Thursday, May 23, 2013
melawan-korupsi-melawan-lupa

Yus Ariyanto

Di paruh pertama 1990-an, kalimat Milan Kundera ini mulai dikenal: “The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting.” Ada di The Unbearable Lightness of Being, kebanyakan pengutipnya di Indonesia belum membaca dari sumber aslinya. Seingat saya, cendekiawan Mochtar Pabottingi merupakan salah seorang yang pertama kali memulungnya untuk menonjok Orde Baru. Kalimat ini begitu mengena dan bertenaga, lantas menjadi tagline baru para aktivis prodemokrasi.

Pada Juni ini, kalimat itu bergema lagi saat korupedia.org diluncurkan. Ini adalah sebuah situs yang menghimpun data kasus dan pelaku korupsi di Indonesia.  Hanya kasus yang telah berkekuatan hukum tetap akan dipublikasikan. Maka, kita tak akan menemukan kasus Eddy Tansil yang membawa lari duit Bank Bapindo, misalnya. Boro-boro divonis, ditemukan pun dia belum.

Masih jauh dari komplet, terus dilengkapi datanya. Ini memang bukan kerja main-main mengingat banyaknya perkara korupsi di Indonesia. Pada Jumat (22/6) malam, sebagai contoh, saya iseng-iseng mengetik “Panda Nababan” di search engine situs tersebut. Nihil. Haqqul yakin lantaran memang belum sempat dicatat dan dimasukkan. Bersama sejumlah rekannya, politisi PDI Perjuangan itu dinyatakan bersalah karena menerima cek pelawat terkait pemilihan Miranda S. Goeltom sebagai Deputi Senior Bank Indonesia. Ia divonis satu tahun dan lima bulan penjara.

Hadir sejumlah jurnalis, praktisi hubungan masyarakat, juga aktivis LSM yang mendirikan situs ini. Mari simak di Tentang Kami:

“…para para pencuri dan penjarah itu acap berbangga diri, muncul dan bicara di berbagai media. Mereka tak malu tampil di radio, koran dan televisi, mempermainkan logika dan hukum. Juga menjungkirbalikkan akal sehat. Sadar atau tidak, sebagian media massa memang telah memberi panggung “pencucian dosa” bagi para koruptor itu. Karena itulah, penting bagi kita untuk melakukan perlawanan bersama. Salah satunya dengan membuat “monumen abadi”, “tugu peringatan”, berupa situs online yang berisi daftar para koruptor, yang bisa diakses siapa saja. Agar kita, anak-anak kita, cucu-cucu kita, bisa belajar bahwa korupsi, apa pun dalihnya, sudah membuat rakyat di negeri ini menderita.”

Ini proyek melawan lupa–mengamalkan ujaran Kundera. Saya tak tak tahu apakah inisiatif ini hanya terdapat di Indonesia atau sudah ada perintisnya di luar sana. Tak penting juga. Tapi, dalam anggapan saya, proyek ini berharga sebagai bentuk keterlibatan warga negara dalam perang terhadap korupsi. Tak hanya mengeluh dan mengutuk. Berbuat sejauh kemampuan.

Ada titik ketika kita “harus berhenti percaya” pada determinasi pemerintah dan parlemen dalam memerangi korupsi. Lihat, sudah beberapa tahun ini, Komisi III DPR tak juga mengabulkan permohonan pencairan Rp 225 miliar untuk membangun gedung KPK. Gedung KPK telah berusia 31 tahun dan tak mampu menampung staf KPK  yang kini jumlahnya 650 orang. Gedung itu hanya sanggup menampung 350 orang. Anda percaya Senayan belum memberi lampu hijau cuma lantaran alasan administratif?!

Voluntarisme. Itu yang dibutuhkan. Bukan mengambil alih tugas eksekutif dan legislatif, melainkan demi menunjukkan kerja melawan korupsi tak bisa diserahkan sepenuhnya pada mereka.

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

7 Komentar pada “Melawan Korupsi, Melawan Lupa”

  1. andrebiil says:

    seluruh rakyat indonesia, insya ALLAh setuju bila para kuroptor dihukum gantung di tugu monas. sesudah mati digantung lalu cari keturunannya. jgn kasih sekolah sampai tamat SMP cukup. baru para perampok uang rakyat itu akan jera. tp klo keadaan seperti sekarang, perampok-perampok uang rakyat itu, sampai dikawal-kawal…

  2. lin says:

    Nih koruptor bebas2 aja. kyk orang2nya Obama aja, korupsi selalu diaminin karna kroni2nya

  3. esty says:

    “KORUPSI”
    Sangat sulit dibasmi.
    kan koruptor dilambangkan dengan gambar ‘tikus’.
    dari jaman dahulu kala sampe sekarang,yang namanya tikus ga ada matinya.
    jadiiii….kalo tikus-tikus itu masih berkeliaran, jgn berharap korupsi dapat dibasmi.

  4. kobrek says:

    dulu premanisme itu adanya di terminal/pasar kini pindah ke perkantoran dulu yg di sebut preman itu berpakaian sembrawut tpi kini preman menggunakan seragam, jas dan dasi. korupsi bukan hanya di pemerintahan tertinggi tapi di sekolah, di desa korupsi berkembang subur. buat para aparatur yang berwenang khusunya KPK tolong selidiki pembangunan/pengaspalan jalan di Desa Jagabita Kec. Parungpanjang Kab. Bogor yang saya resa penuh dengan premanisme dan penyimpangan2.

  5. kobrek says:

    paling lah enak jadi kepala sekolah kerjanya cuma tanda tangan saja tpi cepat kaya. yang kasian para Honorer. Dana BOS yang seharusnya untuk Operasional Sekolah malah di pergunakan untuk Operasional Rumah Tangga Para PNS.Di Sekolahan / Di Pemerintahan semua sama yang namanya laporan pengunaan dana dari pemerintah penuh dengan kepalsuan. dalam laporan tertulis pembelanjaan ini, itu di sertai Foto tapi kenyataan semua itu tidak ada semua yang masuk ke pemerintah pusat atau daerah yang namanya Laporan Dana BOS kebanyak kebohongan jika di desa yang namya Laporan DRK itu bohong uangnya abis buat kepentingan mereka penghianat Bangsa. kapan korupsi bisa di brantas hingga ke dasarnya? wahai para aparat yang berwenang tolong setiap laporan yang masuk tinjaulah kelapangan apa laporan itu benar atau tidak jangan hanya menerima lalu di buang ke tempat sampah begitu saja tanpa di teliti setiap pelaporan yang masuk.

  6. tabaro tarima says:

    Setuju banget dg Andrebiil,….hukum mati aja,..n kucilkan keluarga2 pencuri n perampok uang rakyat itu

Tinggalkan Komentar