Sunday, May 19, 2013

Ekstasi Media

December - 16 - 2010
ekstasi-media

Syaiful Halim

Layar kaca kembali memperlihatkan drama realitas. Dua artis papan atas itu memenuhi undangan polisi. Puluhan pasang mata mengarah ke sebuah mobil mewah yang tiba-tiba merapat di gedung belakang Mabes Polri. Lensa kamera mengikuti pergerakan keduanya, sejak keluar dari mobil, memasuki gedung sambil bergandengan tangan, hingga memasuki gedung. Siraman lampu kilat tidak berhenti berjatuhan ke arah mereka. Teriakan-teriakan yang memanggil-manggil mereka semakin riuh.

Seketika tempat itu seperti red carpet dalam festival-festival film kelas dunia di Hollywood atau negara-negara Eropa. Yang membedakanya dengan situasi red carpet, kedua artis itu seakan berusaha tak peduli dan tidak sedikit pun mengiraukan teriakan-teriakan yang menyambutnya, atau membalas terpaan cahaya kilat dengan lambaian tangan atau senyum penuh pesona yang kerap distandarkan sebagai etika kalangan modern.

Narasi berita belum berhenti. Sejumlah realitas lain pun diperdengarkan seraya mengulang gambar aksi kedua artis tadi sejak keluar dari mobil hingga memasuki gedung. Kali ini, gambar dikemas secara slow motion atau digerakkan lebih lambat. Frame by frame gambar bergerak lamban laksana John Rambo dalam film Rambo mengodekan kekuatan alam, seperti digambarkan Douglas Kellner dalam buku Budaya Media, yang bergerak tanpa kesulitan menembus hutan.

Persis ketika kaki artis perempuan itu naik ke tangga teratas, gambar di-freeze laksana still photo dalam beberapa detik. Mirip video tape (VT) para pragawati dalam tayangan Fashion TV, yang ingin mempertegas detail fashion yang diperlihatkan. Setelah itu, kedua artis tadi  melanjutkan langkahnya, juga dalam slow motion effect, hingga narasi menyebutkan byline kontributor.

Drama realitas itu menjadi luar biasa, karena subjek yang ditampilkan bukan orang biasa. Subjek-subjek itu sarat dengan ikon-ikon gemerlap dunia hiburan dan atmosfir modernisme. Subjek dipenuhi label-label kreasi budaya popular. Model rambut hingga pakaian yang ditaburi merk-merk terkenal bukan sekadar pencitraan identitasnya sebagai anak band, tapi juga “korban” komoditas era modern.

Artis lelaki itu penyanyi dari band papan atas, pencipta lagu kreatif, bintang film debutan, dan idola kaum muda. Nama Nazril Ilham atau Ariel “Peterpan” akan dengan sendirinya bertautan dengan petanda-petanda tadi hingga memperjelas penandaannya sebagai selebritas kreasi media, sekaligus subjekdalam artefak budaya popular. Dan, tampilan itu tak jauh berbeda dengan “kesehariannya” di atas panggung saat bernyanyi bersama grup band Peterpan, serta di hadapan kamera dan penonton.

Artis perempuan yang menarik lengan artis lelaki itu pun dipenuhi petanda-petanda (signifier) ketenaran yang tidak main-main: aktris, foto model papan atas, presenter acara musik, penyanyi, usahawan muda, dan idola banyak kalangan. Model rambut, tata rias nan menawan, dan pakaian yang fashionable dan sudah pasti bermerk memperkokoh pencitraan identitasnya sebagai anak-anak yang lahir pada era modern.

Performa itu mengingatkan pada pencitraan yang diperlihatkan pelacur dari kelas pekerja (diperankan Julia Roberts) yang bertemu pangeran rupawan yang juga pengusaha (diperankan Richard Gere) dalam film Pretty Woman, dan menjelmakan  seorang gadis jalanan yang kusut menjadi seorang perempuan cantik yang modis—juga seperti digambarkan Douglas Kellner dalam Budaya Media. Film tersebut mengambarkan proses perubahan diri melalui fesyen, kosmetik, pilihan kata, gaya, serta lingkup di mana identitas dimediasi melalui citra, dan muncul dalam budaya kontemporer.

Nama Luna Maya akan dengan sendirinya bertautan dengan petanda-petanda modernisme tadi, sehingga Mabes Polri pun baginya seakan panggung catwalk atau ranah sosialita kalangan selebritas. Marcel Danesi dalam buku Pesan, Tanda, dan Makna menyebutnya sebagai selebritas kreasi efek mitologisasi, yakni selebritas “ciptaan” televisi yang dianggap sebagai sosok mitis, yang lebih nyata dari kenyataan.

Puluhan pasang mata dan lensa kamera yang mengikuti kehadiran kedua artis di Mabes Polri itu merupakan fenomena yang dihadirkan layar kaca soal perhatian khalayak terhadap teks budaya populer. Lebih khusus lagi, teks yang mempertunjukkan perayaan simbol-simbol modernitas. Puluhan pasang mata dan lensa kamera adalah representasi media. Media mewakili khalayak untuk menjadi penyaksi paling depan di setiap realitas. Terutama, realitas yang berpotensi memenuhi rasa ingin tahu sebagian besar khalayak. Apa yang dipikirkan khalayak menjadi pemikiran media seperti digagas dalam teori agenda setting.

Alih-alih menunjukkan agenda setting, media justru memberikan pennegasa bahwa mereka pun bisa menghadirkan pencitraan ala kaum modernisme melalui berita. Bahkan, dalam bingkai bidang masalah kriminal dan hukum yang sejatinya akrab dengan kekumuhan, penjahat, pemberontakan, perlawanan terhadap kemapanan, serta gambar-gambar kusam dan jauh dari kesan estetis. Meski mengabaikan  gagasan pemilihan tema dan teknik pengemasan secara objektif? Objektivitas? Bukankah praktik komodifikasi dengan sendirinya akan melulukan nilai objektivitas?

Bahwa pergeseran perspektif pribadi yang mengedepankan hedonisme dan kebebasan  menjadi persoalan masyarakat kota atau modern masa kini. Bahwa para warga modern itu pun menjadi terbiasa untuk melanggar atau terlibat dalam persoalan-persoalan wilayah pribadi. Perkembangan teknologi makin mengikis pantangan-pantangan atau pamali yang telah terbentuk. Pertunjukan kecabulan ganda, sindir Jean Baudllirad dalam buku Ekstasi Komunikasi.

Pada akhirnya, wilayah pribadi itu pun menjadi santapan lezat media yang juga telah dipompakan spirit ekonomi dan politik untuk meraih keuntungan dan menguasai pasar. Peranan media massa yang amat esensial dalam proses sosialisasi dan pemindahan warisan sosial, seperti yang dikatakan Samuel L. Baker—seperti dikutip Alex Sobur dalm buku Analisis Teks Media: Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing—menjadi perlu dipertanyakan.

“Bahwa salah satu fungsi media massa yang amat penting adalah memelihara identifikasi anggota-anggota masyarakat dengan nilai-nilai dan simbol-simbol utama masyarakat yang bersangkutan,” tegas Smith di buku yang sama.  Penegasan Baker dan Smith memperlihatkan dimensi lain yang mesti diusung. Penetrasi media yang mampu menyuntikkan pesan-pesannya ke berbagai penjuru tanpa terhalangi batas budaya, sosial, atau agama, tidak serta-merta membuat media lepas kendali. Karena di antara genggaman budaya, sosial, dan agama, itu terdapat norma, nilai-nilai, etika, kearifan, kesantunan, tata karma, ketentuan adat, hingga aturan-aturan menurut agama. Pada hakekatnya, di luar perhitungan ekonomi dan politik, media dikepung perhitungan-perhitungan budaya, sosial, dan agama, tersebut.

Namun, kompetisi, persaingan antarmedia, peraihan laba, upaya untuk tetap adaptif, yang taburan alasan-alasan lain, mesti menjadi pemakluman untuk penyingkiran fungsi pemeliharaan identifikasi anggota-anggota masyarakat dengan nilai-nilai dan simbol-simbol utamanya itu. Media adalah perusahaan. Dalam definisi itu, media tidak lagi dipandang sebagai lembaga yang berdiri atas kebutuhan informasi khalayak. Sebaliknya, media adalah industri budaya yang ditujukan untuk peraihan kepentingan ekonomi dan politik. Karena itu, penghidangan butir-butir ekstasi komunikasi—seperti diistilah Jean Baudrillard—pun menjadi harus dimaklumi(?) Bahkan para ilmuwan kritis dari Mazhab Birmingham jauh-jauh hari kadung resah bahwa televisi merupakan sumber kekacauan informasi. Termasuk berita televisi?

Bisa jadi. Dan, sesungguhnya rasa ekstasi komunikasi itu bukan hanya dalam berita-berita yang memedanwacanakan kasus video mirip artis. Berita politik, ekonomi, sosial, hingga bencana, saat ini jadi merasa perlu untuk ditaburi tumbukan halus pil memabukkan itu. Jadi, masihkah mempertanyakan objektivitas media?

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

6 Komentar pada “Ekstasi Media”

  1. karena artis2x ini punya nilai jual yg tinggi untuk media hiburan.

  2. [...] tanpa khawatir kecabulan itu telah menjelmakan realitas yang tidak mewakili objek (hiperrealitas) [baca: Ekstasi Media].Perayaan itu tak ubahnya penghakiman atas anugerah mitologisasi yang diberikan media terhadap Ariel. [...]

  3. UDINesel says:

    Ini sih kelakuan para pekerja infotainment,?!

  4. shulhan says:

    Libidonomics media, kira2 inilah pemahaman saya soal media yang begitu antusias mengumbar kasus ariel,luna, tari. secara konseptual, penyuguhan ini merupakan bagian dari upaya untuk mengartikulasikan nilai-nilai libido ke ruang publik guna mendapatkan kumulasi ekonomi yang wah. tak heran, setiap desas-desus gosip soal seks dan libido, selalu menjadi santapan empuk media. baru-baru ini, media juga gencar memberitakan perkara BCL dan Ibas yang di duga dugem di australia..

  5. beritama says:

    membuat berita tetap menarik dan “laku” adalah dengan mengekspos seputar artis, karena bijimanapun artis sudah menjadi “ulama” saat ini dimana segala tindak tanduknya selalu diikuti dan dijadikan barometer, terutama bagi anak muda.

  6. Demolanding says:

    baru-baru ini, media juga gencar memberitakan perkara BCL dan Ibas yang di duga dugem di australia..

Tinggalkan Komentar