Tuesday, May 21, 2013

Pencerahan

September - 8 - 2010 18 KOMENTAR
pencerahan

Vincent Hakim R.

Dalam suasana refleksi kemerdekaan bulan Agustus, di awal Ramadhan lalu, seorang teman ngobrol via fasilitas ceting FB, “Mas…kenapa ya udah 65 tahun merdeka, udah gonta-ganti pemerintah, banyak sekali rakyat negeri ini yang masih saja miskin dan bodoh” katanya mengawali ceritanya. “Lho, padahal satu-satunya negeri di atas bumi yang punya kekayaan alam tak tertandingi…ya hanya Indonesia!” tambahnya lagi.

Kawan ini lalu bercerita banyak tentang data yang setiap hari dia geluti. Dia cerita tentang Freeport, tentang Pertamina, BUMN, kekayaan daratan, alam laut, dan hutan. Luar biasa! Semua kekayaan negara itu sampai detik ini, hanya dinikmati oleh bangsa lain dan segelintir orang di negeri ini. Para konglomerat, pengusaha hitam, dan termasuk para pembesar negeri, mantan jenderal tentara dan polisi. Sedangkan rakyat kebanyakan hanya jadi penonton. Selebihnya hanya jadi pengguna produk olahan bangsa lain, yang sebenarnya bahan bakunya berasal dari kekayaan alam negeri ini. Itu pun dengan harga selangit. Ironis. Selengkapnya »

negara-kesatuan-republik-amnesia

Vincent Hakim R.

Seorang siswa SMA bertanya pada saya dalam sebuah diskusi kelas tentang jurnalistik. Tanyanya, “Pak, kenapa ya, bangsa ini cepat sekali lupa dan melupakan banyak peristiwa yang seharusnya penting sekali diingat dan kemudian dipelajari agar yang buruk tidak selalu terulang lagi. Sementara segala yang baik bisa dimanfaatkan.” Pertanyaan itu spontan mengagetkan saya. Karena apa yang ditanyakan itu sebenarnya inti dari banyak persoalan di negeri ini. Saya pun selalu dibayang-bayangi pertanyaan serupa. Mengapa para pejabat yang mulanya berjanji ini itu ketika berkampanye, ternyata ketika sudah di atas angin mendadak menjadi ‘lupa’. Alias tak bernyali lagi.

Ketika itu saya tidak menjawab pertanyaan, tapi hanya berkomentar: “Memang benar. Itulah yang kini terjadi di negeri ini”

Banyak persoalan yang diberitakan media massa terus terjadi dan bertumpuk? (Apalagi yang tidak ter-cover media massa). Satu masalah besar belum selesai, ditimpa lagi dengan persoalan besar lainnya. Satu belum dibereskan muncul lagi kasus lain yang kadang serupa benar. Lalu, persoalan seolah menguap begitu saja. Tindak lanjut beritanya pun tak ada lagi. Dulu ada kasus Eddy Tanzil. Lalu menguap ke langit. Kemudian ada kasus besar BLBI yang merugikan uang negara hingga ratusan triliun rupiah, pun tidak tuntas. Para pelakunya kabur ke luar negeri, mereka selamat dan aman. Kini ada lagi, kasus Bank Century. Diperkirakan, para pemain yang paling bertanggung jawab juga kemungkinan besar akan aman-aman saja.    Selengkapnya »

Pemimpin Sejati

December - 8 - 2009 11 KOMENTAR
pemimpin-sejati

Vincent Hakim R.


Dalam suatu lamunan, tiba-tiba saya teringat satu pengalaman pribadi di sebuah sekolah.

Seorang anak laki-laki ditanya oleh orangtuanya, “Nak, apa cita-citamu kelak?” Si anak balita itu dengan sangat percaya diri spontan menjawab, “Mau jadi plesiden!” katanya dengan suara dan pengejaan yang masih sangat khas anak-anak. Sementara anak yang lain lagi menjawab ingin jadi jenderal ketika ditanya dengan pertanyaan serupa. Yang lain lagi ingin jadi menteri, polisi, tentara, dokter, insinyur, pengacara, hakim, jaksa, ahli ini, ahli itu, direktur bank, dll. Semua anak ingin menjadi “orang hebat” atau “orang penting” dengan kata lain, mereka kelak ingin menjadi “bos” alias pemimpin. Tentu saja, para pengajar, pembina, dan orang tua siswa amat bangga dengan cita-cita anak-anak didik yang ceria itu.

Pertanyaan jail saya tiba-tiba muncul, kenapa ya..tidak ada satu pun anak yang melontarkan jawaban ‘nyleneh’. Misal, jika besar nanti aku ingin jadi pelayan. Atau mungkin, lebih konkrit lagi, ingin jadi TKI di luar negeri. Bukankah lebih dari setengah juta warga negara Indonesia menjadi TKI, itu cukup menjadi daya pikat bagi anak? Ditambah lagi para TKI itu mendapat julukan terpuji sebagai pahlawan devisa bagi negara? Atau barangkali, ratusan ribu orang lainnya yang bekerja sebagai pembantu di negeri sendiri? Bukankah mereka menjalankan pekerjaan yang halal?  Selengkapnya »

monster-pembunuh-itu-masih-anak-anak

Vincent Hakim

Di siang yang terik itu, seorang anak mengarahkan senjata basoka ke sebuah bangunan. Gedung itu hancur berantakan. Dua anak laki-laki berumur 9 dan 15 tahun, bersama sekitar delapan anak lain yang juga menenteng senjata otomatis segera menyerbu masuk. Mereka menembaki siapa saja yang ada di dalam gedung perkantoran milik asing itu.

Mad Dog dan seorang anak lagi memeriksa ruangan-ruangan gedung yang hancur itu. Dua anak bersenjata mesin itu merupakan anggota dari paramiliter tentara anak-anak. Tak lama kemudian, mereka berdua berhasil memergoki seorang wanita dewasa berkulit hitam yang berlari kabur dari sebuah ruangan. Si wanita bermaksud menyelamatkan diri dan sembunyi. Tapi nasib berkata lain.

“Hai. Kenapa kamu lari? Pengkhianat!” kata Johnny Mad Dog, seorang anak yang masih berumur 15 tahun itu dalam bahasa lokal setempat. Perempuan yang ditodong itu, tidak bisa menjawab karena begitu ketakutan.
“Udah, langsung tembak, bunuh saja!” ujar si anak yang umurnya masih sekitar 9 tahun itu, dengan warna suaranya yang masih sangat khas anak-anak. Tak hanya senjata otomatis yang menggelantung di pundaknya, tapi juga boneka mainan yang selalu dikalungkan di lehernya. Anak ini, sepertinya, anak buah kepercayaan Mad Dog.

“Tidak. Nanti dulu, sepertinya ia lumayan juga. Aku mau.” kata Mad Dog sambil memandangi wajah dan tubuh tinggi si wanita dewasa.
“Mad Dog, sudah cepat lakukan!” kata anak kecil itu. Anak itu lalu mengokang senjata dan memaksa si perempuan merebahkan diri.

Maka sejurus kemudian, sambil tak henti-hentinya melontarkan makian dan sumpah serapah kepada si wanita, Mad Dog memaksakan hasrat birahinya itu. Kemudian, anak buahnya yang masih amat belia itu pun minta bagian. Dua anak itu telah memperkosa si wanita secara bergantian!

Cerita ini merupakan bagian kecil dari cuplikan sebuah pengalaman kekerasan dan kekejaman Johnny Mad Dog dan teman-temannya yang menjadi tentara anak-anak di kawasan konflik di Liberia.

***

Film berjudul Johnny Mad Dog, garapan Jean-Stephane Sauvaire yang mendapatkan penghargaan Price of Hope di festival Cannes 2008 sangat representatif menggambarkan betapa brutalnya anak-anak yang telah dicuci otak oleh suatu rezim. Film Johnny Mad Dog bercerita tentang tentara anak-anak dengan latar belakang situasi konflik berdarah perang saudara (1989-1993 dan 1999-2003) di Republik Liberia. Sebuah negara di kawasan pesisir barat Afrika. Negara ini sekarang menjadi salah satu negara termiskin di dunia yang kehidupannya benar-benar bergantung pada bantuan dunia internasional. Ekonomi ambruk, dan tingkat pengangguran mencapai lebih dari 85 persen (data 2005). Ribuan penduduknya di berbagai tempat pengungsian termasuk mereka yang lari ke negara-negara tetangga di Sierra Leone, Guinea, dan Pantai Gading, masih sangat trauma.

Chritopher Minie (15) yang memerankan tokoh remaja militan Johnny Mad Dog dan Daisy Victoria Vandie (16) yang memerankan Laokole amat pas melakoni tokoh masing-masing. Johnny berperan sebagai pemimpin regu tentara anak-anak berumur sekitar 9-15 tahun yang bengis. Bukan hanya membunuh, merampok dan menjarah, menembak orang-orang tak bersalah, anak-anak, dan keluarga, tapi juga melakukan perkosaan terhadap remaja dan perempuan dewasa. Dalam film Johnny Mad Dog, digambarkan secara nyata sebuah negeri tanpa aturan, hukum, dan perlindungan HAM, tak ada lagi sopan santun, tak ada lagi rasa hormat anak kepada orang tua, tak ada lagi moral, apalagi simpati dan empati pada orang lain kecuali takluk pada pimpinan kelompoknya sendiri secara eksklusif. Jika tidak taat, maka akan disiksa atau ditembak mati di depan anggota lain.

Tokoh Laokole adalah seorang remaja putri yang hidup miskin dengan seorang ayah cacat kedua kakinya (diamputasi akibat kena senjata) dan seorang adik laki-laki, Fofo (8). Situasi hidup yang serba sulit, membuat Laokole sangat tegar menghadapi berbagai persoalan. Termasuk ketika ayahnya ditembak mati dan adiknya yang raib entah ke mana.

Yang juga cukup unik dari para personel tentara anak-anak ini adalah meski mereka bengis, ngawur, tapi pada hakekatnya mereka adalah tetap anak-anak. Kondisi itulah yang coba digambarkan secara utuh oleh Jean-Stephane Sauvaire. Kostum mereka tetap khas anak-anak. Selain ada personel yang selalu menggantungkan sebuah boneka di pundaknya, ada pula yang berambut gaya Mohawk, ada pula yang selalu menenteng radio-tape besar di punggungnya, dan ada juga seorang tentara anak-anak yang selalu memakai sayap-sayapan serangga seperti milik tokoh malaikat di punggungnya. Bahkan, ada seorang personel yang karena menemukan gaun pengantin saat penjarahan, maka dipakainya baju pengantin perempuan itu ke mana-mana. Konyol tapi lucu. Bagaimana pun mereka adalah anak-anak yang masih mendambakan sebuah model figur, pencarian jati diri. Figur inilah yang seringkali ditiru dan amat berpengaruh dalam perkembangan kejiwaan anak saat masa pertumbuhan. Dalam film Blood Diamond karya sutradara Edward Zwick, sempat pula diceritakan tentang keberadaan kamp tentara anak-anak yang berlatar belakang di Sierra Leone, Afrika.

***

Itulah sebabnya mantan Presiden Liberia Charles Taylor diadili di Mahkamah Internasional di Den Haag. Ia dituduh telah mengorbankan ribuan anak sebagai tentara anak di negeri yang dipimpinnya. Taylor menyangkal, tapi mantan pengawal pribadinya dan dunia memberikan kesaksian yang tak terbantahkan.

Badan PBB yang mengurusi anak-anak, UNICEF mencatat, sedikitnya ada 38 negara di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin mengambil paksa anak-anak (8-16 tahun) dari keluarga atau lingkungan sosialnya untuk dilatih di kamp paramiliter dan dijadikan tentara di negara-negara yang sedang berkonflik. Ketua UNICEF Jerman, Dietrich Garlichs menceritakan, di banyak negara yang terlibat dengan kasus tersebut bukan sekadar mencuci otak anak-anak, dengan memasukkan berbagai ajaran ideologi sektarian, politik yang dangkal, dan keagamaan yang sempit, tapi juga mencekoki mereka dengan narkoba. Dalam beberapa kasus, seperti diceritakan mantan tentara anak, Ishmael Beah, dalam buku memoarnya A Long Way Gone, bahwa kehidupan normal anak-anak telah dicabut. Mulai dari lingkungan terdekat telah hancur, keluarga dihabisi, dan harapan dibuat menjadi suram. Anak-anak di daerah konflik dipojokkan ke dalam situasi tertentu, hingga tidak ada pilihan lain. Ishmael Beah adalah lulusan lembaga pendidikan United Nations International School tempat rehabilitasi mantan tentara anak-anak dan juga anak-anak korban perang.

Lembaga Palang Merah Internasional, ICRC (International Committee of the Red Cross), memperkirakan ada sekitar 500.000 tentara anak-anak di dunia. Sementara sekitar 300 ribu anak ada di Afrika, dan 40% dari mereka adalah anak perempuan. Sebagian besar lainnya, ada di beberapa negara di kawasan Asia dan Amerika Latin. Jumlah itu, tentu tidak termasuk anak-anak yang dipaksa menjadi teroris dan calon pelaku bom bunuh diri di kamp-kamp pelatihan yang amat dirahasiakan. Kepastian data anak-anak yang dijadikan teroris ini sulit diperoleh. Militer dan polisi Pakistan akhir Juli lalu berhasil menemukan kamp rahasia untuk menggembleng anak-anak calon teroris. Puluhan anak dalam kondisi mengenaskan ditemukan di sini. Menurut sumber resmi Pakistan, anak-anak itu diambil paksa dari keluarga mereka di kantong-kantong kelompok Taliban dan dilatih oleh sayap militer Al-Qaidah.

***

Indonesia memang jauh dari daerah-daerah konflik di Afrika, maka secara psikologis juga agak sulit merasa ‘terlibat’ dengan persoalan tentara anak-anak. Tapi ketika Dani Permana pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott, Jumat (17/7) pagi silam, yang kemudian diketahui masih berusia remaja (18) dan baru lulus SMA Juni 2009, kita semua terkaget-kaget. Saya pun sempat lemas. Bagaimana tidak? Saya mempunyai anak yang juga masih remaja dan duduk di bangku SMA.

Saya cukup paham dengan perilaku dan kharakter anak-anak remaja seusia itu. Karena saya pernah mengajar di SD, SMP, dan SMA. Masa usia anak-anak dan remaja itu sangat unik dan lugu, tapi amat rentan hingga mudah dipengaruhi. Perkembangan kejiwaannya sangat khas, sedang mencari figur untuk model dirinya. Maka saya berani mengatakan, perekrut anak-anak untuk suatu misi terorisme atau tentara anak-anak adalah kejahatan kemanusiaan yang tiada duanya. Jangan jadikan anak-anak kita sebagai mesin pembunuh. Stop tentara anak-anak!

harkitnas-harkitti

Vincent Hakim R.

Judul tulisan ini muncul bukan karena terinspirasi oleh nama seorang pakar hukum dari Universitas Indonesia yang saya kagumi dan dulu kerap menjadi narasumber saya saat melakukan peliputan, Harkristuti Harkrisnowo. Bukan.

Judul ini lahir akibat latah belaka. Disadari atau tidak, diakui atau tidak, kita gemar sekali (jika tidak mau disebut doyan atau latah) dengan singkatan. Kata-kata apa pun dalam kehidupan sehari-hari disingkat, misal: TTM (Teman Tapi Mesra), ML (Making Love), SKSD (Sok Kenal Sok Dekat), DPO (Daftar Pencarian Orang), PKL (Praktek Kerja Lapangan), PSK (Pekerja Seks Komersial), ABS (Asal Bapak Senang), dsb. Atau lihat saja nama-nama partai politik, hampir semua singkatan. Selengkapnya »

Allah Milik Siapa?

December - 3 - 2008 110 KOMENTAR
allah-milik-siapa

Vincent Hakim R.

Di sebuah padepokan spiritual seorang murid bertanya pada Sang Guru,

“Guru, sebenarnya Allah itu ada berapa? Dan jikalau benar kata orang, Allah itu tunggal, DIA milik siapa? Siapakah yang berhak memiliki Allah? Samakah Allah kita dengan Allah orang lain?”

Sang Guru tak segera menjawab pertanyaan murid itu. Tapi diam merenungkannya. Ia tahu, betapa mudah menjawab pertanyaan itu secara keilmuan, historis dan teologis. Sang Guru amat paham, dalam kenyataan praktik hidup sehari-hari tidak segampang itu. Manusia melalui kekuasaan, politik, agama, dan berbagai agenda kepentingan membuat persoalan menjadi ruwet. Mengenal dan memahami Allah jadi seolah-olah teramat sangat sulit. Selengkapnya »

Memaafkan dan Mengampuni

November - 13 - 2008 16 KOMENTAR
memaafkan-dan-mengampuni

Vincent Hakim R.

Beban hidup apakah yang paling berat, ketika manusia menjalani hidup bersama dengan sesamanya?

Konon beban hidup terberat yang harus dipikul manusia adalah ketika harus memberikan “maaf” dan “ampun”. Terutama memaafkan dan mengampuni musuh atau orang yang telah membohongi, merugikan, menyakiti, menganiaya, melukai, membunuh, dan menyengsarakan kita lahir batin.

Seorang psikolog yang juga rohaniwan pertapa (almarhum) pernah mengatakan pada saya, bahwa beban hidup yang amat berat (nyaris tak tertanggungkan) akan dialami oleh orang yang tidak mampu memaafkan dan mengampuni kesalahan orang lain. Seorang yang mudah memaafkan kesalahan orang lain, biasanya ia juga akan mudah untuk meminta maaf jika melakukan kesalahan sekecil apa pun. Beban berat orang yang tidak mampu memberikan maaf dan pengampunan akan menjadi beban jiwa. Beban jiwa yang berat akan mempengaruhi kehidupan personal dan sosial sehari-hari. Secara personal, gangguan kesehatan itu akan merenggut raga, mental, dan pikiran sedikit demi sedikit. Dan konon setelah meninggal, jiwa orang yang tidak mampu memaafkan orang lain akan mengalami hambatan menuju nirwana bertemu Sang Pencipta. Selengkapnya »

Memberi dan Menerima

September - 16 - 2008 20 KOMENTAR
memberi-dan-menerima

Kebaikan tak selamanya menghasilkan buah yang manis.

Keluarga Haji Syaikon, sang saudagar kaya di Pasuruan, Jawa Timur, yang akan membagi-bagikan zakat, tentu tidak pernah membayangkan bahwa tujuan mulianya membagikan zakat kepada fakir miskin, berbuntut petaka kematian. Tidak tanggung-tanggung 21 nyawa melayang sekaligus akibat kehabisan oksigen dan terinjak-injak karena berdesak-desakan di antara ribuan orang yang juga ingin mendapatkan zakat.

Tewasnya 21 orang yang mengantri demi mendapatkan zakat Rp 20 ribu amat menyentak dan menusuk nurani saya. Kenyataan, orang miskin masih amat banyak di (negeri ini) sekitar kita. Selengkapnya »

Menuju Indonesia

June - 3 - 2008 17 KOMENTAR
menuju-indonesia

Vincent Hakim R.

Suatu ketika Pak Rajimin, seorang mantan pejuang kemerdekaan, yang kemudian menjadi guru sejarah di sebuah SD negeri cerita bermimpi hadir dalam undangan warga penghuni surga. Dalam suatu sesi, dibentangkanlah layar lebar putih bersih yang sedang menyajikan suatu kehidupan yang begitu nyata.

“Duh Gusti yang Maha-Agung… ini negeri apa?”

“Saya melihat Ibu Pertiwi” katanya. Selengkapnya »

cinta-dan-kesetiaan

Vincent Hakim R.

Cinta memang tidak pernah kering menjadi sumber inspirasi bagi kehidupan. Cinta terukir dalam berbagai wujud, bisa dalam bentuk kata-kata, tindakan, suatu benda simbolis, dan banyak ragam tanda lainnya. Para seniman tak bosan-bosannya memilih tema cinta dalam karya-karyanya. Orang-orang (terutama para penikmat seni) juga tak pernah jengah dengan karya bernuansa cinta. Kategori “cengeng atau bermutu” menjadi tak terlalu penting karena cinta menjadi suatu kebutuhan. Kadang kala orang butuh juga cinta berkharakter cengeng. Atau kadang orang juga memerlukan cinta yang tegar berjiwa heroik.

Cinta tidak berjalan sendiri. Ada kesetiaan. Kolaborasi cinta dan kesetiaan memperkaya khazanah kehidupan menjadi putih bersih beraura positif. Selengkapnya »

Kesederhanaan

March - 31 - 2008 6 KOMENTAR
kesederhanaan

Vincent Hakim R.

Sederhana tidak sesederhana makna kata-katanya.

Keserderhanaan. Sebuah kata yang amat sulit dipahami arti sebenarnya. Mungkin karena biasa dipakai orang untuk “menipu” makna sesungguhnya hingga sering bias. Banyak orang bersembunyi di balik arti kata sederhana. Arti kesederhanaan merangkul pikiran, memeluk erat kata-kata dan perilaku. Dan yang pasti, menyatu dalam kemesraan kedalaman penghayatan hidup spiritual penuh ketulusan. Dalam bahasa Jawa ada kata bermakna filosofis SUMELEH. Artinya: lepas, tulus ikhlas, tanpa beban, tidak ada pretensi negatif apa pun di belakangnya. Ada makna “kepasrahan diri” di sana.

Alkisah ada seorang duda tua miskin yang hidup bersama dua anak. Setelah istrinya meninggal, ia seorang diri mengasuh dua anaknya. Seorang anak laki-lakinya gagah dan tampan. Adiknya seorang perempuan cantik dan cerdas. Kemiskinan Pak Tua dan kondisi kedua anaknya sering jadi perbincangan warga desa. Pak Tua tidak terlalu ambil pusing dengan berbagai omongan orang. Dia tetap hidup sederhana dan rajin bekerja sebagai buruh tani di sawah.

Selengkapnya »

Kata-kata

February - 28 - 2008 17 KOMENTAR
kata-kata

Vincent Hakim R.

Semua berawal dari kata-kata.

Bukan hanya seseorang. Ada banyak orang yang malu dengan kondisi di negeri ini yang tak juga membaik. Bahkan makin hari, kian tidak menentu. Tapi ada juga orang yang bangga dengan kondisi negeri ini, apa pun yang terjadi, bagaimana jua situasi dan kondisinya. Baik-buruk, salah-benar – inilah negeriku. Perbedaan ekspresi atas pemahaman makna cinta negeri pun bisa menjadi salah kaprah tidak karuan.

Negeri ini sejatinya tak pernah punya kesalahan apa pun. Kecuali para penguasa dan orang-orang di sekitarnya yang ikut mendukung kekeliruan turun-temurun. Baik secara sadar atau pun tidak. Nasib orang hanya diombang-ambingkan dengan permainan kata-kata. Selengkapnya »

Kematian

January - 29 - 2008 13 KOMENTAR
kematian

Vincent Hakim R.

Amat beragam perilaku orang menghadapi dan menerima kenyataan kematian. Juga dalam hal memahami makna kematian.

Banyak orang menghadapi kematian dengan duka dan kesedihan yang teramat dalam. Bahkan cenderung menjadi berlebihan dalam menerima kedukaan, ketika ajal itu datang menjemput pada waktunya.

Selengkapnya »

Jati Diri

January - 7 - 2008 13 KOMENTAR
jati-diri

Vincent Hakim R.

Dalam suatu kesempatan liputan ke luar negeri, saya pernah dipanggil petugas imigrasi dan diingatkan agar formulir tentang data diri diisi lengkap.

“Maaf, ini belum Anda isi,” kata perempuan petugas sambil menunjuk kolom agama.

“Apakah harus diisi?” saya bertanya dengan gaya santai sambil agak cengengesan. Selengkapnya »

Sang Waktu

December - 28 - 2007 6 KOMENTAR
sang-waktu

Vincent Hakim R.

Pergantian tahun selalu menjadi ajang pesta perayaan. Pesan biasa di balik perayaan pesta tutup dibarengi ucapan: Selamat tinggal masa lampau selamat datang tahun baru. Selengkapnya »