Sunday, May 19, 2013

Menantang Pejabat Memilih Waras

October - 27 - 2009
menantang-pejabat-memilih-waras

Zaky Muzakir

Dikisahkan Nabi Muhammad SAW tinggal di rumah sederhana berukuran kecil. Makan pun tak pernah berlebihan. Selalu berhenti sebelum kenyang. Begitu pula hampir semua pemimpin agama. Intinya, mereka hidup dalam kesederhanaan. Sayang, teladan ini rupanya sulit ditiru pejabat tinggi negeri ini. Setidaknya terlihat dari Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara yang berniat menaikkan gaji pejabat negara.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 mengenai Pokok-pokok Kepegawaian, yang termasuk kategori pejabat negara adalah presiden dan wakil presiden, kepala daerah beserta wakilnya, hakim pengadilan, para ketua DPR, dan para menteri. Bila rencana itu disetujui, diperkirakan ada sekitar 7.000 pejabat negara di Indonesia menerima kenaikan gaji yang berkisar 10 persen hingga 15 persen.

Tapi yang “menarik” adalah alasan di balik menaikkan gaji tersebut. Deputi Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Bidang Sumber Daya Manusia Ramli Effendi Naibaho mengatakan, kenaikan gaji pejabat negara terakhir kali lima tahun silam. Singkatnya, Ramli mengatakan, kenaikan gaji memang sudah waktunya.

Bahkan Ketua DPR Marzuki Alie menyatakan, kondisi masyarakat yang masih belum membaik tak perlu langsung dikontraskan dengan masalah kenaikan gaji pejabat. Apalagi, menurut Marzuki, menteri sebagai salah pejabat negara memiliki beban tugas dan masalah yang berat. Marzuki pun mengingatkan, para menteri menandatangani kontrak kinerja. Jika target tidak tercapai, menteri yang bersangkutan akan dipecat. Sehingga sudah sepantasnya menteri diberi motivasi materi yang lebih.

Memang tak ada yang menilai menjalankan tugas pejabat negara adalah mudah. Karenanya penulis pun maklum, para pejabat negara patut mendapat penghargaan materi yang layak agar termotivasi. Tapi di luar semua kewajaran dan pemakluman itu, ada paham yang terlupakan sebagian besar pejabat negara. Yaitu hidup sederhana sebagaimana dicontohkan para pemimpin agama.

Tapi memang pejabat negara bukan pemimpin spiritual yang bergumul dengan moralitas. Karena itu, untuk sementara bolehlah kenaikan gaji tidak disangkutpautkan dengan urusan moral. Tidak perlu dulu, di tulisan ini, membenturkan berbagai fasilitas yang diterima pejabat dengan kesejahteraan masyarakat yang belum juga berubah banyak.

Jika memang terlalu rumit memahami pentingnya hidup sederhana secara moral dan sensitivas terhadap nasib rakyat, cobalah pahami kesederhanaan dari sudut pandang kewarasan menjalani hidup.

Coba saja tengok fasilitas kendaraan bagi para menteri. Saat ini, setiap menteri mendapat jatah kendaraan dinas Toyota All New Camry. Di pasaran, harga mobil jenis ini berkisar Rp 450 juta-Rp 640 juta. Ini belum seberapa. Rencananya, untuk jajaran kabinet periode 2009-2014, mobil dinas menteri akan diganti dengan Toyota Crown Majesta.

Mobil ini sebenarnya hanya dipasarkan di Jepang. Untuk pasar di luar Jepang, praktis bakal dikenakan biaya-biaya tambahan. Di Jepang, Crown Majesta dibanderol 69.400 dollar Amerika Serikat. Untuk masyarakat Indonesia, konsumen harus merogoh kocek lebih dalam hingga 70.600 dollar AS, atau sekitar Rp 710 juta. Harga itu belum termasuk berbagai pajak. Tak heran, setelah didatangkan ke Indonesia, mobil ini bisa mencapai Rp 1,8 miliar per unit.

Kapasitas mesin Crown Majesta pun jauh lebih besar dibanding All New Camry. Crown Majesta varian terendah saja berkapasitas 4.300 cc. Bandingkan dengan All New Camry varian paling mewah yang “hanya” 3.500 cc (ini pun masih tergolong mewah untuk ukuran sedan). Kapasitas mesin sangat berpengaruh pada konsumsi bahan bakar. Semakin besar kapasitas mesin, semakin boros.

Dari semua fakta ini, apa kiranya pertimbangan waras memilih kendaraan yang lebih mahal, lebih banyak biaya tambahannya, lebih boros bahan bakar, dan lebih rumit mengurus kedatangannya?

Itu baru soal kendaraan. Penulis yakin masih banyak pos-pos lain yang bisa dipangkas hingga menyentuh titik efisien.

Efisien inilah esensi dari kata sederhana. Karenanya bersikap sederhana bukanlah menjalani hidup bermiskin-miskin. Melainkan menjalani hidup dengan akal sehat, jauh dari dorongan emosional atau nafsu. Dan kesederhanaan baru teruji ketika mampu menolak tawaran hidup mewah.

Dengan demikian berbagai argumen seperti sudah lama gaji tak dinaikkan; beban kerja yang berat; dan ancaman pemecatan; tak akan terasa relevan lagi sebagai alasan menaikkan upah. Ah, tapi bila pikiran masih terbelenggu nafsu, memang terlalu rumit untuk memahami indahnya kesederhanaan.

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

17 Komentar pada “Menantang Pejabat Memilih Waras”

  1. Pencerah says:

    Wahai menteri yang (katanya) terhormat.
    Kalau dengan gaji sekarang kalian gak mau, silahkan mundur saja.
    Saya yakin masih banyak orang yang rela dengan gaji sekarang dan kinerja lebih bagus dari anda
    ——————————–
    Teruslah berkarya karena Kerja Keras adalah energi kita

  2. mika says:

    dengan segudang fasilitas super mewah, tapi masih juga kan kurang. nyambi sana-sini, korupsi dll. gmana indonesia mau maju?!
    saya juga tau para menteri itu punya tugas “berat”, tapi ya namanya juga kerja nggak ada yang nggak berat toh?! itu sudah menjadi tanggungjawab! kalo nggak mau “membangun” negara atau menuntut “imbalan” besar mendingan jangan aja deh!!

  3. cendanawira says:

    sederhana didalam fasilitas yang mewah adalah hal yang sangat sulit dilakukan

  4. adi munandar says:

    seandainya para pemimpin Indonesia seperti Rasullullah Muhammad serta para sahabat, yang tidak gila kekuasaan, jabatan dan harta. Apabila Syariat islam ditegakkan berupa hukum-hukum Allah bersumber Al-Qura’an dan al-Hadist, pastilah masyarakat negeri kita pasti makmur dan sejahtera. Mungkin tidak akan diketemukan “gepeng” dan pengangguran.

  5. Memang enak ya jadi pejabat…. fasilitas dan gaji menggiurkan. -mebelanda.com

  6. bodonk says:

    andai sja pejabat kita betul2 tulus membela rakyat,berangkat kantor pakai sepeda ontel pun jadi bah..

  7. Ridwan says:

    asslamu alaikum…………..Wr,Wb

    saya sangat prihatin dengan kondisi pemerintah negara indonesia ini….! yang orang2 nya semakin brutal dengan “HARTA,TAHTA dan WANITA”…..Contoh kasus KPK vs POLRI yang belum tuntas2 sampai sekarang,coba apa yang sedang mereka2 rebutkan….!!!?
    buat yang terhormat bapak2 di lembaga2 terkait perlu di ingat,kita hidup hanya sementara untuk mencari ridho alloh semata,AKHIRAT lah hidup yang sebenarnya…….!!!!!!!!!

    “wa bil hidayah wal taufik” wassalamu alaikum Wr,Wb.

  8. putra says:

    Ada satu hal yg menarik dinegeri ini, kita selalu membanggakan bahwa Indonesia adalah negara dg pemeluk Islam terbesar! tetapi sangat miris melihat kelakuan dan tingkah laku para petinggi/pejabat negara yang tidak dapat mencerminkan ke-Islaman itu sendiri. Allah mereka buat mainan, masih pantaskan kita percaya dengan pejabat negeri ini. Rakyat sekarang semakin menjadi tempat pemerasan dg UU/PP/Perpres dll untuk melegalkan pemersan itu dan ujung-ujungnya demi kekayaan mereka. Apa sekarang yg gratis dinegeri ini? semua dipajaki, kemana pajak itu sendiri???

  9. pak_ikin says:

    setuju saja gaji pejabat naik, asal jujur/benar dalam bekerja serta berani melaksanakan dan mempertahankan kejujuran/kebenaran. tapi masalahnya mana ada yang demikian.

  10. anton says:

    Ada berita mengenai 2 bocah Ambon sekarat karena kelaparan…wahai Bapak Menteri yang terhormat,sudahkah Anda membaca berita tersebut?tanpa menumpangi Crown Majesta pun Anda sudah terlalu kenyang…

  11. eva says:

    bapak menteri yang terhormat..anda dengan fasilitas yang semewah itu masih kekurangan??sementara kami disini kelaparan,,bingung memikirkan untuk makan hari ini dan esok..

  12. wandhe says:

    waw!!!!!! saya ngga ngerti, hehehehe

  13. Noer_amin says:

    mirip dengan sejarah masa lalu, pada waktu jaman dulu’,masa peradaban peperangan, terjadi pertempuran karena memperebutkan daerah lembah yang subur. jadi, kursi dan jabatan negara yang begitu subur menjadi lahan perebutan bagi politikus. mau mengurusi rakyat? beberapa fakta bahwa pejabat seperti di DPR dll, menjadi alat untuk menjajah bangsa sendiri, agenda-agenda imperialis dijalankan begitu saja. lihat saja perspektif mereka tentang bagaimana mengatasi kemiskinan diIndonesia ” INVESTASI ASING” melihat kemiskinan dengan memberikan uang (BLT) ternyata tidak menyelesaikan masalah pokok bangsa, semua penyelesaian dilihat dari uang.
    orang-orang kelaparan di pinggiran kota, anak dibawah umur terlantar semakin meningkat, pendidikan diselesaikan dengan BHP dll. orang kelaparan bukan karena tidak adanya makanan, tetapi karena tidak punya uang.

    masih mau diskusi tentang bangsa, sampaikan pada mereka agar sadar dan berhenti dari jabatannya.!

    Muhammad Nur Amin

  14. ade says:

    Saya Mendukung Kalian Semua …..

  15. Masalah kenaikan gaji, oke-oke aja, tapi yang aku sayangkan, mana tanggung jawab nasionalisme sebagai pemimpin kepada bangsa ini, lihat aja … bukankah Indonesiaku punya pabrik pesawat namanya PT Dirgantara Indonesia, tapi kenapa harus beli beli pesawat dari luar negeri ??? Indoneai punya pabrik kapal, PT PAL namanya, tapi kenapa Departemen kelautan dan perikanan beli kapal patroli dari luar ??? mana tanggung jawabnya untuk membesarkan industri dalam negeri ?, apa itu semua bukannya mengkerdilkan dan pelecehan thd industri kita??? bukankah ini saat yang tepat untuk mempercayai produk dalam negeri !!! sekalian sbg ajang promosi dan menumbuh kembangkan bagi Industri dlm negeri. ingatlah wahai para pejabat, terutama Presiden, bahwa itu adalah amanat Rakyat !!! semoga Bapak2 dan Ibu2 sagera sadarkan diri…

  16. ian says:

    hati,jika diletakan iman pejabat dengan gaji 25 juta,dan mobil seharga 200 juta dah cukup besar……….lihat jika enggak jujurrr……neraka baasannya

  17. titip pesan says:

    dalam satu riwayat,,, akan datang masa dimana dalam 1000 orang, 1 masuk surga dan 999 masuk neraka,,,(nb: orang yg masuk surga, pasti faham tentang kesederhanaan Nabi dan orang yg masuk surga pasti tidak ingin/minta jabatan),,,ada kaitannya dengan konsep efisien – sederhana ‘ala Nabi di jaman yg sudah disebutkan tersebut, dari 250juta rakyat Indonesia ini berarti hanya 250ribu orang yang mengerti konsep sederhana Nabi, dan yang perlu disayangkan, dari 250ribu orang ini tidak ada yang ingin jabatan, padahal di sini Indonesia, Presiden Wakilnya DPR DPD KetumPartai ya nyalon dulu….Jangan banyak berharap tentang hal yg murni alquran dari negara Indonesia dengan demokrasi seperti ini,,, taqorub ilalloh adalah tanggungjawab pribadi, termasuk kesederhanaan

Tinggalkan Komentar