penganan kecil merasakan hal sama. Ketika itu terjadi kelangkaan minyak goreng. Bersamaan dengan kutuk harga kedelai, ibu-ibu rumah tangga dan para pedagang kecil juga sedang merasakan kutuk kelangkaan minyak tanah. (more…)

Bukan Bangsa Tempe…

Filed under: Ekonomi dan Bisnis, Lain-lain, Sejarah — syamsul @ 1:23 pm
bukan-bangsa-tempe

M. Samsul Arifin

Tiba-tiba saya terlempar ke masa 1960-an, saat menyaksikan ribuan produsen tahu-tempe tumpah ruah di depan Istana Merdeka, Jakarta, mengadukan ketidakberdayaan mereka akibat melangitnya harga kedelai. Boleh jadi, itu aksi paling demonstratif produsen tahu-tempe sepanjang Republik ini berdiri. Di masa Soeharto, aksi beginian absen. Demikian pula di era Sukarno. Sedikit liris Bung Karno berujar, “…(Kami) bukan bangsa tempe…”. (more…)

January 15, 2008

Bukan Kolam Susu

Filed under: Ekonomi dan Bisnis — rahman @ 9:20 pm
bukan-kolam-susu

Rahman Andi Mangussara

Apa yang kurang di negeri ini? Tidak ada, semua kita punya. Indonesia disebut negeri gemah ripah loh jinawi, negeri berlimpah, tanahnya luas dan subur serta berada di kawasan dengan iklim yang tidak ekstrim. Maka tidak salah jika Koes Plus melukiskannya dengan sangat hiperbolis:

“Bukan lautan, hanya kolam susu,
kail dan jala cukup menghidupimu,
tiada badai tiada topan kautemui,
ikan dan udang menghampiri dirimu.
orang bilang tanah kita tanah surga,
tongkat kayu dan batu jadi tanaman.”
(more…)

December 11, 2007

Yeltsin dan Pasar Klewer

Filed under: Ekonomi dan Bisnis, Luar Negeri, Sosial Kemasyarakatan — syamsul @ 10:02 pm
yeltsin-dan-pasar-klewer

M. Samsul Arifin

Adakalanya tokoh besar sendu. Bahkan itu terjadi pada Boris Yeltsin, seorang yang disebut Mikhail Gorbachev sebagai telah mencabik-cabik Uni Soviet sehingga akhirnya runtuh pada 7 Februari 1990. Setahun sebelum Soviet tinggal nama, Yeltsin berkunjung ke Amerika Serikat. Entah bagaimana ceritanya, Yeltsin melangkahkan kaki ke sebuah supermarket di Houston, Amerika Serikat. Matanya terbelalak “revolusi” pasar modern tersebut. Suasana hatinya mendadak sendu.

(more…)

December 10, 2007

Money Talks

Filed under: Ekonomi dan Bisnis, Sosial Kemasyarakatan — rahman @ 4:29 pm
money-talks

Rahman Andi Mangussara

Uang bukan segalanya. Jika Anda percaya pada kata-kata bijak ini, bersiaplah untuk kecewa. Sebab, sekarang segalanya butuh uang. Bahkan, ketika berbuat salah sekalipun, Anda bisa membayarnya dan kemudian melakukan kesalahan yang sama terus menerus tanpa perlu kehilangan kehormatan. Ini ibarat berbuat dosa, lalu menebusnya dengan uang. Dosa pun hilang. Itulah yang terjadi pada negara-negara maju, pada industri-industri, pada pabrik-pabrik dan pada orang-orang kaya di Utara dalam soal pencemaran udara. (more…)

December 5, 2007

Matematika Minyak Suharso

Filed under: Ekonomi dan Bisnis, Politik — syamsul @ 5:38 pm
matematika-minyak-suharso

M. Samsul Arifin

Namanya Suharso Monoarfa. Dalam pemberitaan media, nama yang satu ini tentu saja tak segemerlap Drajad H. Wibowo atau Didiek J. Rachbini, dua ekonom yang berlabuh di Fraksi Partai Amanat Nasional DPR. Bedanya di kala orang lain hanya pintar berkomentar miring ihwal kebijakan energi Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, Sekretaris Fraksi Partai Persatuan Pembangunan ini, datang dengan hitungan yang membuat publik ngeh mengapa perlu atau tak perlu dilakukan pembatasan bahan bakar minyak (BBM), berikut beban anggaran yang harus ditanggung pemerintah jika harga minyak mentah dunia terus meroket hingga melampaui 100 dolar AS per barrel. (more…)