Saturday, May 18, 2013
bonek-fanatisme-ugal-ugalan

Moh Samsul Arifin

Sungguh murah harga nyawa di republik ini. Satu lagi bonek–pendukung Persebaya–meninggal selepas menyaksikan big match Persib vs Persebaya di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Bandung. Ia jatuh dari kereta api yang mengantarnya pulang ke Surabaya. Ini kejadian kedua. Jelang duel klasik dua klub yang memiliki pendukung fanatis itu, A. Fathoni (21) jatuh dari atap kereta di Nganjuk dan meninggal. Yayasan Suporter Surabaya bahkan menyebut korban tewas menjelang dan selepas pertandingan yang berkesudahan [4-2] untuk Persib itu mencapai tiga orang. Satu orang bahkan belum dikenali identitasnya. Korban luka berbilang.

Bonek–bondo nekat–tewas bukan yang pertama. Sudah berkali-kali. Selain jiwa, kerugian material berderet panjang. Sebutlah kerugian panitia pelaksana pertandingan yang harus kehilangan pemasukan sebesar Rp105 juta lantaran harus menggratiskan 7.000 tiket kepada para bonek yang berjubel, Sabtu pekan lalu. PT Kereta Api Daerah Operasi II–yang mengantar pulang pendukung Bajul Ijo–mengaku menangguk rugi Rp1 miliar. Ini belum kerugian lain yang tak terhitung akibat ulah bonek sepanjang jarak Bandung-Surabaya. Inilah potret sepak bola ini, kalau bukan gambar buram bangsa Indonesia. Fanatisme ugal-ugalan–kata ini saya pinjam dari ekonom Rizal Ramli–yang tak hanya membahayakan diri sendiri, juga komunitas tempat sang subyek berdiam serta masyarakat luas.

Kata fanatisme saya gandengkan dengan kata ugal-ugalan bukan tanpa maksud. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 2000), fanatisme diartikan sebagai keyakinan (kepercayaan) yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama, dst). Subyek yang terjebak fanatisme mengekspresikan keyakinan atau kegemarannya atas sesuatu secara berlebihan–kadang membabi buta–sehingga berakibat kuarang baik, bahkan menimbulkan perseteruan dan konflik serius. Penganut agama yang fanatis misalnya kerap masuk perangkap absolutisme–tak menyisakan kebenaran bagi pihak lain. Fanatisme yang kelewat batas sering kali mengantarkan subyek menjadi fundamentalis.

Tentu saja ada pula energi positif yang bisa diraih dari berpikir dan bertindak fanatis. Subyek dapat menenggak kesenangan saat jadi fanatis. Misalnya, penggemar fanatik grup Slank rela membentuk komunitas, lengkap dengan pengurus dan benderanya setiap distrik, meski tanpa bayaran. Subyek melebur dalam komunitas, menerbitkan jejaring sosial dan ekonomi dan akhirnya membentuknya menjadi manusia utuh. Bagi Slank, fansnya yang fanatis adalah berkah melimpah yang mempertebal keyakinannya terus berkarya dan dengan begitu mengisi pundi-pundi grup band tersebut.

Dengan optik sama, Bonek sebetulnya aset bagi Persebaya–sebagaimana juga Viking (Persib), Jakmania (Persija) atau Aremania (Arema). Dari sisi itu eksistensi Bonek layak disyukuri–bukan hanya bagi bagi klub asal Surabaya itu, melainkan bagi eksistensi sepak bola Indonesia yang sekian tahun ini kering prestasi. Bisa dibayangkan pertandingan Liga Indonesia tanpa penonton yang berjubel. Mungkin tetap pertandingan sepak bola, tapi tanpa jiwa karena tak melibatkan publik sebagai penikmat olahraga tersebut.

Yang jadi soal, justru ketika fanatisme itu tidak terkelola. Yayasan Suporter Surabaya menyatakan Bonek yang berulah itu kerap kali bukan bagian dari perkumpulannya. Artinya mereka kumpulan individu (subyek) yang anonim, tak diwadahi dalam perkumpulan suporter. Berbekal uang pas-pasan, mereka bergabung dengan sesamanya dan lalu melebur menjadi kumpulan individu dalam jumlah massal. Ini yang terjadi ketika puluhan ribu Bonek ngluruk ke Bandung untuk mendukung tim kesayangannya bertanding. Alhasil, Bonek tanpa perkumpulan itu berulah di jalanan: mulai dari merampas makanan para pedagang hingga naik kereta api tanpa bekal tiket. Kisah pilu terjadi pada salah seorang yang tewas setelah jatuh dari atap kereta api. Bermodal Rp75 ribu, ia nekat ke Bandung bergabung dengan kawan-kawannya. Nahas, ia terpelanting dan jatuh dari kereta sehingga nyawa tak tertolong.

Inilah ironi subyek. Adalah maklum dalam kerumunan, subyek bisa terlempar jadi manusia anonim–tanpa identitas. Subyek itu melebur dalam kerumunan, sehingga tanpa sadar melakukan hal sama yang dilakukan subyek-subyek lain dalam kerumunan itu. Seorang diri manusia pastilah takut naik atap kereta api, apalagi jika harus menempuh ratusan kilometer Surabaya-Bandung. Namun, bersama individu lain dalam kerumunan, rasa takut itu akan lenyap. Subyek akan kehilangan rasa takut, ia tak peduli pada risiko. Sebaliknya dalam kerumunan, subyek bermetamorfosis jadi diri yang lain.

Itulah yang saya lihat mana kala menyaksikan Jakmania berjubel naik Metromini. Jika seluruh kursi dan ruang penumpang penuh, maka para Jakmania itu pun duduk di atap Metromini. Di jalanan menuju Lebak Bulus atau Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, mereka berjingkrak dan bernyanyi. Memang terselip masalah laten ekonomi di balik ekspresi kumpulan individu yang kini tak lagi memiliki rasa takut itu. Tapi jika saja rasionalitas masih bertahta pada kumpulan individu itu, ia akan berhitung dengan risiko.

Sungguh pun begitu. Marilah belajar dari masa silam. Saya masih ingat. Saat itu musim kompetisi perserikatan 1986/1987. Saya tinggal nun jauh dari Surabaya–kira-kira sejarak 200-an kilometer. Di Jember, mobilisasi yang dilakukan Jawa Pos [koran lokal paling berpengaruh di Surabaya dan Jawa Timur] untuk memompa semangat warga Jatim mendukung Persebaya yang lolos ke peringkat 6 Besar terasa sekali. Koran yang dibesarkan Dahlan Iskan ini menjadi semacam penyelenggara perjalanan bagi warga Jatim yang hendak menyaksikan Persebaya bertanding di Jakarta. Alhasil puluhan ribu warga Surabaya dan sejumlah kota ikut serta. Persebaya masuk final, tapi dibenamkan PSIS sehingga gagal membawa gelar juara ke Kota Pahlawan.

Pada musim berikutnya, Jawa Pos, tetap melakukan hal tersebut. Persebaya yang kala itu di bawah manajer M. Barmen, kini tak memberikan ampun pada PSIS untuk lolos ke 6 Besar di Senayan. Lewat sandiwara sepak bola gajah, Persebaya mengandaskan PSIS setelah secara suka reladihujani 12 gol oleh Persipura. Persebaya pun terbang tinggi. Mereka menjemput gelar setelah membungkam tuan rumah Persija [3-1]. Mustaqim Cs meraih gelar itu berkat suntikan moril para pendukung fanatiknya, bukan bonek yang ugal-ugalan.

Jikalau kita sepakat “tak ada yang setara dengan nyawa”, maka mulai sekarang seluruh pihak harus mampu mengelola fanatisme itu biar tak menerbitkan anarki di jalanan. Bersama kita bisa!

dari-alcatraz-ke-pondok-bambu

Rinaldo

Anda tentu pernah mendengar nama Alcatraz. Pulau yang ditemukan penjelajah Spanyol, Juan Manuel de Ayala, pada tahun 1775 ini sudah kondang ke mana-mana. Bukan karena pulau seluas 12 hektare itu banyak ditinggali burung alcatraces (pelikan) atau suburnya populasi hiu di sekelilingnya, tapi karena sebuah penjara.

Tak ada yang istimewa dengan pulau di Teluk San Francisco ini. Tak ada sumber air bersih, tanahnya gersang tak banyak ditumbuhi rumput. Karena itu, baik pemerintah Spanyol atau Meksiko sebagai penguasa waktu itu tak sudi memanfaatkan pulau nan tandus ini. Selengkapnya »

Gus Dur

January - 1 - 2010 28 KOMENTAR
gus-dur

/1./
Suatu hari di Oktober 1990. Mungkin tanggal 21 atau 22. Siang itu, panas membakar Bandung. Ribuan anak muda Muslim berhimpun di lapangan parkir Universitas Padjadjaran. Salawat Badar berkumandang. Saya hadir di sana tapi dengan bloon–maklum, belum dua bulan berstatus mahasiswa. Tapi, saya tahu, salah satu sosok yang berbicara di depan mikrofon itu adalah Jalaluddin Rakhmat, intelektual muslim yang banyak dikagumi kaum muda.

Juga, saya tahu: ini demonstrasi mengutuk Monitor. Tabloid itu dianggap menghina Nabi Muhammad. Aroma kemarahan tercium kuat saat itu. Saya, bahkan, melihat beberapa orang mencucurkan air mata saat salawat, puji-pujian untuk Rasulullah itu, dilantunkan.

Pekan sebelumnya, tabloid yang dikomandani Arswendo Atmowiloto itu mengumumkan jajak pendapat mengenai orang yang paling dikagumi para pembacanya. Muhammad bertengger di posisi ke-11, jauh di bawah Presiden Soeharto yang menempati peringkat pertama atau Iwan Fals yang menduduki posisi ke-4. Sementara, Arswendo terpilih menjadi tokoh nomor 10, satu tingkat di atas Nabi Muhammad.

Sebagian masyarakat muslim marah. Pada 22 Oktober 1990, kantor Monitor di Jakarta disatroni para demonstran dan dirusak. Arswendo harus tunggang-langgang menghindari amuk massa. Lalu, ia dihukum empat tahun penjara. Monitor dibredel.

/2./
Sangat sedikit tokoh yang membela Monitor dan Arswendo. Satu di antara yang sedikit itu adalah Abdurrahman Wahid atau Gus Dur Menurutnya, sikap emosional itu membuat Islam tak lagi menjadi rahmatan lil ‘alamin. Pihak lain akan takut karena mendadak Islam berubah menjadi garang. Dan, ini semua disebabkan: “…rasa kurang percaya umat Islam sendiri. Kompleks rasa rendah diri (inferioritas) itu adalah hasil langsung dari rasa takut melihat proses modernisasi yang tengah berlangsung. Takut kalau-kalau Islam akan kehilangan peranan dalam kehidupan bangsa, karena erosi nilai-nilai yang dialaminya.” Itu ditulis Gus Dur di majalah Editor edisi 3 November 1990.

Ia nyaris sendiri. Bahkan, tokoh moderat semacam Nurcholish Madjid pun “hanyut” dalam arus utama. Bukan tanpa alasan rasional memang. Sebab, “You pull the carpet from under my table,” kata Nurcholish kepada Jakob Oetama, pimpinan Grup Gramedia yang menaungi Monitor.

Kepada majalah Tempo, Cak Nur –panggilan akrab Nurcholish– mengemukakan, selama ini ia merasa ikut bersusah-payah membangun toleransi antarumat beragama. Namun, “Tiba-tiba Arswendo mengganggu dengan guyon begitu saja. Saya merasa disepelekan betul. Sebab, teman-teman saya, yang selama ini tidak setuju dengan istilah toleransi dan sebagainya itu, akan dengan gampang mengatakan: ‘Nah, betul kan, Cak Nur, bahwa mereka kayak gitu itu. Masa begitu kok ditolerir.’ Jadi, itu namanya menarik karpet dari bawah meja,” kata Cak Nur.

/3./
Sehari setelah Gus Dur wafat, Arswendo menulis esai di Suara Pembaruan. Judulnya Gus Dur Sebenarnya Sedang Tidur. Novelis itu mengisahkan kejadian pada 1993 saat ia menghadiri sebuah diskusi teater dan Gus Dur menjadi salah seorang pembicara. “Saya ingat tahun itu, karena itu saat saya keluar dari penjara. Adalah Gus Dur sendirian yang membela “kasus Monitor”, yang menghebohkan, yang membuatnya “diadili” kaum ulama, tiga tahun sebelumnya,” tulis Arswendo.

Menjelang acara dibuka, Arswendo mengaku secara khusus menemui dan mengucapkan terima kasih, mencium tangannya. Gus Dur menerima, seperti juga menerima salam dan ciuman tangan dari yang lain, sambil terus jalan. Arswendo mengaku agak kecewa dan bilang, “Yaaah, Gus Dur lupa sama saya….” Di tengah jalan menuju mimbar, Gus Dur berhenti dan berpaling, “Kalau baumu, saya masih ingat…”

“Selalu ada yang mencengangkan dari sikap yang biasa-biasa. Bagi saya, pembelaan Gus Dur sesuatu yang luar biasa, tapi bagi Gus Dur itu selalu yang biasa, yang dilakukannya. Juga bukan hal yang pribadi–karena yang dibela soal kebebasan berpendapat,” tulis pengarang Senopati Pamungkas itu.

/4./
Kini, Gus Dur benar-benar sendiri, di alam kubur. Ajal menjemputnya menjelang almanak 2009 dilempar ke keranjang sampah. Namun, warisan pikirannya akan abadi. Ini dugaan bercampur harapan. Sebab, betapa mengerikan jika Indonesia kembali dikangkangi mereka yang membungkam kebebasan, menonjok toleransi, menolak pluralisme.

Selamat jalan, Gus…