Friday, May 24, 2013
melawan-egoisme-elite-sepak-bola

Anton Bahtiar Rifa’i

“Mudah-mudahan kedatangan mereka akan membukakan mata,” ucap Nil Maizar. Pelatih timnas senior Indonesia itu sedang sedang berbicara soal bergabungnya pemain asal Indonesia Super League (ISL), seperti Bambang Pamungkas, Firman Utina, dan Ponaryo Astaman ke dalam tim yang dibesutnya untuk kejuaraan sepak bola paling bergengsi di level Asia Tenggara, Piala AFF. “Membukakan mata” yang diucapkan pria kelahiran Payakumbuh, Sumatera Barat, itu jelas ditujukan untuk kalangan elite sepak bola Indonesia yang terus berkonflik. Ucapan Nil, serta bergabungnya pemain senior ISL ke dalam timnas, bisa jadi merupakan bentuk perlawanan halus terhadap egoisme para elite yang terus mengangkangi sepak bola Indonesia.

Konflik elite sepak bola itu memang sudah semakin berisik. Dan kita merasakannya seperti badai: penuh gemuruh kebencian dan kemudian hanya menyisakan keporakporandaan. Keporakporandaan paling parah terutama terjadi pada tim nasional Indonesia. Kekalahan 0-10 dari Bahrain, serta anjloknya Indonesia di peringkat 153 FIFA, adalah gambaran nyata tentang tentang terpuruknya prestasi sepak bola Indonesia. Sementara komposisi pemain timnas Indonesia tidak bisa disusun secara ideal, karena salah satu pihak selalu menolak mengizinkan pemainnya memperkuat timnas. Ini artinya: dua tahun pertikaian antarkubu ternyata hanya menyisakan kesia-siaan belaka. Ironisnya, Indonesia sebenarnya mempunyai banyak aset pemain berkualitas, baik yang tersebar di Indonesia maupun mancanegara. Selengkapnya »

muda-beda-dan-mengajar-di-desa

Yus Ariyanto

Pesimisme semestinya sesuai dosis. Anak-anak muda Indonesia bukan hanya mereka yang mem-bully adik kelas di sekolah mahal di Pondok Indah; bukan hanya mereka yang suka adu balap di jalanan samping kantor saya dengan mobil yang, berani taruhan, bukan dibeli dari hasil peluh sendiri. Sila simak dua paragraf ini:

“Para Pengajar Muda adalah pejuang-pejuang yang tangguh. Karena tangguhnya, dulu saat pelatihan di Modern Training Camp, kami saling berebut untuk memilih tempat yang paling ekstrem, yang tidak ada listrik, tidak ada sinyal telepon, jalanan jelek, bangunan sekolah yang kurang layak, dan jauh dari ingar-bingar peradaban.”

“Semakin jauh tempat tersebut, justru semakin banyak peminatnya. begitu situasi yang terjadi ketika kami semua dihadapkan untuk memilih daerah penugasan saat di tempat pelatihan. Sepertinya seru apabila kami mampu melewati tantangan tersebut setahun. Tentu banyak pembelajaran kehidupan dari pengalaman tinggal bersama masyarakat di penjuru tanah air.”

Faisal Effendi, sarjana dari FISIP UI, menuliskannya di Indonesia Mengajar: Kisah Para Pengajar Muda di Pelosok Negeri. Ia adalah salah seorang dari 51 Pengajar Muda gelombang pertama, November 2010-November 2011, yang mengabdi sebagai guru SD di berbagai tempat di pelosok Indonesia. Faisal ditempatkan di Tulang Bawang Barat, Lampung.

(Saya mengincar antologi esai itu sejak beberapa bulan silam. Eh, baru kesampaian Kamis lalu. Tersisa satu, saya buru-buru membawanya ke kasir.)

Para Pengajar Muda itu memilih jauh dari kenyamanan—meski sementara. Justru menyongsong aneka risiko. Lihat pengalaman Yuriza Primantara, yang juga ditempatkan di Tulang Bawang Barat . Sebagai guru, ia sesekali menjadi wasit sepak bola saat pelajaran olah raga. Dalam suatu pertandingan, ketika terjadi pelanggaran, peluit Yuriza menjerit. Tak disangka, seorang anak memakinya dengan kata-kata yang tidak pantas. Sang anak tak terima dengan keputusan lulusan ITB itu.

Pada Desember 2010, dalam sebuah forum, penggagas program Indonesia Mengajar, Anies Baswedan, mengatakan, “Mereka di-training selama tujuh minggu. Materinya dua, kepemimpinan dan kepengajaran. Mengapa kepemimpinan penting? Jangan dikira keberadaan di desa selama satu tahun itu akan disambut seluruhnya dengan sukacita. No, setahun itu akan menghadapi problem, menghadapi tantangan. Saya bilang ke mereka: satu tahun ini adalah leadership training yang luar biasa priceless.”

Mereka adalah anak-anak muda terpilih. Punya prestasi akademis yang bagus, kenyang pengalaman berorganisasi, tangguh, serta memiliki jiwa kepemimpinan. Dengan spesifikasi seperti ini, kiranya mereka layak menjadi inspirasi bagi anak-anak desa.

Tak mengherankan pula jika kemudian mereka tak sekadar “sesuai argo.” Erwin Puspaningtyas Irjayanti punya seorang murid, bernama Rizki, yang sudah empat bulan tak pernah hadir di sekolah. Tanpa alasan. Desas-desus menyebutkan, anak itu malas bangun pagi.

Erwin pun berinisiatif memberikan pelajaran tambahan dengan mendatangi Tamaluppu, dua kali dalam sepekan. Tamaluppu adalah sebuah desa yang lebih terpencil daripada Passau, Majene, Sulawesi Barat—daerah penempatan sarjana IPB ini. Ada delapan murid dari daerah ini, termasuk Rizki. O iya, jangan silap, Erwin ini perempuan!

Untuk ke Tamaluppu, Erwin harus berjalan sekitar satu jam. Jika hujan, perjalanan mustahil dilakukan karena jalan setapak yang ada segera berubah menjadi sungai dan air terjun kecil. Pun mesti selalu waspada dengan ancaman babi hutan. Tak heran, para siswa dari Tamaluppu selalu berbekal bambu runcing saat pergi dan pulang sekolah.

Membaca kisah Erwin dan teman-temannya, barangkali memang pesimisme tak usah terlalu erat didekap…

tendangan-dua-belas-pas

Achmad Yani Yustiawan

Sejarah telah ditorehkan Spanyol di Piala Eropa 2012. La Furia Roja kini tercatat sebagai tim di dunia yang berhasil merengkuh tiga turnamen besar secara beruntun. Piala Dunia 2010 kemudian jadi King of Euro berturut-turut (2008-2012).

Ada catatan kecil yang cukup menarik dari pagelaran Euro 2012 Polandia-Ukraina kali ini. Bukan tim Matador, tapi tentang adu penalti. Terdapat dua sisi menarik soal adu penalti ini. Pertama, tentang teknik penalti yang disebut penalti Panenka. Tendangan penalti dengan cara menyontek bola ini diperagakan pemain belakang Spanyol Sergio Ramos dan pemain Italia Andrea Pirlo.

Kedua, gara-gara tendangan gaya Panenka pula, Inggris dan Portugal harus tersingkir dari ajang Piala Eropa. Sepakan Sergio Ramos membawa Spanyol maju ke final usai mengalahkan Portugal. Sedangkan Pirlo melakukan Panenka saat Italia menundukan Inggris di babak perempat final.

Suka atau tidak, senang atau sedih, Inggris dan Portugal harus angkat koper gara-gara adu penalti. Menyakitkan, demikian sebagian orang menggambarkan kekalahan itu.

Inggris yang diawal perjalanannya sempat diragukan banyak kalangan, ketika bertemu Italia justru grafik permainannya tengah menanjak. “Kami tersisih tanpa terkalahkan, pulang dengan kepala tegak,” ujar pelatih “The Three Lions” Roy Hodgson.

Asa tinggi juga sedang dirasakan Portugal ketika bertarung melawan juara bertahan Spanyol. Tapi apa yang terjadi. Cristiano “CR 7″ Ronaldo hanya bisa terpana setelah menyaksikan bola tendangan Cesc Fabregas menyentuh tiang lalu bergulir masuk gawang. Bintang Portugal ini, seakan tak percaya langkah negaranya harus terhenti di babak semi final karena kalah adu penalti.

Adu penalti—-ada yang menyebut tendangan dua belas pas—merupakan cara yang sekarang sering dipakai untuk menentukan pemenang dalam pertandingan sepak bola yang harus diakhiri dengan kemenangan/kekalahan (tidak bisa seri). Adu penalti dilakukan setelah pertandingan berlangsung 90 menit dan dilanjutkan dengan 2 kali 15 menit perpanjangan waktu, namun keadaan masih seri.

Konon adu penalti pertama kali diusulkan pada 1970 oleh seorang wasit dari Penzberg, Bavaria, Jerman yang bernama Karl Wald. Saat itu, jika keadaan seri setelah perpanjangan waktu pemenang ditentukan dengan undian menggunakan koin. Karena menganggap cara ini sangat untung-untungan, ia mengusulkan adu penalti kepada ketua persatuan sepak bola Bavaria.

Klaim lain mengatakan bahwa adu penalti diusulkan pertama kali di Inggris dan juga di Israel. Adu penalti pertama kali dilakukan di Inggris pada 1970 antara Hull City dan Manchester United (MU) dalam Watney Cup (Piala Liga di Inggris) yang dimenangi MU.

Drama adu penalti memang selalu menyisakan cerita, entah itu kenangan manis atau pahit. Bahkan, sejarah buruk yang dialami sebuah tim seolah menghantui perjalanan kedepan kesebelasan itu. Inggris, misalnya. Kegagalan di Euro 2012 seperti menambah “kutukan”. Inggris sudah enam kali kalah dalam 7 babak adu penalti yang pernah mereka lakoni dalam kompetisi resmi level internasional.

Entah ada kaitannya atau tidak, belakangan cara penyelesaian pertandingan lewat adu penalti mulai dipertanyakan. Tak tanggung-tanggung salah satu orang yang mempersoalkannya adalah Presiden Badan Sepak Bola Dunia (FIFA). Presiden FIFA, Sepp Blatter, tak senang penentuan pertandingan dengan adu penalti. Menurutnya, sepak bola bisa menjadi tragedi jika harus ditentukan dengan adu penalti.

Blatter berharap di masa yang akan datang akan ada alternatif pengganti adu penalti. “Sepak bola bisa menjadi tragedi ketika Anda harus melalui adu penalti. Sepak bola tak seharusnya satu lawan satu. Ketika sepak bola melalui adu penalti maka esensinya akan hilang,” tutur Blatter seperti dilansir Soccerway.

Duel penendang dengan kiper ini juga dicap “miring” lantaran lebih berbau keberuntungan. Siapa yang dinaungi Dewi Fortuna akan keluar jadi pemenang. Menurut pelatih Italia Cesare Prandelli, adu penalti itu ibarat lotere. Sekitar 80 persen adalah keberuntungan.

Boleh jadi omongan Prandelli benar. Menjadi penendang penalti itu memang tak gampang. Kelelahan dan tekanan psikologis bisa sangat mempengaruhi peluang mencetak gol. Pemain-pemain top dunia saja tak jarang melakukan kesalahan. Lionel Messi pernah gagal mengeksekusi penalti. Padahal, jika bermain normal pemain Argentina itu, bisa mencetak gol meski dalam sudut sempit dan dijaga beberapa pemain.

Jadi, cara apa yang harus digunakan agar pertandingan berakhir dengan adil dan tak menyesakan. Dikocok seperti arisan, juara bersama, atau lempar koin seperti yang terjadi pada Piala Eropa 1968.

Ketika itu di laga semi final tuan rumah Italia tengah berjuang keras meladeni tantangan salah satu raksasa sepak bola saat itu, Uni Soviet. ”Kami pergi menuju ruang ganti bersama-sama. Ketika itu wasit mengeluarkan sebuah koin tua, dan aku memilih sisi ekor. Dan itu adalah pilihan yang tepat dan Italia melaju ke final,” kenang kapten Italia, Giacinto Facchetti yang menjadi saksi undian tersebut seperti dilansir situs resmi UEFA.

Hingga sekarang belum lagi terdengar wacana soal pilihan lain pengganti adu penalti. Blatter sendiri hanya mengatakan, mungkin bukan di hari ini, namun di masa yang akan datang.

melawan-korupsi-melawan-lupa

Yus Ariyanto

Di paruh pertama 1990-an, kalimat Milan Kundera ini mulai dikenal: “The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting.” Ada di The Unbearable Lightness of Being, kebanyakan pengutipnya di Indonesia belum membaca dari sumber aslinya. Seingat saya, cendekiawan Mochtar Pabottingi merupakan salah seorang yang pertama kali memulungnya untuk menonjok Orde Baru. Kalimat ini begitu mengena dan bertenaga, lantas menjadi tagline baru para aktivis prodemokrasi.

Pada Juni ini, kalimat itu bergema lagi saat korupedia.org diluncurkan. Ini adalah sebuah situs yang menghimpun data kasus dan pelaku korupsi di Indonesia.  Hanya kasus yang telah berkekuatan hukum tetap akan dipublikasikan. Maka, kita tak akan menemukan kasus Eddy Tansil yang membawa lari duit Bank Bapindo, misalnya. Boro-boro divonis, ditemukan pun dia belum.

Masih jauh dari komplet, terus dilengkapi datanya. Ini memang bukan kerja main-main mengingat banyaknya perkara korupsi di Indonesia. Pada Jumat (22/6) malam, sebagai contoh, saya iseng-iseng mengetik “Panda Nababan” di search engine situs tersebut. Nihil. Haqqul yakin lantaran memang belum sempat dicatat dan dimasukkan. Bersama sejumlah rekannya, politisi PDI Perjuangan itu dinyatakan bersalah karena menerima cek pelawat terkait pemilihan Miranda S. Goeltom sebagai Deputi Senior Bank Indonesia. Ia divonis satu tahun dan lima bulan penjara.

Hadir sejumlah jurnalis, praktisi hubungan masyarakat, juga aktivis LSM yang mendirikan situs ini. Mari simak di Tentang Kami:

“…para para pencuri dan penjarah itu acap berbangga diri, muncul dan bicara di berbagai media. Mereka tak malu tampil di radio, koran dan televisi, mempermainkan logika dan hukum. Juga menjungkirbalikkan akal sehat. Sadar atau tidak, sebagian media massa memang telah memberi panggung “pencucian dosa” bagi para koruptor itu. Karena itulah, penting bagi kita untuk melakukan perlawanan bersama. Salah satunya dengan membuat “monumen abadi”, “tugu peringatan”, berupa situs online yang berisi daftar para koruptor, yang bisa diakses siapa saja. Agar kita, anak-anak kita, cucu-cucu kita, bisa belajar bahwa korupsi, apa pun dalihnya, sudah membuat rakyat di negeri ini menderita.”

Ini proyek melawan lupa–mengamalkan ujaran Kundera. Saya tak tak tahu apakah inisiatif ini hanya terdapat di Indonesia atau sudah ada perintisnya di luar sana. Tak penting juga. Tapi, dalam anggapan saya, proyek ini berharga sebagai bentuk keterlibatan warga negara dalam perang terhadap korupsi. Tak hanya mengeluh dan mengutuk. Berbuat sejauh kemampuan.

Ada titik ketika kita “harus berhenti percaya” pada determinasi pemerintah dan parlemen dalam memerangi korupsi. Lihat, sudah beberapa tahun ini, Komisi III DPR tak juga mengabulkan permohonan pencairan Rp 225 miliar untuk membangun gedung KPK. Gedung KPK telah berusia 31 tahun dan tak mampu menampung staf KPK  yang kini jumlahnya 650 orang. Gedung itu hanya sanggup menampung 350 orang. Anda percaya Senayan belum memberi lampu hijau cuma lantaran alasan administratif?!

Voluntarisme. Itu yang dibutuhkan. Bukan mengambil alih tugas eksekutif dan legislatif, melainkan demi menunjukkan kerja melawan korupsi tak bisa diserahkan sepenuhnya pada mereka.

Bung Karno

June - 5 - 2012 2 KOMENTAR
bung-karno

Yus Ariyanto

Bagaimana memosisikan seorang Sukarno? Negarawan? Diktator? Saya membuka lagi Catatan Subversif, kumpulan catatan harian Mochtar Lubis saat dibui di masa Orde Lama tanpa pernah diadili. Ia memimpin koran Indonesia Raya yang gencar melancarkan kritik kepada pemerintah, terutama terkait maraknya korupsi dan salah kelola negara.

Pada Desember 1958, Mochtar mendengar kabar, Sukarno setuju tahanan-tahanan politik lain dibebaskan. Kecuali, dirinya. Mochtar pun meradang. ”Wah, ini Sukarno kiranya sudah jadi  Firaun apa? Bung Karno kurang pikir kedudukannya dalam sejarah nanti. Dia akan dicatat pemimpin yang mula-mula bersetia pada demokrasi, lantas kemudian mencoba untuk merusak demokrasi di Indonesia,” tulisnya. Selengkapnya »

orde-baru-masih-eksis

Yus Ariyanto

Saat itu, Orde Baru belum lama menancapkan kuku kekuasaan.

Sejak akhir 1966, di sejumlah kota seperti Bandung, Yogyakarta, Medan, dan Surabaya digelar razia. Anak-anak muda berambut gondrong atau berpakaian tak sesuai “kepribadian bangsa” akan dikenakan tindakan potong di tempat, baik rambut maupun pakaiannya. Aparat kepolisian dan tentara dikerahkan dalam operasi ini. Selengkapnya »

indonesia-buat-semua

Yus Ariyanto

Jakarta, 29 September 1933. Gedung Permufakatan Nasional di Gang Kenari, Salemba, dipenuhi ribuan orang. Di malam itu, mereka akan mengikuti perdebatan antara A. Hassan (ulama tersohor, pendiri Persatuan Islam) dan Abu Bakar Ayub (tokoh Ahmadiyah Qadian). Topik debat: menguji keabsahan Ahmadiyah.

Saya baca kisah tersebut di TEMPO edisi 21 September 1974. Sebagai pimpinan sidang, Mohamad Muhyidin membuka, “Saya mengucapkan terimakasih atas kedatangannya sekalian. Ternyatalah perdebatan ini dapat perhatian yang penting. Melainkan saya harap supaya tuan-tuan sekalian akan tinggal dengan iman, seperti kemaren. Sekarang akan diperingati lagi kepada tuan-tuan supaya janganlah mencela atau mengeluarkan perkataan atau isyarat-isyarat yang memihak ke salah satu partai yang sedang berdebat…Barang siapa tiada menurut akan aturan ini, saya akan ambil tindakan.” Selengkapnya »

Mencari Bang Ali

March - 21 - 2012 10 KOMENTAR
mencari-bang-ali

Yus Ariyanto

Juni 1977. Dipo Alam dan Bambang Sulistomo mengenakan kaus bergambar wajah Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta yang saat itu tinggal menunggu hari untuk berhenti. Dua mahasiswa tersebut bicara di sebuah warung di Taman Ismail Marzuki dan mencalonkan Bang Ali sebagai presiden. Mohon diingat, pada 2012, niscaya peristiwa sangat biasa. Pada 1977, tentu tidak. Kekuasaan saat itu berwujud sosok represif dan antidemokrasi.

Dipo dan Bambang menilai Presiden Soeharto bukan tidak berhasil. “Justru keberhasilan Soeharto itu harus digalakkan. Dan percepatan pembangunan memerlukan orang seperti Ali Sadikin,” kata Dipo, bekas ketua umum Dewan Mahasiswa  dan mahasiswa Kimia UI tingkat akhir, sebagaimana dikutip TEMPO edisi 2 Juli 1977. Bambang Sulistomo adalah anak Bung Tomo dan mahasiswa Ilmu Politik UI tingkat akhir yang pernah ditahan karena Peristiwa Malari. Saya tak tahu kiprah Bambang sekarang. Perihal Dipo, kini membantu Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Sekretaris Kabinet.

Masa jabatan Fauzi Bowo sebentar lagi berakhir. Belum ada yang mencalonkannya sebagai presiden. Alih-alih demikian, sejumlah kalangan menyebut kepemimpinannya tak berhasil. Macet yang kian menggila dan banjir yang tak kunjung tertanggulangi menjadi “bukti” utama. Toh, ia tetap mau maju untuk periode kedua. Ada beberapa bakal lawan. Bakal lawan paling berat, menurut saya, adalah Joko Widodo, walikota Solo yang termasyhur itu.

Hampir 35 tahun berlalu, sejumlah kalangan masih menengok ke sosok Bang Ali. Terutama, di hari-hari ini sampai beberapa bulan ke depan ketika Jakarta menempuh proses suksesi kepemimpinan. Ia dianggap sebagai gubernur paling berhasil sepanjang sejarah. Padahal, ia memulai dari tidak tahu apa-apa tentang Jakarta. Saat Bung Karno menunjuknya sebagai gubernur, sang istri yang dokter gigi, Nani Sadikin, tertawa lantaran merasa aneh bahwa suaminya mendapat tugas itu. Ali jelas bukan “ahlinya.”

“Buatlah Jakarta ini kebanggaan seluruh rakyat Indonesia. Malahan jadi kekaguman seluruh umat manusia di dunia ini,” kata Bung Karno dalam pidato tanpa teks usai melantik Bang Ali pada 28 April 1966.

“Itu bukan pekerjaan gampang memenuhi cita-cita, cita-cita yang besar. Tapi Insya Allah, doe je best, agar supaya engkau dalam memegang kegubernuran Jakarta Raya ini benar-benar juga sekian tahun lagi masih orang mengingat, dit heeft Ali Sadikin gedaan, inilah perbuatan Ali Sadikin,” lanjut Bung Karno seperti termuat di Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977.

Saya belum lahir saat Bang Ali dilantik dan masih terlampau kecil saat ia turun jabatan. Maka, muncul pertanyaan di kepala: apa yang sejatinya telah diperbuat anak Sumedang itu? “Ia mulai dengan menambal jalan Dan, bagi orang yang semula terbiasa melihat borok di mana-mana, jalan halus yang baru sepotong pun sudah tampak sebagai mukjijat. Apa lagi. Gedung bertingkat? Taman Ismail Marzuki? Perbaikan kampung, pelayanan, penghijauan? Tak ada yang istimewa. Saatnya memang sudah matang untuk itu. Duitnya ada, walaupun dengan defisit berencana. Pendeknya, dari segi substansi, tak ada yang luar biasa,” tulis seorang penulis kolom di TEMPO edisi 9 Juli 1977. Si penulis mengutip temannya yang pernah ambil MA di Amerika Serikat.

Lalu, teman sang kolomnis itu mengajukan semacam teori: “Ali Sadikin mengisi kebutuhan akan pemimpin yang bisa didewakan. Karismatis. Kita mendewakan pemimpin yang berani, karena kita semua sudah jadi penakut. Kita tidak terus-terang, tak tahan tekanan, tak tahan kritik. Maka tokoh yang blak-blakan, tahan tekanan dan tidak naik pitam jika dikritik, jadi pujaan kita. Kita merindukan orang kuat, pemimpin yang karismatis, dan Ali Sadikin mengisi kerinduan itu dengan gaya pribadinya yang khas.”

Puluhan tahun lewat. Kompleksitas persoalan Jakarta sudah naik beberapa kali lipat. Juga sistem dan kultur politik. Pun hal-hal lain. Andai benar yang ingin “dipinjam” dari Bang Ali adalah karakter kepemimpinan, kita agaknya belum beranjak jauh. Masih berkutat di persoalan yang sama. Di level nasional, Susilo Bambang Yudhoyono juga kerap dituding bekerja tanpa determinasi, penuh keraguan, terlalu ingin menyenangkan semua pihak.

Jakarta dan Indonesia, boleh jadi, punya kebutuhan yang sama. Siapa sukses memimpin Jakarta mungkin dibutuhkan untuk mengelola Indonesia di masa depan. Tak perlu “Dipo Alam dan Bambang Sulistomo” era abad ke-21 karena “rakyat” sendiri yang akan memanggil.

Interpelasi?

February - 14 - 2012 4 KOMENTAR
interpelasi

Yus Ariyanto

Penghuni Senayan segera bikin kegaduhan lagi. Sejumlah anggota Komisi III DPR sepakat menyampaikan usulan hak interpelasi kepada pimpinan DPR terkait kebijakan Kementerian Hukum dan HAM soal pengetatan remisi dan pembebasan bersyarat kepada narapidana korupsi dan terorisme. Mereka bilang, dalam aturan perundang-undangan, yang berhak mencabut remisi adalah pengadilan, bukan Kementerian Hukum dan HAM.

Hak interpelasi adalah hak DPR untuk meminta keterangan kepada pemerintah mengenai kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Pertanyaannya: pengetatan remisi itu berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat dan bernegara? Tidak. Berdampak ke para koruptor dan keluarganya? Iya. Jadi, buat apa para Wakil Rakyat yang terhormat itu membuang energi? Bahwa kebijakan itu keliru, ada mekanisme koreksi lain yang lebih efisien.

Saya mau mengingatkan, para politisi ini mulai menggulung lengan baju saat remisi untuk Paskah Suzetta, kader Partai Golkar yang notabene teman mereka, dibatalkan pada akhir Oktober 2011. Jangan lupakan fakta ini. Genderang perang pun mulai ditabuh untuk Amir Syamsuddin dan Denny Indrayana.

Andai fungsi DPR lain sudah beres, mungkin boleh juga menghambur-hamburkan energi. Mari kita tengok fungsi legislasi. Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) mencatat, untuk 2011, DPR menargetkan merampungkan 70 undang-undang ditambah sisa UU yang belum diselesaikan pada 2010 sebanyak 23. Dari 93 UU, DPR menyelesaikan 21 UU. Hanya sekitar 14% UU yang kelar. Luar biasa.

Bagaimana dengan soal kualitas UU? Saya mau kutip Saldi Isra, guru besar Hukum Tata Negara Universitas Andalas. Ia menyatakan, banyak UU hadir dengan kualitas seadanya. Salah satu contoh adalah UU No. 15/2011 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum. “Sebagai sebuah UU yang terkait langsung dengan kepentingan partai politik di DPR, sejumlah substansinya berubah drastis dari UU sebelumnya. Perubahan ini dapat dilacak dari terbukanya peluang bagi kader partai menjadi calon anggota KPU…Banyak pihak menilai, pilihan pembentuk UU membuka ruang bagi kader partai potensial membunuh kemandirian penyelenggara pemilu sebagaimana diamanatkan Pasal 22E Ayat (5) UUD 1945,” tulis Saldi.

Untungnya, kita punya Mahkamah Konstitusi. Lembaga itu membatalkan Pasal 11 huruf i dan Pasal 85 huruf i UU No. 15/2011. Pasal tersebut menyatakan calon anggota KPU dan Bawaslu harus mundur dari partai politik begitu mendaftarkan diri. Pada Januari lalu, MK memutuskan, syarat anggota KPU dikembalikan seperti dalam UU No. 22/2007 tentang Penyelenggara Pemilu. Yaitu, calon harus mundur dari parpol paling lambat lima tahun sebelum mendaftar sebagai calon anggota KPU dan Bawaslu. Selain itu, MK juga mengeluarkan unsur partai politik dan pemerintah dari keanggotaan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu yang diatur dalam Pasal 109 Ayat (4) UU tersebut.

Jadi, alih-alih mengajukan usulan hak interpelasi yang miskin urgensi, lebih baik berbenah ke dalam. Eksekutif memang mesti terus diawasi. Kalau perlu dengan teguran keras. Tapi, jika tak dilakukan dengan cerdas, apa kata dunia?!

Cikeas dan Prioritas

February - 6 - 2012 3 KOMENTAR
cikeas-dan-prioritas

Yus Ariyanto

Ahad sore, 5 Februari. Kebanyakan dari kita sedang beristirahat, menghimpun kembali energi untuk beraktivitas keesokan hari. Tapi, di Cikeas, Susilo Bambang Yudhoyono mengalokasikan energinya untuk bicara di depan para jurnalis.

“Saya, dalam minggu-minggu terakhir ini, juga mendapat masukan dan pandangan dan saran dari jajaran Partai Demokrat….pertama, harus ada solusi atas masalah yang dihadapi partai, khususnya akibat ulah sekelompok kader…sekaligus saya diminta untuk terus membangkitkan semangat para kader di  Tanah Air yang terus-terang terpengaruh dengan riuh-rendahnya pemberitaan di media massa….” katanya.

Ia, jelang petang itu, bicara sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat. Sejumlah kader penting partai memang tengah didera masalah. Terakhir, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Wakil Sekjen Partai Demokrat Angelina Sondakh ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus Wisma Atlet. Banyak orang percaya, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum juga bakal mendapat status tersebut. Cepat atau lambat.

SBY melanjutkan. “Saya diharapkan lebih aktif, lebih turun tangan begitu untuk menyelesaikan kemelut di partai ini. Juga diharapkan oleh para kader agar pembersihan yang merusak nama baik partai di mana pun, termasuk yang ada di Fraksi DPR RI, bisa dijalankan…” katanya.

Ia memang mesti berbagi: sebagai presiden dan sebagai tokoh paling penting di Partai Demokrat. Tapi, saya garuk-garuk kepala saat teringat ia terlihat lebih mementingkan fungsi kedua. Indikatornya: ia bicara langsung soal kisruh di “Partai Biru” itu, tak diwakilkan orang lain.

Saya meriset, saat Sondang Hutagalung dinyatakan tewas usai membakar diri di depan Istana Kepresidenan, suara SBY hanya disampaikan Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik Daniel Sparringa. “Presiden SBY sangat berduka dan berbagi kesedihan dengan orang tua dan saudara-saudaranya,” kata Daniel, Ahad, 11 Desember 2011.

Lalu, saat terjadi kerusuhan Pelabuhan Sape Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), yang menewaskan dua warga. Juru Bicara KepresidenanJulian Aldrin Pasha yang bersuara. “Presiden menginstruksikan agar dilakukan investigasi. Apakah ada provokotor atau aparat yang bertindak melebihi kepatutan,” ujar Julian, Sabtu, 24 Desember 2011.

Soal kisruh Gereja Kristen Indonesia di Taman Yasmin, Bogor, Jawa Barat, SBY bahkan nyaris tak bersuara. Tak juga bicara setelah para jemaatnya berulang kali berdemo di depan Istana. Uniknya, kegundahan soal absennya “kepemimpinan” juga dilontarkan kader Demokrat, Ulil Abshar-Abdalla, dengan menulis esai berjudul Eisenhower dan Sembilan Murid Hitam.

Ulil menulis, “Keberanian Presiden Eisenhower untuk langsung turun tangan dan ambil alih masalah ini, merupakan ‘kebajikan kepemimpinan’ (virtue of leadership) yang layak diteladani. Sudah tentu, tindakan Presiden Eisenhower ini kontroversial, dan ditentang oleh orang-orang kulit putih di kawasan Selatan yang umumnya masih pro-segregasi. Tetapi, konstitusi tetaplah konstitusi, dan harus ditegakkan…Dalam kasus GKI Yasmin ini, kita tentu berharap ada ‘Eisenhower Indonesia’ yang mau turun tangan langsung dan memastikan bahwa hak-harga warga negara untuk membangun rumah ibadah yang dijamin oleh konstitusi itu tak dicederai.”

Penting mana soal Sondang, kerusuhan Bima, atau GKI Yasmin dibandingkan masalah hukum kader Demokrat? “My loyalty to my party ends where my loyalty to my country begins,” kata Manuel L. Quezon, presiden kedua Filipina. Berlebihan jika kita berharap SBY mengamalkan ajakan Quezon ini?

gembala-bukan-peran-pembantu

Raymond Kaya

Anak saya sedikit memprotes saat diminta untuk menjadi gembala dalam perayaan Natal di sekolahnya. Buatnya menjadi Yusuf adalah peran sentral dalam cerita Natal dan tentu dalam memilih Yusuf biasanya dipilih anak yang paling tinggi, cerdas dan tampan di kelas itu. Tapi jika gembala ya boleh siapa saja, terlebih jika hanya menjadi dombanya saja.  Peran penting  dalam cerita natal lainnya adalah yang menjadi Maria.  Pastilah dipilih yang  paling cerdas, tinggi dan cantik. Pokoknya pasangan Yusuf dan Maria adalah yang paling ter – di kelas itu.  Perang atau lakon  lain yang  bergengsi dalam cerita natal di sekolah atau Sekolah Minggu biasanya adalah  orang – orang Majus.  Pemerannya diperbolehkan memakai pakaian yang bagus layaknya seorang raja. Adegannyapun cukup bergengsi karena membawa hadian berupa emas, kemenyan dan mur yang dibawa ke hadapan  palungan.  Jika jadi orang Majus boleh berpakaian bagus,  seorang anak yang berperan sebagai gembala  paling  top mengenakan kaos dalamdisertai sarung dengan membawa sebuah tongkat.

Peran Gembala memang sederhana. Logikanya saat mereka mendapatkan kabar baik itu dimalam hari, tentu hanya seorang  pekerja yang sederhana yang ada dipadang. Sebab   para tuan pemilik -domba ini akan tidur dan mempercayakan “ harta mereka “ pada para gembala.  Meski sederhana saat menerima kabar sukacita itu, reaksi gembala ini sunguhlah luar biasa, mereka segera pergi  menembus padang untuk melihat  kelahiran Yesus itu.  “Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang terbaring di palungan.“  ( Lukas 2:16) . Reaksi para gembala ini luar biasa. Kata cepat-cepat ini berarti mereka tanpa perlu konfirmasi, berdiskusi atau voting. Tapi  langsung perlu dan segera mencari untuk menjumpai Maria, Yusuf dan bayi Yesus. Menariknya lagi meski mereka mengejar kabar baik itu, tapi tugas mereka sebagai gembala tetap dijalankan dengan baik, terbukti dalam semua drama natal, anak –anak yang lebih besar menjadi gembala dan anak-anak yang lebih kecil menjadi domba-dombanya. Sikap positif lain dari para gembala itu bukan sekedar datang tapi juga memberitahukan pada semua orang (kas 2:17-18 Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. ) kata semua orang bukanlah hal yang mudah apalagi dalam konteks kekinian sebagai seorang  Kristen. Banyak orang Kristen engan menyebarkan kasih Tuhan pada orang lain, sebab saat hal itu dilakukan maka semua mata akan memadang pada orang itu apakah perilakunya sesuai dengan apa yang dikatakannya.

Usai memberitakan para Gembala ini melakukan hal lain yaitu menyampaikan pujian  (Lukas 2:20 Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.).  Proses mendengar – datang – menyembah – memberitahukan dan memuji-muji dalam satu waktu bukanlah basa-bai. Inilah sebuah perilaku hati yang diinginkan Tuhan saat Anaknya lahir kedunia, sebuah hati yang dimiliki seorang gembala. Jadi  menjadi perang seorang gembala dalam perayaan di sekolah ataupun sekolah minggu bukan lakon kelas dua atau hanya sekedar peran pembantu dalam cerita lahirnya Yesus.  Peran gembala adalah pemain penting dalam sebuah proses lahirnya Yesus,  karena melalui merekalah kabar sukacita itu muncul…bahkan hingga saat ini.

budi-utomo-hanya-romantisme-masa-lalu

Aribowo Suprayogi

Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) terbaru menyebutkan tingkat kepuasan publik atas kiprah politisi muda (politisi yang berusia di bawah 50 tahun) hanya 24,8 persen yang berarti publik (responden) merasa kecewa atas kinerja politisi muda saat ini. Sedang sisanya 75,2 persen publik (responden) tidak menjawab dan menyatakan tidak baik.

Prihatin memang melihat kiprah politis muda Indonesia jika melihat hasi l survei ini. Gedung DPR RI dalam karikatur digambarkan sebagai kue raksasa yang bernama APBN yang dipotong-potong dan dibagi-bagikan kepada anggota DPR, dan hampir tidak ada yang tersisa untuk rakyat. Selengkapnya »

lebih-mudah-merebut-daripada-mempertahankan

Raymond Kaya

Hari ini, 9 September 2011, Partai Pemenang Pemilu 2009, Partai Demokrat berumur 10 tahun. Dalam usianya yang relatif baru dibandingkan dengan Partai Besar seperti PDI Perjuangan (dulu PDI) dan Partai Golkar (sebelumnya Golkar), maka kehadiran partai berlambang “Mercy” ini sungguh fenomenal. Pertama kali ikut dalam pemilihan umum pada 2004, Partai Demokrat menarik 7,45% suara (8.455.266 suara) dari total suara yang ada, dan mendapatkan sebanyak 57 kursi di DPR. Hasil ini mendudukkan Partai Demokrat sebagai Partai nomor 5 di pemilu legislaif 2004.

Kendati hanya berperingat nomor 5, tapi partai ini bersama dengan PBB dan PKPI berhasil menggolkan duet SBY-JK menjadi presiden dan wakil presiden pada pemilu langsung pertama di Indonesia. Hasil yang lebih spektakuler terjadi pada 2009, ketika partai ini menjadi pemenang pemilu, dan meraih total 21.703.137 suara sehingga memperoleh 150 kursi atau 26,4% kursi di DPR. Angka ini naik sekitar 200% dibandingkan dengan pemilu 2004. Popularitas Presiden SBY diyakini menjadi motor penggerak untuk pemilih memilih Demokrat. Selengkapnya »

timnas-kalah-statistik-kesempatan-buat-sejarah

Raymond Kaya

Kesebelasan Indonesia, Jum’at malam akan berjumpa dengan Iran dalam pertandingan Pra Piala. Jika saja boleh bertaruh maka agak sulit nampaknya untuk mempertaruhkan uang kita untuk kemenangan tim Merah Putih. Betul bahwa bola itu bundar dan apapun bisa terjadi dalam waktu 2 X 45 menit. Tapi Iran memiliki data statistik yang sangat baik saat berjumlah dengan Tim Nas Indonesia,. Dari lima pertemauna,   pertama di tahun 1966 hingga tahun 2009 lalu, timnas Indonesia baru sekali menahan draw dan empat kali kalah. Dalam laga melawan Indonesia, jauh-jauh hari Iran sudah mempersiapkan diri dengan baik bahkan seluruh pemain terbaik Iran untuk laga ini termasuk gelandang andalan mereka yang kini bermain di klub Spanyol, Osasuna yaitu Javad Nekounam.
Javad bukanlah satusatunya  pemain Timnas Iran yang bermain di Liga Eropa. Dua pemain Iran lainnya yang bermain di Liga Eropa yaitu striker Wolfsburg, Ashkan Dejagah dan pemain Osasuna, Masoud Shojej. Beruntung bagi tim merah putih, keduanya  tidak disertakan ke dalam tim karena masih mengalami cedera. Meski begitu, ketiadaan keduanya akan tergantikan oleh pemain Iran lainnya yang memang mempunyai kualitas setara di setiap lini. Selain pemain yang mumpuni, Iran yang kini dilatih Carlos Queiroz, pelatih berpengalaman yang pernah menjadi asisten Pelatih, Sir Alex Ferguson di Manchester United, serta pelatih kepala Timnas Portugal. Jadi wajar jika Iran  menjadi unggulan pertama di grup E Pra Piala Dunai 2014 kali ini. Iran juga memiliki  perignkat empat Zona Asia dan peringkat 54 dunia FIFA.   Selengkapnya »

lebaran-dan-keprihatinan

Yus Ariyanto

Konon, lebaran berasal dari kata “lebar” yang, dalam bahasa Betawi, bermakna luas atau lega. Tapi, lebaran tahun ini kita sungguh belum bisa berlega hati. Sejumlah catatan hitam masih meningkahi kehidupan keberagamaan di Indonesia.

Beberapa hari sebelum Ramadan, dua belas terdakwa dalam kasus penyerangan dan pembunuhan tiga pengikut Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten, divonis tiga sampai enam bulan penjara. Tolong digarisbawahi: hanya beberapa bulan untuk tindakan penghilangan nyawa manusia! Selengkapnya »