Monday, May 20, 2013

Tendangan Dua Belas Pas

July - 6 - 2012
tendangan-dua-belas-pas

Achmad Yani Yustiawan

Sejarah telah ditorehkan Spanyol di Piala Eropa 2012. La Furia Roja kini tercatat sebagai tim di dunia yang berhasil merengkuh tiga turnamen besar secara beruntun. Piala Dunia 2010 kemudian jadi King of Euro berturut-turut (2008-2012).

Ada catatan kecil yang cukup menarik dari pagelaran Euro 2012 Polandia-Ukraina kali ini. Bukan tim Matador, tapi tentang adu penalti. Terdapat dua sisi menarik soal adu penalti ini. Pertama, tentang teknik penalti yang disebut penalti Panenka. Tendangan penalti dengan cara menyontek bola ini diperagakan pemain belakang Spanyol Sergio Ramos dan pemain Italia Andrea Pirlo.

Kedua, gara-gara tendangan gaya Panenka pula, Inggris dan Portugal harus tersingkir dari ajang Piala Eropa. Sepakan Sergio Ramos membawa Spanyol maju ke final usai mengalahkan Portugal. Sedangkan Pirlo melakukan Panenka saat Italia menundukan Inggris di babak perempat final.

Suka atau tidak, senang atau sedih, Inggris dan Portugal harus angkat koper gara-gara adu penalti. Menyakitkan, demikian sebagian orang menggambarkan kekalahan itu.

Inggris yang diawal perjalanannya sempat diragukan banyak kalangan, ketika bertemu Italia justru grafik permainannya tengah menanjak. “Kami tersisih tanpa terkalahkan, pulang dengan kepala tegak,” ujar pelatih “The Three Lions” Roy Hodgson.

Asa tinggi juga sedang dirasakan Portugal ketika bertarung melawan juara bertahan Spanyol. Tapi apa yang terjadi. Cristiano “CR 7″ Ronaldo hanya bisa terpana setelah menyaksikan bola tendangan Cesc Fabregas menyentuh tiang lalu bergulir masuk gawang. Bintang Portugal ini, seakan tak percaya langkah negaranya harus terhenti di babak semi final karena kalah adu penalti.

Adu penalti—-ada yang menyebut tendangan dua belas pas—merupakan cara yang sekarang sering dipakai untuk menentukan pemenang dalam pertandingan sepak bola yang harus diakhiri dengan kemenangan/kekalahan (tidak bisa seri). Adu penalti dilakukan setelah pertandingan berlangsung 90 menit dan dilanjutkan dengan 2 kali 15 menit perpanjangan waktu, namun keadaan masih seri.

Konon adu penalti pertama kali diusulkan pada 1970 oleh seorang wasit dari Penzberg, Bavaria, Jerman yang bernama Karl Wald. Saat itu, jika keadaan seri setelah perpanjangan waktu pemenang ditentukan dengan undian menggunakan koin. Karena menganggap cara ini sangat untung-untungan, ia mengusulkan adu penalti kepada ketua persatuan sepak bola Bavaria.

Klaim lain mengatakan bahwa adu penalti diusulkan pertama kali di Inggris dan juga di Israel. Adu penalti pertama kali dilakukan di Inggris pada 1970 antara Hull City dan Manchester United (MU) dalam Watney Cup (Piala Liga di Inggris) yang dimenangi MU.

Drama adu penalti memang selalu menyisakan cerita, entah itu kenangan manis atau pahit. Bahkan, sejarah buruk yang dialami sebuah tim seolah menghantui perjalanan kedepan kesebelasan itu. Inggris, misalnya. Kegagalan di Euro 2012 seperti menambah “kutukan”. Inggris sudah enam kali kalah dalam 7 babak adu penalti yang pernah mereka lakoni dalam kompetisi resmi level internasional.

Entah ada kaitannya atau tidak, belakangan cara penyelesaian pertandingan lewat adu penalti mulai dipertanyakan. Tak tanggung-tanggung salah satu orang yang mempersoalkannya adalah Presiden Badan Sepak Bola Dunia (FIFA). Presiden FIFA, Sepp Blatter, tak senang penentuan pertandingan dengan adu penalti. Menurutnya, sepak bola bisa menjadi tragedi jika harus ditentukan dengan adu penalti.

Blatter berharap di masa yang akan datang akan ada alternatif pengganti adu penalti. “Sepak bola bisa menjadi tragedi ketika Anda harus melalui adu penalti. Sepak bola tak seharusnya satu lawan satu. Ketika sepak bola melalui adu penalti maka esensinya akan hilang,” tutur Blatter seperti dilansir Soccerway.

Duel penendang dengan kiper ini juga dicap “miring” lantaran lebih berbau keberuntungan. Siapa yang dinaungi Dewi Fortuna akan keluar jadi pemenang. Menurut pelatih Italia Cesare Prandelli, adu penalti itu ibarat lotere. Sekitar 80 persen adalah keberuntungan.

Boleh jadi omongan Prandelli benar. Menjadi penendang penalti itu memang tak gampang. Kelelahan dan tekanan psikologis bisa sangat mempengaruhi peluang mencetak gol. Pemain-pemain top dunia saja tak jarang melakukan kesalahan. Lionel Messi pernah gagal mengeksekusi penalti. Padahal, jika bermain normal pemain Argentina itu, bisa mencetak gol meski dalam sudut sempit dan dijaga beberapa pemain.

Jadi, cara apa yang harus digunakan agar pertandingan berakhir dengan adil dan tak menyesakan. Dikocok seperti arisan, juara bersama, atau lempar koin seperti yang terjadi pada Piala Eropa 1968.

Ketika itu di laga semi final tuan rumah Italia tengah berjuang keras meladeni tantangan salah satu raksasa sepak bola saat itu, Uni Soviet. ”Kami pergi menuju ruang ganti bersama-sama. Ketika itu wasit mengeluarkan sebuah koin tua, dan aku memilih sisi ekor. Dan itu adalah pilihan yang tepat dan Italia melaju ke final,” kenang kapten Italia, Giacinto Facchetti yang menjadi saksi undian tersebut seperti dilansir situs resmi UEFA.

Hingga sekarang belum lagi terdengar wacana soal pilihan lain pengganti adu penalti. Blatter sendiri hanya mengatakan, mungkin bukan di hari ini, namun di masa yang akan datang.

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

1 Komentar pada “Tendangan Dua Belas Pas”

  1. resep bagus says:

    masih ingat sama tenndangan2 maut itu, spanyol memang idolaku banget

Tinggalkan Komentar