Monday, May 20, 2013
menyoal-gado-gado-sang-jurnalis

Sesaat setelah buku Gado-Gado Sang Jurnalis: Rundown Wartawan Ecek-Ecek karya saya memasuki rak toko buku, seorang sahabat menyodorkan dua kritik serius. Yakni, soal pemilihan tokoh “saya” dan momen peluncurannya yang dianggap berbanding terbalik dengan kondisi sekarang.

“Kenapa juga harus sampean sendiri yang menjadi kendaraan cerita. Apa tidak khawatir buku itu bakal disebut otobiografi? Bahkan, sampean bisa dicap pemuja aliran narsis?!”

Astaghfirullah. Buru-buru saya membuka lembar demi lembar buku itu dan membacanya secara seksama. Seteliti, mungkin. Kali ini, saya harus memastikan kebenaran kesan itu. Dan jurus memilih posisi sebagai pembaca harus saya pilih. Karena, saya membutuhkan jawaban obyektif.

Kalau hal itu terbukti benar, maka sesungguhnya saya tengah dihadapkan pada dua persoalan besar. Pertama, saya telah melanggar komitmen spiritual untuk istiqomah berzuhud secara batin. Kedua, saya telah melanggar komitmen berkesenian untuk tidak melakukan — maaf — masturbasi!

“Setiap amal tergantung niatnya. Katanya guru saya, hahaha…,” sahut saya mencoba menanggapi kritik serius itu seraya berpura-pura mengabaikan konflik batin di pikiran.

Namun, di balik kutipan yang sejatinya hadits Rasulullah SAW itu saya ingin bertutur bahwa alasan-alasan “pelanggaran” komitmen secara spiritual atau berkesenian itu. Ketika harus memilih kendaraan “saya”, seperti juga telah dipaparkan dalam kata pengantar, hal itu lebih disebabkan untuk mendapatkan kemudahan. Karena memilih tokoh lain pastinya akan dihadapkan berbagai persoalan administrasi, royalti, waktu, dan sejuta alasan lain.

Selain itu, mendapatkan tokoh dari kalangan “bawah” — dunia jurnalistik televisi — dengan banyak cerita juga bukan perkara gampang. Karena, bisanya kalangan “bawah” sangat sedikit mendapatkan kesempatan untuk menabung pengalaman dan cerita. Daripada niatan membagi pengatahuan dan pengalaman terhambat masalah karakter, maka diputuskanlah “saya”.

Untuk mengimbangi dominasi “saya”, saya juga menyediakan ruang untuk teman-teman lain — dari kalangan “bawah” — yang selama ini tidak tersentuh tinta sejarah. Dan menorehkannya dalam bentuk cerita atau foto. Dengan porsi kecil itu saya berharap, pembaca juga mengenal “wartawan ecek-ecek” lain yang selama bertahun-tahun ini meramaikan jagat pertelevisian kita.

“Apa mereka memang layak masuk catatan sejarah itu?”

“Iya. Selama ini publik lebih mengenal kalangan atas atau selebritas — presenter atau anchor program berita — yang sering tampil di layar kaca. Padahal di balik kecemerlangan mereka juga terdapat para praktisi lain yang angat bekerja keras. Buat saya, masyarakat juga perlu menjadikan orang-orang itu inspirasi. Orang kalangan bawah pun berhak menjadi inspirasi,” jelas saya meyakinkan.

Tentang kritik kedua?

Saya sangat tahu, arah kritik itu ditujukan kepada situasi gonjang-ganjing yang belakangan ini dialami sejumlah stasiun televisi nasional. Entah menyangkut keterlibatan pemilik modal atau jajaran pengelola stasiun televisi secara langsung dalam menata lembaga pers di dalamnya. Atau soal masa depan pertelevisian itu yang tengah diuji krisis keuangan global atau pelaksanaan Undang-Undang Penyiaran. Singkatnya, efisiensi yang berujung pada pemangkasan karyawan. Dan, tentu saja, masa depan lapangan pekerjaan di bidang penyiaran.

Kali ini, saya hanya bisa mengatakan, jutaan anak-anak bangsa dari berbagai kalangan masih menjadikan stasiun televisi sebagai salah satu impian. Ribuan mahasiswa dari fakultas-fakultas tertentu masih membidik dunia jurnalisme televisi sebagai salah cita-cita. Dan mereka membutuhkan referensi. Baik menyangkut teori keilmuannya maupun praktik nyata di lapangan. Bahkan, peta “politik” di dalamnya.

Bahwa momen peluncuran buku dan kondisi usaha stasiun televisi yang berbanding terbalik bukanlah penghalang untuk terus berbicara tentang dunia jurnalisme. Khususnya, jurnalisme televisi. Sebagai pengetahuan atau ilmu, jurnalisme tidak akan pernah mati dan masih akan terus berkembang sejalan dengan perubahan-perubahan zaman. Karena itu, buku-buku yang berkaitan dengan masalah itu pun masih sangat dibutuhkan tanpa terusik situasi lapangan kerja.

Dan untuk ke dalam, wawasan tentang jurnalisme televisi itu juga membutuhkan otokritik. Ketika dunia tersebut menempati papan atas dan dalam kesombongan yang teramat sangat, para pengelolanya lupa dan lengah bahwa tren selalu berputar dan minat penonton juga ikut bergeser. Pada akhirnya, kebijakan pemilik modal dan pengelola stasiun televisi pun harus berakrobat untuk mempertahankan laju usahanya.

“Bagian itulah yang saya pikir sangat ironi,” kata teman saya lirih.

Ironi?

Buat saya dan teman-teman dari kalangan “bawah” yang termasuk dalam cerita buku, baik yang masih bertahan maupun resign, hal itu bukan sekadar ironi. Tapi, sangat ironi.

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

8 Komentar pada “Menyoal “Gado-Gado Sang Jurnalis””

  1. Bayu says:

    Ironi dunia televisi adalah hilangnya selera menyajikan kebenaran dan kelayakan bagi publik. Ketika orientasi bisnis menjadi acuan, maka segala cara dihalalkan.Sehingga ketikaa efisiensi harus dipilih, maka memberangus sektor-sektor yang tidak mendatangkan profit harus diutamakan. Ikut prihatin.

    Salut untuk uraian bung Syaiful dalam bukunya. Selamat juga atas terbitnya buku tersebut.

  2. Indah says:

    Masalahnya, apakah situasi seperti sekarang ini akan bertahan lama? Kalau iya, bagaimana dengan masa depan dunia jurnalistik televisi kita? Lantas bagaimana dengan nasib anak-anak bangsa yang masih bergiat mempelajari keilmuan ini?

    Kok, bukunya belum bisa didapat di Manado?

  3. Bau Lisung says:

    Modal utama untuk menjadi seorang jurnalis : “KEBERANIAN” selanjutnya terserah anda, kalau masih takut pada sesuatu atau seseorang jangan jd jurnalis! seorang jurnalis hanya takut pada Alloh SWT. titik!

  4. Dewi says:

    Jurnalis, jurnalis, oh jurnalis. Hidupnya cuma di atas mimpi-mimpi dan idealime…

  5. Ario Fajar says:

    Menarik, soft dan mudah dicerna. Itulah kesan pertama saya membaca habis buku Gado-gado Sang Jurnalis. Bagi mahasiswa seperti saya, memilihan “subyek” tak jadi masalah. Mau itu dibilang “narsis” tetapi essensi yang sebenarnya adalah berbagi ilmu dan pengalaman. Itu hal yang tak ternilai.

    “Iya. Selama ini publik lebih mengenal kalangan atas atau selebritas — presenter atau anchor program berita — yang sering tampil di layar kaca. Padahal di balik kecemerlangan mereka juga terdapat para praktisi lain yang angat bekerja keras. Buat saya, masyarakat juga perlu menjadikan orang-orang itu inspirasi. Orang kalangan bawah pun berhak menjadi inspirasi,” jelas saya meyakinkan.

    Saya setuju sekali dengan bahasa redaksi di atas. Benar dan sangat tepat sekali.
    Terus berkarya Pak Syaiful. Bagikan ilmu dan pengalaman sepanjang anda amanah dalam membantu kami yang masih butuh suplemen ilmu dan pengalaman. Senang berkenalan dan dapat berbincang dengan anda ketika kita satu forum bareng “Jurnalistik Fair Univesitas Sahid”.

    Salam Warta

  6. salman says:

    Dunia tulis menulis tengah booming! begitu kenyataannya sampai hari ini. Berkat teknologi internet dimana mengharuskan setiap orang “menulis” apa yang ingin disampaikannya. Lantas buku-buku bacaan kontemporer pun lahir; cerpen, novel, kumpulan puisi memoar atau yang lebih agak serius berbau politis seperti ‘Gurita Cikeas’ dsb. Sejumlah penerbitan baru pun bermunculan.

    Dari itu semua, seorang jurnalis adalah orang-orang yang lebih dulu paham bagaimana menulis. Pekerjaannya menuntut mereka lebih intens menulis menuangkan pemikirannya ketimbang orang lain. Dan sebuah buku, apa pun isi tulisan itu, tentu memilik muatan pengathuan untuk orang lain. Tinggal pembaca yang mengambil sari dari buku yang dibacanya.

    Setahu saya buku jenis “biografi” jarang lahir dari kalangan wartawan, meski ada namun belum masuk kategori banyak; atau ada, namun lebih kepada teknik wawancara dan reportase (media cetak). Atau buku tentang dunia jurnalis umumnya masih didominasi kalangan senior. Entah mengapa? Seakan yang “ecek-ecek” belum pantas mendedahkannya. Atau yang “ecek-ecek” ini merasa rendah diri (direndahkan?), belum apa-apa pun (belum menulis apa-apa maksudnya) sudah “dibantai” oleh rekannya sendiri. Dalam kalimat milik seorang teman pernah mengatakan begini: “Kalo belum pernah jadi ‘redpel’ (posisi atas di media cetak) atau ‘produser’ (posisi atas di program televis) belum pantas “menggurui’ orang lain,”. Fakta ironi di kalangan jurnalis! Adanya ‘dunia maya’ kefasihan menulis mereka bisa tersalurkan lewat blog atau FB.

    Di luar semua kritik yang datang dari sana-sini, lahirnya buku “Gado-Gado Sang Jurnalis…” perlu disambut. Apalagi berangkat dari pengalaman penulisnya, tentu berbagai hal amatan dalam buku itu terasa faktual. Saya belum membacanya, tetapi sudah terbayang tentu ‘enak dibaca dan perlu’, terutama bagi mereka yang bercita-cita menjadi jurnalis. Baru nanti setelah jadi wartawan bisa merasakan nikmatnya, usai meliput –masuk warung– pesan gado-gado.. Santai dulu ah.. “Satu porsi bu, yang pedas ya,”

  7. moko says:

    sebuah bangsa membutuhkan jurnalis dan media sebagai roda perubahan.

  8. basuki tria says:

    Maju terus bro!

Tinggalkan Komentar