Tuesday, May 21, 2013

Wow…Zakiah Nurmala

December - 28 - 2009
wow-zakiah-nurmala

Moh. Samsul Arifin

Perempuan itu Zakiah Nurmala namanya. Berparas manis, kulit langsat, rambut panjang terurai serta senyum menawan. Ia bagai tuak bagi remaja Arai—simpai keramat sepupu tokoh utama tetralogi Laskar Pelangi. Simpai keramat adalah istilah orang Melayu untuk seseorang sebatang kara yang telah ditinggal orangtua dan kakek-neneknya. Arai, tak pelak lagi orang terakhir dari suatu klan. Tapi, pria ini bukan jenis orang pesimis.

Di dalam pikiran dan jiwanya tertanam kuat nasihat ayahnya, “Bermimpilah. Maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu”. Inilah yang ditularkan Arai pada Ikal, juga Jimbron—tiga sekawan yang mengisi Sang Pemimpi besutan Riri Riza yang kini diputar di bioskop-bioskop di sekujur Nusantara. Arai juga meneriakkan kepada Ikal. “Tanpa mimpi dan semangat orang seperti kita akan mati.”

Arai dan Zakiah adalah kontras—wakil dari keluarga papa dan keluarga berada. Bukan Arai kalau tak berikhtiar menjemput mimpinya. Di setiap kesempatan, ia selalu menggunakan segala cara untuk menggoda si pujaan hati. Misinya bisa dekat dengan Zakiah yang selalu “dijaga” karib perempuannya di SMA Negeri Manggar, Belitung, Sumatra Selatan sana. Demi Zakiah Arai belajar cara memikat perempuan dari Bang Zaitun, pemimpin Orkes Melayu di sana. Dari Zaitun, Arai belajar gitar dan mendendangkan lagu-lagu pemikat hati, Fatwa Pujangga.

Di film Riri Riza, Arai yang diperankan dengan sangat baik oleh Rendy Ahmad, begitu percaya diri. Ia mantap melewati halaman rumah Nurmala (dimainkan oleh Maudy Ayunda). Sasarannya jendela kamar “cintanya” itu. Dibawanya gitar dan kostum Melayu. Dari bibirnya, keluarlah bait-bait syair ini.

T’lah kuterima suratmu nan lalu//Penuh sanjungan kata merayu// Syair dan pantun tersusun indah/sayang…//Bagaikan madah fatwa pujangga//

Kan kusimpan suratmu nan itu//Bak pusaka yang amat bermutu// Walau kita tak lagi bersua/ sayang// Cukup sudah cintamu setia//

Tapi sayang sayang sayang/ Seribu kali sayang// Ke manakah risalahku/ Nak kualamatkan//

Terimalah jawabanku ini// Hanyalah doa restu Ilahi// Moga lah Bang/Dik kau tak putus asa/sayang //Pasti kelak kita kan bersua//

Nurmala mengintip dari celah jendela. Ia tertawan oleh busur panah asmara Arai. Pria jantan ini menang malam itu. Dalam Sang Pemimpi karya Andrea Hirata, lagu yang dibawakan oleh Arai sesungguhnya adalah When I Fall in Love yang dibawakan Nat King Kole. Salah satu lirik yang disuka Arai: When I give my heart//It will be completely…Keputusan sutradara mengganti When I Fall in Love dengan Fatwa Pujangga, sungguh tepat—bak kopi pekat menggambarkan suasana Belitung.

Di versi aslinya, Andrea menukilkan. Lolongan Arai saat mendendangkan When I Fall in Love seperti jeritan kumbang. Setelah mengintip dari jendela, Nurmala berbalik. Kemudian dari dalam rumahnya samar-samar terdengar orchestra. Puluhan biola dan cello mengalunkan sebuah intro dengan halus dan harmonis, lalu masuklah vocal Nat King Cole yang megah dan menggetarkan. When I fall in love// It will be forever// In the restless day like this is/ love is ended before it’s begun…

Suara Arai tetap melolong. Dan itu dilawan oleh Nurmala dengan menaikkan volume gramophone-nya. “Ini adalah pembunuhan karakter paling sadis yang pernah kusaksikan,” ujar Ikal (Sang Pemimpi, hal. 204). Rencana Arai gagal total. Dawai-dawai gitar berhenti bergetar dan wanita di dalam rumah Victoria itu tak sedikit pun dapat didekatinya. Sekuen inilah yang paling romantik dari Sang Pemimpi.

Secara umum sekuel film Sang Pemimpi tak lebih berhasil dari Laskar Pelangi. Sebagian kecil saja potongan-potongan cerita asli yang diubah Riri Riza—seperti “pentas” Arai membawakan lagunya di depan jendela kamar Nurmala di atas. Selebihnya Riri mempertahankan apa yang ditulis Andrea.

Pekerjaan mengadaptasi karya tulis seperti novel, cerpen, roman dan seterusnya ke dalam layar memang bukanlah pekerjaan mudah. Sang pembuat film, sekurangnya akan berada dalam dua ekstrem. Pertama, mempertahankan secara utuh setiap hal yang digambarkan dalam karya tulis itu. Dan kedua, mengubah secara substantif bagian-bagian dalam karya asli dan menyusun cerita baru yang lebih mungkin diterjemahkan dalam bahasa gambar. Dan saya kira, Riri Riza mengombinasikan dua ekstrem tadi dengan plus minusnya.

Bagi penonton yang sudah membaca Sang Pemimpi karya Andrea, tentu saja mudah menyantap film produksi Miles dan Mizan Production ini. Paling tidak sudah acuan bagaimana potongan-potongan cerita Ikal, Arai dan Jimbron. Namun, bagi penonton yang tak membaca karya Andrea, mungkin bakal sedikit berkerut untuk mencernanya. Apalagi Riri Riza membuat alur cerita yang maju-mundur. Penonton bisa kehilangan jejak dengan cerita yang disuguhkan.

Selain Arai, penonton mungkin bisa mengarahkan mata pada sosok Julian Ichsan Balia, guru kesusastraan bagi Arai dkk. Padanya bisa disunting sejumlah teladan. Pertama, dari kekurangan dan keterbatasan infrastruktur sekolah, Guru Balia bisa membuat suasana kelas menyenangkan bagi murid-muridnya.

Kedua, ia menimba semangat dari kedalaman hati dan menggelorakannya kepada muridnya. Dan ketiga, ia tak hanya menjadi guru yang “menyuapi” murid, melainkan membeli hati muridnya dengan pujian dan semangat yang membesarkan generasi muda. Dalam film ini, Nugie sedikit banyak mampu menyelami sosok Guru Belia. Nugie berhasil “membuang” sebentar sosoknya yang bergemuruh seperti saat mendendangkan lagu-lagunya, menjadi seorang guru bersahaja dan disukai murid-muridnya.

Sayang, Ariel Peterpan tak sanggup meneruskan cara main Rendy Ahmad yang sukses memerankan Arai remaja yang yang macho, berkarakter dan lugas. Ariel tampak masih demam panggung dan kaku…Di atas segalanya, Sang Pemimpi kali ini memompa penontonnya untuk berani mengejar mimpi. Meski itu harus dilakoni dengan memeras keringat dan bersijingkat otot.

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

10 Komentar pada “Wow…Zakiah Nurmala”

  1. Pencerah says:

    sayang, saya belum lihat filmnya, tapi bukunya sudah pernah melihat :-)
    Btw semoga kita jangan hanya bisa bermimpi saja

  2. “sang pemimpi” mengajarkan kita untuk tidak takut punya impian, karena impian adalah energi yang dahsyat untuk merubah apa yang tidak mungkin menjadi mungkin.

  3. warm says:

    ahhh zakiah dan arai
    idola saya
    :D

  4. “eh kpan ce da durian jatuh yang bisa ngetemuin aku ma RENDY SAIPULLAH”

    rasanya sbel bngt banyak yng gag tau cpa tuh si manise RENDY AHMAD

  5. Arman says:

    Sebuah novel yang begitu sadis,bagaimana sang pemimpi mencapai kejayaan yang sebelumnya hanya berupa mimpi yang jika tidak dipegang dengan kuat akan terus menjadi mimpi.

  6. umi saidah says:

    andrea hirata,begitu menakjubkan dalam tulisannya.
    cinta yang begitu sulit,ternyata lebih indah dengan hadirnya arai,seorang pemuda yang ambisius dalam mengejar cintanya…saya sangat prihatin ketika membaca “arai hilang dan ternyata dia ada di makam idolanya,jim morrison dan disana sang arai tersebut membacakan puisi yang sangat menggetarkan hati saya.” tetralogi laskar pelangi it’s an extra ordinary,sebuah inspirasi yang jarang bahkan tiada ditemui,sekalipun nun jauh di negri antah bernah sana

  7. moko says:

    karena berbagai alasan kadang pem-film-an buku menghilangakan beberpa ekspektasi auat gereget yang di harapkan oleh pembaca.

    mungkin karena ketika dalam buku, pembaca bebas menafisrkan/ memvisualisasikan isi buku. ketika di film kan, kadang kita (pembaca bukunya) merasa ada hal yang berbeda. sehingga tak sedikit yang kecewa.

    bukankah seperti juga riri riza atau pun semua pelaku pembuat film itu juga sama seperti kita, bebas menafsirkan isi fim sesuai apa yang diinginkan (terlepas dari tuntutan pemegang modal).

    jadi , akan lebih fair jika buku dan film dinikmati sebagi dua karya yang berbeda.

  8. boedhyindra says:

    sungguh film yg menyedihkan…. kalau saya andrea hirata saya tak akan mengangkat ke film2 murahan … kalau saja kita tak membaca novelnya kita gaka kan tau kemana arah cerita nya…. sungguh film kampungan…

  9. kurt says:

    nama aslinya siapa mas???

  10. wardi says:

    post yg luar biasa, krn postingan ini saya jadi mau nonton film ini lagi, walau sdh beberapa kali nonton tetap saja tak ada matinya nih film, romantis, perjuangan dan funny…

Tinggalkan Komentar