Saturday, May 25, 2013
devisa-raib-di-meja-judi

Aribowo Suprayogi

Pukul 23.00, taksi yang saya tumpangi melintasi kawasan Mustafa Centre, sebuah kawasan mall di Singapura yang selalu ramai selama 24 jam. “Hendak ke mana?” supir taksi keturunan India menyapaku dalam logat melayu yang kental. “Marina Bay Sands, tower dua,” kata saya.

Mengira saya adalah Warga negara Indonesia yang akan bermain judi di resor terpadu milik Las Vegas Sands ini, sang sopir dengan akrabnya bercerita mengenai kelakuan orang-orang Indonesia yang bermain judi di Marina Bay Sands. “Dua minggu lalu saya antar seorang wanita chinese warga negara Indonesia yang menangis di taksi saya karena kalah judi dan harus menyerahkan apartemennya,” cerita sang supir. menurutnya, sang wanita bercerita kepada anaknya di Indonesia sambil tersedu-sedu, perihal kekalahannya di meja sic po. Selengkapnya »

Menanti Relevansi APEC

November - 11 - 2009 4 KOMENTAR
menanti-relevansi-apec

Sondang Sirait

Selasa sore, suasana APEC Media Centre yang adem tiba-tiba berubah gaduh. Rombongan lelaki dan perempuan berpenampilan necis masuk terburu-buru. Seorang pria berambut perak tampak naik ke panggung tempat kamera sudah disiapkan. Lampu menyala, dan ia pun mulai berbicara. Hanya sekitar 5 menit kemudian, si pria itu lalu kembali terburu-buru meninggalkan lokasi. Kami, para kuli berita, pun terburu-buru mengerumuni. Sekian pertanyaan dilontarkan, tapi tak ada yang dijawab, ia hanya bergerak maju. Pintu lift terbuka, rombongan pun menghilang. Itulah penampilan sesaat Menteri Luar Negeri Australia Stephen Smith di ajang APEC Singapura.

Stephen Smith boleh tak bicara pada media, tapi ia dipastikan mengadakan pembicaraan bilateral dengan koleganya, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Marty Natalegawa. Pertemuan antarnegara memang lazim dilakukan di sela-sela acara multilateral. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, Kamis nanti. Tinggal agendanya, yang jadi spekulasi media. Dalam pertemuan menlu Indonesia-Australia misalnya, beredar kabar isu pengungsi Sri Lanka akan dibahas. Selengkapnya »

lebih-mudah-lebih-murah-dan-lebih-cepat

Sondang Sirait

Tiga mantra itu diucapkan Dr. Takeshi Omori, Kepala Komite Ekonomi Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di penghujung pertemuan pejabat tinggi di Singapura Senin, 9 November. Kurang lebih setahun bekerja, tugas Komite itu memang untuk membuka jalan bagi pembicaraan tingkat menteri, yang dimulai besok. Dr. Omori berbicara cepat, namun jelas. Jika ingin lebih maju, maka reformasi dunia usaha di kawasan Asia Pasifik harus segera bergulir.

Mengutip data Bank Dunia, saat ini, jika seorang warga kawasan Asia Pasifik ingin memulai usaha –taruhlah Haji Syukron di Tangerang, Banten, atau Azmuddin di Johor Bahru, Malaysia— mereka perlu menyisihkan sedikitnya setengah dari penghasilannya. Ini tentu berisiko bagi keuangan pribadi, apalagi keluarga. Nah, salah satu rekomendasi Komite Ekonomi adalah menurunkan angka itu menjadi 25%. Harapannya, jika biaya memulai usaha lebih murah, maka orang akan lebih tergerak untuk melakukannya, dan pada akhirnya roda perekonomian akan bergerak lebih cepat. Selengkapnya »

Alexander Wibisono

Ada yang menarik ketika membaca headline KOMPAS, yang berjudul “Tahun 2009, Ujian bagi SBY-JK”. Laporan itu memuat tanggapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengenai dampak krisis keuangan global terhadap pencapaian pemerintahannya.

Presiden Yudhoyono mengatakan, tahun 2009 bukan tahun yang normal. “Kebijakan, langkah, dan tindakan kita haruslah menganut pada manajemen krisis agar dampak resesi dan perekonomian terselamatkan. Butuh kecepatan, ketepatan, dan sinergi di antara kita semua,” begitu katanya. Selengkapnya »

Dilema Penarikan Pajak

December - 1 - 2008 33 KOMENTAR
dilema-penarikan-pajak

Haryo Dewanto

Anda masih ingat dengan mantan Dirjen Pajak Hadi Purnomo. Ia pernah mengatakan, meski pemerintah telah menyusun beberapa program untuk meningkatkan penerimaan negara dari sektor pajak, namun sampai saat ini penarikan pajak belum bisa optimal. Menurutnya, disebabkan dua hal, yaitu tidak adanya akses transaksi keuangan secara jelas dan belum berperannya fungsi koordinasi antar departemen.

Sesuai undang undang, pemerintah memang diberikan kewenangan memaksa warga negara untuk membayar pajak, kata anggota Komisi Keuangan DPR Drajad Wibowo.  Pemerintah memang merencanakan pajak sebagai penerimaan utama negara, setiap orang  berpenghasilan minimal Rp 1,5 juta wajib memiliki NPWP. Untuk itu, perusahaan diminta memotong gaji karyawan sebesar nilai pajak dan dendanya jika tak memiliki NPWP.  Sedangkan akhir tahun dan awal Pebruari tahun depan pemerintah mewajibkan setiap warga negara harus memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak alias NPWP. Direktur Jenderal Pajak Darmin Nasution saat ini, berjanji akan menindak warga yang tak membayar pajak dan tidak memiliki NPWP sampai akhir tahun 2009 . Selengkapnya »

Bond dan John Perkins

November - 20 - 2008 26 KOMENTAR

Alexander Wibisono

Menonton film terbaru James Bond, Quantum of Solace, membuat saya terkesan. Meski beberapa aksinya memang sedikit tidak masuk akal, tapi agen rahasia Inggris itu tampil lebih manusia.

Bond tampil sebagai pria yang berpenampilan dingin, kekar dan kasar. Bukan juga manusia yang sempurna atau selalu benar dalam bertindak. Terbukti, ia malah kena masalah karena membunuh pengawal Guy Haines, penasihat perdana menteri Inggris, yang sedang menyamar. Selain itu Bond juga dipenuhi perasaan dendam untuk membalas kematian kekasihnya, Vesper.

Selengkapnya »

bbm-subsidi-naik-buru-buru-turun-boro-boro

Dwi Anggia


Dulu… waktu harga minyak dunia naik, melambung tinggi, pemerintah buru-buru menaikkan harga bbm dalam negri. Katanya untuk meringankan beban subsidi pada APBN. Dalih lain, agar pemerintah bisa menyiapkan administrasi Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi masyarakat miskin (seolah BLT ini bisa menyenangkan hati rakyat!).

Gerakan pemerintah sangat cepat merespon kenaikan harga minyak dunia. Tapi sayang, pada saat harga minyak dunia turun, gerakan pemerintah tidak secepat itu untuk menurunkan harga BBM. Masih banyak pikir–pikir dan pertimbangan, hitung-hitungan (Entah itu hitungan untuk keuntungan pengusaha atau untuk keuntungan rakyat).

Hhmm.. kalau menurut pendapat saya sih , bukan untuk rakyat kali yaaa..:) (no hurt feeling, yaa).

Selengkapnya »

biarkan-cina-tidur-kalau-bangun-dunia-akan-repot

Rahman Andi Mangussara

‘’Hidup Cina,’’ teriak ribuan orang yang mengikuti perayaan ulang tahun Partai Komunis Cina di lapangan Tiananmen saat rudal balistik dan persenjataan canggih melintas di depan mereka. Berada di antara kerumunan warga Cina, di sore menjelang senja, sepuluh tahun lewat itu, saya tak kuasa menahan kagum melihat semua keperkasaan itu. Saya berada di Beijing  atas undangan Departemen Luar Negeri Cina untuk menghadiri ulang tahun Partai Komunis Cina.

Otot militer Cina yang  berisi itu, pikir saya, akan mengubah peta politik dunia. Tapi ternyata saya salah. Bukan  karena militer semata yang membuat Cina diperhitungkan, melainkan karena ekonomi dan penguasaan teknologi tingginya. Selengkapnya »

ketika-saudagar-saudagar-utang-ambruk

Rahman Andi Mangussara

Tiga belas tahun lalu, saya bersama sejumlah pialang saham mengunjungi New York untuk suatu pelatihan singkat mengenai perdagangan saham. Saya beruntung bisa mengunjungi Bursa New York yang terkenal dengan sebutan Bursa Wall Street, disebut begitu karena gedungnya berada di jalan itu, Wall Street. Saya terkagum-kagum begitu menginjakkan kaki di balkon (disediakan untuk para turis yang ingin melihat perdagangan saham secara langsung) dan melihat bagaimana pialang sibuk menjalankan perintah jual atau beli yang datang dari pemilik uang di seluruh penjuru dunia. Ya, lokasinya memang di lower Manhattan, New York, tapi Wall Street sejatinya adalah bursa dunia. Mungkin hanya sedikit negara di dunia ini yang tidak terhubung dengan Wall Street.

Lebih tercengang lagi saya, dan mungkin seluruh pialang yang ikut rombongan ini, ketika sampai di kantor Lehman Brothers, Merril Lynch dan Golmand Sachs. Kami dijamu layaknya pemilik modal yang sebentar lagi akan menanamkan duit di lantai bursa. Layanan istimewa mereka itu memang pantas jika dihubungkan dengan kinerja bursa Indonesia, dulu bernama Bursa Efek Jakarta, saat itu yang masuk sebagai salah satu bursa yang baru tumbuh tapi memberi keuntungan besar bagi pelaku pasar. Tahun-tahun itu, beberapa tahun sebelum krisis moneter, nyaris tidak ada manajer investasi yang tidak menempatkan uangnya di pasar modal Indonesia.  Selengkapnya »

panic-room-di-gang-senggol

Henry Sianipar

Seperti namanya, Panic Room ya berarti ruangan yang sah untuk berpanik-panik ria. Boleh lari sana-sini, bergegas ke meja satu ke sana-sini, mencatat data dengan benar di layar komputer dan memastikan sekali lagi angka-angka yang masuk dengan suara yang jelas dan terkadang tinggi. Inilah gambaran yang terjadi di Panic Room, di lantai 5 Gedung Kompas Surabaya.

Hajatan besar digelar Kompas dan SCTV untuk menghitung cepat suara Pilkada Jatim, pemilihan gubernur langsung terbesar di Indonesia. Tetapi Panic Room bukan hanya berlaku di lantai 5, rasa kepanikan juga sering menyergap di gang kecil, di samping panggung live Liputan 6 di lantai 6 Gedung Kompas. Gang Senggol yang sudah dipenuhi dengan peralatan master control menjadi lebih sempit karena pergerakan produser, presenter, PD, audio man, switcher dan kru master kontrol lain. Senggol-senggolan menjadi hal yang biasa selama siaran live all program dilakukan di gang senggol master control ini. Belum lagi harus berkali-kali terjungkal karena tersangkut kabel. Walau sudah bersikap hati-hati, belumlah cukup. Selengkapnya »

nasionalisme-di-akhir-mei

Yus Ariyanto

Mei 2008. Bulan yang bertabur mantra-mantra nasionalisme ini sebentar lagi lenyap dari halaman depan almanak. Reda sudah gemuruh perayaan. Spanduk diturunkan, baliho dilipat, pengeras suara disimpan. Kehidupan kembali berjalan seperti sediakala.

Dan, malam ini, saya bekerja. Komputer butut saya bermerek IBM—belakangan Lenovo (berbasis di Taiwan) mengambil alih kepemilikan lini personal computer perusahaan itu. Saya menggunakan pengolah kata yang dibikin Microsoft, asal Amerika. Di meja, tergeletak flash disk Kingston buatan Cina. Lalu, di mana Indonesia? Selengkapnya »

berbagi-kecemasan

Leanika Tanjung

Setelah sekian lama tak curhat melalui tulisan, saya sangat tergerak kali ini. Pidato SBY bagi saya seperti sebuah jawaban atas kecemasan yang saya rasakan sejak pertengahan tahun lalu, yang memuncak di akhir tahun. Meski tak yakin, ada tindakan nyata setelah pidato di luar kebiasaan itu.

Akhir tahun 2007, kekhawatiran saya dengan kondisi ekonomi dunia, juga Indonesia, kian memuncak. Sebagai jurnalis yang berkutat dengan soal makro dan mikro ekonomi, saya merasakan tekanan ekonomi kian berat. Harga minyak dunia masih di bawah 100 dolar per barel ketika itu, tapi saya merasa, ke depan keadaan akan makin berat. Selengkapnya »

buruk-muka-cermin-dibelah

Rahman Andi Mangussara

Di bawah judul Gejolak Pasokan dan Harga Pangan, Menteri Pertanian Anton Apriyantono menulis di Kompas (16/01/08) dengan pretensi menempatkan media massa, setidak-tidaknya televisi, sebagai salah satu sumber kekacauan pangan dan harga komoditi pertanian belakangan ini. Televisi dipersalahkan karena sudut pengambilan gambar yang melulu memperlihatkan banjir di atas hamparan tanaman padi siap panen. Akibatnya, dalam pandangan Pak Menteri, muncul persepsi bahwa ketahanan pangan kita terganggu, pasar pun bereaksi seakan-akan seluruh sentra produksi padi hancur sehingga pedagang melakukan spekulasi. Selengkapnya »

para-penerima-kutuk-globalisasi

Iskandar Siahaan

Globalisasi sebagai kutuk sedang menimpa orang kecil di negeri kita. Pedagang tahu dan tempe adalah salah satu contohnya. Sebelumnya, ibu-ibu rumah tangga miskin dan pedagang penganan kecil merasakan hal sama. Ketika itu terjadi kelangkaan minyak goreng. Bersamaan dengan kutuk harga kedelai, ibu-ibu rumah tangga dan para pedagang kecil juga sedang merasakan kutuk kelangkaan minyak tanah. Selengkapnya »

Bukan Bangsa Tempe…

January - 16 - 2008 20 KOMENTAR
bukan-bangsa-tempe

M. Samsul Arifin

Tiba-tiba saya terlempar ke masa 1960-an, saat menyaksikan ribuan produsen tahu-tempe tumpah ruah di depan Istana Merdeka, Jakarta, mengadukan ketidakberdayaan mereka akibat melangitnya harga kedelai. Boleh jadi, itu aksi paling demonstratif produsen tahu-tempe sepanjang Republik ini berdiri. Di masa Soeharto, aksi beginian absen. Demikian pula di era Sukarno. Sedikit liris Bung Karno berujar, “…(Kami) bukan bangsa tempe…”. Selengkapnya »