Yus Ariyanto
Gara-gara seragam, kami diburu. Puluhan pelajar sekolah lain mengelilingi bus yang kami tumpangi. Mereka siap dengan batu dan kayu. Kami, mungkin dua belas atau tiga belas orang, tak bisa berbuat apa-apa. Hanya berdoa. Mereka terlampau banyak. Lalu, praaangg…kaca mulai ditimpuki. Para perempuan mulai menjerit. Sialnya, lalu-lintas tak bersahabat di kawasan Mayestik, Jakarta Selatan, itu. Macet. Untunglah, dua polisi akhirnya tiba. Seorang teman berdarah di kepala.
Di seragam kami, di lengan kanan, ada nama dan lokasi sekolah. Itulah yang menjadi penanda buat “musuh.” Secara personal, kami dan mereka tak saling mengenal. Tapi, di antara kami yang pulang searah, justru tumbuh soliditas internal. Kami saling tunggu, berupaya untuk menaiki bus yang sama menuju rumah seusai sekolah.
Itu bertahun-tahun silam. Pekan ini, ratusan anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemprov DKI Jakarta tunggang-langgang dikejar massa yang murka di Koja, Jakarta Utara. Massa niscaya tak mengenal mereka secara personal. Juga seragam sebagai penanda. Kali ini, bukan hanya darah yang mengucur, sejumlah nyawa pun melayang.
Seragam, pada awalnya, melulu urusan pakaian. Tapi, pada gilirannya, kerap terkait juga dengan perilaku dan pola pikir. Maka, kita kemudian mendengar ungkapan, “Ah, pikirannya sudah seragam.” Individualitas menjadi tak penting, tenggelam dalam lautan kolektivitas.
Saya sontak teringat uraian Eric Hoffer. “Ia harus berhenti menjadi George, Hans, Ivan, atau Tadao,” tulis Hoffer di The True Believer, risalah klasik tentang gerakan massa. Dalam gerakan massa, kata Hoffer, peleburan individualitas menjadi syarat penting. Yang eksis hanya kelompok–entah itu bernama etnis, partai, atau negara.
Di Koja, tak ada lagi Hasan, Amir, atau Udin. Yang eksis cuma Satpol PP dan massa. Pihak pertama berseragam, pihak satunya tidak. Tapi, anggota kedua pihak sama-sama mengidap pola pikir seragam: hancurkan lawan. Tanpa pandang bulu. Di sana, sengaja atau tidak, dibangun situasi begini: pukul atau dipukul, bunuh atau dibunuh. Tak ada ruang untuk sejenak mengingat bahwa dialog pasti jauh lebih baik ketimbang adu fisik. Dalam kalimat Hoffer, “Keduanya menuntut pengorbanan diri, kepatuhan mutlak, dan kesetiaan tunggal.”
Baju seragam sejatinya bukan masalah. Apalagi jika cuma seragam sekolah–andai terpaksa mesti pulang sendiri, kami telah siap dengan baju ganti . Pola pikir seragam jauh lebih mencemaskan. Itu dibentuk oleh kekuasaan: negara, agama, atau…tempat bekerja.




















bukankah seragam itu identitas?
jadi, siapa kita kadang di gambarkan dengan seragam kita.
menurut gwe perang antara satpol pp dengan masyarakat koja karena kucuran uang extra untuk pihak satpol pp.bukan karena seragam.
Semasa masih jadi “penguasa” Bulungan, di masa mudamu kau sempat ikutan tawuran nggak ‘Yus?
ataukah seragam membuat fanatik pada kelompok dan berjarak dengan kelompok lain???
Seragam seharusnya tidak membuat orang menjadi fanatik, yang menyebabkan fanatik ialah pola pikir pemakai yang masih sempit
Paling tidak banyak orang tertolong karena dengan seragam jadi tidak perlu bingung lagi dengan pertanyaan: hari ini saya mau pake baju apa ya??
bagaimanapun seragam merupakan identitas pelajar, dari seragam yg dikenakan kita dengan mudah dapat mengenali dari sekolah mana dan tingkat pendidikannya
Seragam adalah symbol,tp slalu sja sragam dsalah gunakan,jd hindari lah penyalah gunaan seragam
tidak ada yang salah dengan seragam, kecuali kalau dia disalahgunakan.
Karena baju seragam adalah lambang identitas kelompok, mampu membuat orang yang memakai seragam yang sama merasa lebih bisa menyatu. Tetapi di kalangan pelajar justru lebih aman klo sesudah pulang sekolah ganti baju seragamnya dengan baju biasa, lebih aman, hehehehe
seragam adalah amanah, bukan buwat gaya2an atau pamer pangkat dan jabatan