Aribowo Suprayogi
Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) terbaru menyebutkan tingkat kepuasan publik atas kiprah politisi muda (politisi yang berusia di bawah 50 tahun) hanya 24,8 persen yang berarti publik (responden) merasa kecewa atas kinerja politisi muda saat ini. Sedang sisanya 75,2 persen publik (responden) tidak menjawab dan menyatakan tidak baik.
Prihatin memang melihat kiprah politis muda Indonesia jika melihat hasi l survei ini. Gedung DPR RI dalam karikatur digambarkan sebagai kue raksasa yang bernama APBN yang dipotong-potong dan dibagi-bagikan kepada anggota DPR, dan hampir tidak ada yang tersisa untuk rakyat.
berdasarkan riset kualitatif LSI ini, ada empat alasan yang membuat publik kecewa atas politisi muda, yaitu pertama berita kasus korupsi yang diduga melanda para politisi muda setahun terakhir ini, seperti pemberitaan M. Nazaruddin (33 tahun).
Kedua, kinerja politisi muda di puncak jabatan dinilai publik tidak istimewa bahkan bermasalah yang disinyalir terdapat sejumlah menteri yang usianya di bawah 50 tahun yang berasal dari sejumlah parpol. Ketiga, kinerja politisi muda yang menjadi pimpinan puncak partai politik juga dinilai publik tidak istimewa.
Keempat, besarnya harapan publik atas kiprah politisi muda yang mengakibatkan semakin mudah publik merasa kecewa.
Jika kita belajar sejarah, kiprah politisi muda sangatlah fantastik, dan punya ide atau inovasi demi persatuan bangsa. Budi Utomo yang didirikan tahun 1908, oleh mahasiswa STOVIA yang mendapatkan pendidikan dari Belanda sangatlah mengagumkan. Mereka sudah berpikir untuk kemajuan Indonesia di masa mendatang. Sekolah-sekolah kebangsaan didirikan untuk memupuk nilai-nilai luhur kebangsaan.
banyak diantara mereka yang berkorban untuk mengajarkan nilai-nilai luhur dan rasa nasionalisme kebangsaan kepada rakyat. Hasilnya 20 tahun kemudian mereka yang mendapat pendidikan di sekolah-sekolah kebangsaan tumbuh menjadi pemuda-pemuda yang mencetuskan rasa nasionalisme lewat gebrakan sumpah pemuda tahun 1928. Titik awal rasa memiliki Indonesia tumbuh, dorongan kesadaran rasa nasionalisme kebangsaan semakin tinggi.
Kurang dari 20 tahun kemudian mereka siap menjadi pemimpin-pemimpin bangsa yang tegar dan berani menantang resiko memproklamasikan kemerdekaan tahun 1945. Mereka juga berani menghadapi gelombang kembalinya penjajah ke tanah air, lewat perjuangan fisik dan diplomasi. Semua yang terlibat adalah kaum muda, politisi muda didikan Eropa yang menjadi motor penggerak kemerdekaan.
Namun apa yang dilihat saat ini, jauh panggang dari api, para politisi muda yang garang saat kampanye seolah mengklaim menyuarakan penderitaan rakyat, tenggelam dalam hiruk pikuk politik. Sibuk mempertahankan kursinya, sibuk beretorika, namun dilain pihak ada yang diduga ikut mengumpulkan pundi-pundi partai dan pribadi lewat proyek-proyek yang menyedot dana APBN. Bisa jadi Budi Utomo, Sumpah Pemuda, hanyalah romantisme masa lalu bagi mereka.
Wajar jika rakyat kecewa dengan politisi muda. kasus korupsi mantan bendahara Partai Demokrat M. Nazaruddin contohnya, membuktikan bagaimana kiprah poltisi muda yang sibuk mengumpulkan pundi-pundi partai dan pribadi, dengan cara-cara KKN. Desakan keras partai politik dalam proses Reshuffle membuktikan bahwa kepentingan partai atau golongan masih mengalahkan kepentingan rakyat.
Padahal tantangan kedepan lebih berat, kondisi ekonomi global yang belum membaik, ditambah krisis yang di alami Eropa dan Amerika, membuat pemerintah harus terus berbenah diri memperbaiki ekonomi, dan mengesampingkan proses pencitraan yang dituduhkan dilakukan oleh sebagian orang terhadap pemerintah.
Bukannya memperbaiki kualitas, para politisi muda malah mempersoalkan hasil survei, kualitas, dan metodologinya. Seakan tidak tidak terima, karena kuping yang panas mereak menuduh Survei LSI ini sebagai barang pesanan. lalu apakah ini yang diharapkan oleh rakyat. Terus sibuk saling bantah yang tidak ada habis-habisnya.
Politisi muda harus keluar dari jebakan korupsi dan pragmatisme, serta menunjukkan kinerja luar biasa. Gedung DPR RI yang menjadi sarang poltisi muda harus menghasilkan kebijakan-kebijakan yang pro rakyat. Citra positif harus dihasilkan lewat kerja keras dengan karya-karya perundang-undangan yang mendukung kepentingan bangsa.
Tidak salah memang mengejar kekuasaan lewat kursi di DPR, namun jangan lupa nasib dan masa depan bangsa ini salah satunya di tangan para politisi muda yang duduk di kursi empuk gedung DPR/MPR.




















Betul sekali. Di negeri ini udah jarang orang-orang yang mau berkorban untuk kepentingan bersama, semangat yang dibawa saat ini hanyalah untuk kepentingan pribadi dan golongannya sendiri. Memang sangat memprihatinkan. Yang dibutuhkan Indonesia saat ini orang-orang seperti Bung Karno, bung Tomo, Budi Utomo, Bung Hatta yang mau berjuang hanya untuk kepetingan bangsa Indonesia.
sungguh memprihatinkan mas apa yang dulu diperkiraan waktu pemilu berharap pada politis muda dengan harapan mereka lebih resfect terhadap masyarakat ternyata hanya harapan belaka
Sejatinya saya suka dengan tulisan seperti ini, karena ia mencerminkan kegelisahan yang sama tentang politisi muda yang tidak patut mengurus bangsa ini. Namun sayang, tulisan ini kurang berani “mengusik” sosok lain selain Nazarudin. Dan sebaliknya hanya “melokalisir”-nya di satu nama saja.
bagaimana bisa lahir politisi-politisi muda yang benar-benar memperjuankan masyarakat, jika dalam pendidikannya mereka senantiasa di tuntun untuk me,,njadi orang yang individual
Halah sama saja,budi utomo itu adalah penjagal kebebasan berpolitik belaka. Apa bedanya dengan kiprah politi muda yang sedang terjadi.masih parah.
semua dimulai dari diri sendiri kan.. harap orang lain bagus tapi kalo kita gak… bagaimana… berusaha lebih baik dari diri sendiri saja…