Sunday, May 26, 2013
lebaran-dan-keprihatinan

Yus Ariyanto

Konon, lebaran berasal dari kata “lebar” yang, dalam bahasa Betawi, bermakna luas atau lega. Tapi, lebaran tahun ini kita sungguh belum bisa berlega hati. Sejumlah catatan hitam masih meningkahi kehidupan keberagamaan di Indonesia.

Beberapa hari sebelum Ramadan, dua belas terdakwa dalam kasus penyerangan dan pembunuhan tiga pengikut Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten, divonis tiga sampai enam bulan penjara. Tolong digarisbawahi: hanya beberapa bulan untuk tindakan penghilangan nyawa manusia! Selengkapnya »

lupa-lupa-lupa-yang-minor

Raymond Kaya

Seorang pemain musik yang baru belajar akan diajarkan tiga kunci awal yaitu C, G dan F.  Mahir sedikit maka akan diajarkan kunci A minor dan D minor. Dengan lima kunci ini maka lagu yang dimainkanpun terbatas, lagu yang sederhana dan tidaklah rumit. Sekadar contoh,  saya pernah mengunjungi saung angklung  (alm)  M ang Udjo di Bandung.  Yang datang disuguhi aneka lagu, tapi tak lupa bermain angklung. Nah lagu yang sederhana dengan lima nada  do, re, mi, fa dan sol serta tiga kunci C, G dan F  adalah lagu my song yang kemudian “diplesetkan” kedalam bahasa sunda dengan lirik  “Abdi teh ayeuna gadung   hiji boneka,  teu kinten sae na sarang lucunya dst (terjemahan bebasnya kira-kira:  sekarang saya punya sebuah boneka, tak terkira bagus dan lucunya)

Dari gedung KPK ada lagu yang –tak terkira bagusnya– tapi juga tak terkira lucunya.   Kamis ( 18/8)  lalu ada juga lagu yang tidak merdu keluar dari mulut Nazaruddin. Lagunya  bukan “my song”  tapi dari  Band Kuruburan … “lupa-lupa-lupa, lupa lagi syairnya”.  Intinya dia sudah lupa dengan semua yang diucapkannya selama dalam perlarian di luar negeri, tapi dibalik lupanya ia menitipkan pesan pada Presiden agar anak dan istrinya dijaga dengan baik.  Lupanya Nazaruddin ini kontan  ditangapi dengan berbagai komentar dan tanya Wow and Why . Sebelumnya nyanyian lupa ini  para komentator dari partai politkik (non-Demokrat ), aktivis hingga pemimpin media massa sudah memprediksikan jika nanti Nazar akan bernyanyi, tidak nyaring tapi juga tidak seperti ini, lupa-lupa dan lupa. Selengkapnya »

proklamasi-cirebon-1945

Rinaldo

Pagi itu, Rabu 15 Agustus 1945. Ratusan pemuda terlihat berkumpul di Alun-alun Kejaksan, Kota Cirebon, Jawa Barat. Meski tengah berpuasa di bulan Ramadan, mereka terlihat bersemangat dan bergairah. Rencananya, hari itu mereka akan membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, bertepatan dengan yang akan juga dilakukan oleh pemimpin bangsa di Jakarta.

Tapi, ada situasi di Jakarta yang tak diketahui oleh para pemuda di Cirebon. Karena keterbatasan alat komunikasi ketika itu, maka sejarah mencatat bahwa Kemerdekaan Indonesia terlebih dahulu diproklamirkan di Cirebon. Sedangkan di Jakarta sendiri proklamasi baru dikumandangkan dua hari kemudian oleh Soekarno-Hatta. Selengkapnya »

meluruskan-yang-kadung-melengkung

Stephen Vincent

“BAAHHHH!!!” begitu saya mengucap, tapi tanpa suara, hanya nyangkut  di ujung bibir sebelah dalam, diiringi helaan napas panjang mendalam. Nyaris mau keluar, tapi seolah banyak “pagar” yang menahannya. Padahal, mata sudah mau lompat mendelik, sambil berteriak: “Mau maraaaah!!!” Tapi, ya, harus ditahan. Dan, itu rasanya… BAH!, amat lebih menyebalkan.

Ada unek-unek yang selalu berulang setiap tahun, dan bagi saya, seperti déjà vu persoalan yang acap membuat geram namun tak tertuntaskan. Tahun ini, terasa lagi, bahkan dua. So, komplitlah rasa “kesetrum” yang tengah saya jalani. Selengkapnya »