Thursday, May 23, 2013
lebih-mudah-merebut-daripada-mempertahankan

Raymond Kaya

Hari ini, 9 September 2011, Partai Pemenang Pemilu 2009, Partai Demokrat berumur 10 tahun. Dalam usianya yang relatif baru dibandingkan dengan Partai Besar seperti PDI Perjuangan (dulu PDI) dan Partai Golkar (sebelumnya Golkar), maka kehadiran partai berlambang “Mercy” ini sungguh fenomenal. Pertama kali ikut dalam pemilihan umum pada 2004, Partai Demokrat menarik 7,45% suara (8.455.266 suara) dari total suara yang ada, dan mendapatkan sebanyak 57 kursi di DPR. Hasil ini mendudukkan Partai Demokrat sebagai Partai nomor 5 di pemilu legislaif 2004.

Kendati hanya berperingat nomor 5, tapi partai ini bersama dengan PBB dan PKPI berhasil menggolkan duet SBY-JK menjadi presiden dan wakil presiden pada pemilu langsung pertama di Indonesia. Hasil yang lebih spektakuler terjadi pada 2009, ketika partai ini menjadi pemenang pemilu, dan meraih total 21.703.137 suara sehingga memperoleh 150 kursi atau 26,4% kursi di DPR. Angka ini naik sekitar 200% dibandingkan dengan pemilu 2004. Popularitas Presiden SBY diyakini menjadi motor penggerak untuk pemilih memilih Demokrat.

Di 2010, performa Partai Demokrat cukup menyakinkan, terpilihnya Anas Urbaningrum, sosok muda yang dianggap mampu memimpin Demokrat ke depan semakin mendudukkan partai ini menjadi partai yang menjanjikan. Tak heran jika banyak tokoh yang mulai loncat pagar untuk bergabung dengan Demokrat.

Pada pemilihan tingkat kepala daerahpun, kini Demokrat berada di peringkat kedua setelah Golkar. Diperkirakan pada tahun 2012 hingga 2014, Pilkada di berapa propinsi di Jawa akan dikuasai oleh Partai ini.

Tapi mulusnya perjalanan Demokrat ini tentu mengkhawatirkan partai besar lainnya, meski berada dalam sebuah koalisi yang sama. Kasus Century menunjukkan sebuah koalisi yang dibangun justru retak setelah Golkar dan PKS memiliki pandangan yang lain. Tapi Demokrat sebenarnya mampu membalasnya saat Hak Angket Pajak, terganjal oleh selisih dua suara. Elit Demorkat pun tancap gas dengan ancaman menyapu bersih partai-partai yang diangap berseberangan di dalam koalisi.

Maret 2011, sapu bersih itu tidak terjadi, malah mulailah masalah yang dituai oleh Partai ini. Mulai bulan April, Nazaruddin, Bendahara Umum Partai, yang secara struktural di dalam partai memiliki akses langsung ke Ketua Umum Partai Demokrat tersandung masalah. Dipecat jabatannya sebagai Bendahara Umum, Nazar pun lari hingga akhirnya tertangkap di Cartagena Kolumbia.

Selama pelariannya ini sejumlah nama pemimpin partai disebut-sebut, terutama Anas Urbaningrum. Tentu saja pengakuan Nazaruddin ini belum memiliki kekuatan hukum, sebab paling tidak untuk membuktikan kebenaran ucapan Nazaruddin ini perlu ada saksi lainnya yang bersaksi sama seperti yang diungkap oleh Nazar. Tapi kehancuran yang dibuat Nazar sudah demikian besar sehingga sulit bagi orang-orang yang disebut namanya ini untuk memperbaiki citranya. Terlebih pembertiaan media yang sangat luas membuat pencitraan sebagian elit partai dan Demorkat sendiri buruk dan popularitasnya tergerus.

Perpecahan di dalam tubuh Partai Demokrat terlihat, meski tidak secara kasat mata. Meski berkali-kali ditegaskan tidak ada faksi dalam Partai ini, tapi paling tidak di dalamnya ada sebutan sebagia orangnya Andi, orangnya Marzuki dan orangnya Anas. Saat terjadi Rakornas akhir Juli lalu di Sentul Jawa Barat, terjadi momen politik penting. Nama Anas yang demikian sering disebut, dipersoalkan untuk diganti melalui mekanisme Munas Luar Biasa Demokrat. Tapi ini tidak terjadi. Pidato Ketua Dewan Pembina Susilo Bambang Yudhoyono secara tegas justru memberikan cek pada Anas untuk memperbaiki Partai. Jadi secara politis,  Ketua Umum Anas Urbaningrum selamat.

Yang kemudian menjadi masalah adalah duri yang bernama Nazaruddin ini. Secara hukum dia masih menyebut-nyebut nama Anas. Bahkan Kamis (8/9) kemarin saat meninggalkan KPK, Nazaruddin sempat berucap “Yulianis sering berhubungan langsung dengan Anas.” Pernyatan Nazaruddin ini berbeda dengan pangakuan Yulianis,  Direktur Keuangan Permai Group milik Nazar, yang menyatakan tidak pernah berhubungan dengan Nazaruddin.

Tentu hukum yang akan menentukan benar tidaknya ucapan Nazar ini. Kehadiran masalah Nazaruddin ini sebenarnya paling tidak ada dua hal. Pertama, terlihat siapa yang mendukung Anas dan siapa yang tidak mendukungnya. Ini penting sebab selama satu tahun hal-hal ini berupaya ditutupi. Sebuah kasus besar menunjukkan apakah partai ini terbelah atau tidak. Kedua, adanya kasus besar justru membuat partai ini lebih kokoh, sekaligus mengingatkan pada para kadernya untuk tidak melakukan perbuatan tercela seperti korupsi ini.

Tapi yang lebih penting adalah, periode 2012-2013 menjadi titik krisis saat Demokrat harus membangun kembali popularitasnya yang turun akibat kasus Nazarudidin ini. Jadi Memang betul adanya sebuah pepatah “lebih mudah merebut, dibandingkan mempertahankannya”

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

10 Komentar pada “Lebih Mudah Merebut Daripada Mempertahankan”

  1. Saya setuju bung…
    merebut memang lebih mudah daripada mempertahankan eksistensi…
    apalagi sekarang partai berlambang mercy sedang dihantam banyak masalah, gmana mau mempertahankan eksistensinya…
    kalo dulu ketika partai tersebut pertama kali muncul dan ikut pemilu semua anggota pada bahu – membahu menjunjung panji-panji partai, tetapi sekarang beberapa dari mereka lebih suka mementingkan mementingkan kepentingan diri sendiri…
    oia kalo ada waktu berkunjung ke blogku ya… Stop Cancer

  2. kunjungan perdana..
    siip pokoknya blognya..jadi sangat kerasan di sini

  3. Al says:

    Yang terpenting adalah, sudah terlihat, di negeri ini banyak koruptor pak…

  4. kang4dhiez says:

    Misalkan, taruhlah ucapan si udin benar. Bisakah dia dlm proses hukum mampu berbuat banyak, kan bisa mencoreng citra demokrat. Mohon tanggapannya, salam.

  5. andra says:

    sebuah skenario dan hiden agenda besar2an…. besar kemungkinan anas harus “waspada”… kunjungan perdana juga… salam kenal pak… nuwun,

  6. aidhil maladhi says:

    betullll
    cukup 4 kata buat demokrtat ” partai dengan sribu sensasi”
    tp krjnya ga maksi

  7. terlihat terjadi keretakan pada tubuh partai demokrat???

  8. Dalam politik tidak ada kawan atau lawan abadi. Yang ada hanya kepentingan abadi. Kemarin Anas berkawan dengan Nazar, hari ini mereka bertengkar, lalu esok rujuk, semua bisa terjadi. Kearifan, kejujuran dan komitmen akan nilai-nilai kebenaran sejatinya semakin sulit kita temukan di negeri ini. Terlebih bila itu kita harapkan dari para politisi muda bangsa ini…

  9. urang cibugel says:

    coment perdana..

  10. semoga berjalan membaik..

Tinggalkan Komentar