Anton Bahtiar Rifa’i
“Mudah-mudahan kedatangan mereka akan membukakan mata,” ucap Nil Maizar. Pelatih timnas senior Indonesia itu sedang sedang berbicara soal bergabungnya pemain asal Indonesia Super League (ISL), seperti Bambang Pamungkas, Firman Utina, dan Ponaryo Astaman ke dalam tim yang dibesutnya untuk kejuaraan sepak bola paling bergengsi di level Asia Tenggara, Piala AFF. “Membukakan mata” yang diucapkan pria kelahiran Payakumbuh, Sumatera Barat, itu jelas ditujukan untuk kalangan elite sepak bola Indonesia yang terus berkonflik. Ucapan Nil, serta bergabungnya pemain senior ISL ke dalam timnas, bisa jadi merupakan bentuk perlawanan halus terhadap egoisme para elite yang terus mengangkangi sepak bola Indonesia.
Konflik elite sepak bola itu memang sudah semakin berisik. Dan kita merasakannya seperti badai: penuh gemuruh kebencian dan kemudian hanya menyisakan keporakporandaan. Keporakporandaan paling parah terutama terjadi pada tim nasional Indonesia. Kekalahan 0-10 dari Bahrain, serta anjloknya Indonesia di peringkat 153 FIFA, adalah gambaran nyata tentang tentang terpuruknya prestasi sepak bola Indonesia. Sementara komposisi pemain timnas Indonesia tidak bisa disusun secara ideal, karena salah satu pihak selalu menolak mengizinkan pemainnya memperkuat timnas. Ini artinya: dua tahun pertikaian antarkubu ternyata hanya menyisakan kesia-siaan belaka. Ironisnya, Indonesia sebenarnya mempunyai banyak aset pemain berkualitas, baik yang tersebar di Indonesia maupun mancanegara. Selengkapnya »
