Monday, May 20, 2013

Bonek & Fanatisme Ugal-ugalan

January - 26 - 2010
bonek-fanatisme-ugal-ugalan

Moh Samsul Arifin

Sungguh murah harga nyawa di republik ini. Satu lagi bonek–pendukung Persebaya–meninggal selepas menyaksikan big match Persib vs Persebaya di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Bandung. Ia jatuh dari kereta api yang mengantarnya pulang ke Surabaya. Ini kejadian kedua. Jelang duel klasik dua klub yang memiliki pendukung fanatis itu, A. Fathoni (21) jatuh dari atap kereta di Nganjuk dan meninggal. Yayasan Suporter Surabaya bahkan menyebut korban tewas menjelang dan selepas pertandingan yang berkesudahan [4-2] untuk Persib itu mencapai tiga orang. Satu orang bahkan belum dikenali identitasnya. Korban luka berbilang.

Bonek–bondo nekat–tewas bukan yang pertama. Sudah berkali-kali. Selain jiwa, kerugian material berderet panjang. Sebutlah kerugian panitia pelaksana pertandingan yang harus kehilangan pemasukan sebesar Rp105 juta lantaran harus menggratiskan 7.000 tiket kepada para bonek yang berjubel, Sabtu pekan lalu. PT Kereta Api Daerah Operasi II–yang mengantar pulang pendukung Bajul Ijo–mengaku menangguk rugi Rp1 miliar. Ini belum kerugian lain yang tak terhitung akibat ulah bonek sepanjang jarak Bandung-Surabaya. Inilah potret sepak bola ini, kalau bukan gambar buram bangsa Indonesia. Fanatisme ugal-ugalan–kata ini saya pinjam dari ekonom Rizal Ramli–yang tak hanya membahayakan diri sendiri, juga komunitas tempat sang subyek berdiam serta masyarakat luas.

Kata fanatisme saya gandengkan dengan kata ugal-ugalan bukan tanpa maksud. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 2000), fanatisme diartikan sebagai keyakinan (kepercayaan) yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama, dst). Subyek yang terjebak fanatisme mengekspresikan keyakinan atau kegemarannya atas sesuatu secara berlebihan–kadang membabi buta–sehingga berakibat kuarang baik, bahkan menimbulkan perseteruan dan konflik serius. Penganut agama yang fanatis misalnya kerap masuk perangkap absolutisme–tak menyisakan kebenaran bagi pihak lain. Fanatisme yang kelewat batas sering kali mengantarkan subyek menjadi fundamentalis.

Tentu saja ada pula energi positif yang bisa diraih dari berpikir dan bertindak fanatis. Subyek dapat menenggak kesenangan saat jadi fanatis. Misalnya, penggemar fanatik grup Slank rela membentuk komunitas, lengkap dengan pengurus dan benderanya setiap distrik, meski tanpa bayaran. Subyek melebur dalam komunitas, menerbitkan jejaring sosial dan ekonomi dan akhirnya membentuknya menjadi manusia utuh. Bagi Slank, fansnya yang fanatis adalah berkah melimpah yang mempertebal keyakinannya terus berkarya dan dengan begitu mengisi pundi-pundi grup band tersebut.

Dengan optik sama, Bonek sebetulnya aset bagi Persebaya–sebagaimana juga Viking (Persib), Jakmania (Persija) atau Aremania (Arema). Dari sisi itu eksistensi Bonek layak disyukuri–bukan hanya bagi bagi klub asal Surabaya itu, melainkan bagi eksistensi sepak bola Indonesia yang sekian tahun ini kering prestasi. Bisa dibayangkan pertandingan Liga Indonesia tanpa penonton yang berjubel. Mungkin tetap pertandingan sepak bola, tapi tanpa jiwa karena tak melibatkan publik sebagai penikmat olahraga tersebut.

Yang jadi soal, justru ketika fanatisme itu tidak terkelola. Yayasan Suporter Surabaya menyatakan Bonek yang berulah itu kerap kali bukan bagian dari perkumpulannya. Artinya mereka kumpulan individu (subyek) yang anonim, tak diwadahi dalam perkumpulan suporter. Berbekal uang pas-pasan, mereka bergabung dengan sesamanya dan lalu melebur menjadi kumpulan individu dalam jumlah massal. Ini yang terjadi ketika puluhan ribu Bonek ngluruk ke Bandung untuk mendukung tim kesayangannya bertanding. Alhasil, Bonek tanpa perkumpulan itu berulah di jalanan: mulai dari merampas makanan para pedagang hingga naik kereta api tanpa bekal tiket. Kisah pilu terjadi pada salah seorang yang tewas setelah jatuh dari atap kereta api. Bermodal Rp75 ribu, ia nekat ke Bandung bergabung dengan kawan-kawannya. Nahas, ia terpelanting dan jatuh dari kereta sehingga nyawa tak tertolong.

Inilah ironi subyek. Adalah maklum dalam kerumunan, subyek bisa terlempar jadi manusia anonim–tanpa identitas. Subyek itu melebur dalam kerumunan, sehingga tanpa sadar melakukan hal sama yang dilakukan subyek-subyek lain dalam kerumunan itu. Seorang diri manusia pastilah takut naik atap kereta api, apalagi jika harus menempuh ratusan kilometer Surabaya-Bandung. Namun, bersama individu lain dalam kerumunan, rasa takut itu akan lenyap. Subyek akan kehilangan rasa takut, ia tak peduli pada risiko. Sebaliknya dalam kerumunan, subyek bermetamorfosis jadi diri yang lain.

Itulah yang saya lihat mana kala menyaksikan Jakmania berjubel naik Metromini. Jika seluruh kursi dan ruang penumpang penuh, maka para Jakmania itu pun duduk di atap Metromini. Di jalanan menuju Lebak Bulus atau Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, mereka berjingkrak dan bernyanyi. Memang terselip masalah laten ekonomi di balik ekspresi kumpulan individu yang kini tak lagi memiliki rasa takut itu. Tapi jika saja rasionalitas masih bertahta pada kumpulan individu itu, ia akan berhitung dengan risiko.

Sungguh pun begitu. Marilah belajar dari masa silam. Saya masih ingat. Saat itu musim kompetisi perserikatan 1986/1987. Saya tinggal nun jauh dari Surabaya–kira-kira sejarak 200-an kilometer. Di Jember, mobilisasi yang dilakukan Jawa Pos [koran lokal paling berpengaruh di Surabaya dan Jawa Timur] untuk memompa semangat warga Jatim mendukung Persebaya yang lolos ke peringkat 6 Besar terasa sekali. Koran yang dibesarkan Dahlan Iskan ini menjadi semacam penyelenggara perjalanan bagi warga Jatim yang hendak menyaksikan Persebaya bertanding di Jakarta. Alhasil puluhan ribu warga Surabaya dan sejumlah kota ikut serta. Persebaya masuk final, tapi dibenamkan PSIS sehingga gagal membawa gelar juara ke Kota Pahlawan.

Pada musim berikutnya, Jawa Pos, tetap melakukan hal tersebut. Persebaya yang kala itu di bawah manajer M. Barmen, kini tak memberikan ampun pada PSIS untuk lolos ke 6 Besar di Senayan. Lewat sandiwara sepak bola gajah, Persebaya mengandaskan PSIS setelah secara suka reladihujani 12 gol oleh Persipura. Persebaya pun terbang tinggi. Mereka menjemput gelar setelah membungkam tuan rumah Persija [3-1]. Mustaqim Cs meraih gelar itu berkat suntikan moril para pendukung fanatiknya, bukan bonek yang ugal-ugalan.

Jikalau kita sepakat “tak ada yang setara dengan nyawa”, maka mulai sekarang seluruh pihak harus mampu mengelola fanatisme itu biar tak menerbitkan anarki di jalanan. Bersama kita bisa!

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

20 Komentar pada “Bonek & Fanatisme Ugal-ugalan”

  1. memang seperti itu wajah, yang katanya suporter sepakbola di indonesia, sudah saatnya manajemen suporter masing – masing club, harus bisa mengatur dan memanajemen anggotanya agar yang namanya suporter itu benar – benar mensuport timnya jangan justru malah berbuat anarkis seperti yang lakukan oleh bonek tersebut,kita harus malu, prestasi ga ada eeh malah bikin ulah, kalau dah kaya gini siapa yang rugi ? ya masyarakat termasuk suporter tersebut, mudah mudahan kedepannya suporter sepakbola kita akan semakin dewasa sehingga kejadian – kejadian seperti ini tidak terjadi yang mengakibatkan kerugian semua pihak…bravo sepakbola indonesia!!!!

  2. Waduh…
    Memang kalo melihat Bonek-bonek sekarang, kelihatannya hanya bisa bikin ricuh saja.
    (Anak-anak kecil yang hanya ikut-ikutan)

    Seperti kemarin salah satu Admin kami saja di cegat para Bonek yang hanya minta uang,katanya kalo tidak dikasih mau di keroyok…
    parah kan?

    untuk para leader BONEK saya harap masalah-masalh seperti itu bisa lebih di perhatikan, karena nantinya dapat berdampak pada Tim kesayangannya sendiri.

    Dan untuk liputan6 Semoga SELALU yang terdepan dalam menyampaikan berita-berita daerah, nasional maupun manca negara.

  3. agung says:

    solusinya apa?

  4. rojo singo says:

    ya namanya BONEX yang artinya BON nekat kan pas bikin nama lagian kan banyak temenya coba kalu sendirian paling kaya tikus masuk got

  5. Achmad Fauzi says:

    ulah para supporter sepak bola di indonesia memang sangat meresahkan.. ini perlu mendapat perhatian serius pemerintah khususnya pihak PSSI

  6. bonek ataupun suporter yang ugal2 an lainya hnya membikin sepak bolayng indah di tonton menjadi.. gk enak tuk di tonton

  7. WeNETelu says:

    bukan cuma bonek saja yang ugal-ugalan , fanatisme ugal-ugalan kayaknya juga sudah melanda para pejabat kita ,sehingga lupa akan tugas pokoknya.

  8. sukoco says:

    saya sebagai orang jawa timur turut menanggung malu akibat ulah para BONEKers, saya sarankan untuk para petinggi bonek untuk segera merobah prilaku yang memalukan itu menjadi sesuatu yang positif bagi persepak bolaan Jawa Timur/Surabaya, jangan sampai kedepannya sepak bola dilarang dibumi surabaya gara-gara ulah bonek yang tidak jantan, dari dulu tidak pernah mau menerima kekalahan…………..,camkan itu,………….!!!!

  9. Billy says:

    kenapa tidak ada perda

  10. andipeace says:

    tapi deltras mania ga bikin ricuhkan…. :D deltras selaras sama khas kotanya “green city”

    salam adem ayem

  11. herry says:

    para bonek emank selu bkin resah.

  12. at-tighaliy says:

    kultur merasa diri benar sehingga fanatis dalam bentuk apapun dibenarkan .. ada yang aneh, konon jawa timur banyak ulama, tapi kaya ga ngaruh .. mungkin kyainya ga suka bola .. tapi ga apa-apa lho, ga suka bola juga yang penting jadi kyai …

  13. moko says:

    jadi heran, kenapa sepak bola indonesia lebih banyak memakan korban di luar lapangan daripada prestasi di dalam lapanganya itu sendiri.

  14. jayenxs says:

    saya orang jawa timur juga …mendengar dan melihat di tv pasti muak BONEK =fanatisme goblok…..

  15. Sigit Ary says:

    Ayyoooo… dukung sepakbola di Indonesia.. :)

  16. dedy says:

    Harga nyawa murah karena biaya produksi juga murah.

  17. Scor Wang says:

    Terlalu banyak nonton film laga.
    Jadi ricuh antara olah raga dan film laga.
    Payah,,, Kurang dewasa.

    Di Indonesia tuch.
    Menang tawuran.
    Kalah pun tawuran.
    Tidak ada pertandingan pun masih tawuran juga.
    Aneh, bukan?.

    :D .

    From : http://www.twitter.com/Scorwang .

Tinggalkan Komentar