Raymond Kaya
Anak saya sedikit memprotes saat diminta untuk menjadi gembala dalam perayaan Natal di sekolahnya. Buatnya menjadi Yusuf adalah peran sentral dalam cerita Natal dan tentu dalam memilih Yusuf biasanya dipilih anak yang paling tinggi, cerdas dan tampan di kelas itu. Tapi jika gembala ya boleh siapa saja, terlebih jika hanya menjadi dombanya saja. Peran penting dalam cerita natal lainnya adalah yang menjadi Maria. Pastilah dipilih yang paling cerdas, tinggi dan cantik. Pokoknya pasangan Yusuf dan Maria adalah yang paling ter – di kelas itu. Perang atau lakon lain yang bergengsi dalam cerita natal di sekolah atau Sekolah Minggu biasanya adalah orang – orang Majus. Pemerannya diperbolehkan memakai pakaian yang bagus layaknya seorang raja. Adegannyapun cukup bergengsi karena membawa hadian berupa emas, kemenyan dan mur yang dibawa ke hadapan palungan. Jika jadi orang Majus boleh berpakaian bagus, seorang anak yang berperan sebagai gembala paling top mengenakan kaos dalamdisertai sarung dengan membawa sebuah tongkat.
Peran Gembala memang sederhana. Logikanya saat mereka mendapatkan kabar baik itu dimalam hari, tentu hanya seorang pekerja yang sederhana yang ada dipadang. Sebab para tuan pemilik -domba ini akan tidur dan mempercayakan “ harta mereka “ pada para gembala. Meski sederhana saat menerima kabar sukacita itu, reaksi gembala ini sunguhlah luar biasa, mereka segera pergi menembus padang untuk melihat kelahiran Yesus itu. “Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang terbaring di palungan.“ ( Lukas 2:16) . Reaksi para gembala ini luar biasa. Kata cepat-cepat ini berarti mereka tanpa perlu konfirmasi, berdiskusi atau voting. Tapi langsung perlu dan segera mencari untuk menjumpai Maria, Yusuf dan bayi Yesus. Menariknya lagi meski mereka mengejar kabar baik itu, tapi tugas mereka sebagai gembala tetap dijalankan dengan baik, terbukti dalam semua drama natal, anak –anak yang lebih besar menjadi gembala dan anak-anak yang lebih kecil menjadi domba-dombanya. Sikap positif lain dari para gembala itu bukan sekedar datang tapi juga memberitahukan pada semua orang (kas 2:17-18 Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. ) kata semua orang bukanlah hal yang mudah apalagi dalam konteks kekinian sebagai seorang Kristen. Banyak orang Kristen engan menyebarkan kasih Tuhan pada orang lain, sebab saat hal itu dilakukan maka semua mata akan memadang pada orang itu apakah perilakunya sesuai dengan apa yang dikatakannya.
Usai memberitakan para Gembala ini melakukan hal lain yaitu menyampaikan pujian (Lukas 2:20 Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.). Proses mendengar – datang – menyembah – memberitahukan dan memuji-muji dalam satu waktu bukanlah basa-bai. Inilah sebuah perilaku hati yang diinginkan Tuhan saat Anaknya lahir kedunia, sebuah hati yang dimiliki seorang gembala. Jadi menjadi perang seorang gembala dalam perayaan di sekolah ataupun sekolah minggu bukan lakon kelas dua atau hanya sekedar peran pembantu dalam cerita lahirnya Yesus. Peran gembala adalah pemain penting dalam sebuah proses lahirnya Yesus, karena melalui merekalah kabar sukacita itu muncul…bahkan hingga saat ini.
