Monday, May 20, 2013

Wow…Zakiah Nurmala

December - 28 - 2009 10 KOMENTAR
wow-zakiah-nurmala

Moh. Samsul Arifin

Perempuan itu Zakiah Nurmala namanya. Berparas manis, kulit langsat, rambut panjang terurai serta senyum menawan. Ia bagai tuak bagi remaja Arai—simpai keramat sepupu tokoh utama tetralogi Laskar Pelangi. Simpai keramat adalah istilah orang Melayu untuk seseorang sebatang kara yang telah ditinggal orangtua dan kakek-neneknya. Arai, tak pelak lagi orang terakhir dari suatu klan. Tapi, pria ini bukan jenis orang pesimis.

Di dalam pikiran dan jiwanya tertanam kuat nasihat ayahnya, “Bermimpilah. Maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu”. Inilah yang ditularkan Arai pada Ikal, juga Jimbron—tiga sekawan yang mengisi Sang Pemimpi besutan Riri Riza yang kini diputar di bioskop-bioskop di sekujur Nusantara. Arai juga meneriakkan kepada Ikal. “Tanpa mimpi dan semangat orang seperti kita akan mati.” Selengkapnya »

Buku, Pesta, dan Cinta

December - 17 - 2009 7 KOMENTAR
buku-pesta-dan-cinta

Bung,

Saya terhanyut. Nurmala Kartini Pandjaitan atau Kartini Sjahrir atau Ker begitu piawai mendedahkan kisah kalian. Pada 1968, perkenalan itu terjadi. Ker masuk sebagai mahasiswa baru Fakultas Sastra Universitas Indonesia jurusan Antropologi, sementara dirimu adalah “mahasiswa tua” jurusan Sejarah di fakultas yang sama. Orde Lama telah runtuh, Orde Baru tengah menata diri.

Ker mengaku, saat itu, ia merasa terbebaskan diri dari kekangan aturan-aturan kaku sekolah katolik di Santa Ursula. Di kampus, ia bertemu dirimu, Soe Hok-gie, yang segera mengajak menjelajahi kehidupan mahasiswa yang begitu dinamis. Pernahkah dulu ia menyatakan hal ini? Selengkapnya »

menyoal-gado-gado-sang-jurnalis

Sesaat setelah buku Gado-Gado Sang Jurnalis: Rundown Wartawan Ecek-Ecek karya saya memasuki rak toko buku, seorang sahabat menyodorkan dua kritik serius. Yakni, soal pemilihan tokoh “saya” dan momen peluncurannya yang dianggap berbanding terbalik dengan kondisi sekarang.

“Kenapa juga harus sampean sendiri yang menjadi kendaraan cerita. Apa tidak khawatir buku itu bakal disebut otobiografi? Bahkan, sampean bisa dicap pemuja aliran narsis?!” Selengkapnya »

Koin, Simbol, dan Kuasa

December - 11 - 2009 6 KOMENTAR
koin-simbol-dan-kuasa

Koin. Kata ini belakangan kerap jadi diskursus publik. Benda ini dihubungkan dengan Prita Mulyasari, wanita yang jadi ‘pesakitan’ gara-gara menulis surat elektronik (email) karena merasa diperlakukan tak sepatutnya oleh sebuah rumah sakit yang membubuhkan kata internasional di belakang namanya. Prita yang mendapat simpati dan dukungan luar biasa dari seluruh capres menjelang Pilpres lalu (di mana mereka kini?) diwajibkan membayar denda Rp204 juta oleh Pengadilan Tinggi Banten. Ini mengilhami sekelompok masyarakat menerbitkan gerakan yang disebut “Koin untuk Keadilan”. Misinya membantu meringankan beban Prita!

Inisiatif macam ini sebetulnya duplikasi dari gerakan koin yang kini makin meluas di sejumlah kota di tanah air, yakni “Coin a Chance” (CaC). Ini tak lain gerakan sosial mengumpulkan uang logam atau biasa disebut recehan yang belakangan makin jarang digunakan. Lebih jarang lagi karena bank sentral menerbitkan uang pecahan Rp2.000 (kertas) sebelum lebaran Idul Fitri lalu. Pecahan yang membuat rupiah kurang bernilai bagi warga miskin karena hanya bisa ditukar dengan dua buah kerupuk. Dengan koin yang dikumpulkannya, CaC berharap rupiah tersebut bisa ditukar dengan sebuah kesempatan bagi anak-anak yang kurang mampu agar dapat melanjutkan sekolah lagi. Selengkapnya »

Pemimpin Sejati

December - 8 - 2009 11 KOMENTAR
pemimpin-sejati

Vincent Hakim R.


Dalam suatu lamunan, tiba-tiba saya teringat satu pengalaman pribadi di sebuah sekolah.

Seorang anak laki-laki ditanya oleh orangtuanya, “Nak, apa cita-citamu kelak?” Si anak balita itu dengan sangat percaya diri spontan menjawab, “Mau jadi plesiden!” katanya dengan suara dan pengejaan yang masih sangat khas anak-anak. Sementara anak yang lain lagi menjawab ingin jadi jenderal ketika ditanya dengan pertanyaan serupa. Yang lain lagi ingin jadi menteri, polisi, tentara, dokter, insinyur, pengacara, hakim, jaksa, ahli ini, ahli itu, direktur bank, dll. Semua anak ingin menjadi “orang hebat” atau “orang penting” dengan kata lain, mereka kelak ingin menjadi “bos” alias pemimpin. Tentu saja, para pengajar, pembina, dan orang tua siswa amat bangga dengan cita-cita anak-anak didik yang ceria itu.

Pertanyaan jail saya tiba-tiba muncul, kenapa ya..tidak ada satu pun anak yang melontarkan jawaban ‘nyleneh’. Misal, jika besar nanti aku ingin jadi pelayan. Atau mungkin, lebih konkrit lagi, ingin jadi TKI di luar negeri. Bukankah lebih dari setengah juta warga negara Indonesia menjadi TKI, itu cukup menjadi daya pikat bagi anak? Ditambah lagi para TKI itu mendapat julukan terpuji sebagai pahlawan devisa bagi negara? Atau barangkali, ratusan ribu orang lainnya yang bekerja sebagai pembantu di negeri sendiri? Bukankah mereka menjalankan pekerjaan yang halal?  Selengkapnya »

kiamat-memang-sudah-dekat

Rinaldo

Sudah sejak lama saya hafal dengan istilah greenhouse effect, global warming, dan climate change. Wajar saja, karena istilah-istilah itu bukan sesuatu yang baru. Bahkan, greenhouse effect atau efek rumah kaca sudah dipopulerkan Jean Baptiste Joseph Fourier pada 1824, seorang pakar matematika dan fisika asal Prancis, hampir dua abad silam.

Kendati demikian, tak sedikit pun saya tertarik untuk mengetahui maksud istilah-istilah itu. Menurut saya, semuanya sulit dipahami dari sisi makna, tak membumi, dan tak akan bisa dicerna dengan cepat. Namun, semuanya berubah ketika saya menyaksikan film dokumenter berjudul An Inconvenient Truth (2006). Selengkapnya »