Wednesday, June 19, 2013

Capres Alternatif

April - 13 - 2009 108 KOMENTAR
capres-alternatif

Anton Bahtiar Rifa’i

Hasil hitung cepat (quick count) beberapa lembaga survei, serta hasil penghitungan sementara oleh KPU, atas hasil pemilu legislatif telah memperlihatkan peta koalisi yang mungkin terjadi menjelang pemilihan presiden nanti. Hasil penghitungan itu jelas memperlihatkan bahwa Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Megawati Soekarnoputri akan kembali bertarung dalam pemilihan presiden nanti. Partai Golkar –yang berada dalam tiga besar perolehan suara—lebih cenderung untuk merapat ke kubu SBY. Karena, melanjutkan duet SBY-JK bagaimanapun merupakan pilihan yang paling rasional dan “menjual” pada pemilihan presiden nanti. Sementara partai-partai papan tengah juga akan merapat ke salah satu kubu.

Maka, jika bola politik bergulir seperti itu, rakyat pun akan kembali disuguhi pertarungan ulang seperti pemilihan presiden tahun 2004 lalu: SBY vs Megawati. Realita ini memperlihatkan bahwa selama lima tahun berjalan, Indonesia tidak mampu melahirkan tokoh baru dalam bursa calon presiden. Lebih spesifik lagi, ini merupakan bukti bahwa partai politik telah gagal melahirkan tokoh alternatif untuk rakyat. Selengkapnya »

slumdog-millionaire-wajah-kemiskinan-yang-kelam

Anton Bahtiar Rifa’i

Kemiskinan selalu menyisakan ruang gelap. Potret tentang kelamnya kemiskinan terurai dalam nasib hidup Jamal Malik, lelaki berperawakan agak kurus asal sebuah kawasan kumuh di Mumbai, India. Tokoh dalam film Slumdog Millionaire itu kemudian sampai pada suatu titik penting yang akan menentukan arah hidupnya: apakah ruang gelap itu akan menjadi sesuatu yang terang benderang ataukah akan tetap gelap.

Jamal Malik, tokoh yang diperankan aktor Dev Patel, mendapat kesempatan mengikuti sebuah acara kuis di televisi, Who Wants To Be A Millionaire, untuk memperebutkan hadiah 20 juta rupee. Jamal dapat menjawab satu per satu pertanyaan dalam kuis tersebut. Namun, saat selangkah lagi menuju hadiah utama, Jamal mendapat ujian berat. Karena berasal dari keluarga miskin dan tidak berpendidikan, ia dituduh berbuat curang. Interogasi polisi yang disertai siksaan –adegan ini menjadi pembuka film—harus dihadapi Jamal.  Selengkapnya »

Poros Tengah Jilid II

December - 16 - 2008 36 KOMENTAR
poros-tengah-jilid-ii

Anton Bahtiar Rifa’i

Dalam politik, selalu ada kreatifitas untuk menciptakan kemungkinan-kemungkinan. Ketika wacana menghidupkan kembali Poros Tengah digulirkan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, sesungguhnya sebuah kemungkinan baru tengah ditawarkan. Tawaran menghidupkan lagi Poros Tengah –yakni menyatukan kekuatan parpol-parpol berbasis massa Islam seperti tahun 1999—merupakan respon atas UU Pilpres yang mencantumkan syarat 20 persen kursi parlemen atau 25 persen suara sah nasional untuk pencalonan presiden. Ketentuan UU tersebut dianggap hanya menguntungkan parpol besar.

Meski sistem politik kini telah berubah, secara esensi  keberadaan Poros Tengah tetap kontekstual, yakni untuk menjadi kekuatan penyeimbang bagi dominasi parpol besar. Mungkin tingkat pencapaiannya saja yang berbeda. Karena, yang perlu diingat, Poros Tengah hanya efektif dimainkan di tingkat parlementer. Pada tahun 1999, ketika presiden masih dipilih oleh MPR, pencapaian keberhasilan Poros Tengah diraih saat pemilihan presiden. Jika Poros Tengah dihidupkan kembali pada tahun 2009, maka pencapaian maksimal yang mungkin bisa diraih adalah saat pencalonan presiden, yakni memunculkan calon presiden alternatif.  Setelah itu, pilihan akan tetap ditentukan oleh rakyat. Selengkapnya »

Willy

November - 7 - 2008 11 KOMENTAR
willy

Anton Bahtiar Rifa’i

Suasana suka cita tentu menyelimuti sebuah rumah di kawasan Cipayung Jaya, Depok, Jawa Barat, pada 7 Nopember ini. Salah seorang penghuni rumah, WS Rendra, berulang tahun yang ke-73. Usia yang sudah tergolong senja, tentunya. Perjalanan panjang yang telah dilalui Si Burung Merak itu, baik sebagai penyair maupun dramawan, telah menyisakan hamparan kenangan bagi banyak orang.

Ah, saya juga mengenang suatu hari yang tersapu gerimis. Di hari itu, saya bertugas mewawancarai Rendra di kediamannya–sekaligus memintanya membaca puisi, untuk melengkapi liputan saya tentang kilas balik peristiwa Mei 1998. Mas Willy –demikian Rendra biasa dipanggil—menyambut kami dengan bersahabat. Di rumah yang asri, hanya di hadapan saya, juru kamera, dan pembantu rumah, suara khas Rendra bergema membacakan sajak: Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja. Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan. Amarah merajalela tanpa alamat. Ketakutan muncul dari sampah kehidupan.” Selengkapnya »

pilpres-dalam-kendali-parpol

Anton Bahtiar Rifa’i

Pertarungan segera dimulai. Aturan main pemilihan presiden dan wakil presiden telah disepakati, setelah Rapat Paripurna DPR menyetujui pengesahan RUU Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres). Pesan dari RUU itu sudah jelas: untuk mencalonkan presiden dan wakil presiden, setiap partai politik (parpol) cenderung harus berkoalisi. Selain itu, dalam Pemilu 2009 nanti, jika mengacu pada syarat minimal suara sah nasional yang harus dimiliki parpol atau gabungan parpol, maksimal hanya akan ada empat pasangan capres-cawapres yang akan bertarung. Syarat minimal 20 persen perolehan kursi di DPR atau 25 persen suara sah nasional untuk mencalonkan presiden, pasti akan sulit dipenuhi parpol. Maka, koalisi pun menjadi keniscayaan.

Aturan main seperti itu sudah pasti akan merubah konfigurasi peta capres-cawapres yang akan bertarung. Ketentuan ini juga membenamkan harapan orang-orang yang ingin maju sebagai capres lewat jalur perseorangan. Jangankan tanpa parpol, melalui kendaraan parpol pun seorang tokoh akan kesulitan untuk maju sebagai capres. Realita ini jelas mengindikasikan kuatnya kendali parpol yang saat ini berkuasa di parlemen, dalam membuat aturan main pemilihan presiden. Selengkapnya »

kantata-takwa-dan-panggung-yang-redup

Anton Bahtiar Rifa’i

Hari Minggu (28/9) lalu, program Liputan 6 Pagi SCTV menayangkan perbincangan tentang film Kantata Takwa, dengan menghadirkan sutradara Eros Djarot dan personel Kantata Takwa, Yockie Suryoprayogo. Sayang sekali, personel Kantata Takwa lainnya, Iwan Fals, Sawung Jabo, WS Rendra, dan Setiawan Djody, tidak bisa hadir di studio. Djody sedang berada di Singapura, sementara Jabo sedang di Australia. Film Kantata Takwa  merupakan film semi dokumenter yang merekam perjalanan konser Kantata Takwa di tahun 1990-an. Film yang disutradarai Eros Djarot dan Gotot Prakosa ini baru dirilis pekan lalu, setelah penggarapannya sempat terhenti selama 18 tahun.

Ketika menyiapkan materi untuk tayangan dialog tersebut, ingatan saya melayang ke masa 18 tahun silam. Ketika itu, saya masih remaja belasan tahun. Saya dan teman-teman pada masa itu merasakan luapan gegap gempita ketika sekelompok seniman yang tergabung dalam Swami, kemudian bermetamorfosa menjadi Kantata Takwa, hadir mengobarkan suatu semangat baru. Dengan Kantata Takwa, kami tak sekadar menikmati musik dan nyanyian. Kami juga merasa mendapat suntikan semangat dan keyakinan. Generasi kami kala itu memang hidup dalam suatu zaman, ketika arti demokrasi dan kebebasan terasa hambar. Selengkapnya »

ujian-nasional-dan-kegundahan-guru

Anton Bahtiar Rifa’i 

Ah, pendidikan kita terasa begitu dekat dengan dunia kriminal. Dari koran yang baru saja saya baca, Kepala Sekolah dan empat guru di Menes, Pandeglang, ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi. Mereka diduga membocorkan soal-soal Ujian Nasional (UN). Ini menambah panjang cerita tentang tenaga pendidik yang dikriminalkan menyusul pelaksanaan UN. Di Lubuk Pakam, misalnya, beberapa waktu lalu belasan guru SMA menjadi tersangka karena mengubah lembar jawaban UN murid-murid mereka. Para guru itu digerebek oleh anggota Detasemen Khusus 88 Anti Teror Kepolisian Daerah Sumatera Utara, dengan diwarnai tembakan senapan. Semua peristiwa itu terjadi atas nama UN. Mungkinkah UN telah menjadi “berhala”?

Tulisan ini bukan untuk memberikan pembenaran atas kecurangan yang dilakukan para guru. Hanya saja, kita perlu melihat lagi, bahwa kecurangan itu bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Seperti dalam kisah seorang ayah yang mencuri makanan untuk anaknya karena takut sang anak akan kelaparan, maka tindak kriminal itu harus dimengerti sebagai sesuatu yang lahir dari sebuah tekanan. Di sisi lain, pemerintah juga tidak bisa lepas tangan begitu saja, seolah-olah ini hanya persoalan hukum dan pembocoran rahasia negara. Bagaimanapun, banyaknya pelanggaran UN merupakan ekses dari kebijakan pendidikan nasional, dan harus dilihat melalui kacamata sistem pendidikan. Selengkapnya »

slank-generasi-biru-dan-dpr-yang-gagap

Anton Bahtiar Rifa’i

Di awal dekade 1990-an, lima anak muda tampil di layar TVRI. Dengan gaya seenaknya meski agak sedikit kikuk, mereka menyanyikan lagu dalam iringan musik rock ‘n’ roll yang keras: “Memang, kantongku memang kering. Jangan menghina, yang penting bukannya maling. Memang, jaketku memang kotor. Jangan menghina, yang penting bukan koruptor……” Kelima anak muda yang tergabung dalam grup Slank itu–Bimbim (drum), Kaka (vokal), Pay (gitar), Indra (kibor), dan Bongki (bas)—tengah menyanyikan lagu Memang dari album Suit Suit He He. Saat itu, sesungguhnya publik tengah menjadi saksi: musik rock Indonesia tengah memasuki fase baru.

Selengkapnya »

Sjuman Djaya

March - 29 - 2008 4 KOMENTAR
sjuman-djaya

Anton Bahtiar Rifa’i

30 Maret, Hari Film Nasional. Dan, saya teringat film-film garapan almarhum Sjuman Djaya. Saya memang baru menonton beberapa dari 16 judul film karya sutradara sekaligus penulis skenario yang langganan Piala Citra itu. Namun, kesan itu melekat kuat: film-film garapan Sjuman selalu memancarkan bahasa jiwa yang kuat. Karyanya seringkali mengartikulasikan suatu kegelisahan atas realitas sosial.

Salah satu film Sjuman yang paling saya ingat adalah Si Doel Anak Betawi (1973), dibintangi Rano Karno yang ketika itu masih anak-anak. Film ini sangat menghibur. Namun, pencapaian Sjuman dalam berkarya tampaknya tidak pernah berhenti pada sebatas kata “menghibur”. Lewat film yang diadaptasi dari novel karya Aman Datoek Madjoindo itu, Sjuman – kelahiran Purworejo yang lebih merasa sebagai Anak Betawi—menyampaikan kegelisahan tentang nasib orang-orang Betawi yang terpinggirkan. Selengkapnya »

Lapar

March - 24 - 2008 5 KOMENTAR
lapar

Anton Bahtiar Rifa’i

Udara ini sudah terlalu bergemuruh bagi segala keluh kesah. Hari sudah terlalu letih bagi jiwa-jiwa yang murung. Lantas, kemanakah lelaki itu akan membawa kegelisahan hatinya? Nadi, lelaki itu, hanya bisa duduk dengan wajah kuyu di hadapan majelis hakim. Dalam tatapan matanya, bergulung kegelisahan.

Semua itu bermula dari ketakutan Nadi akan rasa lapar. Anak yatim warga desa Rancasanggal, Cinangka, Kabupaten Serang, itu adalah tulang punggung bagi ibu dan enam adiknya. Lelaki berusia 27 tahun itu mencari nafkah sebagai kuli panggul kayu setiap ada penebangan pohon di kampungnya. Namun, tidak setiap hari ada pohon untuk ditebang. Jika tak ada pohon untuk ditebang, itu berarti: tak ada upah untuk membeli beras. Selengkapnya »

Dalai Lama

March - 19 - 2008 10 KOMENTAR
dalai-lama

Anton Bahtiar Rifa’i

Tahun 1933, bertepatan dengan tahun Burung Air, Tibet diselimuti mendung kesedihan. Pemimpin mereka, Dalai Lama ke-13, meninggal dunia. Namun dalam keyakinan Budha Mahayana, satu dari dua sekte besar Budhisme, para pemimpin agama akan mengalami reinkarnasi dan mereka sendiri yang dapat mengendalikan prosesnya. Selama reinkarnasi Dalai Lama belum ditemukan, maka pemerintahan Tibet dipimpin oleh Wali.

Melanjutkan tradisi yang sudah berjalan selama berabad-abad, seperti terurai dalam buku Reincarnation yang ditulis wartawati Daily Mail Vicki Mackenzie, orang-orang bijak dan para petapa Budhis mulai mencari tanda-tanda datangnya dewa-raja yang akan memimpin mereka di masa yang akan datang. Suatu ketika, sang Wali pergi menuju telaga sakral, Lhamo Namtso, 140 kilometer di tenggara Lhasa, tempat “orang-orang pintar” menatap ke dalam air untuk memperoleh gambaran tentang masa depan. Saat sang Wali menatap ke telaga–sementara angin bertiup dan air telaga yang biru berubah menjadi putih—ia melihat gambaran suatu tempat, di mana pohon persik sedang berbunga dan seorang wanita menggendong bayi. Wali pun mahfum, ia telah melihat pemimpinnya di masa depan. Tahun 1950, Tenzin Gyatso atau Dalai Lama ke-14 menjadi kepala Negara dalam usia 15 tahun. Selengkapnya »

Delapan Besar

January - 17 - 2008 14 KOMENTAR
delapan-besar

Anton Bahtiar Rifa’i

Selain kodratnya sebagai olahraga, sepakbola acapkali hadir dalam wujud jiwa yang lain. Ia sesekali menjadi semacam seni pertunjukan. Terkadang ia juga dibebani harapan untuk melunaskan dahaga publik yang larut dalam suatu drama kompetisi. Babak delapan besar Liga Indonesia yang kini tengah digelar di Solo dan Kediri –belakangan dipindahkan ke Sidoarjo akibat kerusuhan–menjadi gambaran bahwa sepakbola tanah air kini sedang menampakkan dirinya sebagai sebuah drama, di mana ribuan orang Indonesia menggantungkan harapan akan cerita yang gegap-gempita, meskipun mungkin sedikit diwarnai sentimen primordial. Selengkapnya »

2008

December - 29 - 2007 9 KOMENTAR
2008

Anton Bahtiar Rifa’i

Menatap 2008 dalam gundah. Adakah di sana kemungkinan-kemungkinan baru, ataukah kita hanya akan mendapati almanak menjadi lembaran-lembaran usang? Kita telah menggulung rangkaian tanggal dalam gelombang harapan yang bergemuruh, namun hanya gundah yang menepi.

Ketika di akhir tahun ini jutaan orang Indonesia berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan –bahkan dalam bungkus ritual materialistik– Achwan Alwaris justru telah melunaskan kemungkinan hidupnya di sudut kemuraman gang sempit di kawasan Gubeng, Surabaya. Sebuah rumah petak triplek yang pengap ditempati lelaki berusia 80 tahun itu, dengan biaya sewa lima puluh ribu rupiah per bulan. Rumah itu sebenarnya tak layak disebut rumah, karena hanya ada satu ruangan dengan dipan dan lemari usang di dalamnya, serta tungku hitam di bawah jendela.

Siapakah Waris?

Selengkapnya »