Wednesday, June 19, 2013

Mereka dari Ngruki

August - 29 - 2010
mereka-dari-ngruki

Yus Ariyanto

Pada 1990, Utomo Pamungkas alias Fadlullah Hasan berangkat ke Pakistan. Niat awalnya adalah mendalami ilmu agama Islam. Setelah tiba di Peshawar, hasrat menimba ilmu agama tak lagi mekar.

Situasi memanas di Afghanistan, tetangga Pakistan. Di sana, sejak 1979, tentara Uni Soviet masuk. Tapi, mereka menghadapi perlawanan sengit dari kaum Mujahiddin. Itu semua menjadi bahan obrolan di mana-mana, termasuk di kedai kopi. “Kalau sebuah Negara Muslim telah dicaplok oleh musuh, jihad melawan musuh wajib hukumnya,” kata seorang pengunjung kedai.

Akhirnya, mantap keputusan Fadlullah untuk pergi ke Afghanistan. “…saya tidak mau menjadi Muslim yang hanya duduk-duduk saja menyaksikan saudara seiman ditindas, tak mau hanya berteori dan berwacana…,” ujar Fadlullah seperti dituliskan Noor Huda Ismail. Huda menuliskannya dari posisi Fadlullah sebagai orang pertama alias “saya.” Fadlullah adalah kakak kelas Huda di Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Jawa Tengah.

Lalu, saya pun terpikat oleh penuturan Huda yang mengisahkan ulang pengalaman Fadlullah di Afghanistan dalam Temanku, Teroris?: Saat Dua Santri Ngruki Menempuh Jalan Berbeda. Bukan cuma tentang heroisme perjuangan, tapi juga muatan kisah-kisah ringan nan lucu. Misalnya, cara para Mujahidin asal Indonesia bergurau dengan mengoleskan obat merah ke salju yang dibentuk mirip es. Seorang yang polos langsung saja merangsek. Sontak, ia belingsatan saat mengetahui hal yang sesungguhnya.

Kisah berlanjut ke Filipina, saat Fadlullah diminta Abdullah Sungkar, salah seorang pendiri pondok Ngruki, untuk menjadi pelatih di kamp militer kaum Moro. Selesai? Tidak, jantung cerita justru terletak setelahnya: Fadlullah menjadi bagian aksi-aksi teror bom di Indonesia. Huda menulis di bagian pengantar, “Buku ini diharapkan mampu menjadi jendela untuk melongok persoalan-persoalan jihad secara lebih dekat dan mendalam supaya kita dapat mengukur manfaat dan mudharat semua peristiwa pengeboman yang pernah terjadi.”

Fadlullah terlibat Bom Bali I, Oktober 2002. Ia sejatinya bukan pemeran utama. Pertama, rekeningnya dipakai untuk transfer dana yang digunakan membiayai aksi pengeboman. Kedua, “…karena kuat menyetir jarak jauh, saya diajak mengantar mobil yang dipakai dalam aksi sampai ke Bali,” ujar Fadlullah.

Huda tak hanya menjadi pencatat. Ia juga turun gelanggang dengan memasukkan perjalanan hidupnya sejak menjadi santri di Ngruki sampai menjadi special correspondent untuk koran Amerika, The Washington Post. Tercermin dari subjudul, buku ini memuat kisah tentang dua anak Ngruki, Fadlullah dan Huda.

Jalan yang dipilih Huda membuatnya banyak dicibir alumnus Ngruki lain. Di jidatnya ada label agen CIA, agen kapitalis, dan sejumlah predikat buruk lain. Ia memang menolak jalan terorisme, tapi ia bukanlah sebagaimana yang mereka tudingkan. Meski sempat shock, Huda tak menyesali pilihannya. Koran itu yang memperkenalkannya dengan dunia luas, termasuk pertumbuhan Islam di Amerika, Eropa, dan Australia.

Ya, Ngruki menjadi benang merah. Pengalaman di sana kemudian memperoleh porsi lumayan besar di buku ini. Kisah-kisah human interest didedahkan. Menarik, kocak, dan mengharukan. Tengok, misalnya, cerita Huda saat berusaha memikat gadis impiannya, yang kebetulan adalah putri salah seorang pimpinan pondok. Dari sejumlah deskripsi itu, tak ada indikasi bahwa pondok Ngruki berbeda jauh dengan pesantren lain. Kecuali, mungkin sikap terhadap Pancasila, Merah Putih, dan upacara bendera.

Pada kenyataannya, sejak lama, pondok ini dicurigai menjadi bibit pengkaderan para teroris. Penangkapan Abu Bakar Ba’syir, pendiri Ngruki yang lain, beberapa waktu lalu sesungguhnya tak mengejutkan jika mengingat kecurigaan yang tertanam. Saat Orde Baru berkuasa, pondok ini sempat diserbu pasukan Kopassus. Itu terkait dengan penolakan asas tunggal Pancasila. Sungkar dan Ba’asyir akhirnya harus pergi ke Malaysia pada 1985.

Fadlullah adalah anggota angkatan terakhir yang sempat diajar Sungkar dan Ba’asyir secara langsung. Ia masuk 1983, Huda menyusul dua tahun kemudian saat hampir berusia 13 tahun. Fadlullah adalah ketua kamar yang ditempati saat Huda baru masuk Ngruki. Mereka dekat. “Sosok Akhi Fadlul merupakan murrabi bagi kami, tempat belajar sekaligus berkeluh kesah jika hati sedang gundah,” tulis Huda sebagai “saya.”

Kenapa Fadlullah Ikut Teror Bom?

Sejak pertengahan buku, pembaca nyaris tak menemukan lagi Fadlullah sebagai “saya.” Padahal, kisah-kisah dirinya terus dibentangkan. Secara substansial, tak ada yang keliru. Cuma, akan muncul pertanyaan di ranah teknis: kenapa tak sejak awal “Fadlullah sebagai saya” ditiadakan?! Pertaruhan seorang penulis kepada sidang pembaca sesungguhnya bukan melulu substansi isi, tapi juga strategi literer yang diusung.

Hal yang juga mengganggu, tak panjang penjelasan atau rasionalisasi mengapa Fadlullah menempuh “jalan terorisme.” Ada penjelasan mengapa ia pergi ke Afghanistan dan Moro, tapi miskin deskripsi alasannya membantu para manusia bom itu. Fadlullah hanya bilang, “Ini adalah jihad kami, untuk memberi pelajaran kepada Amerika, negara koran tempat antum bekerja itu agar mereka tidak menzalimi Islam.” (hal. 261)

Mestinya, menurut saya, ada penjelasan lebih dalam mengingat Aghanistan dan Moro adalah medan perang, sementara Bali tak bisa dikategorikan demikian. Siapa pun, yang ada di posisi Fadlullah saat itu, niscaya mengetahui potensi korban dari kalangan sipil. Huda kurang menggali hal tersebut. Menurut saya, ini “lubang” yang ditinggalkan Huda dalam buku perdananya ini.

Menjadi kian penting rasionalisasi itu mengingat orang seperti Ba’asyir, guru yang dihormati Fadlullah, mengaku tak setuju dengan teror bom yang mereka lakukan. Jika ada di posisi Huda, saya akan bertanya, “Ustadz Abu tak setuju dengan aksi-aksi bom itu. Apa komentar Akhi?” Konfrontasi pandangan Ba’asyir versus rasionalisasi Fadlullah akan menjadi wawasan bermanfaat buat para pembaca.

Kita hanya diinformasikan bahwa Fadlullah sejatinya juga mempertanyakan sumber dana itu. “Faktor pendanaan aksi pengeboman ini juga membuat saya berpikir ulang. Rasanya, ada yang salah dalam aksi itu sebab sebagian uang operasionalnya berasal dari hal-hal yang masih abu-abu, yaitu hasil rampokan sebuah toko emas, “ kata Fadlullah (hal.258).

Selanjutnya, terdapat bagian yang tumpang tindih. Lihat, bab “Malaysia” mestinya bisa dihilangkan dan disusupkan ke “Perjalanan Jihad Saya.” Perbedaannya, di “Malaysia,” Fadlullah menjadi orang ketiga, dengan Huda sebagai orang pertama. Sementara di Perjalanan Jihad Saya,” Fadlullah menjadi orang pertama.

Terlepas dari kekurangan-kekurangan itu, Huda telah menyajikan kontribusi penting dalam perbincangan isu-isu terorisme di Indonesia, khususnya terkait eksistensi Ngruki. Pondok itu ternyata tidak berwajah tunggal.

Temanku, Teroris?: Saat Dua Santri Ngruki Menempuh Jalan Berbeda
Penulis: Noor Huda Ismail
Penerbit: Hikmah, Juli 2010, xxviii + 386 halaman

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

14 Komentar pada “Mereka dari Ngruki”

  1. Artikel yang bagus mengenai 2 santri yang sam2x berjihad tetapi berbeda haluan..

  2. Pencerah says:

    Konsep Jihad mereka sama dan insya Allah benar, hanya penerapannya saja yang kurang tepat. (kurang tepat dalam hal tempat, waktu, sasaran dan lain-lain)

  3. TINA KUNTJORO says:

    Thanks,yach atas infonya yang bagus,untuk menambah wawasan berpikir,sehingga saya juga tidak menganggap negatif ajaran suatu agama apapun yang pasti tidak ada yg mengajarkan untuk membinasakan sesama umat manusia untuk alasan apapun.

  4. sejuta mp3 says:

    mantab nich bukunya……. 2 kisah santri dengan jalan yang berbeda..

  5. rengganis says:

    Pengertian saya bahwa orang itu layak disebut suci dengan pengorbanan nyawanya adalah orang ynag merelakan jiwanya hilang demi menolong orang untuk kebaikan, bukannya orang yang rela mati untuk membunuh lebih banyak orang – terlebih lagi dengan cara yang sangat pengecut..

  6. Diarybisnis says:

    Tidak ada yang salah dari keduanya, satu berjuang dalam medan Jihad yang satu berjuang lewat Jihad Media……..Semoga tetap Istiqomah dlm Islam

  7. D9T says:

    Kisah yg cukup menarik, 2 ‘pjuang’ yg memilih arah yg berbeda. Yg 1 ikut jihad yg seorng lg jd reporter.
    Terlepas dr itu, nurutQ jihad yg tepat adlh mlawan diri untk mlakukan hal2 ‘fatal’ yg bs merugikn org laen, palagi merenggut nyawa yg tdk tw apa2. Dlm prkmbangan zaman dan kmajuan teknologi skrg ini, jihad lbih baik mengarah pd pemberdayaan masyrkat mengenal ajaran yg benar, yakni membangun peradaban yg dikeliling kedamaian, bukan MEMBUNUH!
    Skrg, BELUM saatx ‘jihad’.

  8. sugeng sulistiyono says:

    luar biasa..

  9. alqowwam says:

    Anda akan tahu bagaimana pedihnya hati anda jika melihat langsung bagaimana saudara seakidah dibantai oleh orang2 kafir. tapi sayang anda telah termakan isu bahwa yang memulai semuanya adlah orang muslim, padahal tidak. merekalah orang2 yang terus bergrilya untuk memberangus umat islam dr muka bumi. sadarlah wahai saudaraku semua.

  10. jaya says:

    abang saya lulusan ngruki. di keluar dari ngruki bersama teman2nya . itu mereka lakukan karena mereka tidak tahan dengan pendidikan di sana. sama sekali tidak memihak pemerintah. sedangkan Teman2 kakak saya itu adalah orang2 nasionalis yang selalu memegang teguh Islam dan Negaranya….

  11. el_Haleel says:

    Jihad always in my heart

  12. mr x says:

    hidup ini adalah pilihan, tentunya lebih baik mati dengan membawa keyakinan bahwa jihad membela agama ALLAH.SWT adalah Rahmatnya yang dianjurkan kemudian konsekuensinya janji ALLAH adalah surga para mujahidin tanpa hisab (koreksi low salah), dari pada mati dengan masih membawa keraguan di hati yang tentunya harus melalui proses hisab……
    kesimpulan tinggal pilih yang mana ?
    hidup lama di dunia dengan banyak godaan yang nantinya belum tentu masuk surga ataukah pilihann jihad yang pasti janji ALLAH
    ALLAHHUAKBAR

  13. setio.s says:

    jihad adalah puncak keimanan, kita yakin itu. tapi berjihad sebelum berilmu adalah kebodohan. jihad hanya bermodal semangat tak mungkin mencapai ridho Allah… berilmu dulu, apa itu jihad, siapa yang dilawan, siapa amir jihad, apa syarat dan rukun jihad adakah ini sudah wujud? silahkan kita sama sama belajar dulu, berikut ada referensi web bagus tentang jihad: http://almanhaj.or.id/category/view/81/page/1

  14. Seeking the Truth says:

    Kalo mau jihad, jangan di Indonesia. Silakan pergi ke Palestina sana, atw Afghan, atw amrik sono. Ga ada yg protes kalo kalian bikin kerusuhan disana.

Tinggalkan Komentar