Anri Syaiful
Saat masih bocah sekolah dasar, saya kerap berkunjung ke taman bacaan di samping terminal lama Pasarminggu, Jakarta Selatan. Namun, hari itu ada kejadian menggemparkan. Ada mayat lelaki bertato dengan lubang bekas pelor di dadanya tertelungkup di samping terminal.
“Petrus, korban petrus,” desis seorang warga dengan nada takut. Ya, kala itu “petrus” atau penembak misterius memang merajalela. Ini semacam operasi terselubung aparat keamanan era Orde Baru untuk memberangus sepak terjang para preman dan bromocorah alias residivis. Pada awal 80-an, aksi kejahatan mereka dianggap sangat meresahkan masyarakat. Selengkapnya »
