Syaiful Halim
Sebuah perahu eretan melintasi Sungai Cisadane yang membelah Kota Tangerang, Banten. Orang-orang di atasnya berdiri sambil berharap agar perahu bisa lekas sampai. Penduduk yang bermukim di pinggiran sungai itu memang hanya mengandalkan perahu eretan sebagai sarana untuk menyeberang. Dan sebagian besar penduduk di pinggiran sungai itu adalah warga Cina Benteng. Termasuk, Pang Tjin Nio –lebih dikenal dengan nama Masnah.
Pang Tjin Nio adalah maestro kesenian gambang kromong, yang sejak remaja hingga usia senjanya mengabdikan diri pada dunia panggung. Saat ini, hanya Masnah yang sanggup menyanyikan lagu-lagu gambang kromong klasik.
Siang itu, Masnah keluar dari rumahnya dan menumpang perahu eretan karena mendapat undangan di sebuah tempat hajatan. Rencananya, ia memang bakal menyanyi di tempat itu selama dua malam berturut-turut. Warga Cina Benteng memang memiliki kebiasaan menggelar hajat demikian lama. Dan sudah pasti menghadirkan kesenian gambang kromong.
“Kalo nggak terjun ke seni bisa-bisa senewen (gila, red)!” urai Pang Tjin Nio membuka kisah “perkawinan”nya dengan gambang kromong. Lantas, ia bertutur beragam drama kehidupan dari soal perkawinannya di usia muda, kematian suami dan anak sulungnya, hingga keawamannya tentang kehidupan seni. Perempuan itu buta huruf dan sudah pasti tidak mampu membaca notasi.
Setelah menumpang mobil angkot sekitar dua jam, ia pun tiba di kawasan Cukang Galih di pinggiran Kabupaten Tangerang. Di tempat pesta, para panjak (pemain gambang kromong) dan para cokek (penari) juga sudah berdatangan. Selain menata kebutuhan pementasan, mereka tengah mengantre untuk mendapatkan jatah makan siang yang disediakan pemilik hajat.
Canda-canda khas cokek dan ritual sederhana di belakang panggung menyemarakan siang yang makin panas. Meski diakui sebagai budaya Cina Keturunan, prosesi upacara tetap saja bernuansakan Islam yang sinkrestisme. Karena, mereka masih menggunakan suguhan, dupa, dan menyan! Padahal, doa yang disampaikan persis seperti yang diucapkan kaum muslim.
Beberapa saat kemudian, sebuah lagu sayur (popular) Jali-jali Ujung Jalan meluncur dari mulut Pang Tjin Nio. Beberapa cokek menemani tamunya ngibing (menari). Sedangkan sejumlah cokek lain sibuk berdandan. Maklum, malam nanti mereka harus tampil secantik mungkin.
Sekilas cerita tentang Pang Tjin Nio segera saja memberikan gambaran tentang keberadaan komunitas Cina Benteng (komunitas Cina Keturunan yang bermukim di pinggiran kota Jakarta), produk kebudayaan yang dilahirkan dari sebuah proses pembauran bernama kesenian gambang kromong –dengan para cokek dan perjuangan keras seorang perempuan dengan segala kemampuannya.
Bicara tentang Komunitas Cina Benteng, maka mereka senantiasa dihadapkan pada persoalan ras yang “tidak jelas” (Cina bukan dan pribumi pun bukan), masyarakat yang terpinggirkan, dan komunitas yang tetap saja sulit memperjuangkan masa depannya. Sedangkan cerita tentang kesenian gambang kromong adalah pembuktian tentang betapa kuatnya penetrasi budaya Cina tempo dulu terhadap budaya lokal. Sehingga, ia akan selalu menjadi ikon keberadaan ras Cina di negeri ini.
Ketika reportoar klasik Pobin Khong Ji Lok diperdengarkan, sebenarnya mereka tengah menghidangkan makna simbolik tentang peran kesenian gambang kromong. Karena, kesenian itu merupakan tampilan “superior” kaum pendatang pada masa silam terhadap warga pribumi melalui simbol cokek (penari gambang kromong). Di pekalangan (arena hajatan), sang tamu (warga Cina Benteng) bisa berbuat sekehendak hatinya terhadap cokeknya (yang biasanya warga pribumi), bila ia telah memiliki cukin (kain) sang cokek. Termasuk, pelecehan seksual!
Perjalanan waktu, akhirnya menghadirkan banyak perubahan dalam tampilan dan makna-maknanya. Bila tempo doeloe, para cokek menjadi simbol “superioritas” warga Cina (pada jaman pemerintahan Hindia Belanda tergolong warga kelas dua) atas warga pribumi, sedangkan sekarang menjadi hubungan dagang. Sang cokek membutuhkan uang, maka ia bersedia menemani tamunya menari dan diperlakukan apa saja.
Bila dulu kesenian gambang kromong menghadirkan lagu-lagu klasik (yang memperlihatkan keunikan khas Cina), maka kini lebih banyak menghadirkan lagu-lagu sayur (popular). Tujuannya memang telah bergeser, sekedar memberikan hiburan.
Dalam posisi seperti itu, Pang Tjin Nio menjadi bagian yang cukup penting untuk memberikan gambaran keberadaan Komunitas Cina Benteng pada masa sekarang, pergeseran fungsi kesenian gambang kromong dan para cokeknya, dan perjuangan warga kelas pinggiran untuk mempertahankan identitas dan kehidupannya. Pang Tjin Nio atau Masnah menjadi karakter dalam lelakon ini, karena ia perempuan tangguh dan legenda yang terus memperjuangkan pembumian warga keturunan di negeri ini.
“Kalo encim (bibi dalam bahasa Cina, red) nggak ada, nggak tau lagi, dah. Nggak tau gimana nasib gambang kromong atau lagu-lagi klasiknya. Kan cuma encim yang apal (hafal, red),” sesalnya lirih. “Kan, encim mah udah gak ada?”
Pang Tjin Nio adalah sisa terakhir keotentikan kesenian gambang kromong. Di usianya yang sudah lebih dari 80 tahun, ia masih tetap menyanyi. Meski sekadar untuk mengais nafkah. Dan itu menjadi bukti kecil soal nasib warga Cina Keturunan di pinggiran Jakarta.
Catatan: disarikan dari film dokumenter Dua Perempuan yang produksi Komunitas Matahati Production.




















Cina Benteng, Cina Keturunan,atau sebutan apa lagi? Tapi, Cina Benteng tetap memilukan. Terutama, Pang Tjin Nio. Apa filmnya bisa didapat? Mohon info dari Bang Syaiful….
Great story! Tho thumbs!
Oeh…. banga jadi cina benteng karena ( biarpun berbagai komunitas mengatakan Cinben itu Norak, bodo, memilukan,jorok, dan yang lebih parah lagi tidak ada tempat berlindung dimanapun, Cina “pedahal pulang ke cina juga kaga di aku” di Indonesia kaga ke aku ke Cina kaga ke Aku. )ada pepatah mengataken Anjing menggonggong kafilah berlalu …. nah kita sebage kafilah ngapain dipuyengin ama urusan begituan…….
nyang penting mah.. kita kudu tau sejarah…Benteng…jadi bisa ngebeda’in mana nyang awal & mana nyang baru.
kalo Ibu. Pang Tjin Nio ( Mama Masnah ) itu mah guru + orang tua Oeh…
Cinben merupakan bukti sejarah bahwa sejak tempo dulu, orang bilang jaman kuda gigit besi, adanya hubungan dagang antara dataran Cina dengan Nusantara. Biasanya juga terjadi perkawinan manusia dan juga seni budaya, salah satu adalah seni gambang kromong.
sebagian besar dari cin ben itu khan keturunan pejuang yg berperang
melawan voc dengan mendirikan basis kekuatan di tempatnya sekarang.
Setuju Pak Haji Bodong. Saya juga mengenal Ibu Masnah dengan baik. Salut buat tulisan Bang Syaiful. Kapan bikin film gambang kromong lag?
bapa .
kami juga disni .
di samarinda terutama di GP .
perum. kalimanis .
saya harap Bapa habis melihat komentar saya .
bapa bisa membantu warga sini dan mengajak pemerintah untuk membantu warga di sini yang rumahnya hancur karna angin puting beliung .
memberi bantuan sedikitnya lah untuk kami disini .
mohn bantuannya Pak .
GBU .