Tuesday, June 18, 2013
melawan-egoisme-elite-sepak-bola

Anton Bahtiar Rifa’i

“Mudah-mudahan kedatangan mereka akan membukakan mata,” ucap Nil Maizar. Pelatih timnas senior Indonesia itu sedang sedang berbicara soal bergabungnya pemain asal Indonesia Super League (ISL), seperti Bambang Pamungkas, Firman Utina, dan Ponaryo Astaman ke dalam tim yang dibesutnya untuk kejuaraan sepak bola paling bergengsi di level Asia Tenggara, Piala AFF. “Membukakan mata” yang diucapkan pria kelahiran Payakumbuh, Sumatera Barat, itu jelas ditujukan untuk kalangan elite sepak bola Indonesia yang terus berkonflik. Ucapan Nil, serta bergabungnya pemain senior ISL ke dalam timnas, bisa jadi merupakan bentuk perlawanan halus terhadap egoisme para elite yang terus mengangkangi sepak bola Indonesia.

Konflik elite sepak bola itu memang sudah semakin berisik. Dan kita merasakannya seperti badai: penuh gemuruh kebencian dan kemudian hanya menyisakan keporakporandaan. Keporakporandaan paling parah terutama terjadi pada tim nasional Indonesia. Kekalahan 0-10 dari Bahrain, serta anjloknya Indonesia di peringkat 153 FIFA, adalah gambaran nyata tentang tentang terpuruknya prestasi sepak bola Indonesia. Sementara komposisi pemain timnas Indonesia tidak bisa disusun secara ideal, karena salah satu pihak selalu menolak mengizinkan pemainnya memperkuat timnas. Ini artinya: dua tahun pertikaian antarkubu ternyata hanya menyisakan kesia-siaan belaka. Ironisnya, Indonesia sebenarnya mempunyai banyak aset pemain berkualitas, baik yang tersebar di Indonesia maupun mancanegara.

Kita tentu mafhum, masing-masing kubu elite sepak bola yang bertikai sesungguhnya mewakili kekuatan uang. Celakanya, semua pihak –termasuk negara– hanya bisa membiarkan ketika kekuatan uang itu merampas mimpi tentang kejayaan sepak bola Indonesia. Kesepakatan damai antara PSSI dan KPSI, yang diikuti pembentukan Joint Committee, sempat menjadi titik terang bagi masa depan sepak bola Indonesia. Namun lagi-lagi, kita hanya mendapati kegelapan, karena kebencian masih bergemuruh. KPSI, yang menaungi ISL, tetap menolak melepaskan pemainnya untuk memperkuat timnas.

Padahal, seperti ditulis mantan kapten timnas Bambang Pamungkas dalam blog pribadinya, sesungguhnya saat ini tak ada lagi alasan untuk menolak memperkuat timnas. Karena, musim kompetisi liga sudah berakhir. Selain itu, Piala AFF yang akan dihadapi timnas sudah jelas merupakan agenda FIFA. Sementara proses rekonsiliasi kedua kubu sedang berjalan melalui wadah Joint Committee. Jika salah satu pihak masih berkilah dan menolak membela merah putih, maka kita hanya bisa berpikir: bahwa yang mereka bela bukanlah Indonesia, tetapi egoisme pribadi.

Maka saya pun mengapresiasi kemauan para pemain asal ISL –tanpa mengecilkan keberadaan pemain IPL– yang berani bergabung bersama timnas meski dibayangi berbagai ancaman sanksi. Juga kemauan Nil Maizar yang menerima keberadaan mereka sebagai satu kesatuan: merah putih. Ini akan menjadi awal perlawanan terhadap egoisme para elite yang terus membelenggu prestasi sepak bola Indonesia. Tentu, ini harus diikuti oleh perlawanan yang lebih besar. Bayangkan, banyak anak-anak dan remaja dari Sabang sampai Merauke yang menggantungkan cita-cita yang tinggi di bidang sepak bola. Bahkan mimpi itu lebih tinggi dari pencapaian yang pernah diraih Andi Ramang, Anjas Asmara, Ricky Yacobi, Kurniawan Dwi Yulianto, hingga Bambang Pamungkas. Jangan sampai, mimpi mereka layu dan terhempas oleh egoisme elite sepak bola.

 

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi, dan tidak mewakili lembaga.

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

8 Komentar pada “Melawan Egoisme Elite Sepak Bola”

  1. inoe says:

    semoga timnas jaya.

  2. Jayalah sepakbola Indonesia says:

    Sudah lama konflik ini berlangsung, dan sampai sekarang tidak ada tanda-tanda jika hal ini bakal segera diselesaikan. Kedua belah pihak masih bertahan dengan egoisme masing-masing yang berbuntut pada keterpurukan timnas. Kepada bapak2 pengurus KPSI dan PSSI yg terhormat, ingatlah bahwa bangsa ini tidak membutuhkan kalian yg saling berebut kekuasaan, bangsa ini hanya butuh orang2 yang benar-benar peduli terhadap sepakbola Indonesia.

  3. sahrul says:

    sekarang mlh mo ada timnas tandingan. makin ancurrr aje.

  4. I KETUT SUTAWIJAYA says:

    Baik yg mengatasnamakan kelompok maupun oknum2 pribadi yg masih bersikukuh atas egonya masing2 utk mempermasalahkan bergabungnya para pemain ISL dan IPL demi kemajuan sepakbola Indonesia lebih baik gak usah dijadikan pengurus persepak-bolaan di Indonesia,saya SALUT dan MENDUKUNG para pemain yg mau bergabung di timnas baik yg dari ISL maupun IPL DEMI KEMAJUAN SEPAKBOLA INDONESIA.

  5. farid says:

    Penghancur PSSI yang sebenarnya adalah JOHAR ARIFIN…. silakan dirunut!

  6. oo fauzan says:

    saya mungkin penggila bola yg paling gila bola,yg saat ini gila karna melihat persepak bolaan kita yg semakin semrawut,kalau saja sampai nanti kongres diadakan dan tidak ada hasil yg jelas untuk sepak bola Indonesia,saya memohon dan meminta pemerintah untuk mengambil alih meskipun dengan resiko Indonesia terkena skorsing FIFA dan semua pengurus dari kedua kubu jangan dilibatkan kembali untuk mengurusi PSSI.

  7. jetee liem says:

    orang ndeso sepert saya juga tahu bahwa biang keladiinya adalah prof johar , knapa dulu liga resmi ngak isl aja , knapa pssi prof di bikin tandingan , blum lgi mbuat klub kloningan..coba smua brpikir , anak kita skolah sbagai standart adalah rangking … pssi standart rangking fifa ..skarang rangking kita terjun bebas brarti pssi johar gagal total klau johar spai 5 thun pimpin pssi bisa2 pssi rangking kalah sama timor leste …mau bkin malu apalagi bangsa ini .

  8. lovetimnas.blogspot.com says:

    BAGAIMANA CARANYA AGAR PARA ELIT YANG BERSETERU BISA BUKA MATA YA???… PEPATAH BILANG ” LEBIH BAIK KERBAU DARIPADA KANCIL “

Tinggalkan Komentar