Sunday, April 20, 2014

Kerendahan Hati dan Kesombongan

September - 22 - 2009
kerendahan-hati-dan-kesombongan

Vincent Hakim

Ketika saya masih duduk di bangku SD dulu sekitar tahun 70-an, ibu saya pernah mendongeng cerita berjudul ‘Katak Hendak Jadi Lembu’. Cerita yang sangat sederhana tapi pesan moralnya begitu melekat di hati saya.

Ceritanya begini;

Suatu ketika di sebuah kandang lembu ada seekor katak batu yang rupanya rajin mengamati si lembu betina yang pendiam dari balik bongkahan batu. Setiap hari si katak melihat pemilik lembu selalu memberikan makanan rumput segar, memandikan, dan mengajaknya jalan ke padang rumput hijau nan luas.

Pada suatu kesempatan, katak batu itu mendekati si lembu betina yang sedang makan. Katanya dengan nada sinis, “Hai, lembu. Enak sekali hidupmu. Setiap hari kau selalu mendapat perhatian dari manusia dan juga selalu dikasih makan. Kau selalu dirawat dan diajak jalan-jalan di padang rumput hijau. Semua itu apa karena badanmu yang besar?”

Si lembu betina tak menjawab, ia terus makan dan makan. Sambil sesekali kepalanya menggeleng kiri kanan mengusir lalat-lalat yang mengerubungi makanannya. Karena si lembu betina tak juga menjawab, maka katak batu itu menghardiknya lagi. Kali ini dengan nada suara lebih keras lagi. “Hai…lembu dungu. Kalau hanya karena badanmu yang besar, kau mendapat perhatian manusia maka aku pun mampu menyamai besar tubuhmu. Nih…lihatlah!”

Si katak batu itu lalu segera memperagakan diri di hadapan lembu betina. Katak batu itu menggelembungkan badannya. Bermula dari perut, kemudian leher, kaki, dan seterusnya. Perut katak batu itu sedikit demi sedikit membesar, dan kemudian terlihat begitu besar. Namun setelah membesarkan perut dan leher, rupanya badannya tak juga bisa menyamai lembu. Si katak batu sangat penasaran, karena badannya belum juga mampu menyamai besarnya lembu itu. Perutnya terus digelembungkan lagi dan lagi… Akibatnya perut itu meletus. Isi perut berhamburan ke mana-mana. Si katak batu itu pun mati dengan kondisi yang sangat mengenaskan.

Melihat katak batu yang malang itu telah mati, si lembu betina pun tak mampu menahan kesedihan. Tapi ia juga tak bisa berbuat banyak. Si lembu betina itu tahu bahwa dirinya tak memiliki kuasa apa pun atas hidup.

***

Kata orang bijak, kerendahan hati adalah prinsip dasar orang beriman kepada Yang Maha Kuasa Sang Pencipta alam semesta. Dari kerendahan hati itulah munculnya ketulusan dan pengakuan diri, bahwa manusia hanyalah seonggok daging tak berdaya atau debu halus di hadapan Sang Khalik.

Sementara kesombongan adalah upaya penyangkalan diri manusia atas ketidakberdayaan raga dan spiritual di hadapan Yang Ilahi. Kesombongan menjadi semacam kompensasi psikologis untuk menutupi ketidakmampuan diri, yang kadang tersimpan dalam dunia alam bawah sadar. Kesombongan diri seseorang muncul, biasanya bertujuan agar diakui eksistensinya. Terutama di lingkungan sosialnya. Kesombongan dan keangkuhan merupakan saudara kembar.

Seorang psikolog terkenal asal Austria Alfred Adler (1870-1937) mengatakan, bahwa kesombongan itu pada dasarnya merupakan sikap mengutamakan diri sendiri. Adler menyebutnya sebagai self centered. Semuanya berpusat pada diri sendiri. Kalangan orang beriman alim ulama memposisikan egoisme sebagai awal dari dosa. Egosentrisme menjadi akar dari dosa. Manusia terjerumus ke dalam dunia hitam kelam karena terlalu mengagungkan ke-aku-annya. Aku merasa paling benar, paling bersih, paling hebat, paling suci, paling berkuasa, dan berbagai predikat superlatif lainnya. Peperangan, kerusuhan, kriminalitas, aniaya, dan kesengsaraan acapkali bermula dari sana.

Kerendahan hati dan kesombongan berjalan seiring dalam dunia yang sama, meski berbeda kharakter dan motivasi dasarnya. Tapi kadang, kesombongan bersembunyi di balik ‘kerendahan hati’ sehingga menjadi seolah-olah rendah hati. Padahal jauh di lubuk hati, ingin dipuji dan diakui ke-ego-annya. Sejatinya, kerendahan hati akan terus bertahan. Sementara kesombongan akan terkuak bersama perjalanan sang waktu.

Apa itu kerendahan hati dan mengapa manusia harus rendah hati? Mengapa orang tak boleh sombong?

Seorang guru kebijaksanaan yang juga seorang sufi dari timur menggambarkan kerendahan hati itu dalam simbol anak kecil. Anak adalah lambang ketulusan hati, ketidakberdayaan, dan kejujuran. Tingkat ketulusan, kepolosan anak kecil dan kejujurannya tak bisa disangkal lagi. Begitu tulus, jujur, dan bersihnya pribadi anak-anak, hingga para cerdik pandai menyebut anak-anak bagai tabularasa. Suatu lembar kertas putih bersih yang apa pun bisa ditorehkan di sana. Menurut sang guru, hanya manusia yang memiliki level kesucian, ketulusan, kepasrahan, dan kejujuran seperti anak kecil itulah yang pantas berhubungan dekat dan berada dalam pangkuan Sang Khalik.

Ketidakberdayaan anak kecil, kata sang guru, adalah lambang ketidakmampuan manusiawi yang akan malahirkan kepasrahan diri secara total tanpa syarat kepada Sang Pencipta. “Lihatlah, betapa anak kecil itu hidupnya sangat bergantung sepenuhnya pada orangtuanya, ibu dan ayahnya. Begitu pula seharusnya manusia di hadapan Sang Pencipta,” kata sang guru pada suatu kesempatan.

Menurut sang guru kebijaksanaan yang juga sufi itu, sebenarnya tak ada dasar dan alasan apa pun bagi manusia untuk menyombongkan diri. Fakta ilmiah menyatakan bahwa manusia adalah bagian kecil dari makhluk hidup yang ada di atas bumi. Hidup manusia berdampingan dengan makhluk hidup lainnya dan saling bergantung. Manusia tak mungkin hidup sendiri. Ketergantungan manusia sangat tinggi pada kehidupan lain di sekitarnya. Bumi tempat manusia hidup pun, jika dibandingkan dengan planet-planet lain dalam susunan tata surya, hanyalah bagian kecil dari semesta raya. “Jika bumi saja hanyalah bagian kecil atau bahkan hanya merupakan debu kosmis di alam semesta raya yang mahaluas, lalu bagaimana dengan manusia? Nah, sekarang bayangkanlah bagaimana agungnya Sang Pencipta alam semesta itu. Masihkah manusia bisa membusungkan dada tentang dirinya di hadapan Sang Pencipta?” kata sang guru.

Setiap saat manusia dalam berbagai kepercayaan dan keyakinannya yang amat beragam diberikan kesempatan untuk berintrospeksi, melalui bermacam-macam peristiwa dan acara keagamaan. Tujuannya refleksi diri ke dalam batin masing-masing. Masih pantaskah menyombongkan diri di hadapan orang lain dan terlebih-lebih di hadapan Yang Maha Kuasa? Mungkin ada baiknya, mulai detik ini kita mulai meneliti diri, apakah kita sudah rendah hati dan tidak sombong? Selamat Idulfitri. Mohon maaf lahir dan batin.

Jakarta, 20 September 2009

Share and Enjoy:
  • Print this article!
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • blogmarks
  • E-mail this story to a friend!
  • LinkedIn
  • Live
  • MySpace
  • Netvibes
  • Reddit
  • Slashdot
  • Technorati
  • Tumblr
  • Twitter
  • Wikio

26 Komentar pada “Kerendahan Hati dan Kesombongan”

  1. suryono says:

    Bejana yang terbuat dari debu tanah dapat berfungsi dengan baik, tetapi akan retak kalau diselimuti dengan kesombongan dan keangkuhan diri dan akhirnya terbuang diinjak orang tanpa guna.

  2. Pencerah says:

    Sebuah pencerahan yg bagus

  3. Pramudya utama says:

    Mantap,luar biasa.

  4. noer says:

    kesombongan hakiki adalah bangganya seseorang terhadap dirinya sendiri,meremehkan orang lain. kesombongan yang paling tinggi adalah menolak perintah tuhan dan Agama. padahal mereka yakin tuhan itu ada dan maha kuasa.

  5. Debu says:

    Terima kasih artikelnya. Reflektif. Memang benar. Apalah manusia itu jika berada di hadapan Sang Khalik. Hanyalah debu. Maka kadang saya prihatin melihat saudara-saudara kita memaksakan kehendak kepada orang lain, sesama hidup di muka bumi ini, seolah mereka (kelompok mereka) paling suci, paling benar, paling besar, dsb. Mungkin karena merasa mayoritas. Bukankah mayoritas atau minoritas tidak artinya apa-apa di hadapan Sang Pencipta? Allah sangat tahu apa yang seharusnya IA lakukan bagi dunia dan manusia karena DIA sang Pencipta dan Maha Kuasa. Biarlah segala sesuatunya berjalan seturut kehendak-NYA.

  6. nedy says:

    sungguh luar biasa isi tulisan saudari..teruslah menulis dan jngn lupa beri motivasi pada yg muda,,,,

  7. uus dikry says:

    hanya Allah yang pantas sombong..karena apa pun dan siapa pun tak ada yang bisa menandinginya….buktinya…dengan adanya alam dunia serta isinya ini tak ada sedikit pun bantuan dari prof/ insinyur…cukup dengan kalimah” kun fa yakun” …..subhanallah……….

  8. dwi says:

    orang sombong adalah orang yang sebenarnya rendah diri. Kasihanilah orang sombong karena tidak percaya pada diri sendiri dan mencintai dirinya sendiri.

  9. Deli Rawi says:

    Di hadapan Tuhan kita tidak ada artinya sama sekali….jadi sebenarnya buat apa kita menyombongkan diri, karena batas antara ada dan tiada itu tipis banget. Cuma kita juga harus ingat bahwa syetan selalu menggoda manusia untuk membuat agar kita menjadi sombong… Maka perbanyaklah mengingatNYA…..

  10. cerita hot says:

    Karena kesombongan hanya milik Tuhan, saat manusia sombong dan bangga akan dirinya, tidak sadar bahwa kita hanya seorang hamba.

  11. Tri rasmasari says:

    Artikel yg bagus semoga yg membacanya dapat mengambil pelajaran…

  12. lia nurlaela says:

    Maksh, artikel sgt mengingatkan utk slalu rendah hati dan tdk sombong.

  13. om ipit says:

    menginspirasi sekali. thanks for share :)

  14. jo says:

    aku tersentak , aku malu pada diriku memang seharusnya manusia seperti itu sehingga tak ada keserakahan , korupsi hilang dengan sendirinya kalau manusia itu sadar bahwa tdk berarti apa 2 di mata sang pencipta

  15. Do chickens think rubber humans are funny?

  16. Ana says:

    setiap orang pasti memiliki kesombongan tapi hanya saja kapan dia menampakan kesombongan itu………..

  17. Muah.com says:

    semoga Allah menjadikan kita manusia yg rendah hati dan tidak sombong,,
    Amiiiin…
    izin share yo mbae, tq

  18. rus-to says:

    Kalau bilang bicara kesombongan hanya milik Tuhan, sayangnya Tuhan tidak pernah untuk Sombong..
    Hanya terkadang Manusia yang kurang bersyukur. sehingga merasa semua bisa dilakukan sendiri.tanpa sadar itulah awal dari kesombongan.
    Kerendahan hati itu merupaka bentuk ketidak mampuan diri yang berkelas pisitif. da itu adalah pintu yang sempurna menuju kesuksesan, baik dalam kefanaan dunia ini maupun dalam perjalanan pulang ke hadapan Sang Khalik…..

  19. manusia tidak pantas sombong dan berbangga diri, yang pantas untuk itu adalah tuhan yang maha esa allah swt, karena sesungguhnya manusia tidak memiliki daya dan upaya, sangat tidak pantas untuk berlaku sombong..mudah – mudahan kita dijadikan manusia yang selalu rendah diri dengan keikhlasan, tidak menyembunyikan kesombongan dalam kerendahan hati yang berpura – pura…aamiin

  20. thelo says:

    matur suwun

  21. SHInee Sandra Lee says:

    smg orang sombong yang baca hatinya sadar…
    betapa malang hidupnya~

  22. muhammad says:

    sombong dan angkuh sahabat daripada setan

  23. ali mursal says:

    Kerendahan hati dan kesombongan adalah dua sisi yang bertolak belakang. Jika kita rendah hati itu tandanya kita berjiwa malaikat dan dekat dengan Allah SWT, tapi jika kita sombong itu artinya kita bersekutu dengan iblis/syetan, yang jauh dari Allah SWT dan terkutuk.

  24. qidos says:

    mantab

  25. nice article bro :) and very inspiring

  26. Asep Juhaeri says:

    Kesombongan itu adalah sifat Tuhan

Tinggalkan Komentar