Thursday, May 23, 2013

Rindu Polisi Jujur

November - 5 - 2009
rindu-polisi-jujur

Rinaldo

Di awal 1956, seorang pria tinggi kurus bersama istrinya tiba di Pelabuhan Belawan, Medan, Sumatra Utara. Perintah dari atasan membuatnya harus meninggalkan Tanah Jawa dan menjejakkan kaki di kota yang dia tak kenal sama sekali. Ada sedikit kegamangan ketika dia harus mengemban jabatan baru sebagai Kepala Direktorat Reserse Kriminal pada Kantor Polisi Sumut (sekarang Polda Sumut).

Betapa tidak, sebelum berangkat, atasan dan sejumlah koleganya sudah mewanti-wanti. Disebutkan, Kota Medan adalah daerah rawan dan keras. Penyelundupan dan perjudian seolah tak tersentuh. Banyak sudah perwira polisi yang bertekuk lutut karena berutang budi pada pengusaha kakap yang umumnya dikuasai oleh etnis Tionghoa.

Dan, pria kurus ini tak perlu menunggu lama untuk membuktikannya. Saat akan memasuki rumah dinas dengan membawa perlengkapan seadanya, perabotan mewah ternyata sudah memenuhi rumah itu. Mulai dari kulkas, tape recorder, piano dan kursi tamu. Anak buahnya yang diminta untuk menyingkirkan semua barang itu mengaku tak berani. Alhasil, perwira polisi ini mengeluarkan sendiri semua perabot tersebut dan meletakkannya di pinggir jalan.

Kabar ini langsung menggemparkan Kota Medan. Dari kondisi sosial ketika itu, adalah sesuatu yang aneh ketika seorang perwira polisi dari Jakarta berani menolak pemberian cukong Medan. Sejak itu pula, sebuah nama ramai dibicarakan dan terpatri di benak publik: Hoegeng Iman Santoso.

Hoegeng ternyata memang tidak mempan digertak dan disuap. Dalam menjalankan tugas, tak terbilang banyaknya dia membongkar kasus penyelundupan dan perjudian yang dilakukan pengusaha “Cina Medan”. Tak jarang pula dia harus menangkap dan menahan perwira Polda Sumut yang ikut terlibat.

Di akhir 1959, Hoegeng ditarik ke Polda Metro Jaya dengan jabatan yang sama. Tak sempat merasakan berdinas di kantor baru, pria kelahiran Pekalongan 14 Oktober 1921 ini dipanggil Menko Hankam/KSAD Jenderal TNI Abdul Haris Nasution. Hoegeng ditawari jabatan sebagai Kepala Jawatan Imigrasi. Pamornya yang mencorong saat bertugas di Medan membuat Hoegeng diusulkan banyak pihak untuk menjabat di tempat baru ini.

Selama bertugas di Jawatan Imigrasi, Hoegeng tetap mengenakan seragam polisi, karena dia hanya mengambil gaji dari kepolisian, sedangkan gaji dan fasilitas dari Imigrasi tak disentuhnya. Dia  juga menolak mobil baru pemberian Imigrasi serta upaya merenovasi rumahnya. Hoegeng beralasan, apa yang didapatkan dari kepolisian sudah cukup.

Pertengahan 1965, Hoegeng dilantik Presiden Soekarno menjadi Menteri Iuran Negara (kini Dirjen Pajak). Ada pengalaman menarik saat dia menjabat. Ketika itu seorang calon pegawai baru di lingkup Bea Cukai membawa selembar katabelece dari Wakil Perdana Menteri II Dr. Johannes Leimena. Tujuannya tak lain agar diberi kemudahan. Hoegeng lantas berkirim surat kepada Leimena menyatakan maaf karena tak bisa membantu. Esok harinya Leimena mengontak Hoegeng sambil meminta maaf.

Usai peristiwa G 30-S/PKI, Hoegeng diangkat menjadi Menteri/Sekretaris Kabinet. Namun, pada Juni 1966, Hoegeng diminta menjadi Deputi Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian (Deputi Kapolri). Meski itu berarti turun pangkat dari menteri menjadi Wakil Kapolri, Hoegeng menerima karena dia merasa kembali ke habitatnya, kepolisian. Pada 1 Mei 1968 pangkat Hoegeng dinaikkan menjadi komisaris jenderal polisi dan dua pekan kemudian dilantik sebagai Panglima Angkatan Kepolisian (Kapolri).

Selama menjadi Kapolri, Hoegeng berusaha selalu datang paling awal dibandingkan staf lainnya. Setiap pagi saat menuju kantor, dia selalu mencari rute yang berbeda dengan tujuan untuk melihat langsung kondisi daerah yang dilaluinya. Tak jarang Hoegeng turun dari mobil sekadar untuk melancarkan arus lalu lintas yang macet. Sesekali waktu dia juga berangkat ke kantor dengan bersepeda. Hoegeng pula yang kemudian mengeluarkan peraturan tentang kewajiban menggunakan helm.

Tak hanya itu, setiap ada perjalanan dinas ke luar negeri, Hoegeng selalu pergi sendiri tanpa istri atau anak. Menurutnya, uang negara harusnya untuk membiayai perjalanan pejabat, bukan  keluarga pejabat, karena itu hanya akan menguras keuangan negara.

Semua itu dilakukannya sebagai bentuk kecintaan pada profesi serta pemahaman bahwa setinggi apa pun pangkat atau jabatan, polisi tetaplah seorang pelayan dan pengayom masyarakat, bukan pejabat yang tiap hari sibuk rapat di kantor dan menjauh dari masyarakat. Hal itu pula yang membuat Hoegeng menolak pembangunan gardu jaga di rumahnya serta menolak diberi pengawalan secara berlebihan.

Sayang, karier Hoegeng harus berakhir karena kejujuran dan ketegasannya. Pada Oktober 1971 Hoegeng diberhentikan dengan alasan peremajaan. Padahal, usia Kapolri yang menggantikannya ternyata lebih tua dari dirinya. Majalah TEMPO ketika itu menuliskan bahwa Hoegeng dicopot karena membongkar penyelundupan mobil mewah yang dilakukan Robby Tjahjadi yang dibekingi pejabat tinggi negara.

Selain itu, Hoegeng dianggap terlalu populer dan terlalu dekat dengan pers serta masyarakat, sehingga menimbulkan ketidaksukaan petinggi negara. Tawaran menjadi duta besar untuk Belgia kemudian ditampiknya. “Saya tak biasa berdiplomasi dan minum koktail,” ujarnya ketika itu.

Begitu mendapat kabar telah diberhentikan, Hoegeng kemudian mengabarkan pada ibunya. Sang ibu pun berpesan agar si jenderal menyelesaikan tugas dengan kejujuran. “Karena kita masih bisa makan nasi dengan garam,” ujar sang ibu Roelani. Hoegeng juga ingat pesan almarhum ayahnya yang seorang jaksa, untuk tidak menggadaikan harga diri dan kehormatan demi kesenangan duniawi.

Usai serah terima jabatan, Hoegeng pun langsung mengembalikan seluruh inventaris milik Polri. Tak pernah terbayangkan, seorang Kapolri pensiun tanpa memiliki rumah dan kendaraan. Yang tertinggal di depan rumah dinas hanya sebuah sepeda butut. Untuk urusan menuju tempat yang agak jauh, Hoegeng pun membiasakan naik bajaj. Bahkan, saking sederhananya rumah dinas di Jalan M. Yamin, Jakarta Pusat itu, seorang pencuri pernah nekat masuk dan mengambil radio transistor milik Hoegeng.

Hoegeng mengaku masa-masa pensiun dini tersebut merupakan saat yang sulit buat dia dan keluarga dari sisi ekonomi. Kendati demikian, dia tetap kukuh menolak semua pemberian pihak lain. Hati Hoegeng baru luluh ketika diberi sebuah mobil bekas jenis Holden Kingswood hasil iuran para kapolda se-Indonesia. Polri pun kemudian membeli rumah dinas Kapolri dan memberikannya pada Hoegeng sebagai penghargaan atas jasa-jasanya. Ketika Hoegeng wafat pada 14 Juli 2004, hilang pula sosok yang menjadi figur polisi teladan itu.

Kini, figur polisi jujur seperti Hoegeng sangat dibutuhkan. Di tengah krisis kepercayaan terhadap Polri, sosok bersih dan teladan begitu dirindukan. Betapa sulitnya saat ini menemukan polisi yang bersahaja, jujur, dan sederhana. Sehari-hari kita lebih banyak melihat polisi yang mengedepankan arogansi, menjungkirbalikkan hukum, dan tak tahan akan godaan materi.

Polri yang mengaku sebagai pelayan dan pelindung masyarakat kini jatuh pamor sebagai pelayan dan pelindung bagi mereka yang berani membayar. Tanpa malu, Polri menafikan akal sehat dan tatanan hukum yang ada hanya untuk melindungi seorang pengusaha yang terbukti telah berbohong dan berencana menjatuhkan lembaga antikorupsi.

Sangat disesalkan, satu dasawarsa setelah Orde Baru tumbang, reformasi ternyata tak menyentuh aparat berbaju cokelat. Gembar-gembor perubahan di awal reformasi ternyata hanya sebatas kulit, tanpa menyentuh substansi. “Kini, kami memberi nilai tinggi kepada polisi yang bisa menembak tepat di kaki daripada kepala,” ujar seorang instruktur saat saya mengikuti pelatihan singkat di Pusat Pendidikan Reserse dan Intelijen Polri di Megamendung, Bogor, Jawa Barat, beberapa tahun silam.

Padahal, urusan reformasi tidak sesederhana perubahan kurikulum soal tatacara menembak seorang tersangka pencuri, tapi lebih kepada perubahan sikap dan mental. Tak sulit untuk menakarnya karena sikap dan mental anggota Polri itu sudah digariskan dalam Tribrata. Jika nilai-nilai dalam Tribrata tak lagi menjadi landasan sikap dan mental, berarti anggota Polri telah kehilangan pedoman hidupnya.

Lebih gampangnya, sudahkah polisi menjunjung tinggi kebenaran, keadilan dan kemanusiaan dalam menegakkan hukum? Sudahkah polisi mengayomi, melindungi dan melayani masyarakat dengan keikhlasan? Dan, sudahkah polisi menjalankan tugasnya dengan penuh ketaqwaan? Melihat cara polisi menangani kasus sangkaan terhadap Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah, saya meragukannya.

Saya tidak yakin polisi sudah bertindak adil dan menjunjung tinggi rasa kemanusiaan dengan membiarkan Anggodo Widjojo berkeliling stasiun televisi, sementara hak bicara Bibit dan Samad dibungkam. Saya juga tidak yakin polisi punya tekad kuat melindungi dan mengayomi masyarakat. Tak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi dengan warga biasa seperti saya, jika seorang pejabat setingkat pimpinan KPK bisa ditahan dengan bukti yang lemah dan alasan yang absurd.

Ternyata benar, hanya ada tiga polisi di Indonesia yang tak bisa disuap, yaitu patung polisi, polisi tidur dan polisi Hoegeng. Hingga kini, anekdot itu tetap abadi karena belum ada lagi sosok polisi seperti Hoegeng. Polri layak berduka, dengan usia lebih dari setengah abad, baru seorang polisi yang layak dicatat dengan tinta emas karena kejujuran, ketegasan dan kebersahajaannya.

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

26 Komentar pada “Rindu Polisi Jujur”

  1. safira says:

    Semoga masyarakat Indonesia sadar akan kehilafan yg selama ini dilakukan..dan sebagai warga negara yg baik,ikut mengawasi aja sih. Yah klo polisi tidur sm patung polisi kan emang susah disuap nya bang naldo…hihihi, batu mau disuap..Tp salut deh buat polisi Hoegeng,terharu bgt..Nice post bang :)

  2. karenina says:

    ralat sedikit, pada paragraf dua terakhir kalimat: “… hak bicara Bibit & Samad dibungkam”. mungkin maksudnya Bibit & Chandra.. ngetiknya buru-buru atau jarinya kepeleset saking kecewanya kepada kepolisian sekarang..
    di luar itu, secara keseluruhan tulisannya bagus, sejarah tentang Hoegeng ditulis dengan lengkap.
    usia sudah lebih dari setengah abad tidak membuat kepolisian tambah dewasa. restrukturisasi kepolisian kayaknya penting tuh…
    satu lagi polisi di Indonesia yang gak bisa di suap adalah “Polisi Asuransi” oh salah ya, itu sih polis asuransi.. (Joke) garing..

  3. budi dos santos says:

    Bener2 menggugah kesadaranku, bahwa harusnya begitulah idealnya seorang polisi.. Kejujuran, profesionalisme serta dedikasi yang tinggi dalam melayani masyarakat. Saya yakin, dengan usaha yang sungguh2 pasti akan bisa menjadikan polisi kita bener2 sahabat bagi masyarakat, pelindung bagi masyarakat serta pengayom bagi masyarakat. Sikat habis perilaku2 yg mencoreng citra pulisi kita..

  4. armando de almeida says:

    Saya bener2 merinding membaca tulisan anda bung..Sosok tokoh yang tidak banyak bicara tp telah berbuat banyak untuk bangsa dan negara tercinta ini, benar…kita telah lama sekali rindu dengan sosok yang bisa memberi teladan khususnya di tubuh kepolisian RI..saya prihatin.

    Ironisnya..2005, saya pernah “dekat” dengan salah seorang pejabat di truno. Dengan pangkat (saat itu) masih melati, telah mempunyai rumah “elit” di kawasan seputar jakarta, bengkel mobil yang besar dan cukup terkenal, mobil pribadi yang “mewah” dsb. Beliau banyak bercerita tentang karirnya yang cukup melesat dan segala sepak terjang beliau sampai jabatan terakhirnya saat itu (mungkin saat ini beliau jg sudah lupa krn skrg saya berada di “luar” selama 3 thn). Betapa saya terperanjat, dan sampai sekarang masih terngiang di telinga saya,”Mas, coba bayangkan..gaji saya di bawah Rp.3,5 jt tp saya hidup di kota besar, anak2 sekolah di sekolah elit..kalo ngga cari obyekan ‘kan ngga mungkin?”. Dengan bla..bla..bla beliau bercerita tentang “obyekan”nya. Beliau sendiri yang menyalahkan sistem yang terjadi. Astaghfirullah..saya hanya mengelus dada dan beliau cukup bangga dengan (menurut saya)”pembenaran” tsb.

    Ok lah..mudah2an itu hanya salah satu contoh yang tidak perlu diteladani dan mudah2an hanya segelintir oknum saja. Tapi saya kalau boleh menggaris bawahi bahwa sepertinya sistem di kepolisian harus di rombak total mulai prosedur, mekanisme dsb..dsb. Moto “air mancur” (bawahan mencari uang untuk atasan) juga harus dihilangkan..betapa tidak, dan bukan hal yang ditutp2i..mulai perekrutan siswa sudah ada apa yang dinamakan “pelicin” meskipun sulit untuk membuktikan. Maka dari itu..jika sudah jadi anggota akan mencari gantinya.

    Mudah2an di tubuh Kepolisian segera bisa menjawab apa yang diinginkan bangsa tercinta ini dan bisa membuat Pak Hoegeng tersenyum bangga melihat penerusnya jauh lebih baik.

    Hidup Pak Hoegeng…Hidup Kepolisian.

  5. fans pak hoegeng says:

    terharu dan meneteskan air mata begitu membaca cerita tentang seorang polisi bersahaja seperti pak hoegeng, seketika hilang didalam hati kebencian terhadap kepolisian dalam sesaat.
    memang salut dan tahkluk hatiku buat pak hoegeng.
    bila dibandingkan dengan polisi jaman sekarang,bagaikan SETAN dan MALAIKAT. Pak Hoegengnya sebagai malaikat, polisi sekarang sebagai SETAN/IBLIS/DEDEMIT.
    semoga kelak akan muncul polisi-polisi baik seperti Pak Hoegeng baik dari tingkat Kapolsek,Kapolres,Kapolda sampai Kapolri. sehingga kepolisian RI bisa mendapat tempat dihati masyarakat indonesia.

  6. setyo says:

    Memang sikon yang membawa bangsa ini menjadi krisis kejujuran. Tak akan ada asap jika tak ada api. Mari kita bangsa Indonesia menjaga munculnya “API” agar tak kan pernah ada yang namanya “ASAP!”. Karena api begitu mudah menyulut sudut-sudut relung hati kita yang paling dalam.Hingga kita tak kuasa menahan panasnya, akhirnya kitapun terjerat, terbakar, dan terkapar di dalamnya. Tragis bahkan sadis!Dan berakhir dengan “MENANGIS.” Titip salamku untuk keluarga Bapak Hoegeng (Predikat Polisi Jujur)Sangatlah bangga yang menjadi istri,putera-puteri, dan cucu-cucu Bapak Hoegeng. Moga ilmu kejujurab Bapak Hoegeng menjadi suri teladan POLRI. Mari kita renungkan kalimat bijak dari Bapak Mario ” PRIBADI YANG BAIK ADALAH PENYEBAB KEHIDUPAN YANG BAIK”

  7. Areep says:

    Sungguh anugrah bagi para keluarganya karena didalamnya ada sosok orang yang bisa menjadi panutan

  8. arex says:

    Kejujuran itu pahit, tapi buahnya manis. Profil Hoegeng Iman Santoso layak disandingkan dengan Mahatma Gandhi, Ki Hajar Dewantara, tokoh-tokoh yang yang terlebih dahulu dalam sebuah perjuangan dan rela hidup sederhana demi sebuah kebenaran, dimana mereka bisa saja dengan posisi yang ada menggunakan fasilitas yang mereka bisa gunakan.
    Citra Polisi saat ini sangat miris, apabila ingin memperbaikinya, langkah awal adalah perbaikan citra dari Polantas, lalu ketingkat yang lebih dalam dan tinggi.
    Seragam coklat hanyalah kebanggaan semu,kalo kita kehilangan kambing lima ekor dicuri maling, lapor polisi bisa hilang sepuluh ekor kambing. sangat miris apabila kita mendengar kalimat tersebut dari masyarakat.
    Semoga citra Polisi saat ini dan kedepannya dapat lebih baik.
    Selamat jalan Pahlawan Polisi Jujur HOEGENG IMAN SANTOSO, semoga suri tauladan-mu dapat diwariskan kepada generasi penerus negeri ini.

  9. sibolangcai says:

    Pak Hoegeng pantas disebut sebagai salah satu pahlawan nasional karena kejujurannya dan kesederhanaannya.Sosok polisi yang seperti pak hoegeng itulah yang harusnya menjadi panutan bagi seluruh polisi yang sekarang.

    Hidup pak hoegeng….

  10. yanto says:

    merinding saya baca pm natsir (perdana mentri bung karno)kl ini jg membaca pak hoegeng, apakah calon2 polisi waktu pendidikan tidak tahu riwayat jendral mereka yg jujur ataukah memang instruktur/petinggi mrk malu u/memberi tahu krn sebenarnnya para petinggi pelaku kejahatannya

  11. ratih kurnia says:

    hmm………

    baca blog ini,,,
    membuat saya jadi berpikir tentang perbedaan polisi sekarang dan polisi jaman dulu…
    seandainya polisi bersikap sama dengan polisi hyang jujur,,,mungkin polisi tidak saling bermusuhan dengan orang – orang yang tidak menyukainya..
    saya hanya berharap,,,semoga polisi dapat jujur, dan tidak hanya polisi,,kita semua harus bersikap jujur….

    hidupp pak hoegeng……

  12. Rizka says:

    saya benar2 terharu membacanya.. sangat jarang sekali polisi seperti Pak Hoegeng ini… Seharusnya polisi sekarang dapat mencontoh Pak Hoegeng,,
    karena seperti yang kita imej polisi di mata sekarang sangatlah rendah!!!

    Hidup Pak Hoegeng.. We love you full!!!

  13. Ardi says:

    Jayalah ………….Jayalah………….. Jayalah………….. Kepolisian Indonesia

    Kalo manusia – manusia yang disebut sebagai polisi bertingkahlaku seperti cerita diatas. amien

  14. sekarang hampir tidak ada polisi seperti almrhm pak hoegeng, yang ada adalah memanfaatkan posisinya sebagai aparat yang katanya melindungi ( melindungi yang berduit ) wajar kalau hanya 3 polisi yang jujur seperti yang di uraikan di atas, dan kita patut tertawa…haaaaaa

  15. rudi says:

    mantap sekali alm pak Hoegeng, semoga polisi mengikuti jejak beliau. aminn

  16. priyo says:

    Hoegeng Iman Santosa…
    kadang terbersit rasa tidak percaya, bahwa pernah hidup di Indonesia seorang polisi bernama Hoegeng Iman Santosa…

  17. Freund says:

    Memang benar yg di Medan tu. banyak perwira polisi disetting ama pengusaha hitam etnis tertentu. khususnya judi dan narkoba.sampai thn 2010 ini pun msh banyak judi dan narkoba.di 86 kan. terima suap..yah balas budi lah. ga enak mau ditangkap. bahkan polisi menengah pun bisa dimutasi oleh pengusaha itu.

  18. aris says:

    polisi skrang bukan lagi pengayom masyarakat tapi pengayo keluarganya sendiri dan para relasinya.
    mereka bukan lagi penegak keadilan tapi penoda keadilan
    BUBARKAN POLRI !!!!!!!!!!!!!!!

  19. Agus says:

    memang seharusnya polisi itu harus jujur,.semoga jejak pak huegeng ada yang melanjutkan…

  20. rb says:

    TULISAN YANG BAIK , SEMOGA PARA POLISI YANG MEMBACA INI BISA MENJADIKAN HIDUPNYA BUKAN SEBAGAI ALAT UNTUK MEMUTAR BALIKAN HUKUM , TETAPI UNTUK MENEGAKAN HUKUM

  21. noge says:

    jarang sih dpt polisi yg ju2r. tp nda smuanya polisi kotor, Polisi kan jg manusia yg bs Khilaf. intiny KKN ssah tuk d hlangkan d negeri ini. klo otak mnusianya nda d brshkan dlu.
    oia polisi yg pling ktor d negeri ini adl Polusi…

  22. alex says:

    mungkin selamanya hanya ke3 polisi itu yang jujur…
    mending tak ada polisi daripada negara ini harus hancur karena ulah mereka….

  23. XNUVER says:

    saya sangat suka dan terharu dengan tulisan anda..
    memang benar sudah sangat-sangat susah bahkan memang tidak ada untuk jaman skrg ini polisi yg jujur..
    polisi sekarang ini bisa dengan gampangnya disuap..

  24. Obie says:

    Ini tulisan yang membuatku benar-benar bisa menikmatinya dan merasa terharu. Hampir meneteskan air mata:(. Kapan ya kerinduan semua masyarakat akan seorang polisi yang jujur ini bisa terwujud.

    Thanks untuk tulisannya bro:). Mudah-mudahan ada polisi yang membaca tulisan ini, terlebih calon kapolrinya.

  25. sayiful rohman says:

    jujur saya sebagai warga negara indonesia muak dn benci punya pejabat negara korupp.. apalgi dr kepolisian, pdhl mrka pngk hukum tp knp mrka jg yg ngrobohin.

  26. Kuda says:

    kasihan pak hoegeng kalah sama polisi sekarang, baru pangkat Bripda aja mereka bisa beli mobil atau motor kawasaki keluaran terbaru.

Tinggalkan Komentar