Raymond Kaya
Seorang pemain musik yang baru belajar akan diajarkan tiga kunci awal yaitu C, G dan F. Mahir sedikit maka akan diajarkan kunci A minor dan D minor. Dengan lima kunci ini maka lagu yang dimainkanpun terbatas, lagu yang sederhana dan tidaklah rumit. Sekadar contoh, saya pernah mengunjungi saung angklung (alm) M ang Udjo di Bandung. Yang datang disuguhi aneka lagu, tapi tak lupa bermain angklung. Nah lagu yang sederhana dengan lima nada do, re, mi, fa dan sol serta tiga kunci C, G dan F adalah lagu my song yang kemudian “diplesetkan” kedalam bahasa sunda dengan lirik “Abdi teh ayeuna gadung hiji boneka, teu kinten sae na sarang lucunya dst (terjemahan bebasnya kira-kira: sekarang saya punya sebuah boneka, tak terkira bagus dan lucunya)
Dari gedung KPK ada lagu yang –tak terkira bagusnya– tapi juga tak terkira lucunya. Kamis ( 18/8) lalu ada juga lagu yang tidak merdu keluar dari mulut Nazaruddin. Lagunya bukan “my song” tapi dari Band Kuruburan … “lupa-lupa-lupa, lupa lagi syairnya”. Intinya dia sudah lupa dengan semua yang diucapkannya selama dalam perlarian di luar negeri, tapi dibalik lupanya ia menitipkan pesan pada Presiden agar anak dan istrinya dijaga dengan baik. Lupanya Nazaruddin ini kontan ditangapi dengan berbagai komentar dan tanya Wow and Why . Sebelumnya nyanyian lupa ini para komentator dari partai politkik (non-Demokrat ), aktivis hingga pemimpin media massa sudah memprediksikan jika nanti Nazar akan bernyanyi, tidak nyaring tapi juga tidak seperti ini, lupa-lupa dan lupa. Selengkapnya »