Tuesday, May 21, 2013

Pak Gubernur Memilih ke Jerman

November - 4 - 2010
pak-gubernur-memilih-ke-jerman

Yus Ariyanto

Gubernur Sumatra Barat  Irwan Prayitno mengingatkan saya pada Rudy Giuliani. Segera setelah New York diserang para teroris pada 11 September 2001, Rudy, yang saat itu menjadi walikota, bergerak. Ia bekerja belasan jam tiap hari. Ia memimpin operasi penyelamatan secara langsung di lapangan, pun bolak-balik ke rumah sakit untuk menenangkan korban.

Rudy juga terus mencoba merawat solidaritas warga dengan beberapa kali bicara di televisi dan radio. Tak mengherankan, majalah Time memilihnya sebagai Person of The Year 2001 dan  Ratu Inggris memberinya gelar “Ksatria.”

Redaktur Pelaksana Time, Jim Kelly menyatakan, Rudy terpilih karena, “Ia menunjukkan jalan keluar dari situasi keputusasaan dan memberi kita baju besi emosional untuk bangun setiap hari dan melanjutkan hidup… Ia memimpin dengan rasa, bukan hanya dengan kata-kata dan tindakan.”

Dalam bencana tsunami di Mentawai, posisi Irwan mirip posisi Rudy kala New York dirajam bencana: pemimpin lokal. Cuma, kalau Rudy mengundang puji, Irwan malah menuai kritik. Pada Rabu (3/11), ia pergi ke Jerman [baca: Mentawai Berduka, Gubernur ke Luar Negeri].

Kabarnya, Irwan terbang memenuhi undangan Kedutaan Besar RI di Berlin dan melakukan promosi wisata dan investasi. Saya jenguk akun Twitter-nya. Pada hari keberangkatan, ia menulis, “Kepergian ke Jerman adlh langkah strategis jgk panjang utk investasi bg Sumbar. Tidak berwisata tapi promosikan Investasi, Perdagangan dll.”

Saya langsung berpikir: tidakkah itu semua bisa ditunda?!  Mungkin untuk sebulan atau dua bulan. Mestinya bisa. Pihak pengundang  juga akan gampang memaklumi. Mentawai masih sangat membutuhkan sentuhan kepemimpinan yang efektif di masa tanggap darurat ini.  Akan elok nian jika Pak Gubernur menempuh tugas yang memang tak ringan tersebut.

Kemajuan teknologi informasi memungkinkan tugas pemantauan dan koordinasi dari jauh. Tapi, semua itu bersifat impersonal. Kehadiran fisik akan sangat membantu memantik semangat para korban dan relawan yang telah jauh-jauh datang.

Pak Irwan, ingatlah pujian buat Rudy itu: “Ia memimpin dengan rasa, bukan hanya dengan kata-kata dan tindakan.”

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

32 Komentar pada “Pak Gubernur Memilih ke Jerman”

  1. Nina says:

    Beberapa hari yang lalu, cucu saya 6 tahun singgah kerumah karena mau ke Centro Mall, saya kena vertigo. Ketika melihat saya terbaring cucu saya berkata ke anak saya (mamanya) bahwa tidak jadi saja kasihan Atung (panggilan cucu saya ke saya) sakit, tentunya wajar karena darah daging. Gubernur Sumbar tidak seperti cucu saya, karena memang tidak ada darah daging masyarakat Sumbar, yang salah yang milih

  2. ochi says:

    Tentu p Irwan sudah mempertimbangkan secara masak keputusan ini dan kemungkinan kritikan yang akan muncul. Dan dia sudah mewakilkan tugas ke wagubnya. Mungkin kita perlu dengar dari para pengungsi atau warga di sana akan kiprah gubernur dalam membantu mereka. Apakah seperti komentar kita yang jauh dari Mentawai bahkan tidak ikut ke sana. Coba lihat http://hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=1659

  3. DSP says:

    lepas dr appun pertimbangannya, kehadiran pemimpin di tengah kesusahan masyarakatnya akan membawa semangat positif dan menenangkan bagi korban. tengoklah SBY mempersingkat kunjungannya di vietnam lsg ke mentawai dan skrg berada di jogja kok bisa2nya anak buahnya di sumbar berperilaku seperti itu.

    jangan kembali salah pilih baik masyarakat sumbar di masa mendatang ataupun daerah2 lain ini adalah contoh pemimpin yg tidak seharusnya dipilih..

  4. ozi says:

    Dalam organisasi sudah ada struktur organisasi begitu juga alur pendelegasian sauatu leader saat berhalangan ataupun tugas luar itu sudah ada aturan / format yang ada, tapi apa gak bisa di reschedule karena warga Sumbar butuh Bapaknya ( Bupati ) saat mereka tidak bisa mengatasi masalahnya karena musibah ……. ,relawan aja jauh jauh harus datang ke sumbar untuk mambatu ini kok malah Bapak / gurbenurnya malah pergi ……, itulah gaya leadership sekarang

  5. Lay says:

    Saya setuju dgn penulis!!! saya org yg dibesarkan diluar negri saya banya belajar di negri yg saya tidak jelaskan tapi negri yang sangat maju dibidang otomotif,dan saya menilai dengan cermat jadi keputusan yg diambil adalah keputusan yang berdasarkan jangka panjang yg satu sisi membawa keuntungan dan pasti ada timbal balik jasa untuk si pemimpin tersebut apa lagi ini proyek besar yg pasti akan menguntungkan bagi masyarakat sumbar tapi,dan pastinya juga kantong para pejabat itu sudah tradisi yg mendarah daging bagi para pemimpin indonesai yang bermental buruk,memang tidak semua tetapi sebagian besar kasus mono rel misalkan,proyek yang ada pangkal tapi tidak ada ujung yg jelas.jadi klu keputusan gubernur memilih kejerman itu keputusan baik tapi alangkah baiknya dan bijaksana dan penuh rasa kemanusian jika menunda arti kata sejenak sebulan or 2 bulan dan memberikan perhatian meninjau kelapangan,menjangkau,memberisemangat kepada mereka semua yg terkana musibah,saya ingin mengajak berfikir kpd pemimpin sumbar gimana klu bencana itu menimpa anda dan anda diposisikan sebagai rakyat biasa dan pemimpin ada pergi mininggalkan anda dalam keadaan panik,ketakutan,lapar dan dingin dan juga trauma kehilangan org yang anda cintai…dan pemimpin anda pergi meninggalkan ada untuk suatu tugas penting tanpa melihat anda hanya memerintahkan kepada bawahan utk mengatasinya….gimana rasa anda klu diposisi sebagai korban bencana nya???
    tentu saja seperti diatas anda pemimpin yg baik tapi anda bukan seorang yang bijaksana dalam mengambil keputusan untuk meninggalkan rakyat anda dalam keadaan seperti itu….mari berfikir dan belajar seperti apa yang ditulisakan penulis untuk pelajar dari pemimpin yang patut diacung jempal dan berjiwa pahlawan seperti RUDY GUILIANI seorang yg peduli,dan tanggap akan keadaan!!

  6. Pasti segala sesuatunya sudah dipikirkan masak2x o/ Pak Gubernur, kita tidak bisa menyalahkan beliau 100 %, dan pasti staf beliau yg lain seperti wagub juga sudah terjun langsung ke lapangan.. begitulah nasib menjadi seorang pemimpin harus siap dikritik maupun dipuji, meskipun yg melakukan (pemimpin) menganggap apa yg dilakukan sudah benar tapi tidak dengan orang kebanyakan…Damailah selalu Indonesiaku

  7. jack says:

    @ochi: info yang sangat fair dan berimbang. Tinggal tunggu sdr Yus Arianto, akan berkomentar seperti apa. Bisa dimaklumi jika ia kurang referensi dalam menulis ini, namanya juga blog :) Salut utk Gubernur Sumbar, bersedekah dg tangan kanan, tangan kiri tidak sampai tahu

  8. Mean says:

    Memang di Indonesia sudah tidak bisa menerima berita yang benar dan yang salah, kadang informasi yang benar dipotong hanya untuk sensasi dan untuk rating paling banyak, apa ini berita sudah detail apa dipotong2x?? yang saya tahu Pa Irwan seharusnya bertugas ke Jerman selama 1 Minggu dan karena ada bencana mentawai beliau jadikan 2 hari saja, Indonesia – Jerman ditempuh berapa jam/hari? beliau pun sudah membuat janji dengan Pemerintah Jerman 2 bulan sebelum bencana mentawai datang dan Jika kutipan “Saya langsung berpikir: tidakkah itu semua bisa ditunda?! Mungkin untuk sebulan atau dua bulan. Mestinya bisa. Pihak pengundang juga akan gampang memaklumi. Mentawai masih sangat membutuhkan sentuhan kepemimpinan yang efektif di masa tanggap darurat ini. Akan elok nian jika Pak Gubernur menempuh tugas yang memang tak ringan tersebut.” memang Bisa ditunda 1 – 2 bulan lagi ? padahal beliau kunjungan kerja hanya membutuhkan 2 hari saja, karena ada bencana mentawai. menurut saya ini masih logis. akan tetapi jika pa irwan ke jerman membawa sebuah keluarga dan lebih lama disana baru itu namanya tidak benar.

  9. lewis says:

    Please dech, it’s a consequence from a position, you can justify your action with such argument

    Negara kita terlalu banyak kompromi. Kompromi terhadap hukum, kompromi terhadap prosedur/SOP, kompromi terhadap kerugian, dan ini kompromi terhadap orang baru…termasuk kompromi terhadap penanganan bencana

    Kembali pada esensi dari kunjungan-nya ke Jerman. Tujuannya sebenarnya ingin mempromosikan pariwisata SUMBAR atau cuma beristirahat atau bahasa kasarnya “kabur dari tanggung jawab sejenak”. Para relawan di Aceh dulu menghadapi mayat memang juga perlu istirahat, tapi tidak secepat Bpk. Irwan sekarang dalam menghadapi Mentawai…

    Mengutip dari http://hariansinggalang.co.id/sgl.php?module=detailberita&id=1659
    “Di dunia wartawan, jika usai melakukan liputan berat seperti ke Mentawai, boleh istirahat sehari dua. Tak istirahat juga tak apa, tapi harus mau mencari suasana enjoy, hiburlah dirimu. Itulah sebabnya kenapa antara lain, dokter dan wartawan suka karaoke. Sesekali ke Jakarta, he he he….
    Hiburlah diri, agar tidak stres. Kalau wartawan tak suka menghibur dirinya, maka kabarnya orang lain akan salah melulu di matanya. Dia saja yang benar.
    Menurut saya, gubernur memang harus istirahat barang sehari dua. Kalau tidak ia akan sakit kuning. Sejak dilantik, ia seperti mobil putus rem saja. Teman-teman wartawan peliput di kantor gubernur menjadi saksinya. Lasak benar, berjalan saja maunya. Tiap sebentar ke daerah. Mungkin karena baru menjabat”

    Masalahnya adalah:
    1. Belum ada mekanisme yang tepat untuk penanggulangan, Bpk.Irwan sudah meninggalkan lokasi, contoh: Jalur Evakuasi bagi korban yg masih bisa diselamatkan belum dipetakan sama sekali ketika Bpk. Irwan berangkat ke Jerman, padahal ini penting bagi penyelamatan korban selamat & tim SAR/Relawan yg harus ke lokasi.
    2. Setahu saya apabila ada bencana maka Team Leader atau koordinator adalah pemimpin tertinggi di wilayah tersebut, dalam hal ini Gubernur dengan tujuan mempercepat proses penanganan shg bila ada birokrasi yg terlalu panjang bisa segera diputus dan koordinasi bisa lebih mudah dilakukan.
    3. Penanganan bencana dihitung dengan skala waktu terkecil, karena makin lambat penanganan makin besar kerugian. Bukan hanya aset, harta benda, reputasi SUMBAR dan Indonesia, tapi juga nyawa manusia. Namun, Bpk. Irwan, ternyata justru memperlambat waktu penyelesaian dengan menambah 2 hari kunjungan ke Jerman.
    4. Saya pribadi tdk peduli dia mau kunjungan ke LN, silakan. Asal proses penanganan di sini, menunjukkan progress (Note: bukan progress korban jiwa, karena tiap hari yg dilihat adalah bertambahnya korban jiwa).
    5. Delegasi pun bukan seenak-nya berlaku. Ada hal-hal yang harus dipertimbangkan matang2 sebelum mendelegasikan suatu pekerjaan ke orang lain, termasuk persyaratan administratif yg harus dipenuhi. Dalam hal ini, kesalahan fatal Bpk.Irwan, administratif tidak dipenuhi. Tanggung jawab dialah kalau ada kesalahan pengambilan keputusan pada saat penanggulangan bencana.

  10. Healthcare says:

    Yang terpenting dari tindakan Gubernur adalah hasil/manfaat yg diperoleh kedepan yg juga harus memberi manfaat bagi daerah bencana, apakah memang memberikan perubahan yg baik bagi sumbar coba lihat setahun kedepan apa & bagaimana hasil follow up dari kunjungan itu ? ada banyak penafsiran setiap tindakan pemimpin, Saya hanya menghimbau mari kita positif thinking, baru kita negatif setelah melihat bukti..

    “Positif Thinking is One of Your Best Health Solution” ..Keep up a good work pals

  11. Chandra OS says:

    Marilah kita evaluasi dari tindakan2 atau langkah2 yang sudah diambil. Apakah tindakan2 atau langkah2 tersebut membuahkan hasil atau tidak. Jadi kita tidak serta merta langsung menuduhkan hal2 yang negatif kepada beliau.

    Evaluasi berupa:
    1. Hasil amanat kepada wagub atas apa yang telah ditindaklanjuti terhadap korban bencana di wilayah tersebut (c.q. Mentawai). Apakah ada hasil atau hanya retorika semata.
    2. Hasil atas kunjungan ke negeri seberang tersebut. Jadi kita diharapkan tidak lupa atas kejadian kunjungan tersebut. Apakah benar2 membawa hasil.

    Dari sinilah kita bisa menilai seberapa besar kinerja gubernur Sumatera Barat tersebut bekerja untuk rakyatnya.

  12. soe says:

    Bang Yus Ariyanto, anda produktif dalam menulis, tapi hrs hati2 kalo tulis anda tidak disertai data2 yang valid ttg kronologis bagaimana pak irwan menangani mentawai dan bagaimana ia ke jerman, karena hal itu akan memunculkan fitnah yg keji. Dan apalagi org akan membaca tulisan anda, dan akhirnya terpengaruh oleh opini anda. Sedikit ilmiah-lah dalam menulis……

  13. syuaib says:

    buat soe says.. saya salut dengan anda. karena anda sudah sama mati rasanya dengan gubernur anda. saya anjurkan kalo pak gubx ke luar negeri.. anda ikut… berobat di singapura. Cuci tuh otak sama hatimu disana. KRN G BERFUNGSI LAGI DENGAN BAIK. (krn ikut dikotori oleh uang korup kali!)

  14. juragan sapi says:

    banyak balad ternyata si Irwan ini yg pasang badan.
    mantafffff fuih…

  15. Badjoeri says:

    Itulah bedanya pemimpin kita sekarang (beda dengan pemimpin jaman dulu) dengan pemimpin di negara maju. Kalau kita pemimpin menjadikan bencana sebagai ajang mencari muka. Beberapa hari setelah bencana wajah nonggol ditempat bencana untuk cari populer tapi kalau sudah lama melihat tidak. Adakah figur Rudy Guliani dibangsa kita..itulah yang kita pilih menjadi Presiden 2014. Tulisan ini bisa diberi judul “Rakyat Mentawai Salah Memilih Gubernurnya”

  16. Badjoeri says:

    Sekali lagi “Rakyat Mentawai Salah dalam memilih Gubernurnya Sekarang”. Sabar saja dan jangan pilih lagi “Si suka jalan-jalan ini” 5 tahun lagi.

  17. agus says:

    gubernur yang gak bisa baca tulis gan.

  18. kamandanu says:

    Hahaha…cerdas anda bung YUS ARIANTO…PERBANDINGAN ANDA TEPAT DAN BENAR…yg satu geb.New York BISA DIBILANG PAHLAWAN…SEDANGKAN satunya lagi gub.Sumbar (PKS)bisa dibilang PECUNDANG MURAHAN…anda TAHU BAHWA UNDANGAN ATAS GUBERNUR DR INDONESIA ITU ADA 4 (EMPAT) GUBERNUR…DAN 3 (TIGA) GUBERNUR LAINYA ITU PADA ACARA DI JERMAN HANYA MENGIRIM ASISTENYA DOANG DAN DAERAH MEREKA TIDAK DALAM KEADAAN DARURAT ….SEDANGKAN SATU-SATUNYA GUBERNUR YG DATANG MELENGGANG ADALAH GUBERNUR SUMBAR INI YANG DARI PKS….DIA TINGGALKAN KORBAN TSUNAMI SEOLAH-OLAH NASIB MEREKA SEHARGA SELEMBAR KERTAS….pemimpin TIDAK PUNYA HATI DAN RASA….YG ADA DI OTAK DIA ADALAH UNTUNG-RUGI….

  19. daddy says:

    mungkin ada 1001 alasan yang bisa di cari,,klo tujuan untuk satu kesempatan yang tidak bisa di capai waktu kere,,,tapi ingat ingat aja jangan sampai satu kesalahan ditambah lagi dengan satu bala yang akan datang menimpa,bila berani memanfaatkan kata2 yang bertujuan,tapi anda hanya tidak lebih hanya berdalih dengan itu

  20. yoko says:

    semua bisanya cuman menyalahkan ndak bisa melihat dari sisi yang lebih baik ya ini komentar saya bangsa ini mentalnya cuman bisa menyalahkan aja trus dendaman kayak gitu klo aku lihat yg penting beliau mash tanggung jawab mau turun ke situasi bencana gitu aja klo aku gitu aja kok repot wuek wuek hehe raksah emosi

  21. aie janiah says:

    Kita tahu siapa-siapa musuh dari bangsa yang besar ini

  22. ipan says:

    Irwan itu paham agama atau tidak sich…tidakkah irwan itu membaca sirah para khalifah.? bagaimana umar bin khatab r.a memanggul sendiri bahan makanan untuk rakyatnya yang kelaparan..ini bukan sekedar kelaparan, Lebih baik irwan meminta maaf kepada masyarakat sumbar dan mundur secepatnya dari jabatan gubernur. Serta mundur dari keanggotaan partai yang mengusungnya. Malu…malu…malu…dengan wajah alim tapi hati kurang empati…amat besar murka Allah bagi mereka yang bisa mengucapkan tapi tidak bisa melaksanakan…jangan biarkan masyarakat sumbar terkena murka Allah SWT karena tingkah laku irwan

  23. Mesem says:

    Seorang dokter bertanya kepada seorang pasien. Bu, suaminya mana? kok ibu gak ada yang nungguin di rumah sakit. Ibu menjawab : “Kalau suami saya nungguin saya, nanti siapa yang cari uang untuk bayar rumah sakit pak? Ya mungkin begitu yang dialami Gub Sumbar. Saya rasa Gubernur tahu akan tugasnya dan kepergiannya ke Jerman tidak seperti yang disangka banyak orang yaitu sekedar jalan-jalan. Karena kalau orang sudah tidak suka apalagi di arena politik yang baik sekalipun akan diwacanakan jelek bahkan jueleee..k sekali. Oleh karena itu marilah berbicara dengan hati, jangan sampai justru ucapan kita nanti akan menyeret kita ke neraka. kalau ucapannya baik langsung saja katakan, tapi kalau yang mau diucapkan hal yang tidak baik carilah data dan fakta yang valid baru bicara. Ingat ucacpan kita bisa menghantarkan kita ke surga atau ke neraka…..

  24. Memang kadang susah untuk memahami para pemimpin kita di negeri ini, saya sering bertanya sebenarnya yang susah di pahami itu siapa ya, para wakilnya apa para rakyatnya, katanya di pilih untuk membela kepentingan rakyat tapi….?

  25. Urang Sunda says:

    Pa Yus, sebaiknya lebih berhati2 dalam menulis…siapkan data dan fakta…kronologisnya seperti apa…dan yang penting saat menulis harus “POSITIF THINKING” karena tulisan anda sama dengan pembicaraan anda…jika dari tulisan anda ada yang berkomentar negatif….anda ikut bertanggungjawab dihadapan Sang KHALIQ

  26. Indonesia ku says:

    Biase dech, mencari kesalahan orang emg mudah ya! jd dipolitiksasikan, kan ada wagub dan staf2 nya atau ada dinsos di sumbar, emg mau gebenur semuanya. bagi2 donk tugasnya !!!!

  27. souvie says:

    yang penting jadi koreksi kita semua aja.

  28. abie aufan says:

    wkwkwkwkwk,namanya aja orang endonesia,yg penting perut kenyang n senang orang lain mah bukan urusan saya wkwkwkwk

  29. MZ Arifin. says:

    ternyata gubernur sudah delegasikan tugas pd wakilnya dg baik.
    setiap keadaan tak harus persis sama menghadapinya.
    sama2 bertugas.

  30. WEBGILA.COM says:

    waduh2…… enak bgt ya kayaknya jadi pejabat…. hahaha

Tinggalkan Komentar