Monday, March 22, 2010
bonek-fanatisme-ugal-ugalan

Moh Samsul Arifin

Sungguh murah harga nyawa di republik ini. Satu lagi bonek–pendukung Persebaya–meninggal selepas menyaksikan big match Persib vs Persebaya di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Bandung. Ia jatuh dari kereta api yang mengantarnya pulang ke Surabaya. Ini kejadian kedua. Jelang duel klasik dua klub yang memiliki pendukung fanatis itu, A. Fathoni (21) jatuh dari atap kereta di Nganjuk dan meninggal. Yayasan Suporter Surabaya bahkan menyebut korban tewas menjelang dan selepas pertandingan yang berkesudahan [4-2] untuk Persib itu mencapai tiga orang. Satu orang bahkan belum dikenali identitasnya. Korban luka berbilang.

Bonek–bondo nekat–tewas bukan yang pertama. Sudah berkali-kali. Selain jiwa, kerugian material berderet panjang. Sebutlah kerugian panitia pelaksana pertandingan yang harus kehilangan pemasukan sebesar Rp105 juta lantaran harus menggratiskan 7.000 tiket kepada para bonek yang berjubel, Sabtu pekan lalu. PT Kereta Api Daerah Operasi II–yang mengantar pulang pendukung Bajul Ijo–mengaku menangguk rugi Rp1 miliar. Ini belum kerugian lain yang tak terhitung akibat ulah bonek sepanjang jarak Bandung-Surabaya. Inilah potret sepak bola ini, kalau bukan gambar buram bangsa Indonesia. Fanatisme ugal-ugalan–kata ini saya pinjam dari ekonom Rizal Ramli–yang tak hanya membahayakan diri sendiri, juga komunitas tempat sang subyek berdiam serta masyarakat luas.

Kata fanatisme saya gandengkan dengan kata ugal-ugalan bukan tanpa maksud. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 2000), fanatisme diartikan sebagai keyakinan (kepercayaan) yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama, dst). Subyek yang terjebak fanatisme mengekspresikan keyakinan atau kegemarannya atas sesuatu secara berlebihan–kadang membabi buta–sehingga berakibat kuarang baik, bahkan menimbulkan perseteruan dan konflik serius. Penganut agama yang fanatis misalnya kerap masuk perangkap absolutisme–tak menyisakan kebenaran bagi pihak lain. Fanatisme yang kelewat batas sering kali mengantarkan subyek menjadi fundamentalis.

Tentu saja ada pula energi positif yang bisa diraih dari berpikir dan bertindak fanatis. Subyek dapat menenggak kesenangan saat jadi fanatis. Misalnya, penggemar fanatik grup Slank rela membentuk komunitas, lengkap dengan pengurus dan benderanya setiap distrik, meski tanpa bayaran. Subyek melebur dalam komunitas, menerbitkan jejaring sosial dan ekonomi dan akhirnya membentuknya menjadi manusia utuh. Bagi Slank, fansnya yang fanatis adalah berkah melimpah yang mempertebal keyakinannya terus berkarya dan dengan begitu mengisi pundi-pundi grup band tersebut.

Dengan optik sama, Bonek sebetulnya aset bagi Persebaya–sebagaimana juga Viking (Persib), Jakmania (Persija) atau Aremania (Arema). Dari sisi itu eksistensi Bonek layak disyukuri–bukan hanya bagi bagi klub asal Surabaya itu, melainkan bagi eksistensi sepak bola Indonesia yang sekian tahun ini kering prestasi. Bisa dibayangkan pertandingan Liga Indonesia tanpa penonton yang berjubel. Mungkin tetap pertandingan sepak bola, tapi tanpa jiwa karena tak melibatkan publik sebagai penikmat olahraga tersebut.

Yang jadi soal, justru ketika fanatisme itu tidak terkelola. Yayasan Suporter Surabaya menyatakan Bonek yang berulah itu kerap kali bukan bagian dari perkumpulannya. Artinya mereka kumpulan individu (subyek) yang anonim, tak diwadahi dalam perkumpulan suporter. Berbekal uang pas-pasan, mereka bergabung dengan sesamanya dan lalu melebur menjadi kumpulan individu dalam jumlah massal. Ini yang terjadi ketika puluhan ribu Bonek ngluruk ke Bandung untuk mendukung tim kesayangannya bertanding. Alhasil, Bonek tanpa perkumpulan itu berulah di jalanan: mulai dari merampas makanan para pedagang hingga naik kereta api tanpa bekal tiket. Kisah pilu terjadi pada salah seorang yang tewas setelah jatuh dari atap kereta api. Bermodal Rp75 ribu, ia nekat ke Bandung bergabung dengan kawan-kawannya. Nahas, ia terpelanting dan jatuh dari kereta sehingga nyawa tak tertolong.

Inilah ironi subyek. Adalah maklum dalam kerumunan, subyek bisa terlempar jadi manusia anonim–tanpa identitas. Subyek itu melebur dalam kerumunan, sehingga tanpa sadar melakukan hal sama yang dilakukan subyek-subyek lain dalam kerumunan itu. Seorang diri manusia pastilah takut naik atap kereta api, apalagi jika harus menempuh ratusan kilometer Surabaya-Bandung. Namun, bersama individu lain dalam kerumunan, rasa takut itu akan lenyap. Subyek akan kehilangan rasa takut, ia tak peduli pada risiko. Sebaliknya dalam kerumunan, subyek bermetamorfosis jadi diri yang lain.

Itulah yang saya lihat mana kala menyaksikan Jakmania berjubel naik Metromini. Jika seluruh kursi dan ruang penumpang penuh, maka para Jakmania itu pun duduk di atap Metromini. Di jalanan menuju Lebak Bulus atau Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, mereka berjingkrak dan bernyanyi. Memang terselip masalah laten ekonomi di balik ekspresi kumpulan individu yang kini tak lagi memiliki rasa takut itu. Tapi jika saja rasionalitas masih bertahta pada kumpulan individu itu, ia akan berhitung dengan risiko.

Sungguh pun begitu. Marilah belajar dari masa silam. Saya masih ingat. Saat itu musim kompetisi perserikatan 1986/1987. Saya tinggal nun jauh dari Surabaya–kira-kira sejarak 200-an kilometer. Di Jember, mobilisasi yang dilakukan Jawa Pos [koran lokal paling berpengaruh di Surabaya dan Jawa Timur] untuk memompa semangat warga Jatim mendukung Persebaya yang lolos ke peringkat 6 Besar terasa sekali. Koran yang dibesarkan Dahlan Iskan ini menjadi semacam penyelenggara perjalanan bagi warga Jatim yang hendak menyaksikan Persebaya bertanding di Jakarta. Alhasil puluhan ribu warga Surabaya dan sejumlah kota ikut serta. Persebaya masuk final, tapi dibenamkan PSIS sehingga gagal membawa gelar juara ke Kota Pahlawan.

Pada musim berikutnya, Jawa Pos, tetap melakukan hal tersebut. Persebaya yang kala itu di bawah manajer M. Barmen, kini tak memberikan ampun pada PSIS untuk lolos ke 6 Besar di Senayan. Lewat sandiwara sepak bola gajah, Persebaya mengandaskan PSIS setelah secara suka reladihujani 12 gol oleh Persipura. Persebaya pun terbang tinggi. Mereka menjemput gelar setelah membungkam tuan rumah Persija [3-1]. Mustaqim Cs meraih gelar itu berkat suntikan moril para pendukung fanatiknya, bukan bonek yang ugal-ugalan.

Jikalau kita sepakat “tak ada yang setara dengan nyawa”, maka mulai sekarang seluruh pihak harus mampu mengelola fanatisme itu biar tak menerbitkan anarki di jalanan. Bersama kita bisa!

Wow…Zakiah Nurmala

December - 28 - 2009 4 KOMENTAR
wow-zakiah-nurmala

Moh. Samsul Arifin

Perempuan itu Zakiah Nurmala namanya. Berparas manis, kulit langsat, rambut panjang terurai serta senyum menawan. Ia bagai tuak bagi remaja Arai—simpai keramat sepupu tokoh utama tetralogi Laskar Pelangi. Simpai keramat adalah istilah orang Melayu untuk seseorang sebatang kara yang telah ditinggal orangtua dan kakek-neneknya. Arai, tak pelak lagi orang terakhir dari suatu klan. Tapi, pria ini bukan jenis orang pesimis.

Di dalam pikiran dan jiwanya tertanam kuat nasihat ayahnya, “Bermimpilah. Maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu”. Inilah yang ditularkan Arai pada Ikal, juga Jimbron—tiga sekawan yang mengisi Sang Pemimpi besutan Riri Riza yang kini diputar di bioskop-bioskop di sekujur Nusantara. Arai juga meneriakkan kepada Ikal. “Tanpa mimpi dan semangat orang seperti kita akan mati.” Selengkapnya »

Koin, Simbol, dan Kuasa

December - 11 - 2009 6 KOMENTAR
koin-simbol-dan-kuasa

Koin. Kata ini belakangan kerap jadi diskursus publik. Benda ini dihubungkan dengan Prita Mulyasari, wanita yang jadi ‘pesakitan’ gara-gara menulis surat elektronik (email) karena merasa diperlakukan tak sepatutnya oleh sebuah rumah sakit yang membubuhkan kata internasional di belakang namanya. Prita yang mendapat simpati dan dukungan luar biasa dari seluruh capres menjelang Pilpres lalu (di mana mereka kini?) diwajibkan membayar denda Rp204 juta oleh Pengadilan Tinggi Banten. Ini mengilhami sekelompok masyarakat menerbitkan gerakan yang disebut “Koin untuk Keadilan”. Misinya membantu meringankan beban Prita!

Inisiatif macam ini sebetulnya duplikasi dari gerakan koin yang kini makin meluas di sejumlah kota di tanah air, yakni “Coin a Chance” (CaC). Ini tak lain gerakan sosial mengumpulkan uang logam atau biasa disebut recehan yang belakangan makin jarang digunakan. Lebih jarang lagi karena bank sentral menerbitkan uang pecahan Rp2.000 (kertas) sebelum lebaran Idul Fitri lalu. Pecahan yang membuat rupiah kurang bernilai bagi warga miskin karena hanya bisa ditukar dengan dua buah kerupuk. Dengan koin yang dikumpulkannya, CaC berharap rupiah tersebut bisa ditukar dengan sebuah kesempatan bagi anak-anak yang kurang mampu agar dapat melanjutkan sekolah lagi. Selengkapnya »

mbah-surip-jiwa-yang-merdeka

Moh Samsul Arifin

Berbilang tahun kita duduk bersila di acara rutin bulanan Kenduri Cinta (KC) di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Kau tak pernah absen di pengajian yang dipandu Budayawan Emha Ainun Nadjib itu. Sahabatmu, Endang—seorang juru parkir swasta—tak ketinggalan. Maklum bagi Endang, TIM sudah seperti rumah keduanya. Adapun KC adalah “tempat main”-nya—ruang terbuka untuk melepas tawa atau bahkan memungut makna hidup.

Sebagai pemusik kau sabar menunggu, kapan bagianmu pentas. Saat waktunya tiba kau lantunkan “Tak Gendong” atau “Bangun Tidur”. Begitu seterusnya berbilang bulan dan tahun. Ini seperti lagu wajib bagi jamaah KC.

Anehnya, semakin kerap lagu itu kau perdengarkan, hadirin—dari anak-anak hingga manusia lanjut usia sepertimu—tak pernah bosan menikmatinya. Justru kami semakin kangen dan kangen. Kau, Mbah Surip dan lagu-lagumu itu sudah menjadi ikon bagi acara yang dihelat Cak Nun untuk menyemai cinta, kemanusiaan, keberagaman dan segala rupa topik itu. Selengkapnya »

demokrasi-buruk-bagaimana-khilafah

Moh. Samsul Arifin

Rakyat sebagaimana dimaklum adalah entitas yang abstrak. Dalam medan politik, ia senantiasa diperebutkan untuk diatasnamakan, diwakili [representasi] dan dijadikan sumber legitimasi. Inilah mengapa kita perlu instrumen untuk mengukur kehadiran rakyat dalam politik. Kehadiran memastikan rakyat wujud. Di sini ia konkret.

Sistem yang paling mungkin menghadirkan rakyat disebut demokrasi. Sistem ini mensyaratkan rakyat senantiasa wujud dan karenanya konkret. Instrumennya, apalagi jika bukan pemilihan umum (election). Dalam kotak suara, rakyat menyatakan diri. Ia tak hanya hadir di tempat pemungutan suara [TPS], tapi sejatinya memasukkan kehendak. Inilah yang suci dan lalu diterjemahkan dalam angka. Pada titik ini pula demokrasi bertemu dilema. Selengkapnya »

tuan-nyonya-capres-dengarlah-rintihan-dhea

Moh Samsul Arifin

Dhea begitu ia biasa dipanggil. Usianya baru sepuluh tahun. Ia terpaksa melupakan ikut EHB [Evaluasi Hasil Belajar], tengah Juni lalu lantaran tiba-tiba jatuh sakit. Murid SD Aren Jaya 14 Bekasi ini sudah tiga kali pindah rumah sakit. Alih-alih sembuh, penyakit yang dideritanya baru dipastikan setiba di RS yang bersebelahan dengan kampus kedokteran UI Salemba, Jakarta.

Lebih dari dua pekan ia terbaring (kadang tak sadarkan diri, kadang sadar) di ruang gawat darurat (ICU) anak RSCM Jakarta. Dokter yang merawatnya menyebut ia positif mengidap Sindrom Guillain Barre atau SGB. Ini adalah sebentuk kelainan sistem saraf akut yang mengenai radiks spinalis dan saraf perifer, dan kadang saraf kranialis. Mereka yang mengidap SGB bisa dikenali dari sejumlah gejala, mulai dari kelumpuhan, kerusakan saraf dan jika parah bisa menimbulkan koma. Selengkapnya »

pks-di-bawah-bayang-bayang-jilbab

Moh Samsul Arifin

Mencemaskan sekali cara berpolitik tokoh dan aktivis partai di negeri ini. Selain disetir pragmatisme, simbol-simbol agama masih saja dieksploitasi. Yang terakhir jilbab. Kain penutup kepala perempuan Muslim itu masuk panggung politik. Jilbab dikaitkan dengan politik karena dianggapkan bakal menggiring pendukung parpol atau massa Islam untuk mencontreng pasangan calon tertentu dalam pemilihan presiden/wakil presiden.

Kendatipun bukan melekat pada kontestan, jilbab dipandang akan menyetir ke mana arah suara pendukung Partai Keadilan Sejahtera [PKS] yang memang relatif “fanatis” terhadap simbol-simbol agama. Selengkapnya »

kartu-pks-hidup-lagi

Moh Samsul Arifin

Selalu ada jalan untuk kembali. Inilah peluang yang terbuka untuk Partai Keadilan Sejahtera (PKS) setelah Rapimnas Khusus Partai Golkar memutuskan mengusung Jusuf Kalla sebagai capres. Faktor Golkar dan Kalla pulalah yang membuat PKS “sewot” dan mengancam putus koalisi dengan Demokrat jika Yudhoyono tetap berduet dengan Kalla pada Pemilihan Presiden. PKS berkongsi dengan Demokrat mengusung Yudhoyono-Kalla sejak Pilpres putaran kedua tahun 2004 lalu. Bahkan PKS sempat berpikir untuk independen alias tidak masuk dalam blok politik yang telah terbentuk, Poros Cikeas dan Poros Teuku Umar.

Musyawarah Majelis Syuro PKS (25/4/2009) menyebut sejumlah nama untuk ditawarkan pada Demokrat sebagai cawapres yang akan mendampingi Yudhoyono. Nama Hidayat Nurwahid dan Tifatul Sembiring (Presiden PKS) melambung tinggi. Putusan final bakal diumumkan 26 April ini. Selengkapnya »

pemilu-dan-mereka-yang-terpasung

Moh Samsul Arifin

Dalam studi demokrasi, ada postulasi yang nyaris selalu bisa dikonfirmasi di lapangan empiris, bahwa suatu negara telah mencapai demokrasi yang terkonsolidasi mana kala telah melalui tiga kali pemilihan umum demokratis. Selepas rezim otoriter Orde Baru, Indonesia telah melakukannya. Tapi, agaknya terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa demokrasi—bahkan di tingkat dasar sebagai prosedural—telah matang dan karenanya layak dibanggakan.

Mari menengok Pemilihan Umum 2009. Ini pemilihan umum ketiga di zaman reformasi. Namun, benarkah penyelenggaraan pesta demokrasi yang dihelat 9 April lalu lebih baik dari dua perhelatan politik sebelumnya? Selengkapnya »

apa-ahmadiyah-boleh-hidup-di-indonesia

Moh. Samsul Arifin

Seruan—atau lebih tepatnya desakan—untuk membubarkan Ahmadiyah kembali bergema di Jakarta dan Solo, Jawa Tengah. Mengapa di Jakarta dan Solo? Sidang pembaca sekalian bisa dengan mudah mencari keterkaitan dua kota tersebut dengan gerakan anti-Ahmadiyah di tanah air. Jakarta adalah pusat dari segala yang eksis dalam apa yang disebut sebagai Indonesia.

Sedangkan Solo? Ah…masa iya sih saya harus menjelaskan pula.

Forum Umat Islam (FUI) dengan seribuan pendukungnya punya satu jawaban untuk aliran yang didirikan Mirza Ghulam Ahmad ini: Dilarang hidup di bumi Indonesia! Selengkapnya »

mega-sudah-yudhoyono-sudah-jenderal-nagabonar-presiden

Moh. Samsul Arifin

Anda sekalian barang kali sudah menonton Nagabonar atau Nagabonar (Jadi) 2. Nah, sebentar lagi akan beredar lakon lain berjudul “Nagabonar Jadi Presiden?”. Anda pasti menyangka ini fiksi di layar perak atau layar kaca. Salah besar!

Megawati capres lumrah. Yudhoyono capres tentu saja. Sri Sultan capres sedikit luar biasa. Kalla capres kenapa tidak? Deretkan lagi yang lain termasuk calon perseorangan—yang sudah digagalkan Mahkamah Konstitusi—seperti Ratna Sarumpaet, Fajroel Rachman atau Bugiakso (cucu Jenderal Besar Soedirman). Langkah mereka menerbitkan nuansa yang menghangatkan politik nasional.

Bagaimana halnya jika tokoh jenderal pencopet dari Lubuk Pakam [Deddy Mizwar] mencalonkan diri sebagai capres? Ah…ini bercanda, tak serius atau parodi yang disengaja untuk mengolok-olok politisi yang kini kian riuh-rendah memasang-masangkan tokoh satu dengan tokoh lain. Jelang Pemilu Legislatif, parpol kini saling mengintip, menjajaki kemungkinan berkongsi. Soal kepastian siapa yang jadi capres sesungguhnya, tentu saja “kenduri demokrasi” 9 April 2009 yang akan memastikannya. Selengkapnya »

Demokrasi (Sudah) Mati?

February - 3 - 2009 65 KOMENTAR
demokrasi-sudah-mati

Moh Samsul Arifin

Kematian Ketua DPRD Sumatra Utara Abdul Azis Angkat di tengah riuh rendahnya demonstrasi menuntut pembentukan Provinsi Tapanuli adalah sesuatu yang bermakna tunggal: Anarkisme kini kembali berkuasa dan dipilih sebagian masyarakat negeri ini untuk mewujudkan keinginannya.

Ada yang tumpang tindih di sini, mengapa untuk membentuk daerah administrasi baru atau memekarkan provinsi induk, jalan tak beradab yang dipilih? Demokrasi memiliki prosedur, dan tatkala prosedur memperoleh persetujuan parlemen daerah belum dikantongi, apakah jalan kekerasan menjadi absah?

Selengkapnya »

kado-akhir-tahun-mahkamah-konstitusi

Moh Samsul Arifin

Tepuk tangan sambil berdiri (standing ovation) seyogianya diberikan pada para hakim konstitusi atas keputusannya mengabulkan sebagian uji materi atas UU 10/2008 tentang Pemilu. Dengan sebening nurani mereka telah bertindak bak “Judge Bao” (Bao Zheng) yang bijak bestari. Mahkamah Konstitusi menyatakan Pasal 214 huruf a-e bertentangan dengan konstitusi, dan karenanya batal. Ini berarti penentuan siapa yang terpilih menjadi wakil rakyat didasarkan pada suara terbanyak.

Bila disederhanakan, nomor urut tak lagi menentukan. Tak penting lagi nomor urut jadi, nomor urut topi, nomor urut punggung atau nomor urut sepatu! Semua caleg masuk daftar calon tetap, kini memiliki peluang sama untuk melenggang ke parlemen/parlemen daerah.

Selengkapnya »

terhasut-maryamah-karpov

Moh Samsul Arifin

Pejaten-Tugu Pancoran, akhir November 2008. Hujan memukul jendela, menerjang daratan dan menyulut kemacetan hebat. Sudah pasti aku terlambat ke tempat acara. Tapi, sejurus kemudian seseorang di sebelahku membuka bukunya. Gambar biola yang didekap mesra pemainnya menyelinap. Baris-baris kalimat terlintas di depan mataku, “Maryamah Karpov”—Mimpi-mimpi Lintang. Aha…buku ini adalah sekuel yang paling ditunggu para pecinta Laskar Pelangi yang telah difilmkan pula. Provokasikah?

Kali ini, ia tak lagi bercerita soal piawainya Andrea Hirata membingkai cerita, menyusun kata dan melempar mimpi kepada pembaca. Lebih konkret dari itu, ia membacakannya untukku. Lebih setengah jam Pejaten-Tugu Pancoran, 20 halaman telah diperdengarkannya padaku. Aku terhasut…Ya oleh kepintaran seorang Melayu yang tengah bergelut memperoleh master di Universitas Sorbonne, Prancis. Selengkapnya »

Lampu Kuning untuk PKS

November - 19 - 2008 167 KOMENTAR
lampu-kuning-untuk-pks

Moh. Samsul Arifin

Ini bukan kisah soal iklan politik Partai Keadilan Sejahtera. Atau sepak terjang PKS dalam pilkada sepanjang 2005-2008, yang sebagian besar berbuah manis. Melainkan sodokan yang mengejutkan dari partai yang baru nongol 9 September 2001 lalu. Sedikitnya dua hal istimewa diukir Partai Demokrat. Popularitasnya terdongkrak, melewati Partai Golkar dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Popularitas Demokrat sudah mencapai 16,8 persen—sedikit lebih tinggi dari target pada Pemilu tahun depan. Ini berarti lebih dua kali lipat dari angka elektoral yang diraup mereka pada Pemilu 2004, yang hanya 7,45 persen. Sedangkan Golkar 15,9 persen dan PDIP 14,2 persen.

PKS? Partai dakwah ini adalah meteor dalam Pemilu 2004. Mereka menangguk 7,34 persen suara yang setara 45 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat. Alhasil, PKS berubah menjadi partai Islam yang paling serius mengincar partai-partai nasionalis yang selama ini selalu memenangkan pemilu, sejak 1955 hingga 2004. Namun, jajak pendapat terbaru Lembaga Survei Indonesia (LSI), PKS jeblok. Apabila pemilihan anggota DPR diadakan saat survei LSI digelar, hanya 4,9 persen responden yang memilihnya. Jelas, ini lampu kuning bagi PKS yang kini bergerak ke tengah—atau lebih tepatnya lagi mengincar massa nasionalis dan Islam mainstream Indonesia (baca: NU, Muhammadiyah dan Masyumi)—seperti yang ditunjukkan pada iklan menyambut Sumpah Pemuda dan hari Pahlawan. Selengkapnya »