Saturday, May 25, 2013

Keanehan Sang Wali Kota

June - 15 - 2010
keanehan-sang-wali-kota

Yus Ariyanto

Aneh bin ajaib. Pemerintah Kota Bandung, Jawa Barat, mencekal Ariel “Peterpan,” Luna Maya, dan Cut Tari dalam melakukan aktivitas keartisan di Kota Kembang selama menjalani masalah hukum terkait video mesum yang diduga dilakoni mereka. Pencekalan dicabut jika ketiganya secara hukum tidak terbukti sebagai pelaku.

Wali Kota Bandung Dada Rosada menyatakan, Pemkot juga melarang wajah Ariel, Luna, dan Tari muncul dalam iklan, poster, atau baliho di Bandung.

Sang wali kota berpendapat, Ariel yang merupakan warga kota Bandung justru telah mencoreng nama Kota Kembang sebagai kota agamis-religius. Kepada koran lokal, Dada juga bilang, tak tertutup kemungkinan bahwa Ariel yang berdomisili di Arcamanik, Bandung, dicoret sebagai warga.

Minimal, saya menemukan tiga keanehan. Pertama, prinsip universal adalah praduga tidak bersalah (presumption of innocence). Selama pengadilan belum memutus bahwa seseorang bersalah, perlakukan yang bersangkutan sebagaimana biasa. Ini untuk berjaga-jaga: iya kalau bersalah, kalau tenyata tidak?! Dengan melakukan pencekalan itu, Dada terkesan jumawa. Mendahului pengadilan, ia jatuhkan vonis sendiri hanya berdasarkan persepsi dan asumsi. Betapa berbahaya jalan pikiran begini.

Kedua, andai kemudian memang dinyatakan bersalah, kenapa para pesohor itu juga harus menanggung “kematian perdata”? Ini mengingatkan kita kepada cara Orde Baru dalam membungkam lawan-lawan politik, terutama eksponen Petisi 50. Misalnya, para penentang Soeharto itu dipersulit saat mengajukan kredit atau tidak diterima menjadi anggota organisasi di mana-mana. Tidak semua warisan Orde Baru buruk,  tapi menghantam lawan dengan jurus semacam itu jelas bukan teladan.  Biarkan saja proses pidana yang berjalan dan menentukan.

Ketiga, kenapa ini hanya diterapkan kepada mereka? Kenapa tidak kepada para tersangka/terdakwa pelaku kejahatan korupsi? Pornografi dan pornoaksi memang harus dijauhkan, terutama dari anak-anak. Tapi, dengan memberlakukan omongan di atas, bisa dibaca bahwa Dada memiliki “masalah” dalam menyusun prioritas masalah.

Repot memang berhadapan dengen pemerintah yang terlampau cerewet.  Sialnya, mereka sibuk untuk hal-hal yang bukan urusan mereka. Untuk seorang Dada, jauh lebih penting buat dia memikirkan dan memperbaiki jalanan Bandung yang sangat memprihatinkan: banyak lubang, rawan banjir, langganan macet.

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

101 Komentar pada “Keanehan Sang Wali Kota”

  1. dwi says:

    walikota yang aneh..

Tinggalkan Komentar