Yus Ariyanto
Jakarta, 29 September 1933. Gedung Permufakatan Nasional di Gang Kenari, Salemba, dipenuhi ribuan orang. Di malam itu, mereka akan mengikuti perdebatan antara A. Hassan (ulama tersohor, pendiri Persatuan Islam) dan Abu Bakar Ayub (tokoh Ahmadiyah Qadian). Topik debat: menguji keabsahan Ahmadiyah.
Saya baca kisah tersebut di TEMPO edisi 21 September 1974. Sebagai pimpinan sidang, Mohamad Muhyidin membuka, “Saya mengucapkan terimakasih atas kedatangannya sekalian. Ternyatalah perdebatan ini dapat perhatian yang penting. Melainkan saya harap supaya tuan-tuan sekalian akan tinggal dengan iman, seperti kemaren. Sekarang akan diperingati lagi kepada tuan-tuan supaya janganlah mencela atau mengeluarkan perkataan atau isyarat-isyarat yang memihak ke salah satu partai yang sedang berdebat…Barang siapa tiada menurut akan aturan ini, saya akan ambil tindakan.”
Perdebatan seru berlangsung. Kedua pihak sekuat tenaga mempertahankan pendirian masing-masing. Tapi, tak ada gelas yang melayang, apalagi pedang yang dihunus. Damai. Kehidupan setelahnya berjalan seperti biasa.
Puluhan tahun kemudian, suasana sehat itu tak terlihat lagi. Irshad Manji datang jauh-jauh dari Kanada untuk mendiskusikan Allah, Liberty and Love. Buku itu baru saja diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Lalu, puluhan orang, Jumat (4/5) malam itu, berteriak-teriak di Salihara minta agar pertemuan dibubarkan. Alih-alih mencegah, polisi justru ikut mendesak agar diskusi ditutup.
Manji memang kontroversial. Buku terdahulunya, The Trouble with Islam Today: A Wake Up Call for Honesty and Change, mengirim aneka kecaman terhadap praktik-praktik buruk menyangkut penguasa, tokoh, dan lembaga yang mengatasnamakan Islam. Ini juga yang membuat kalangan neokonservatif di Amerika Serikat memberinya tepuk tangan. Kontroversi lain, perempuan Muslim ini terang-terangan mengaku seorang lesbian.
“Selamat datang di era kegelapan,” kata seorang teman di akun Twitter-nya. Saya setuju dengannya. Tentu boleh tak sepakat dengan Manji, tapi Anda harus menghormati haknya untuk bicara. Menghormati juga hak orang-orang yang memilih untuk menyimak Manji. “Saya tak setuju dengan pendapat Anda, tapi sampai mati akan saya bela hak Anda untuk mengutarakannya,” kata filsuf Prancis, Voltaire.
Dua hari kemudian, berita duka juga terdengar. Umat HKBP Filadelfia, Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, dihalang-halangi saat hendak menggelar ibadah. Kasus ini punya sejarah cukup panjang. Pada 12 Januari 2010, Pemkab Bekasi menyegel rumah ibadah jemaat HKBP Filadelfia berdasarkan Surat Keputusan Bupati Bekasi pada 31 Desember 2009.
Pada Maret 2010, jemaat HKBP Filadelfia mengajukan gugatan terhadap SK Bupati tersebut melalui Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), Bandung. PTUN Bandung, pada 2 September 2010, mengeluarkan putusan yang mengabulkan gugatan itu seluruhnya. Keputusan sama juga terbit, dalam proses banding, dari PT TUN DKI Jakarta pada 30 Maret 2011. In kracht van gewijsde (berkekuatan hukum tetap) .
Sekali lagi, kita bisa bertikai pendapat. Pada titik tertentu, perbedaan itu boleh jadi harus diselesaikan di jalur hukum. Ketika putusan hukum terbit, tak ada kemungkinan lain: mesti dipatuhi. Penolakan atasnya cuma bermakna kesediaan untuk hidup dalam kekacauan, tanpa rujukan normatif bersama. Mengerikan!
Indonesia itu majemuk. Sejak awal, para pendiri bangsa telah menyadarinya. Maka, Soekarno dalam pidato 1 Juni 1945, mengatakan, “Kita hendak mendirikan suatu negara “semua buat semua.” Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan…”
Saya merindukan situasi seperti di Gang Kenari itu. Tak ada satu golongan memaksakan kehendaknya atas kelompok lain. Ketika ada yang coba melanggar asas tersebut, negara dengan sigap dan tepat bertindak. Masalahnya, kita hidup dengan kepala pemerintahan yang hanya mahir berujar, “Saya prihatin…”




















Mas Yus. Kalau anda simak apa yang anda tulis ada perbedaan antara kasus manji dengan apa yang terjadi puluhan tahun silam itu. Kalau saja manji mau diajak berdebat tentang idea gilanya tentu saja kita dengan tangan terbuka menerimanya. Tapi kalau manji datang untuk menyebarkan penyakit “iman” lalu kita biarkan alangkan bodohnya kita ini.
Justru saya prihatin dengan orang-orang seperti anda, lihatlah para pejuang yang bermandi darah dinegeri ini mereka para pejuang agama, pemuka agama mengerti agama karena agamalah mereka berjuang memerdekakan negara ini dan tak satupun dari mereka berpenyakit lesbian.
Kalau anda non muslim, bacalah kembali kitab suci anda, kalau anda muslim semoga Allah menunjukkan anda kejalan yang lurus.
persis, mas amin. debatlah pikiran2 manji, jangan bubarkan diskusinya. itu yang tidak dilakukan saudara2 kita pada jumat malam lalu.
terima kasih sudah membaca dan berkomentar…:)
Naif sekali “Indonesia buat semua”, itu artinya Indonesia diibaratkan keranjang sampah, padahal keranjang sampah saja sudah dipilah-pilah, ada yg khusus sampah organik dan ada yg untuk non organik. Kita terkadang suka latah dan bangga dg pemikiran-pemikiran barat walau sesungguhnya tidak sesuai dg jati diri bangsa ini. Silahkan Irshad Manji menjual ide2nya di barat sana (eropa, amerika), ngapain ia datang kemari ? apalagi ngaku2 muslimah namun menghalalkan lesbian, apa2an ini ? Kalau kita mau jujur setidaknya dari sudut pemikiran maka Manji bisa saja dikategorikan sebagai “teroris” karena meneror umat Islam melalui ide2nya dan meneror ajaran Islam yg dibawa nabi Muhammad SAW
mas Yus terlihat sekali anda dari Jaringan Ideologi Lemah (JIL)..kontekstual mas jangan disambunng2in…kontekstual bukan liberal loh ingat itu….definitif : si manji datang memang bukan mau berdebat tapi mau menyebarkan pahamnya ke jaringan ideologi lemah seperti anda..ya gapa2 sih kalau anda aja yang sesat…yang lain jangan…:)
betul kata mas amin, diskusi di atas dan kasus manje beda jauh..itulah kenapa kontekstual harus ada dasar…kalau tidak ada dasar ya jadinya Jaringan Ideologi Lemah (JIL)…
soal gereja juga kasusnya lain lagi..wah mas coba perdalam lagi deh bacanya…
oiya kalau sampai komen ini tidak termoderasi, tahulah saya kalau anda memang ideologi lemah…kalau memang termoderasi dan tampil…coba pahami dulu baru jawab tanpa emosi
wah Yus Ariyanto ini sepertinya misionaris terselubung nih
Mas Yus,
Saya sependapat bahwa islam itu demokratis dan logis. Orang yang berilmu pasti mengedapankan diskusi dan dialog, seperti Quraish Sihab, Gus Dur atau Komaruddin Hidayat. Sedangkan umat yang baru belajar kemaren apalagi para pengikut habib2 yang gak jelas itu, selalu memaksakan kehendak menggunakan justifikasi “syariat” dengan mengangkat pedang. Saya berpendapat bahwa sekarang ini muslim di Indonesia memasuki jaman jahiliyah, karena saking khusuknya menjadi tidak logis. Agama memang suatu doktrin, namun harus dipahami dengan nalar. Saya juga merindukan suasana religius Indonesia yang dulu. So go ahed dengan pemikiran anda.
Mas Yus,
Orang seperti anda ini berbahaya. Peristiwa Jakarta, 29 September 1933 itu tujuannya jelas seperti anda tulis sendiri yaitu “menguji keabsahan Ahmadiyah”. Lha kalo Irshad Manji itu jelas2 orang gila, dia terang2 an mengaku lesbi. Orang gila kok diajak diskusi.
teman2, izinkan saya menaruh link berikut yang memuat sikap CRCS UGM soal pemberangusan diskusi Irshad Manji di Bulaksumur. ini dia: http://tinyurl.com/7xhggsz. CRCS adalah tuan rumah dari acara tersebut. selamat membaca…:)
intinya mas yus sudah terlihat sebagai anggota jaringan ideologi lemah..jadi semua dicampur adukkan…kaya gado2, cuma kalau gado2 enak..campur aduknya mas yus ya kaya jil..bau…sekeras apapun mas yus kasih penjelasan ya tetep ideologi lemah
plural bukan berarti dicampur aduk…tapi memahami adanya perbedaan..nah paham pluralisme skrang maunya nyampur aduk…BUKAN TOLERANSI ..itu sederhana kok….
PERSATUAN ISLAM BANYAK MELAHIRKAN ULAMA HEBAT DAN TERUS BERJUANG UNTUK KEUTUHAN NKRI DENGAN DASAR NILAI-NILAI DAN MORAL ISLAM / AQIDAH DAN SYARIAH ISLAM. DISKUSI/DIALOG TERUS DILANJUTKAN, ANARKIS DAN TERORISME KITA CEGAH BERSAMA SELURUH ELEMEN MASYARAKAT BEKERJA SAMA DENGAN PEMERINTAH.
MARI KITA DUKUNG MEDIA DENGAN PEMBERITAAN YG BAIK DENGAN BERNUANSA MENDIDIK AGAR INDONESIA SELALU JAYA.
miris hati saya abis baca tulisan mas Yus. Ke-Bhineka Tunggal Ika-an Indonesia sudah luntur, sedih melihat Indonesia saat ini.
wah komentarnya pada sombong dan penuh kemarahan ,islam itu damai ,mau menerima perbedaan,saya dukung mas yus.
Maaf mas Yus, sebetulnya saya malas menanggapi orang2 yang punya pikiran seperti anda. Kenapa sih semuanya anda nilai dengan pikiran atau otak semata? Tentu semua agama punya Kitab Suci yang menjadi referensi masing2 agama itu. Saya seperti orang pada umumnya yang tak tahu banyak tentang agama tapi untuk masalah ini hanya satu kata “NO WAY”. Semoga Allah Ta’ala memberikan petunjuk yang lurus bagi Anda. Amin. Satu lagi mas, kaum Lesbian dan Homoseksual itu jangan dibiarkan untuk berkembang, mereka saudara2 kita juga tapi bernasib kurang baik karena mengalami “kelainan”, sehingga perlu kita luruskan atau sembuhkan. Bukan diberikan fasilitas untuk menyebarkan “kelainannya” itu. Mohon ma’af kurang lebihnya.
Saya sejalan dengan Mas Yus. Saya merasakan hal yang sama belakangan ini. Selalu saya bangga dengan keberagaman Indonesia yang kaya, namun kondisi sosial belakangan ini berubah.
Mungkin bagi sebagian pihak hal tersebut adalah satu kemajuan, namun bagi saya pribadi, ini sebuah kemunduran besar dalam kehidupan kebangsaan.
Go ahead mas Yus, just ignore them. They just a bunch of narrow-mind people. Sekali lagi, ISLAM itu DAMAI. SELESAI.
waspada…!!!umat islam di indonesia jangan sampai terjebak oleh orang2 yang mengatasnamakan islam tapi tujuan yang sebenarnya ingin meracuni dan menghancurkan idiologi islam…
kebebasan yang tidak memiliki batas yang jelas,,akan melahirkan kekacauan…
Alhamadulillah…kita punya orang seperti mas Yus. Kita semua harus menyayangi semua mahluk ciptaan Alloh SWT. Waktu saya masih muda saya gampang tersinggung dan kemudian ngotot kalo ada yang menyudutkan islam. Maka, tiap malam di tempat kos dan di mana saja (sampe mau tertembak oleh tentara Jendral Tri Sutrisno dalam kasus sidang Tony Ardi) hati tidak tenang seolah saya diberi tanggung jawab untuk membela Islam dan sekaligus membela Alloh SWT…tapi dengan berlalunya waktu maka saya mengetahui intinya agama Islam itu…kini tanpa ada kebencian dan keangkuhan maka hidup lebih indah dengan kebijaksanaan dan kasih sayang.
go mas yus
teruskan kreasi nya
Tulisan yang sangat mengunggah mas yus…terima kasih atas kepedulian anda terhadap kondisi kita saat ini, semoga orang-orang berani seperti anda akan terus bermunculan di negeri kita tercinta ini.salam.