Sunday, May 19, 2013

Mereka dari Ngruki

August - 29 - 2010 14 KOMENTAR
mereka-dari-ngruki

Yus Ariyanto

Pada 1990, Utomo Pamungkas alias Fadlullah Hasan berangkat ke Pakistan. Niat awalnya adalah mendalami ilmu agama Islam. Setelah tiba di Peshawar, hasrat menimba ilmu agama tak lagi mekar.

Situasi memanas di Afghanistan, tetangga Pakistan. Di sana, sejak 1979, tentara Uni Soviet masuk. Tapi, mereka menghadapi perlawanan sengit dari kaum Mujahiddin. Itu semua menjadi bahan obrolan di mana-mana, termasuk di kedai kopi. “Kalau sebuah Negara Muslim telah dicaplok oleh musuh, jihad melawan musuh wajib hukumnya,” kata seorang pengunjung kedai. Selengkapnya »

In Memoriam: Rasinah

August - 10 - 2010 13 KOMENTAR
in-memoriam-rasinah

Syaiful Halim

Rasinah adalah penari Topeng Indramayu ternama. Namanya pun sudah dimasukkan dalan kategori maestro. Karena, nenek berusia 80 tahun itu telah memperlihatkan dedikasi yang begitu tinggi terhadap tari Topeng.

Ia bukan hanya menari dengan rupa topeng-topeng yang selalu berganti di wajahnya. Tapi, ia juga menyebarkan inspirasi bagi orang lain untuk mencintai tari Topeng Indramayu. Selengkapnya »

Foke dan FPI

August - 8 - 2010 53 KOMENTAR
foke-dan-fpi

Yus Ariyanto

Ahli strategi militer Sun Tzu disebut-sebut menjadi pelontar pertama. Filsuf Niccolo Machiavelli terkadang dihubung-hubungkan juga. Tapi, agaknya Al Pacino, sebagai Michael Corleone di The Godfather: Part II, yang paling bertanggung jawab atas popularitas kalimat ini: keep your friends close, but your enemies closer.

Kalimat di atas menggenangi pikiran saya saat mendengar Pemprov DKI Jakarta akan menggandeng Front Pembela Islam (FPI) dalam mengamankan Jakarta sepanjang Ramadan. “Kita mengajak FPI sebagai komponen masyarakat untuk mengamankan bulan Ramadan, supaya umat Islam menjalankan ibadah lebih khusuk,” kata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo alias Foke [baca: Foke Ajak FPI Amankan Ramadan].

Langkah ini kontroversial. Dengan mengajak FPI, menurut LBH Jakarta, Foke telah memilih bersekutu dan mendukung kekerasan. “Ini kontras dengan sikap Foke terhadap masyarakat sipil yang selama ini cenderung tutup kuping dan sulit untuk menerima masukan dan kritik,” kata Direktur LBH Jakarta Nurkholis Hidayat dalam jumpa pers, Jumat lalu.

Terkait FPI, Foke juga jadi sorotan saat datang ke acara ulang tahun FPI di Petamburan, Jakarta Pusat, pekan lalu. Kesan yang meruap: mesra. Ah, ingatan kita masih cukup kuat untuk menjulur sampai April silam. Di saat itu, FPI ikut dalam massa yang mempertahankan makam Mbah Priok di Jakarta Utara yang hendak digusur Satpol PP. Bentrokan meletus, darah tumpah: tiga anggota Satpol PP tewas.

Tetap bertengger dua pertanyaan ini: ada apa di balik perangkulan FPI? Siapa memperalat siapa? Seorang teman nyeletuk, “Kan aparat Pemprov sudah digaji untuk mengerjakan hal-hal seperti itu. Kok masih ngajak-ngajak pihak lain? Mau cari aman dan enak sendiri?”

Mendengar celetukan itu, saya hanya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.  Di rumah, saya mencari-cari The Godfather: Part II, ingin melihat lagi Al Pacino mengucapkan “keep your friends…” Tidak ada. Dalam kecewa, saya membayangkan ini: Foke merangkul juga FPI demi membebaskan Jakarta dari macet dan banjir.