Ariyo Ardi
Ketika mendengar kata Afrika yang pertama kali terbayang dalam benak sebagian orang adalah seram dan terbelakang. Tak salah memang, karena banyak buku dan film dan juga tayangan televisi yang menceritakan kerasnya alam Afrika, yang pada akhirnya membentuk karakter masyarakatnya. Semua yang Anda bayangkan tentang Afrika dijamin sirna, ketika Anda menjejakkan kaki di Johannesburg, Afrika Selatan.
Di kota terbesar di negara yang lama terbelenggu oleh sistem pemisahan berdasarkan warna kulit atau apartheid itu, kemajuan dari peradaban bangsa Afrika bisa dilihat dan dirasakan. Gedung pencakar langit, sampah yang jarang bertebaran, tidak ada corat-coret tembok, dan ditambah banyaknya mobil mewah yang berseliweran, membuat saya takjub.
Rasa takjub lain adalah ketika saya dan juru kamera yang ditemani seorang sopir lokal pertama kali berkunjung ke Pretoria. Aspal yang mulus membuat perjalanan selama 30 menit tidak terasa dan ketika pulang ke Johannesburg kami disuguhi pemandangan indah dari deretan cahaya lampu di Highway N1.
Bagaimana dengan orang Afrika, benarkah mereka adalah orang keras dan kaku? Memang tidak dipungkiri ada tipikal orang setempat yang mempunyai tabiat seperti yang telah saya sebutkan. Tapi setelah sering berinteraksi dengan mereka, ternyata orang Afrika tidak selamanya keras dan kaku, bahkan mereka cenderung ramah. Buktinya jika Anda berpapasan mereka seringkali menegur terlebih dahulu sambil berkata “how are you”. Kalimat tersebut juga wajib diucapkan terlebih dulu. Jika Anda ingin sekedar bertanya jalan atau membeli sesuatu dan tidak mengucapkan “how are you” maka siap-siaplah Anda akan didamprat sambil mendengarkan ocehan, “where is your manner.”
Di balik segala kelebihan dari Johannesburg yang telah saya sebutkan, Anda yang berkunjung ke kota ini harus ekstra hati-hati karena kota ini rawan kejahatan. Ketika pulang dari liputan, mobil kami berhenti di lampu merah di daerah Sandton yang merupakan salah satu daerah elit yang baru dibangun pasca tumbangnya rezim Apartheid, ada dua orang laki-laki yang menghampiri mobil kami, satu orang berjalan di depan dengan membawa palu dan matanya menatap tajam seakan ingin mencari tahu barang-barang apa saja yang ada di dalam mobil dan satu orang lainnya menawarkan jasa membersihkan kaca bagian depan. Beruntung kami mempunyai pengemudi orang lokal yang segera memasang wajah sangar. Kejadian tersebut mengingatkan saya dengan kelompok Kapak Merah di Jakarta
Jadi Anda yang menyaksikan Piala Dunia, selamat mencoba merasakan sendiri kemajuan bangsa yang sering disebut terbelakang ini, sambil tetap waspada dengan keamanan. Anda harus ingat kalimat yang diucapkan Leonardo di Caprio dalam film Blood Diamond: T.I.A (THIS IS AFRIKA).
*Penulis sedang berada di Afrika Selatan dalam rangka peliputan Piala Dunia 2010.




















Salaam Mas Aryo,
Wah kaget ya mas? herannya para pejabat negara kita misalkan menteri PU yang biasa tuh ke LN dan tau enaknya kondisi jalan raya di LN, tapi tetap bandel pas pulang tanah air, tetap saja kondisi jalan raya di negara Indonesia kacau balau, buruk bahkan nggak standar lah. Kacaunya, Indonesia ini gak tau diri, sombong banget, negara orang infrastrukturnya maju modern tapi negara kita ala kadarnya.
Yang juga patut disalahkan yaitu pengembang jalan/ yang menang tender tuh, korup abisss!
Mas Ariyo be careful. Sesuatu yang dibayangankan buruk kadangkala, seringkali lebih baik, mudah-mudahan yang dibayangkan baik tidak berubah jadi buruk. Selamat bekerja, sukses liputannya bawa oleh-oleh yang banyak untuk semua.
Jangan lupa kunjungi Taman Krugher di Pretoria…salam buat Suhanda…
selamat meliput, selamat bertugas mas! hati2
Wah, berasa kayak di Jakarta ya baca pengalaman di lampu merah Johannesburg.
pengalaman yang luar biasa, mas aryo. selamat bertugas..
Terima kasih buat atensi teman-teman.Selamat beraktivitas juga
Coba berkunjung ke Cape Town… Tidak ada bedanya dengan kota-kota di Eropa. Kebanyakan orang berkulit putih. Kota tempat plesiran. Mas Aryo bisa cermati juga ‘keunikan’ olahraga di Afsel yang masih ‘menyisakan bau’ apartheid. Sepakbola adalah olahraganya orang berkulit hitam. Cricket adalah olahraganya orang keturunan India. Rugby adalah olahraganya orang berkulit putih…
asikna tugas sekalian nikmatin piala dunia live, enjoy ur moment mas aryo, smangat n be carefull in there..
ada baiknya contoh afrika ya, di kota metronya tidak ada mobil merek..menhindari kesenjangan sosial kelas atas n bawah,,kayak kota metro kita..yang diatas semakin keatas..yang dibawah makin nyungsep kebawah hehehe..
Terima kasih pencerahannya
tolong kunjungi alamat blog saya,tentang jeritan “lara” agar bisa meberi mereka secerca harapan.
Mas aryo…..selamat bertugas….moga sukses selalu…..kta serapi ap yg anda informasikan scra fakta….
Benar kata, mas aryo. orang afrika bermuka sangar tapi mrk begitu sangat baik,saya tlh setahun lebih d afrika.sprtinya saya betah dsini tak ada korupsi dsini tak sama dgn indonesia terlalu korup,selamat bertugas mas aryo dan terus sukses
beberapa hari saya nggak bisa lihat berita vidio di Liputan 6 lewat internet saya tinggal di USA kenapa padahal tiap hari bisa tolong kenapa? Thanks
mas, postingan blog – sekali, banyakin, biar dapet feedback. tx
Good job and keep the spirit
saya adalah pengemar presenter yang ada di liputan 6.
Good Job all