Sunday, May 19, 2013

Politik itu, Senator…

October - 21 - 2010 7 KOMENTAR
politik-itu-senator

Demokrasi berakhir di negeri itu. Tentara melancarkan kudeta. “…tak ada cara lain. Rezim ini busuk. Apa yang akan terjadi pada negeri ini jika kalian tak mengangkat senjata?!” kata Senator Esteban Trueba kepada seorang perwira di kantor Kementerian Pertahanan, tak lama setelah istana berhasil dikuasai dan Sang Presiden dicokok.

Di lubuk hati Trueba sejatinya terbit keraguan. “Aku punya firasat bahwa keadaan tidak berjalan sesuai rencana…” katanya membatin. Sebelumnya, pihak militer meminta kunci mobilnya dengan alasan Kongres telah dibubarkan. Maka, segala fasilitas selaku senator juga harus dilepaskan. Kediktatoran membayang di mata Trueba. Selengkapnya »

Mereka dari Ngruki

August - 29 - 2010 14 KOMENTAR
mereka-dari-ngruki

Yus Ariyanto

Pada 1990, Utomo Pamungkas alias Fadlullah Hasan berangkat ke Pakistan. Niat awalnya adalah mendalami ilmu agama Islam. Setelah tiba di Peshawar, hasrat menimba ilmu agama tak lagi mekar.

Situasi memanas di Afghanistan, tetangga Pakistan. Di sana, sejak 1979, tentara Uni Soviet masuk. Tapi, mereka menghadapi perlawanan sengit dari kaum Mujahiddin. Itu semua menjadi bahan obrolan di mana-mana, termasuk di kedai kopi. “Kalau sebuah Negara Muslim telah dicaplok oleh musuh, jihad melawan musuh wajib hukumnya,” kata seorang pengunjung kedai. Selengkapnya »

menyoal-gado-gado-sang-jurnalis

Sesaat setelah buku Gado-Gado Sang Jurnalis: Rundown Wartawan Ecek-Ecek karya saya memasuki rak toko buku, seorang sahabat menyodorkan dua kritik serius. Yakni, soal pemilihan tokoh “saya” dan momen peluncurannya yang dianggap berbanding terbalik dengan kondisi sekarang.

“Kenapa juga harus sampean sendiri yang menjadi kendaraan cerita. Apa tidak khawatir buku itu bakal disebut otobiografi? Bahkan, sampean bisa dicap pemuja aliran narsis?!” Selengkapnya »

Garuda di Dadaku

July - 14 - 2009 43 KOMENTAR
garuda-di-dadaku

Leanika Tanjunggaruda

Ini film anak-anak loh…

Pertama kali mendengar judulnya, aku bilang ke temanku film apa ya itu. Judulnya terlalu berat, sepertinya tidak layak tonton, apalagi diliput. “Ini tentang anak kecil yang punya ambisi besar jadi pemain sepak bola,” jawabnya.

Aku mulai tertarik. “Anak itu harus melakukan berbagai cara agar bisa masuk tim nasional karena ditentang kakeknya,” lanjutnya.

Hhmmm … Aku makin tertarik. Aku penasaran bagaimana seorang sutradara Indonesia memfilmkan sebuah ambisi, sebuah motivasi dan keinginan. Aku teringat film Iran, Children of Heaven, yang bercerita tentang seorang anak di Iran, yang saking miskinnya, harus berganti sepatu dengan adiknya, tiap kali ke sekolah. Selengkapnya baca di sini. Selengkapnya »

machiavelli-dan-para-penjilat

Yus Ariyanto

Pada 1532, sebuah buku terbit. Judulnya Il Principe. Niccolo Machiavelli, sang penulis, membutuhkan tujuh tahun untuk merampungkan kitab yang terbilang tipis ini. Ketika Il Principe dirilis, ajal telah menjemput Machiavelli lima tahun sebelumnya. Usianya 58 saat itu.

Sulit dimungkiri, usia ketenaran Il Principe jauh lebih panjang ketimbang umur penyusunnya. Karya itu masih dipelajari, dipetik sebagai inspirasi—barangkali juga oleh para elit politik kita yang lagi asyik-masyuk merancang koalisi. Selengkapnya »

Eat, Pray, Love

December - 15 - 2008 9 KOMENTAR

Dal centro della mia vita venne una grande Fontana…
“From the center of my life, there came a great fountain…”

—“Eat, Pray, Love” by Elizabeth Gilbert, p. 39
(taken from a poem by Louise Glück)

Penulis: Elizabeth Gilbert
Penerbit: Viking Adult, 2006

Empat bulan berada di Italia, Elizabeth Gilbert mulai menemukan kekuatan dalam dirinya untuk bangkit dari reruntuhan jiwanya: pascaperceraian dan kebangkrutan. Di Italia, Gilbert bukan turis biasa. Negeri itu baginya merupakan tempat pelarian, awal sesuatu yang baru, yang dapat menghidupkan kembali seorang perempuan usia 30-an, yang sedang kehilangan kendali hidup. Lewat pendalaman bahasa asing yang eksotis, perkenalan dengan orang-orang Eropa yang penuh kehangatan, serta piring demi piring pizza dan pasta nan lezat, penulis asal New York itu kembali menemukan alasan berdamai dengan dirinya.

Tapi tak semudah itu berdamai dengan Jiwa yang terus dirongrong Depresi dan Kesepian. Meninggalkan keramaian Italia, ia pergi mencari ketenangan India. Di sana, ia menetap sebagai murid dan pelayan sebuah ashram. Sebagai murid, ia belajar meditasi dan membangun hubungan vertikal dengan Sang Pencipta. Sebagai pelayan, ia bekerja bagi Guru dan sesama penghuni ashram. Di India pula, ia belajar makna ajaran kitab Bhagavad Gita, bahwa lebih baik menjalani nasib sendiri secara tidak sempurna daripada meniru hidup orang lain secara sempurna. Episode di India bagi Gilbert adalah Episode Pencerahan Spiritual.

Baca selengkapnya di sini.

terhasut-maryamah-karpov

Moh Samsul Arifin

Pejaten-Tugu Pancoran, akhir November 2008. Hujan memukul jendela, menerjang daratan dan menyulut kemacetan hebat. Sudah pasti aku terlambat ke tempat acara. Tapi, sejurus kemudian seseorang di sebelahku membuka bukunya. Gambar biola yang didekap mesra pemainnya menyelinap. Baris-baris kalimat terlintas di depan mataku, “Maryamah Karpov”—Mimpi-mimpi Lintang. Aha…buku ini adalah sekuel yang paling ditunggu para pecinta Laskar Pelangi yang telah difilmkan pula. Provokasikah?

Kali ini, ia tak lagi bercerita soal piawainya Andrea Hirata membingkai cerita, menyusun kata dan melempar mimpi kepada pembaca. Lebih konkret dari itu, ia membacakannya untukku. Lebih setengah jam Pejaten-Tugu Pancoran, 20 halaman telah diperdengarkannya padaku. Aku terhasut…Ya oleh kepintaran seorang Melayu yang tengah bergelut memperoleh master di Universitas Sorbonne, Prancis. Selengkapnya »

Judul Buku: Hitam Putih FPI
Penulis: Andri Rosadi
Penerbit: Nun Publisher, Jakarta
Cetakan: Juli 2008
Tebal: 237 Halaman

Indonesia pasca-Soeharto tak bisa dilepaskan dari kiprah Front Pembela Islam (FPI) di layar publik. Tapi, citra organisasi masyarakat yang dipimpin Habib Rizieq Shihab itu berselimut jelaga hitam. Publik mengidentikkannya dengan kekerasan. Fakta-fakta aksi kekerasan itu begitu mudah dideretkan, tak lebih sulit dari menata papan catur.

Sebutlah penutupan bandar judi, penyerangan ke kantor Majalah Playboy, penutupan kampus Ahmadiyah di Parung, perusakan Kedubes AS, hingga yang paling anyar kerusuhan di Monas Jakarta, 1 Juni lalu.

Baca selengkapnya di sini.

hamka-ulama-mumpuni-penyejuk-hati

M. Nurul Amin

Ayah, itu pikiran di benakku ketika membeli buku Mengenang 100 Tahun Haji Abdul Malik Karim Amrullah, HAMKA, di Masjid Agung Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta, pertengahan Ramadhan kemarin. HAMKA bukan ayahku, juga bukan guruku, sehingga harus kupanggil guru atau ayah. Tapi HAMKA mengingatkan akan almarhum ayah.

Ya, dari ayah akhirnya aku tahu siapa HAMKA. Betapa tidak, setiap membangunkan aku untuk sholat subuh, di masa kanak-kanak,  ayahku selalu memperkeras suara radio yang saat itu tengah menyampaikan ceramah kuliah subuh. Kudengar suara itu begitu lembut, halus dan santun, membuat damai di hati. Meski kantuk merona dan dingin mengelana di sekujur jiwa, suara itu membangunkanku.  Ya, suara itu membangunkanku, suara HAMKA. Selengkapnya »

hersey-hiroshima-kegilaan-manusia

Yus Ariyanto

Nyonya Hatsuyo Nakamura tanpa sengaja berjumpa adik perempuannya di trem. Suasana hatinya sangat rusuh, seperti juga situasi di sekitar.

“Kamu sudah dengar berita?” kata sang adik.

“Berita apa?”

“Perang selesai.”

“Jangan mengatakan hal bodoh seperti itu.”

“Tapi aku mendengarnya sendiri di radio.” Kemudian dengan berbisik, ia berujar, “Itu suara Kaisar…”

****

John Hersey mengungkap kembali dialog itu di Hiroshima, karya yang membuatnya termasyhur di jagat jurnalisme Amerika (boleh jadi pula dunia). Seperti tecermin dari judulnya, tulisan ini berkisah tentang Hiroshima, kota di Jepang, yang luluh-lantak dihajar bom atom Amerika Serikat, 6 Agustus 1945. Selengkapnya »

Layang-layang dari Kabul

December - 14 - 2007 12 KOMENTAR
layang-layang-dari-kabul

Yus Ariyanto

Turnamen layang-layang. Setiap tim terdiri dari dua orang; satu orang menerbangkan dan mengendalikan, seorang lagi membawakan gulungan benang dan mengulurnya. Amir dan Hassan membentuk tim. Tapi, di akhir turnamen, ketika layang-layang terakhir putus dan mereka mengejar, suatu kejadian mengubah hidup mereka sepenuhnya. Selengkapnya »